EU’s ban: Cermin Buram Kinerja Airlines Indonesia?

Standard

Hari ini, Thursday, 28 June 2007, 09:59 GMT 10:59 UK, BBC NEWS merilis sebuah berita:

EU Bans All Indonesian Airlines
All 51 Indonesian airlines will be banned from the EU, including national carrier Garuda. Indonesian airlines have suffered a series of accidents this year. On New Year’s Day an Indonesian jet fell into the sea, killing all 102 people on board. Some weeks later, another plane broke in half as it landed. And in March, a Boeing 737 veered off a runway and burst into flames, leaving 21 dead. “European citizens should avoid flying with these carriers”, “They are really unsafe.” an EU official said.

****

Meskipun sudah dapat saya duga sebelumnya, tapi tetap saja, mendengar statement seperti itu, seakan ada yang tergores di hati saya. Tidak nyaman, rasanya. Ah Indonesia, catatan ‘buruk’ apa lagi yang selalu diperdengarkan. Bagaimanapun, juga, sebagai orang yang lahir dan besar di Indonesia, pernyataan tersebut, seperti mempertontonkan dan memperjelas aib nyata kemana-mana. Yang mungkin, tak akan mudah untuk dilupakan dan hilang begitu saja dalam memori yang membacanya. Menyedihkan dan memprihatinkan. Tapi di sisi lain, mungkin, memang Indonesia harus lebih banyak belajar. Karena sesungguhnya seperti itulah cermin buram kinerja perusahaan-perusahaan nasional di tanah air kita.

Berbicara kinerja, sangat terkait dengan bagaimana komitmen perusahaan pada kualitas yang diberikan. Dalam hal ini adalah kinerja maskapai penerbangan yang akan sangat ditentukan dari kualitas layanan yang diberikan. Dimensi kualitas tentu saja tidak hanya sebatas pada keramahan, komunikasi, fasilitas fisik yang ada, kompetensi, atau kemudahan akses, tapi juga aspek keselamatan penerbangan (Davis et al., 2003; Parasuraman et al., 1991). Beberapa tahun lalu, dengan maraknya maskapai penerbangan swasta baru yang masuk dalam pasar nasional, tampaknya ada pergeseran atribut kualitas pelayanan. Tapi tentu saja, aspek keselamatan, suatu hal yang mutlak.

Hanya saja, pada kenyataannya, menjaga komitmen untuk memberikan layanan terbaik, merupakan hal langka di Indonesia. Bagi industri yang tidak secara langsung, terkait dengan kepentingan konsumen, mungkin efeknya tidak akan sedahsyat perusahaan-perusahaan jasa yang tingkat interaksi dengan konsumen tinggi.

Telah dipercaya bahwa, kualitas jasa yang baik mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen. Konsumen yang puas, biasanya tidak akan segan-segan untuk melakukan pembelian ulang dan jadilah mereka ini, kelompok loyal customer. Sayang, menurut Kottler (2003), lebih dari 70% perusahaan justru gagal dalam menjaga loyalitas konsumennya. Disinyalir, kegagalan tersebut adalah karena tidak mampu menjaga konsistensi kualitas yang disediakan. Tampaknya inilah yang terjadi di hampir semua maskapai penerbangan di Indonesia. Tidak mampu mempertahankan kualitas dengan baik. Lihatlah, maskapai nasional kita, Garuda Indonesia. Pada Oktober 2006, Presiden Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengumumkan bahwa Garuda baru menerima penghargaan Indonesia Customer Satisfaction Award (ICSA 2006) untuk yang ketujuh kalinya (majalah Garuda, 2006). Nyatanya? Kejadian terburuk di Maret lalu, di saat kepercayaan sebagian besar masyarakat pada jasa penerbangan (terutama swasta) menurun, justru Garuda menambah daftar keburukan kinerja maskapai penerbangan nasional. Sungguh memprihatinkan.

