<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Seribu Cara Bilang Tidak</title>
	<atom:link href="http://nurulindarti.wordpress.com/2008/05/15/seribu-cara-bilang-tidak-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nurulindarti.wordpress.com/2008/05/15/seribu-cara-bilang-tidak-2/</link>
	<description>A Short Journey of An Ordinary Person: The Inspiration and Spirit of Life</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 May 2013 23:51:47 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>By: andira</title>
		<link>http://nurulindarti.wordpress.com/2008/05/15/seribu-cara-bilang-tidak-2/#comment-209</link>
		<dc:creator><![CDATA[andira]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 04:00:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nurulindarti.wordpress.com/?p=98#comment-209</guid>
		<description><![CDATA[dear mb Nurul,
benar, budaya kita di besarkan sangat mempengaruhi pola pikir dan tindakan kita. Terutama ketidakmampuan orang jawa dalam menyampaikan ketidaksetujuannya akan suatu hal. hal ini saya rasakan ketika saya menikah dengan bangsa lain yang mempunyai budaya berbeda.Mulai kecil sampai kuliah perbedaan budaya jarang sy rasakan karena lingkungannya masih sama atau beda-beda dikit.

Ketika saya menikah, saya mulai belajar atau diajari tepatnya, untuk dapat menyampaikan pendapat dan perasaan secara &quot;terbuka&quot; dan sopan kepada siapapun termasuk orangtua saya ( yang selama ini masih menganut budaya jawa kental &quot;orang tua tdk pernah salah&quot;). Menurut pengalaman saya, bersikap terbuka (walau kdg menyakitkan kedua belah pihak).. Jauuuhhh lebih enak rasanya daripada menyimpan beban, yang harusnya kita sampaikan.
Yah, tentunya harus ada alasan yang manusiawi kalau kita menolak pendapat / ajakan seseorang, jangan sampai kita menjadi orang yang terbuka namun disertai dengan sifat egois... Kalau kita bisa membantu, why not??
Pengalaman dengan suami, mengajarkan bahwa menyatakan penolakan  terhadap suatu hal bukan hal yang mudah,bahkan mungkin kita akan di benci karena tdk mau / tdk setuju ... tapiii, itu jauh lebih baik daripada :
1. Kita menipu diri sendiri; tdk suka tp bilang suka, tdk mau tapi bilang mau. Akhirnya kita yang harus menanguung akibatnya; Bila kita sibuk, kit harus menemani/menyediakan waktu utk orang lain, pekerjaan kita terbengkelai, bila tdk mood atau ada masalah kita harus tersenyum... 

2. Kita menipu orang yang mengajak kita. ini lebih parah, karena kita memberikan apa tdk terlihat oleh rekan kita. ibaratnya kita memberi roti tart tp dalamnya ikan asin... kalo tuan rumah tahu, pasti langsung di buang ke tong sampah... 

Yah, memang kita harus banyak bergaul dengan budaya lain, supaya kita bisa introspeksi bagaimana dengan budaya saya?]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dear mb Nurul,<br />
benar, budaya kita di besarkan sangat mempengaruhi pola pikir dan tindakan kita. Terutama ketidakmampuan orang jawa dalam menyampaikan ketidaksetujuannya akan suatu hal. hal ini saya rasakan ketika saya menikah dengan bangsa lain yang mempunyai budaya berbeda.Mulai kecil sampai kuliah perbedaan budaya jarang sy rasakan karena lingkungannya masih sama atau beda-beda dikit.</p>
<p>Ketika saya menikah, saya mulai belajar atau diajari tepatnya, untuk dapat menyampaikan pendapat dan perasaan secara &#8220;terbuka&#8221; dan sopan kepada siapapun termasuk orangtua saya ( yang selama ini masih menganut budaya jawa kental &#8220;orang tua tdk pernah salah&#8221;). Menurut pengalaman saya, bersikap terbuka (walau kdg menyakitkan kedua belah pihak).. Jauuuhhh lebih enak rasanya daripada menyimpan beban, yang harusnya kita sampaikan.<br />
Yah, tentunya harus ada alasan yang manusiawi kalau kita menolak pendapat / ajakan seseorang, jangan sampai kita menjadi orang yang terbuka namun disertai dengan sifat egois&#8230; Kalau kita bisa membantu, why not??<br />
Pengalaman dengan suami, mengajarkan bahwa menyatakan penolakan  terhadap suatu hal bukan hal yang mudah,bahkan mungkin kita akan di benci karena tdk mau / tdk setuju &#8230; tapiii, itu jauh lebih baik daripada :<br />
1. Kita menipu diri sendiri; tdk suka tp bilang suka, tdk mau tapi bilang mau. Akhirnya kita yang harus menanguung akibatnya; Bila kita sibuk, kit harus menemani/menyediakan waktu utk orang lain, pekerjaan kita terbengkelai, bila tdk mood atau ada masalah kita harus tersenyum&#8230; </p>
<p>2. Kita menipu orang yang mengajak kita. ini lebih parah, karena kita memberikan apa tdk terlihat oleh rekan kita. ibaratnya kita memberi roti tart tp dalamnya ikan asin&#8230; kalo tuan rumah tahu, pasti langsung di buang ke tong sampah&#8230; </p>
<p>Yah, memang kita harus banyak bergaul dengan budaya lain, supaya kita bisa introspeksi bagaimana dengan budaya saya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
