Plaza Ambarrukmo: Fasilitasmu mengecewakan!

Standard

Cerita ini sebenarnya terjadi beberapa waktu yang lalu, yang membuat saya masih tergelitik untuk menuangkannya dalam blog saya ini. Begini ceritanya: dua hari setelah kepulangan saya ke Yogyakarta, saya berniat ajak si kecil nonton film cukup legendaris, Harry Porter. Dan ternyata usul itupun dia setujui. Bertiga, saya, si Kecil dan Om-nya (Fadil, 9 tahun), menuju ke Plaza Ambarrukmo. Saat itu adalah Sabtu siang, 14 Juli 2007, setelah si Kecil menyelesaikan les biolanya.

Perut kami pun sedikit keroncongan. Maklum belum makan siang. Dalam perjalanan menuju Plaza, saya sempat melirik dompet saya, ahh, hanya tinggal 20 ribu rupiah yang tersisa. Selebihnya lembar 50 euro dan 20 euro, sisa perjalanan dari Belanda. Tapi, ah iya, saya cukup lega, masih ada dua kartu bank: kartu debit dan credit. Aman saya pikir. Toh, nanti saya bisa tinggal gesek ketika melakukan transaksi, seperti yang selalu saya lakukan di Belanda (terutama). Atau ambil di ATM, saran si Kecil. Di dalam mobil kami pun membuat kesepakatan, untuk makan siang dulu, atau nonton dulu, tergantung jadwal film yang akan diputar.

Mendekati Plaza, jalanan mulai tampak sangat ramai. Mobil antri memasuki area parkir. Saya sempat tanyakan sekali lagi pada satpam saat pengecekan kendaraan, Pak, ada ATM di Plaza? Dengan sangat yakin, si Bapak Satpam pun menjawab, iya ada Bu, di Lantai Dasar. Wah, sippp kalau begitu. Kekhawatiran saya mulai pudar.

Mobil perlahan memasuki ruang parkir. Ah penuh sekali. Banyak bener orang yang mengunjungi Mall terbesar di Yogya saat itu. Ah, mungkin saja, karena memang hari itu, adalah hari terakhir liburan sekolah. Setelah berkeliling terus dari bawah ke atas, mencari tempat parkir, akhirnya kami dapat di Lantai P1, cukup jauh juga dari lantai dasar. Ternyata, justru di lantai P1 itu langsung menuju bioskop 21. Bergegas, kami bertiga menuju ke bioskop. Alhamdulillah, ada jadwal terdekat masih 30 menit lagi, dan seat masih tersedia. Dengan semangat 45, saya pesan dan bermaksud membayar, dengan cukup `nggesek`. Praktis. Ah sayang, jenis kartu bank yang saya pakai tidak bisa beroperasi di hari itu. Kedua jenis kartu bank yang saya punyai, tak satupun yang bisa. Alasannya, kalau kartu bank A, Bu, berlaku hari Selasa, Kamis dan Jumat. Kalau kartu bank B Bu, baru berlaku pertengahan Agustus. Alamakk!!! Saya pun disarankan untuk ambil cash, di lantai dasar. Di sana ada ATM. Duh duh, dari lantai atas, turun ke lantai dasar. Dan itupun akhirnya kami lakukan. Sampai di counter ATM, wah wah, ternyata bad day betul hari itu. ATM untuk kartu bank yang saya punya, justru error. Ampun ampun. Tentu saja, saya tidak bisa ambil uang cash saat itu. Rencana pun segera saya ubah. Saya putuskan untuk makan siang dulu. Setelah itu, cari ATM di luar Plaza. Tapi, tapi … ternyata, semua counter restoran di Plaza, tidak memiliki sistem pembayaran dengan cukup nggesek. Wuaahhhh!!!