Komitmen pada perbaikan kualitas yang terus-menerus (continous improvement) merupakan keharusan bagi semua perusahaan di era kompetitif seperti sekarang ini. Jika tidak, sudah diduga, seperti yang terjadi pada Garuda dan maskapai penerbangan Indonesia lain. Banned. Luar biasa. Reputasi jatuh, di mata internasional. Dapat dibayangkan, betapa harus berjuangnya maskapai kita, untuk memperbaiki citra yang sudah keburu tercoreng.

Memang kebanyakan perusahaan, lupa bahwa komitmen pada kualitas itu haruslah menyeluruh, tidak hanya tergantung pada kepemimpinan dari atas (top down leadership) tapi juga perlu adanya komitmen dari semua elemen di organisasi (bottom up commitment). Juga, banyak yang mungkin lupa, bahwa perbaikan kualitas itu bukan hal-hal yang sifatnya jangka pendek (short-term goal) yang mudah dilihat hasilnya. Tapi benefit dan hasil dari implementasi kualitas saat itu, akan dinikmati jauh di kemudian hari, dengan benefit yang jelas akan sangat jauh dari investasi yang ditanamkan di awal. Dalam bahasa Crosby, quality is free. Yang akhirnya akan mendatangkan keuntungan balik (return on quality) bagi perusahaan. Terlihat dari reputasi perusahaan yang sangat baik, yang tentu saja akan diikuti dengan tingginya value produk yang ditawarkan (i.e profit bagi perusahaan), lihat Barry and Render (2005). Dengan kata lain, bicara kualitas adalah bicara konsistensi implementasi dan bukan hal-hal yang serba instan. Di negara yang gemar dengan hal-hal yang instan seperti Indonesia, jelas aspek pemeliharaan kualitas luput dari fokus perusahaan.

Semoga, banned dari EU menjadi pembelajaran tersendiri bagi maskapai-maskapai penerbangan kita, untuk dapat perform lebih baik. Ada yang bilang pengalaman dapat menjadi guru yang terbaik. Mudah-mudahan saja, masih ada yang mampu dengan cerdas belajar dari masa lalu. Karena semestinya tidak akan pernah berhenti pembelajaran itu (never ending learning and improvements). Harapannya, Indonesia akan jauh lebih baik. Tapi kapan ya? Yah, semoga jawabannya bukan kapan-kapan. Ahh.

Discount atau Inventory: Pilih mana?

Standard

Hari kamis adalah hari ‘pasar’ (kopp donderdag) di Groningen. Pertokoan buka melebihi jam buka pada regular day, yaitu sampai jam 21.00. Menyenangkan punya kesempatan untuk sight seeing atau window shopping setelah jam kantor. Karena biasanya pulang kantor lepas petang, dan artinya semua toko sudah tutup.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Di sepanjang pertokoan, masing-masing toko berlomba dengan tulisan Oppruiming atau Sale atau diskon besar-besaran. Fenomena diskon besar-besaran dapat ditemui di mana saja. Di Indonesia, diskon besar umumnya terjadi pada saat menjelang perayaan hari-hari keagamaan (Idul Fitri atau Natal). Hanya saja, untuk negara-negara empat musim, fenomena diskon (besar-besaran) terjadi pada pergantian musim. Beberapa waktu lalu, pergantian musim dingin menuju musim semi. Kali ini, musim semi menuju musim panas.

Mengapa diskon?
Bagi pemasar, diskon dapat dipandang sebagai strategi jitu meningkatkan pendapatan dari segmen konsumen yang cukup price-sensitive dan cenderung tidak mengikuti mode atau trend fashion. Jelas, dengan diskon, konsumen akan mendapatkan barang dengan harga yang sangat jauh dari the original price. Misal, diskon 30% atau bahkan 70% untuk produk tas bermerk kipling atau sepatu casual Hush Puppies. Wow! Bagi orang-orang yang cukup price-sensitive dan tidak terlalu mengikuti fashion, namun kenal dengan brand tertentu (seperti saya, hehehe), tawaran diskon seperti ini, ibarat godaan syaitan yang terpuji. Yang terlintas di benak tentu saja: Wah, kapan lagi bisa beli barang bermerk, bagus, berkualitas dengan harga yang affordable. Chance does not come twice, does it?! 😉 Inilah yang disebut impulsive buying behavior atau undeliberate action. Aktivitas pembelian yang terjadi tanpa rencana, dan diskon menjadi salah satu pemicu. Pemasar cukup jitu memahami fenomena konsumen dengan karakteristik seperti ini.

