Memaknai kelahiran …

Standard

Baru saja, seorang sahabat lama kirim sms: “… Aku mau lahiran awal Juli ini. So, doakan lancar ya! Kamu take care ya di sana …”. Alhamdulillah, salah satu sahabat sejak SMA akan memiliki anaknya yang kedua. Good news!

Sejenak kemudian, saya tercenung. Terlintas kembali masa-masa saat mengandung dan masa-masa perjuangan saat melahirkan, sekian tahun yang lalu. Maha dahsyat dan begitu menakjubkan. Tak terasa sudah sekian tahun berlalu. Kini, usia malaikat kecil itu, Mila, sudah hampir 8 tahun pada 23 Agustus nanti. Tahun ini juga, akan masuk kelas 3 SD. Sudah bisa ngajarin renang, baca Al Quran, beragumen layaknya orang dewasa dan nyindir papa-mamanya. (Ah, mirip aku banget, hehehe). Ya Allah, sudah bukan balita lagi, “Milaku” sekarang, begitu saya sering memanggilnya. Dan mungkin ini adalah bentuk representasi kepemilikan.

Saya jadi teringat untaian kata-kata indah berikut ini:

***
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Karena mereka memiliki fikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
(Dari Khahlil Gibran dalam ‘Cinta, Keindahan, Kesunyian’)
***

Ya, anak adalah amanat terindah dan sekaligus terberat yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Dengan kesederhanaan, kasih sayang dan cinta. (ah jadi kangen). Hiks hiks.

Anyway,

Hmm, sebagai seorang ibu (yang merasa masih) muda, sms tadi cukup membuat saya tergugah, dan ingin mengulangi masa-masa itu. Sebuah karunia Tuhan yang tak ternilai dengan apapun, memiliki anak. Tapi, kapan lagi ya … Semoga segera, setelah ‘satu tugas’ selesai. Insya Allah. Amin.

Special to Titin, semoga kelahiranmu lancar ya. Dan semuanya sehat selalu. Amin allahumma amin.

4 thoughts on “Memaknai kelahiran …

  1. jangan takut nambah anak lagi deh.. kan ada tukang bius yang akan membuat melahirkan meski normal tidak sakit… istri saya dah dua kali pakai epidural… saya yang menyuntikkan..

    he he…

  2. jangan takut hamil lagi deh.. kasihan tuh anaknya butuh temen…
    lagian bisa nggak sakit kok..
    istri saya dua yg terakhir nggak kesakitan kok pas melahirkan, kan ada anestesi… malah saya yg mbantu nyuntikkan obatnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s