Sungguh nggonduk betul saya, dan tentu saja si kecil. Heran! Mall semegah itu, Plaza Ambarrukmo, fasilitas transaksinya sangat-sangat minim. Saya yakin, ada banyak orang yang bernasib seperti saya. Sayang sekali, saya pikir. Berapa banyak kemungkinan loss dari pembelian atau transaksi yang batal hanya karena tidak ada fasilitas yang cukup memudahkan konsumen untuk melakukan transaksi saat itu juga. Semestinya, dengan bangunan semegah itu, fasilitas-fasilitas krusial termasuk fasilitas pembayaran sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Terlepas, apakah budaya masyarakat Indonesia, khususnya Yogyakarta dan sekitarnya yang sudah berganti dengan budaya non-cash, tapi menyediakan fasilitas yang terintegrasi dan menurut saya menjadi basic need consumen adalah keharusan. Apalagi, jika kemudian semakin banyak turis asing atau konsumen yang berpola praktis di masa datang. Semoga kian hari, fasilitas Plaza ini, semakin baik.

Romantisme Kolonial yang Terbengkalai

Standard

Selasa, 17 Juli 2007, saya kebetulan dapat tugas untuk menghadiri beauty contest di PT. Bank BNI Tbk, yang berlokasi di Jalan Lada, Jakarta. Dari bandara Soekarno-Hatta, saya dengan teman menuju lokasi. Memasuki kawasan yang dituju, suasana yang saya lihat adalah hal yang sangat kental dengan khas Jakarta adalah ramai, padat dan macet. Selain sumpek, panas dan agak kumuh (tepatnya kotor), serta macet tentu saja. Tapi inilah gambaran khas Jakarta kita. Pusat dimana hampir sebagian besar aktivitas perekonomian berada di kota ini. No doubt tentang hal itu. Akan tetapi ada hal menarik yang dapat saya nikmati dalam perjalanan menuju Kantor BNI tersebut. Setidaknya sambil melihat ke kanan dan ke kiri tampak jelas bangunan-bangunan kental bernuansa kolonial. Mulai dari bangungan pertokoan dan kantor-kantor yang masih menggunakan sisa bangunan kolonial. Stasiun Jakarta Kota misalnya, bahkan sungai-sungai yang membentang di tengah kota, mirip sekali dengan kanal-kanal yang sering saya lihat di Belanda. Sungguh kental khas kolonial masa lalu, di kawasan ini.

Tapi, terlihat betul perbedaannya. Yang terpampang jelas perbedaannya adalah bangunan-bangunan peninggalan Belanda itu tampak terlihat kotor, tidak terawat dan jelas sudah semakin tua dimakan jaman. Sungai yang ada tampak tak berair dan kotor dipenuhi dengan sampah-sampah dedaunan dan limbah lainnya. Ah sayang sekali.

Begitu memasuki gedung kantor BNI di Jalan Lada, Jakarta, saya mendapati nuansa bangunan yang justru sangat kental dengan modernitas yang dikemas cukup apik di dalam kemegahan sisa-sisa kolonial. Selidik punya selidik, ternyata inilah bentuk agreement pihak BNI dan pemerintah lokal setempat. Agreement yang dimaksud mengatur perubahan dan penambahan bangunan di lokasi tersebut. Pihak industri (terutama) dan masyarakat diperbolehkan melakukan renovasi asal tidak mengubah atau melakukan penambahan yang cukup signifikan dari kondisi bangunan asal. Ah, bagus sekali kebijakan tersebut. Setidaknya, dengan cara inilah, saksi-saksi sejarah yang berupa bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda dapat tetap berdiri di sana dan dilestarikan. Sudah semestinya, pemerintah (lokal setempat) cukup aware juga dengan pemeliharaan lingkungan di sudut-sudut kota Jakarta yang sarat dengan nilai-nilai historis Belanda. Saya membayangkan betapa indahnya jika ada kawasan sejarah di salah satu sudut kota Jakarta yang cukup sesak dipenuhi bangunan-bangunan modern, mall-mall dan ciri modernitas lainnya. Bukan mustahil, hal itu akan menjadi aset tersendiri di masa mendatang. Karena, dalam benak saya, akan semakin banyak orang yang justru menyenangi romantisme-romantisme sejarah seiring dengan kemajuan dalam banyak hal. 