Jika diskon adalah memberikan harga murah dari harga awal produk, tidakkah perusahaan rugi?
Fashion berganti sejalan dengan pergantian waktu atau musim. Trend 2007, jelas tidak akan relevan digunakan pada tahun 2008. Atau trend musim semi kali ini tidak akan sama dengan trend semi mendatang. Bagi mereka yang selalu mengikuti perkembangan mode atau fashion, tentu enggan, membeli produk yang old fashion. Dan tentu saja, konsumen segmen ini jelas mereka sangat tidak price sensitive tapi cukup sensitive pada mode.

Kalau tidak ada diskon, jelas perusahaan akan menanggung biaya dari inventory (persediaan) barang-barang yang tidak laku tersebut. Termasuk di dalamnya biaya upah tenaga yang merawat, biaya pengadaan alat perawatan barang itu sendiri. Belum lagi, biaya pengadaan tempat. Tentu saja, komponen-komponen biaya ini akan menjadi beban tersendiri bagi perusahaan. Maka, alternatif yang sering diambil adalah SALE.

Dengan kata lain, adanya diskon adalah win-win solution. Win bagi perusahaan, dalam konteks mengurangi biaya inventory. Dan tentunya, Win bagi konsumen price-sensitive, tapi melek merek, seperti saya ini. Sering-sering aja, SALE and SALE!

Memaknai kelahiran …

Standard

Baru saja, seorang sahabat lama kirim sms: “… Aku mau lahiran awal Juli ini. So, doakan lancar ya! Kamu take care ya di sana …”. Alhamdulillah, salah satu sahabat sejak SMA akan memiliki anaknya yang kedua. Good news!

Sejenak kemudian, saya tercenung. Terlintas kembali masa-masa saat mengandung dan masa-masa perjuangan saat melahirkan, sekian tahun yang lalu. Maha dahsyat dan begitu menakjubkan. Tak terasa sudah sekian tahun berlalu. Kini, usia malaikat kecil itu, Mila, sudah hampir 8 tahun pada 23 Agustus nanti. Tahun ini juga, akan masuk kelas 3 SD. Sudah bisa ngajarin renang, baca Al Quran, beragumen layaknya orang dewasa dan nyindir papa-mamanya. (Ah, mirip aku banget, hehehe). Ya Allah, sudah bukan balita lagi, “Milaku” sekarang, begitu saya sering memanggilnya. Dan mungkin ini adalah bentuk representasi kepemilikan.

Saya jadi teringat untaian kata-kata indah berikut ini:

***
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Karena mereka memiliki fikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
(Dari Khahlil Gibran dalam ‘Cinta, Keindahan, Kesunyian’)
***

Ya, anak adalah amanat terindah dan sekaligus terberat yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Dengan kesederhanaan, kasih sayang dan cinta. (ah jadi kangen). Hiks hiks.

Anyway,

Hmm, sebagai seorang ibu (yang merasa masih) muda, sms tadi cukup membuat saya tergugah, dan ingin mengulangi masa-masa itu. Sebuah karunia Tuhan yang tak ternilai dengan apapun, memiliki anak. Tapi, kapan lagi ya … Semoga segera, setelah ‘satu tugas’ selesai. Insya Allah. Amin.

Special to Titin, semoga kelahiranmu lancar ya. Dan semuanya sehat selalu. Amin allahumma amin.

Naik sepeda, why not?

