Naik sepeda, why not?

Standard

Bersepeda, saat ini, adalah salah satu rutinitas saya sehari-hari di Groningen. Dengan sepeda yang saya beli bulan Februari 2007 lalu seharga 120 euro (second), jadilah saya bersepeda setiap hari, dari apartemen (Schoolholm) ke kantor (DRS atau Zernike). Kira-kira hanya memakan waktu sekitar 15-20 menit, tergantung speed juga. Ya, kalau pakai acara mampir dan liat kanan-liat kiri, mungkin lebih dari itu. Bolak-balik, hanya kurang dari 1 jam per harinya. Hitung-hitung olah raga sehat dan paling murah, setiap hari. Apalagi, jika cuaca cerah, tidak hujan dan tidak panas terik. Asyik sekali. Dan di Belanda, terutama Groningen, alat transportasi yang paling mudah, nyaman, enak dan murah adalah sepeda. Setiap orang di kota (negara) ini, umumnya mempunyai sepeda. Mulai dari pekerja cleaning services di kantor saya, sampai profesor saya bahkan rektor dan menteri. Bersepeda bukan merupakan representasi kelas sosial tertentu di negara ini. Tapi sepertinya, nuansa bersepeda, banyak ditemui di negara-negara Eropa lain, misal Jerman. Bahkan dulu, sewaktu saya di Norway, sebagian besar masyarakatnya pun, sangat terbiasa dengan sepeda.

Suatu ketika, pada perjalanan pulang dari kantor bersama temen, saya sempat berujar: “Wah, enak kali ya kalau di Yogya, naik sepeda kayak gini?” Jawaban spontan temen saya saat itu: “Emang mau? Mana ada yang mau? Panas dan bikin hitem”. Saya kemudian diam saja. Ah, masa’ sih, tidak bisa digalakkan bersepeda di Yogya. Bukannya dulu (dulu sekali), setahu saya, sebagian besar masyarakat Yogyakarta menggunakan alat transportasi sepeda. Sebenarnya fenomena ini masih sering saya temui hingga saat ini, terutama di daerah Bantul. Tiap pagi, berbondong-bondong orang pergi ke tempat kerja ke arah Utara (kota Yogya) dengan bersepeda. Dan menjelang senja, sebaliknya, dari arah Utara kembali menuju Selatan. Siapa mereka ini? Umumnya mereka adalah pekerja buruh kasar, tukang kayu atau batu yang tiap harinya menggantung nasibnya bekerja di Kota Yogyakarta. Jelas, bersepeda di Yogya (dan mungkin di Indonesia secara umum), merepresentasikan kaum marjinal dan pinggiran. Kelas ekonomi sulit.

Lebih detail, sebuah survei menyebutkan bahwa:

“volume pengendara sepeda yang keluar masuk kota Yogya adalah 31. 018 unit dengan penyebaran 15.300 unit masuk kota dan 15.718 ke luar kota. Dari jumlah itu pengendara yang punya profesi sebagai pekerja 28.035 (21.435 putra dan 6.612 putri) serta pelajar 2.983 (1.999 putra dan 984 putri). Dibandingkan survei tahun 2005, survei tahun 2006 volume pengendara sepeda yang keluar masuk kota Yogya naik 3.449 (12,51%). Walaupun secara umum pengendara sepeda dalam survei tahun 2006 meningkat, tetapi di ruas-ruas jalan tertentu terjadi penurunan. Seperti misalnya di Jl Monjali terjadi penurunan 770 (58,82%), Jl Kaliurang 89 (9,42%) dan jalan Blok O Banguntapan 1,278 (54,24%).” [KR online, 5 April 2006]

Wah, kalau volume orang bersepeda masih cukup tinggi seperti itu, ditambah dengan dampak naiknya BBM tahun ini dan mendatang, saya yakin akan banyak orang yang berpindah ke sepeda. Dengan demikian, problem macet karena semakin banyaknya volume kendaraan (roda empat dan terutama motor) dapat terkurangi. Disamping, tingkat polusi yang sangat tinggi karena asap kendaraan bermotor.

Maka kemudian peran dari pemerintah daerah untuk membuat fasilitas penunjang agar penyepeda semakin nyaman bersepeda, menjadi hal mutlak. Misal membuat jalur khusus sepeda— walaupun hanya berupa cat memanjang. Menanam pohon-pohon perindang di pinggir jalan khusus dekat jalur sepeda, saya yakin akan semakin membuat nyaman bersepeda.