Sistem Informasi Down: Haruskah jadi gagap?

Standard

Adanya teknologi khususnya teknologi informasi jelas sudah tidak diragukan lagi dalam menunjang dan mempermudah jalannya berbagai aktivitas-aktivitas perusahaan. Sebut saja sistem akuntansi (yang level sederhanapun) akan mempermudah proses pembukuan. Sistem informasi akademik memperlancar kegiatan perkuliahan (i.e. pemantauan skedul dosen atau waktu ujian). Atau misalnya, adanya sistem informasi membantu bandara dan maskapai penerbangan menentukan jadwal penerbangan, pembagian tempat duduk penumpang dan lainnya. Tak heran, pentingnya sistem informasi tersebut dalam menunjang kinerja perusahaan sangat didengung-dengungkan. Banyak perusahaan kemudian begitu terbiasa dengan kemudahan sistem yang ada. Jelas, karena selain mempermudah, akan mempercepat pekerjaan dengan ketepatan yang juga sangat tinggi. Tapi apa yang kemudian terjadi jika sistem rusak?

Setidaknya inilah yang terjadi dan saya alami pada hari Kamis lalu, 12 Juli 2007, sistem informasi down pada saat saya cek in dengan GA212 pada jam 16an sore, dalam perjalanan pulang ke Yogya. Akhirnya, manualisasipun tidak terhindarkan. Nomor tempat duduk penumpang pun diisi manual dengan tulisan tangan. Tentu saja, terlihat dan terasa jelas ribetnya. Petugas mencocokkan nama penumpang dengan daftar nama penumpang yang sepertinya sudah diprint, dan kemudian menuliskan no seat penumpang tersebut ke bukti boarding. Masih juga harus mencatat beberapa kode untuk entry Garuda Frequent Flyer misalnya, atau untuk kode bagasi. Tapi satu per satu penumpang pun selesai dilayani oleh manual cek in tersebut.

Tepat jam 17.10 WIB, para penumpang dipersilahkan memasuki pesawat. Direncanakan pesawat akan take off 10 menit kemudian. Satu per satu penumpang masuk, sambil menunjukkan boarding pass masing-masing. Satu per satu duduk sesuai dengan nomor yang tertera di boarding pass tersebut. Disinilah kemudian keributan bermula. Tampak beberapa penumpang belum duduk, karena selidik punya selidik, mereka memiliki nomor duduk yang sama. Wah wah! Heboh. Pramugari dan petugas bandara pun, berdatangan. Mondar mandir. Mereka melakukan pengecekan, di dalam pesawat saat itu juga. Sementara, hampir semua kursi di kelas ekonomi bahkan bisnis pun sudah terisi. Padahal, masih terlihat beberapa penumpang dengan nomor duduk sama, hilir mudik. Kenapa bisa terjadi? Yah, ternyata cek in manual akibat sistem informasi yang down, tidak berjalan dengan baik.

Detik demi detik berlalu, menit pun berjalan. Waktu terbuang percuma. Entah bagaimana solusinya, kemudian, sudah tidak terlihat lagi penumpang yang tidak dapat tempat duduk tersebut. Tapi, tentu saja, hal seperti ini membuat jadwal penerbangan tertunda lebih dari 30 menit. Heran juga, kenapa bisa terjadi seperti itu. Ah iya, tadi dikatakan sistem informasi saat cek in down. Tapi haruskah, menjadi down pula kinerjanya?