Standard

Bersepeda, saat ini, adalah salah satu rutinitas saya sehari-hari di Groningen. Dengan sepeda yang saya beli bulan Februari 2007 lalu seharga 120 euro (second), jadilah saya bersepeda setiap hari, dari apartemen (Schoolholm) ke kantor (DRS atau Zernike). Kira-kira hanya memakan waktu sekitar 15-20 menit, tergantung speed juga. Ya, kalau pakai acara mampir dan liat kanan-liat kiri, mungkin lebih dari itu. Bolak-balik, hanya kurang dari 1 jam per harinya. Hitung-hitung olah raga sehat dan paling murah, setiap hari. Apalagi, jika cuaca cerah, tidak hujan dan tidak panas terik. Asyik sekali. Dan di Belanda, terutama Groningen, alat transportasi yang paling mudah, nyaman, enak dan murah adalah sepeda. Setiap orang di kota (negara) ini, umumnya mempunyai sepeda. Mulai dari pekerja cleaning services di kantor saya, sampai profesor saya bahkan rektor dan menteri. Bersepeda bukan merupakan representasi kelas sosial tertentu di negara ini. Tapi sepertinya, nuansa bersepeda, banyak ditemui di negara-negara Eropa lain, misal Jerman. Bahkan dulu, sewaktu saya di Norway, sebagian besar masyarakatnya pun, sangat terbiasa dengan sepeda.

Suatu ketika, pada perjalanan pulang dari kantor bersama temen, saya sempat berujar: “Wah, enak kali ya kalau di Yogya, naik sepeda kayak gini?” Jawaban spontan temen saya saat itu: “Emang mau? Mana ada yang mau? Panas dan bikin hitem”. Saya kemudian diam saja. Ah, masa’ sih, tidak bisa digalakkan bersepeda di Yogya. Bukannya dulu (dulu sekali), setahu saya, sebagian besar masyarakat Yogyakarta menggunakan alat transportasi sepeda. Sebenarnya fenomena ini masih sering saya temui hingga saat ini, terutama di daerah Bantul. Tiap pagi, berbondong-bondong orang pergi ke tempat kerja ke arah Utara (kota Yogya) dengan bersepeda. Dan menjelang senja, sebaliknya, dari arah Utara kembali menuju Selatan. Siapa mereka ini? Umumnya mereka adalah pekerja buruh kasar, tukang kayu atau batu yang tiap harinya menggantung nasibnya bekerja di Kota Yogyakarta. Jelas, bersepeda di Yogya (dan mungkin di Indonesia secara umum), merepresentasikan kaum marjinal dan pinggiran. Kelas ekonomi sulit.

Lebih detail, sebuah survei menyebutkan bahwa:

“volume pengendara sepeda yang keluar masuk kota Yogya adalah 31. 018 unit dengan penyebaran 15.300 unit masuk kota dan 15.718 ke luar kota. Dari jumlah itu pengendara yang punya profesi sebagai pekerja 28.035 (21.435 putra dan 6.612 putri) serta pelajar 2.983 (1.999 putra dan 984 putri). Dibandingkan survei tahun 2005, survei tahun 2006 volume pengendara sepeda yang keluar masuk kota Yogya naik 3.449 (12,51%). Walaupun secara umum pengendara sepeda dalam survei tahun 2006 meningkat, tetapi di ruas-ruas jalan tertentu terjadi penurunan. Seperti misalnya di Jl Monjali terjadi penurunan 770 (58,82%), Jl Kaliurang 89 (9,42%) dan jalan Blok O Banguntapan 1,278 (54,24%).” [KR online, 5 April 2006]

Wah, kalau volume orang bersepeda masih cukup tinggi seperti itu, ditambah dengan dampak naiknya BBM tahun ini dan mendatang, saya yakin akan banyak orang yang berpindah ke sepeda. Dengan demikian, problem macet karena semakin banyaknya volume kendaraan (roda empat dan terutama motor) dapat terkurangi. Disamping, tingkat polusi yang sangat tinggi karena asap kendaraan bermotor.