Dengan demikian, mudah-mudahan, jika saya di Yogya, saya masih bisa melanjutkan rutinitas saya, bersepeda. Why not?! Asyik lho.😉

7 thoughts on “Naik sepeda, why not?

  1. Assalamualaikum WR WB
    Wah menarik sekali artikel Bu Nurul. Saya M. Alif bu dulu mahasiswa Ibu di swadaya sekarang saya di srbya dan sedang mencari nafkah di PT. MIWON..saya mengucapkan selamat menempuh studi buat Ibu semoga semua lancar dan selalu dikasih kemudahan. Kebetulan saya di tempat kerja ditempatkan di warehouse finish goods dan saya merasa bisa mengaplikasikan ilmu operational mngmnt seperti tang pernah Ibu ajarka di kelas. Terima kasih.
    Wassalam

  2. BUSYETT coment dari mhs nya… hebat deh bu dosen.. Soal sepeda mari kita nyepeda bareng di Yogya… make Yogya clean and clear … anyway.. ada ngga ya hubungan antara bersepeda dengan operational management….. kayaknya bisa diada adakan tuh… sukses selalu ya Bu Dosen…

  3. sepeda-sepedaan di indo mah dijamin idung item, kulit gosong, bau asep..jalannya mendaki-daki ga bertepi…lom lagi saingan ma motor , tru, bis yang kenceng..haduhhhhh kacau dehh…

  4. Halo Alif, terima kasih doanya. Wah alhamdulillah, saya turut senang, Alif sudah mapan di Surabaya ya. Bahagia sekali rasanya, kalau ada ilmu yang dipelajari dapat dimanfaatkan dengan baik. Jangan segan sharing dengan saya ya. Someday, kalau memungkinkan, bisa berbagi ilmu warehousing dengan rekan-rekan atau adik kelas di FE UGM. Sukses selalu. Keep in touch ya. Salam. Nurul

  5. Halo Pak Dosen Didit, hubungan bersepeda dengan operations management? Jelas ada. Sepeda, jelas tidak memerlukan tempat parkir yang luas, baik di rumah, di kantor dll. Artinya, kalau misal di rumah, tidak perlu menyediakan tempat luas untuk menyimpan sepeda. Biaya pengadaan lahan yang hanya dimaksudkan untuk penyimpanan, menjadi minimal. Tau kan kalau harga untuk space tidak murah.😉 Jadi bersepeda lebih hemat tempat. Lebih efisien. Dalam manajemen operasi, mengacu pada pendekatan lean management, manajemen yang ramping. oO, bicara ramping dan ramping … (Ngga nyindir Pak Didit lho ya? ;-)). Anyway, thanks a lot for ur comments.

  6. sepeda sejenis “onthel ontha” sebenarnya akar dari transportasi darat. namun ia hilang bahkan dilenyapkan dari peradaban manusia. lantaran, pengaruh modernisasi yang segala sesuatunya menghendaki efisiensi yang terus memberangusnya. mungkin, hanya negara barat lah yang telah lama meinggalkan modenrisasi dan lebih menghargai budaya lokal. dan bagi mereka bersepeda bagian dari pemeliharan tradisi sekaligus mempertahan keasriam lingkungan. so, bagaimana kita memulainya? of coures, it’s depend to us

  7. Di Indonesia sudah mulai ada komunitas yang concern terhadap manfaat dari bersepada. salah satunya adalah “B2W” (bike to work). Komunitas ini memang belum terlalu besar anggotanya masih relatif sedikit sehingga belum significant mengurangi penggunaan bahan bakar. B2W ini juga banyak mendapat penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri dalam bidang lingkungan. B2W dianggap mampu mempengaruhi masyarakat untuk bersepeda. Dan jumlah anggota B2W Terus meningkat.
    Kalau saya pribadi diajak bersepeda, saya akan sangat mau cuma jelas saya menuntut suasa di Indonesia senyaman di Negara – negara maju. Karena kalu tetap nekat bersepeda di indonesia, bukan sehat yang kita dapat malahan ISPA dan Kanker kulit dapat menjadi ancaman buat kita. Mmm mungkin dimulai dari perbaikan transportasi di Indonesia. Sehingga orang mulai nyaman menggunakan angkutan umum daripada membawa kendaraan pribadi alhasil polusi dapat ditekan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s