Saya sempat berfikir, tentunya bukan kali pertama maskapai penerbangan selevel Garuda mengalami hal seperti ini. Sistem yang down. Jika memang kondisi seperti ini tidak dapat terhindarkan. Apakah perusahaan tidak mempunyai plan B atau plan C untuk mengantisipasi kekisruhan yang akan terjadi tersebut. Mestinya maskapai penerbangan selevel Garuda sudah harus memiliki dan mengantisipasinya. Lha, wong di rumah saya saja yang semua serba sederhana, selalu ada plan antisipasi. Misal, karena sistem penerangan yang kadang masih menggunakan sistem byar pet (yang jelas bukan karena kami terlambat membayar rekening listrik), kami pun menyediakan baterai energi. Jika sewaktu-waktu listrik mati, tidak perlu kebingungan sibuk menjadi penerang lain (i.e lilin), tapi otomatis, sudah ada penerang darurat.
Ini baru pada level rumah tangga, apalagi maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Sangat disayangkan sekali, jika kemudian karena sudah terbiasa dengan teknologi informasi, begitu sekali down, akhirnya tidak siap, panik dan kacau. Karena bagaimanapun juga, teknologi informasi hanya alat untuk membuat kinerja perusahaan lebih baik, bukan satu-satunya dewa, mestinya. Jadi semestinya, ada atau tidak adanya sistem informasi, kinerja layanan perusahaan akan lebih baik dan tetap baik.

Parlemen Indonesia, ‘kebangeten’!

Standard

Membaca berita-berita online pagi ini, saya menemukan beberapa hal menarik. Seperti yang disinyalir oleh Jawapos online (Sabtu, 7 Juli 2007), dengan judul “Dewan Nekat ke Belanda”.

SURABAYA – Di tengah hujan kritik dari berbagai kalangan, anggota Komisi A DPRD Jatim tetap nekat mewujudkan “impiannya” melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Belanda. Kemarin sore, sembilan anggota komisi yang membidangi urusan pemerintahan itu berangkat ke Denhaag, Belanda, untuk kunjungan selama tujuh hari, 8-14 Juli. Di negeri penjajah itu, mereka akan melakukan studi khusus untuk mencari hari jadi Provinsi Jawa Timur.

Ironis!
Di tengah-tengah sebagian besar perusahaan berfikir untuk melakukan berbagai efisiensi, atau lebih umum dikenal dengan ‘lean management’, manajemen yang ramping. Yang intinya berusaha untuk memangkas setiap aktivitas yang dipandang berlebihan dan tidak perlu. Misal, mengurangi jumlah persediaan barang (mentah, setengah jadi atau barang jadi). Menghemat waktu. Mengurangi atau rightsizing karyawan. Sehingga, beban biaya dari aktivitas-aktivitas yang tidak perlu dapat dikurangi. Tapi, justru Parlemen Indonesia yang terhormat, melakukan sebaliknya.

Perusahaan menerapkan lean system dengan tujuan efisiensi, yang akhirnya membuat perusahaan menjadi lebih kompetitif (Porter, 1998). Inilah yang juga disadari oleh parlemen-parlemen asing. Lihat saja, bagaimana Parlemen Belanda berusaha menerapkan konsep ini.

Seperti yang diberitakan detiknews beberapa waktu sebelumnya, berjudul “Anggota Parlemen Belanda Harus Menuangkan Kopi Sendiri” (Detiknews, 22/06/2007).

“Anggota parlemen Belanda sudah biasa naik sepeda, tram, atau mobil sendiri dengan diganti tunjangan bahan bakar atau transportasi. Kini mereka terus berbenah dan berhemat lagi agar negerinya semakin kompetitif, dengan menelurkan Rencana Efisiensi terbaru. Dalam rencana tersebut antara lain tertuang bahwa ke depan para anggota parlemen harus menuang kopi atau teh sendiri. Pasalnya, para tenaga penunga dan pengantar kopi dalam rapat-rapat atau sidang-sidang di parlemen dipandang mubazir dan tidak perlu. Mereka akan dihapuskan. Untuk keperluan minum itu para anggota parlemen dinilai cukup bisa melayani diri sendiri.”