Maka kemudian peran dari pemerintah daerah untuk membuat fasilitas penunjang agar penyepeda semakin nyaman bersepeda, menjadi hal mutlak. Misal membuat jalur khusus sepeda— walaupun hanya berupa cat memanjang. Menanam pohon-pohon perindang di pinggir jalan khusus dekat jalur sepeda, saya yakin akan semakin membuat nyaman bersepeda.

Dengan demikian, mudah-mudahan, jika saya di Yogya, saya masih bisa melanjutkan rutinitas saya, bersepeda. Why not?! Asyik lho. 😉

Belajar dari “Madurodam”

Standard

Madurodam: Miniature of Holland

25 Maret 2007, tiba di Madurodam, pertama yang terlintas dalam benak saya waktu itu: smart country dan smart people. Kenapa? Kalau dibandingkan dengan negara kita, Indonesia, Belanda itu negaranya jauh lebih kecil daripada luas area Indonesia. Berdasar data Index Mundi (2007), sebagai perbandingan, total area Indonesia adalah 1,919,440 km2, dengan luas tanah 1,826,440 km2 dan air 93,000 km2. Indonesia menduduki ranking ke 22. Sementara Belanda menduduki rangking ke 141, dengan luas total area 41,526 km2 dengan luas tanah 33,883 km2 dan air 7,643 km2.

Dengan perbandingan seperti itu, dijamin, tidak butuh waktu lama dan berhari-hari untuk melihat semua kota di Belanda dari ujung Utara (i.e Groningen) sampai Selatan (i.e Maastricht) atau dari sudut Barat (i.e The Hague) dan Timur (i.e Enschede), dibandingkan kalau harus bepergian mengunjungi kota-kota di Indonesia, mulai dari Banda Aceh (Pulau Sumatera), Jakarta (Pulau Jawa), Bali, Lombok, Balikpapan (Pulau Kalimantan), Manado (Pulau Sulawesi), Ambon Manise … Wuih!

Nah, sudah negara-nya ‘kecil’ seperti itu, mereka justru menciptakan yang jauh lebih kecil, Belanda dalam edisi miniatur, Madurodam (Holland in Miniature). Sedikit asal-muasal Madurodam:

History
Madurodam was opened officially on 2 July 1952. This amusement park has a very interesting history. It was established for two reasons: as a war monument and as a charity foundation. The joint initiators were Mrs B. Boon-van der Starp and Mr. and Mrs. J.M.L. Maduro. Mr. and Mrs. Maduro from Willemstad, Curaçao were eager to erect a monument in honour of their only son George, who died as a prisoner in Dachau in February 1945. For his heroic deeds in the first days of the war he posthumously received the Military Order of William I. Before the war, George J.L. Maduro had been a law student in the city of Leiden. After they met Mrs. Boon-van der Starp, Mr. and Mrs. Maduro decided to donate a sum of money for the construction of a miniature city as a monument in commemoration of their son, instead of erecting a regular monument.

The mayor of The Hague was also willing to contribute to this unique plan and arranged for a piece of land in the Scheveningse Bosjes to be handed over on the basis of a long lease. The grounds were cleared by enthusiastic students from the Delft Technical University. The exploitation was carried out by the Society for the Support of the Dutch Student Sanatorium and specialists in many fields.

The design of Madurodam was expended in 1996. The entrance, consisting of two dykes and a big lighthouse and some new models were made as also two multifunctional conference rooms and a exhibition hall. The biggest building project after the opening is the renewed Amsterdam Airpot Schiphol. In 2003 the new airport was opened after a complete renovation. On the platform there is a new induction technique, presented here for the first time. It enables the three-meter long aircraft to taxi along the platform employing a magnetic field, rechargeable batteries and miniature computers.

Process
All objects in Madurodam are made on a 1:25 scale. The scale models are true copies of the originals and are constructed by our own staff from various materials. Madurodam finances about 80 percent of the scale models that it builds from its own funds. The rest is (partly) sponsored by companies and institutions that have a special interest in a specific object. The process of making an objects is starting from drawing, photos, selecting of right materials, and milling machines. After the rough outlines have been cut, the most important and time-consuming phase begins: making corners and extensions and adding all the necessary chimneys, exterior stairways, roof terraces, etc.