Mengapa menjadi berbeda seperti ini?
Jika merujuk kategorisasi budaya menurut Hofstede, yang membagi kelompok masyarakat atau bangsa tertentu dalam empat dimensi budaya: power distance, uncertainty avoidance, individualism vs. collectivism, femininity vs. masculinity. Beginilah hasilnya:

Indonesia has Power Distance (PDI) as its highest ranking Hofstede Dimension at 78. The high Power Distance (PDI) is indicative of a high level of inequality of power and wealth within the society. This condition is not necessarily forced upon the population, but rather accepted by the society as part of their cultural heritage. The average Power Distance for the greater Asian countries is 71.

Sementara dimensi budaya yang menonjol dari negara Belanda:

The high Individualism (IDV) ranking for the Netherlands is indicative of a society with more individualistic attitudes and relatively loose bonds with others. The populace is more self-reliant and looks out for themselves and their close family members. Due to the importance of the individual within the society, individual pride and respect are highly held values and degrading a person is not well received, accepted, or appreciated.

Jelas terpampang di depan mata, betapa feodalistisnya masyarakat Indonesia (i.e. parlemen) dengan adanya tunjangan baju sekian juta, mobil dinas, laptop, melanglang buana dengan rombongan sebesar Qarun, punya lift khusus secara luxeus sementara rakyat diharuskan berjubel-jubel (Detiknews, 2007). Sungguh memprihatinkan memang.

Apapun teori yang dapat menjelaskan fenomena tersebut, yang jelas, di tengah kondisi Indonesia yang terpuruk, apalagi sebagian besar masyarakat Jawa Timur (i.e Porong, Sidoarjo) harus bersusah payah hidup di bawah tenda-tenda dan masa depan tidak pasti karena musibah lumpur, ehh, anggota DPRD-nya, justru jalan-jalan ke Eropa. Dimana empati dan rasa kebersamaan dari wakil-wakil rakyat kita? Ahh, betapa tidak dewasanya wakil rakyat kita. Jadi ingat statement Gus Dur (1999-2001), bahwa DPR Indonesia seperti anak-anak TK. Setuju Gus!

Global warming: akankah kiamat sudah dekat?

Standard

Groningen hari ini cerah. Sungguh menyenangkan. Cukup membuat suasana berbunga-bunga. Tidak seperti sekian minggu sebelumnya, yang selalu diguyur hujan. Mendung. Dingin. Padahal bulan Juli ini semestinya sudah musim panas. Nyatanya, cuaca memang tidak bisa dipastikan. Begitu juga, ketika winter dan spring lalu. Winter kali ini menjadi winter terhangat dan spring lalu menjadi spring ‘terpanas’ dalam beberapa tahun terakhir ini. Salju tidak cukup tebal dan hanya turun beberapa hari saja. Suhu sudah menjadi 30C, bahkan ketika musim spring. Saat ini, justru di musim panas, hujan terus turun hampir sepanjang hari. Sungguh, fenomena cuaca yang berbeda dari biasanya, begitu menurut sebagian besar orang Eropa. Fenomena yang cenderung selalu berubah dan sulit untuk ditebak. Inikah akibat global warming? Pemanasan global di seluruh muka bumi ini, sehingga menyebabkan cuaca yang tidak menentu seperti ini.

Beberapa waktu lalu, saya sempat ber‘diskusi maya’ dengan seorang temen, ahli geologi, yang saat ini sedang menekuni dampak perubahan iklim global dari terumbu karang. Menurutnya, saat ini memang bumi menghadapi apa yang disebut dengan global warming sebagai akibat dari ‘green house effect’. Bahkan sebenarnya sudah mulai sejak 11.000 tahun yang lalu. Wow!

Jika kita masih ingat dalam buku-buku geografi SD sampai SMA, bahwa pulau Jawa dan Kalimantan, dahulu kala, adalah satu daratan. Bukti ilmiahnya sangat jelas. Misal di dasar Laut Cina Selatan, Paparan Sunda, terdapat bekas-bekas sungai penghubung antar pulau. Kemudian terpisah dengan laut yang disebut garis Webber dan garis Wallacea, sehingga fauna di barat, tengah dan timur berbeda. Di bagian barat, satu daratan sendiri, Jawa, Sumatera dan Kalimantan, memiliki fauna yang relatif sama. Di bagian tengah, Sulawesi dan bagian timur, Maluku dan Irian Jaya. Kenapa terpisah dan menjadi kepulauan? Hal ini terjadi karena adanya peningkatan air laut akibat global warming, dan terus akan meningkat. Dan perlu dicatat, global warming itu memiliki siklus, begitu kata temanku. Wow!

Lebih lanjut, setiap siklus global warming akan selalu diikuti dengan global mass extinction. Artinya, yang punah selalu adalah populasi yang mendominasi. Empat kepunahan global terbesar dalam perjalanan sejarah bumi ini antara lain pada Devonian (375 tahun yang lalu), akhir Permian (248 juta tahun yang lalu), awal Jurassic (200 juta tahun yang lalu) yang sangat besar dan membunuh dinosaurus adalah akhir Cretasius (65 juta tahun yang lalu). Kepunahan yang terjadi dapat dikatakan sebagai sebuah siklus atau return periode. Menurut ahli geologist, setidaknya ada beberapa kali return periode. Menurut teori Melankovich, terjadi pengaruh pergeseran benda semesta terhadap gravitasi bumi yang siklusnya 2 juta tahunan. Pengaruh global akibat pergeseran poros bumi, siklusnya 400.000 tahunan. Pengaruh global akibat pergesaran gugus bintang yang terjadi per 1 milyar tahunan. Ada juga pengaruh akibat pergeseran lempeng, yang terjadi setiap 1000-6000 tahun tergantung posisi lempeng. Hal-hal inilah yang menyebabkan populasi terbesar di muka bumi pada saat itu, punah.

Dan bumi sekarang dipenuhi dengan populasi manusia. Akankah manusia juga akan punah? Newton pernah bilang bahwa umur bumi kita tinggal 60 tahun lagi. Ah, akankah ini berarti kiamat sudah dekat? Karena, merujuk Al Qur’an:

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan agar supaya setiap diri dibalas dengan apa yang telah dia usahakan. (QS. 20:15)

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan Bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang … (QS. 15:85).

Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya … (QS. 47:18).

Cukup jelas apa yang tertulis dan tersirat dari yang dapat dilihat di muka bumi ini. Sudahkah siap untuk menyongsong datangnya hari itu? Ahh.

***
Many thanks to Didit H. Barianto, yang sedang ambil Doctoral Degree di Kyushu University, Lab of Economic Geology, Depth of Earth Resources Engineering, Kyushu University, buat sharing knowledgenya.

Ah, nikmatnya menulis [di Blog]

Standard

Alhamdulillah, akhirnya ‘satu pekerjaan’ selesai juga meskipun harus menghabiskan waktu hingga lepas malam. Entahlah, begitu susah merampungkan pekerjaan di hari-hari terakhir menjelang ‘kepulangan’. Sebegitu susahnya mungkin menata sebuah bangunan di awalnya. Padahal, kalau dipikir-pikir, hanya tinggal membuat powerpoint. Pekerjaan yang semestinya, sudah menjadi bagian keseharian saya, setidaknya sewaktu di Yogya. Tapi ya, memang semua itu perlu proses. Tak terasa, setelah pelan-pelan dikerjakan, lebih dari lima hari (kebangeten ini mah!). Finally, selesai! Ah tapi, ternyata sudah lewat lepas malam, mau tidur, hmm… takut terlalu lelap sehingga lewat juga shubuh.

Dan, menulis Blog, menjadi alternatif terindah menikmati waktu lepas malam, menyambut shubuh. Setidaknya seperti saat saya sedang menulis sekarang ini (at 02.56 CET). Menuangkan ide, pikiran dan apa yang ada di hati dalam bentuk rangkaian kata-kata.