The time it takes to build a scale model can vary considerably. Small buildings usually take about three months, but there are also building complexes that take two to three years to complete.
After the building stage is completed, the model goes to the paint shop.

Versi lengkap dan valid dapat dilihat di http://www.madurodam.nl. Jelas ini bukan promosi atau basa-basi lainnya. Benar-benar, smart country dengan smart people who have brilliant idea. Tidak harus punya lahan besar untuk membuat hal besar yang dapat menghasilkan hal besar juga bagi negara. Kreativitas + Aksi Nyata, bisa menghasilkan Uniqueness, dengan uniqueness menjadi sumber keunggulan kompetitif suatu bangsa (Porter, 1998). Anda bisa bayangkan, dengan biaya tiket masuk per orang (saat itu adalah 12 euro, jelas ini bukan harga yang murah, menurut student seperti saya). Dengan waktu kunjungan (in a very fast visit, bisa kurang dari 2,5 jam). Wah wah. Berapa banyak pemasukan pemda per bulannya. Dan Madurodam sudah menjadi salah satu icon Belanda, bagi turis-turis manca. “Belumlah ke Belanda, jika belum ke Madurodam”. Hmm … Hal kecil dengan keseriusan yang tinggi, menjadi hal yang luar biasa. Amazing!***

Rendah, Adopsi Teknologi Informasi oleh UKM di Indonesia

Standard

Benarkah?

[Majalah PIP, 2007] Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perhatian dan inisiatif ditujukan untuk pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun lembaga swasta, termasuk perbankan. Peran UKM dalam perekonomian sebuah negara, termasuk Indonesia, memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai contoh, di Belanda, UKM merupakan 98,8% perusahaan yang ada dan menyerap 55% angkatan kerja. Sebanyak 35 juta dollar Amerika ekspor Italia merupakan kontribusi UKM yang menyerap 2,2 juta tenaga kerja. Di Vietnam, sebanyak 64% angkatan kerja diserap oleh UKM. Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Menurut data Biro Pusat Statistik dan Kementerian Koperasi dan UKM 2005, jumlah UKM di Indonesia mencapai 43,22 juta. Sektor UKM di Indonesia terbukti telah menyerap 79,6 juta tenaga kerja, mempunyai andil terhadap 19,94% nilai ekspor dan 55,67% Produk Domestik Bruto (PDB).

Meskipun peran UKM sangat strategis, namun ketatnya kompetisi, terutama menghadapi perusahaan besar dan pesaing modern lainnya telah menempatkan UKM dalam posisi yang tidak menguntungkan. Di Indonesia, sebagian besar UKM menjalankan usahanya dengan cara-cara tradisional, termasuk dalam produksi dan pemasaran. Namun demikian, masalah yang dihadapi oleh UKM di negara-negara berkembang sebenarnya bukanlah karena ukurannya, tetapi lebih karena isolasi yang menghambat akses UKM kepada pasar, informasi, modal, keahlian, dan dukungan institusional.

Teknologi informasi (TI) yang berkembang sangat pesat datang dengan peluang-peluang baru yang dapat mengatasi sebagian masalah UKM tersebut. Meskipun peluang yang dibawa oleh TI sangat besar, namun banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa adopsi TI oleh UKM masih rendah dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar. Menurut hasil studi lembaga riset AMI Partners, hanya 20% UKM di Indonesia yang memiliki komputer.

Kurangnya pemahaman peran strategis yang dapat dimainkan oleh TI terkait dengan pendekatan baru pemasaran, berinteraksi dengan konsumen, dan bahkan pengembangan produk dan layanan diduga sebagai sebab rendahnya adopsi TI oleh UKM di Indonesia. Berdasar survei yang dilakukan oleh penulis terhadap UKM di Yogyakarta, alasan UKM yang belum menggunakan komputer adalah karena tidak merasa butuh (82,2%), dukungan finansial yang terbatas (41,1%), dan karena tidak memiliki keahlian untuk menggunakan (4,1%).

Dari UKM yang telah mempunyai komputer, belum banyak yang menggunakannya untuk aktivitas strategis dan berorientasi eksternal. Merujuk skenario adopsi TI (lihat Tabel) sebagian besar UKM di Indonesia berada pada tingkat 0 atau 1. Hal ini didukung oleh data bahwa sebanyak 68,9% UKM menggunakan komputer hanya untuk mengetik surat atau laporan, 66,67% untuk melakukan perhitungan, 34,5% untuk mengakses Internet, 43,7% untuk mendesain produk, 28,7% untuk menjalankan sistem informasi, dan 20,7% untuk melakukan presentasi.

Tabel skenario adopsi TI oleh UKM
====================================================
Tingkat Keterangan
0 Tidak/belum menggunakan TI
1 Integrasi fungsional yang berorientasi internal
2 Integrasi multifungsional yang berorientasi eksternal
3 Integrasi proses yang berorientasi eksternal
4 Perancangan ulang proses bisnis (business process redesign)
5 Redefinisi lingkup bisnis dengan bantuan TI
=====================================================

Yang menarik, berdasar survei yang dilakukan penulis, persentase UKM yang menggunakan Internet lebih besar daripada yang mempunyai komputer. Hal ini sangat mungkin, karena ketersediaan akses Internet yang ditawarkan oleh warnet. Bahkan sebagian besar UKM telah mengakses Internet sebelum mempunyai komputer sendiri. Apa yang dilakukan oleh UKM sewaktu online? Mencari informasi dan melakukan komunikasi adalah dua aktivitas online yang paling domiman. Masih sangat sedikit proporsi UKM yang melakukan transaksi online (lihat Tabel).

Tabel penggunaan Internet oleh UKM
==================================
No Penggunaan %
==================================
1 Mencari informasi pasar 92,16
2 Mencari informasi desain 80,39
3 Memasarkan produk 60,8
4 Komunikasi dengan mitra usaha 58,8
5 Komunikasi dengan konsumen 45,1
6 Memfasilitasi pemesanan online 37,3
7 Komunikasi dengan pemasok 37,3
8 Transaksi online 29,4
==================================

Berdasar fakta yang ada, tidak dapat dipungkiri bahwa adopsi TI di kalangan UKM Indonesia masih rendah. Namun demikian, banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adopsi TI. Peningkatan keahlian pelaku UKM dalam pemanfaatan TI melalui berbagai pelatihan dan pendampingan merupakan salah satunya. Banyak pihak dapat berperan, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, maupun lembaga swadaya masyarakat. Akan tetapi, hal pertama yang harus dilakukan adalah peningkatan kesadaran (awareness) pelaku UKM akan potensi strategis TI dalam pengembangan usaha.Tanpa kesadaran ini, rasanya akan sulit memotivasi pelaku UKM untuk mengadopsi TI. Singkat kata, pilihan UKM untuk masuk pasar global yang sudah terbuka hanya satu: gunakan TI atau ’mati’!

***
Note: Ditulis bersama Fathul Wahid (penulis pertama). Artikel pernah dimuat di Majalah Pusat Informasi Perkoperasian. Dewan Koperasi Indonesia. Edisi 281/Januari/Th. XXIV/2007. Available on: http://www.majalah-pip.com/majalah/treeBuilder.php?pID=11&tID=856#

 

Children Learn What They Live

Standard

Ever wonder what a good parent is …

Being a parent, or especially, being a mother, is one of the most lovely and delightful feeling ever in life. Thanks God! for giving this unvalueable chance, I ever have. Hard to find proper words to express how the feelings are … Ever wonder how to be a good parent is … I quote a very positive and valuable poem written by Dorothy Law Nolte (1998), the one that I love very much.

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.

Lets do best for our children and the days to come.

Source: Dorothy Law Nolte. Children Learn What They Live: Parenting to Inspire Values. 1998.