Kata merupakan unsur bahasa yang sangat penting. Kata merupakan sarana untuk menyatakan semua konsep, ide, dan atau gagasan. Dengan kata-kata kita berpikir, menyatakan perasaan, menyampaikan informasi, dan mengemukakan gagasan. Kata-kata dapat menjadi sarana menjalin persahabatan, mengadakan perjanjian, mencapai kerja sama, dan
lain-lainnya, tetapi kata-kata juga dapat menjadi pemicu kerusuhan, peperangan, dan kejadian-kejadian buruk lainnya.

Kata dan kata-kata bisa dikatakan dengan kata-kata. Kata yang benar dapat menyebabkan kebenaran demikian benar dan benar-benar dapat dibenarkan menurut ukuran kebenaran yang mana pun. Namun, kata yang salah dapat menyebabkan kesalahan, perilaku salah, tindakan salah, dan bahkan silang sengketa berkepanjangan. Benar dan salah juga bisa dikata-katakan. Kata begitu berguna. Kata begitu berjasa dalam kehidupan kita. Perlu dicatat, kata kata memiliki kekuatan yang kadang-kadang tidak kita duga atau kita bayangkan. So, be careful!

***
Seorang pemuda menabrak kereta api yang dikiranya tumpukan jerami hanya karena baru saja mendengarkan sebuah kata dari pujaan hatinya. Kata yang baru saja didengarnya adalah PUTUS.

Seorang mahasiswa semester 5 tiba-tiba saja mengambil uang cukup banyak lewat ATM dan mentraktir teman-teman pondokannya hanya karena baru saja menerima SMS yang berisi satu kata saja. Kata itu berbunyi YA, sebagai jawaban atas pertanyaan “Maukah kau jadian denganku?” yang diajukannya kepada teman seangkatannya.

Itulah kata. Kadang-kadang penuh makna. Kadang-kadang penuh misteri. Kadang-kadang demikian gamblang, tetapi kadang-kadang demikian remang. Sungguh, dunia kata adalah dunia yang kdang-kadang penuh tanda tanya. Yang jelas, kata-kata kadang-kadang demikian dahsyat pengaruhnya.

Satu kata yang berbunyi SERAAAANG, misalnya, dapat menyebabkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan nyawa melayang. Satu kata yang berbunyi BAKAAAAR, misalnya, bisa menyebabkan orang, rumah, pertokoan, bahkan kawasan yang cukup luas berubah menjadi bara dan abu. Siapa yang tidak takut dicap melakukan tindakan SUBVERSIF pada rentang waktu antara tahun 70-an hingga 90-an? Namun, konon, sebuah orde yang pernah berjaya di negeri ini juga tumbang hanya karena banyak orang meneriakkan kata REFORMASI di jalan-jalan. Demikianlah, kata (kata-kata) begitu hebatnya.

{disarikan dari Heru Marwata dalam sebuah milist}

***
Dan
, menulis, berarti menuangkan gagasan/ide, pikiran dalam bentuk kata-kata tertulis. Inilah puncak kebebasan berpendapat setiap orang di dunia maya, menulis blog. Dengan gaya dan sentuhan masing-masing pembuat blog, untaian kata yang tertuang di blog akan memiliki ciri khas dan kekuatan tersendiri. Harapannya, dapat memberikan energi positif bagi yang membaca (siapapun itu).Awalnya, saya berpikir, ah buat apa menulis di blog. Meskipun, tidak sedikit yang menyarankan untuk membuat blog sejak sekian waktu lalu. Lagi-lagi, ahh buat apa, begitu yang selalu terlintas di kepala saya. Tapi … mungkin karena ‘ketersediaan waktu’, atau ‘kurang kerjaan’ beberapa waktu terakhir ini, akhirnya menulis blog juga. Sedikit demi sedikit. Tak terasa, lama-lama menjadi sebuah rutinitas. Dan inspirasi ternyata bisa datang dari mana saja. Dari apa yang terlihat, apa yang bisa didengar, dari yang dibaca dan dinikmati dalam keseharian. Ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri, jika berhasil menuangkan sebuah rangkaian kata-kata dalam arsip blog pribadi. Harapan sederhana yang tebersit adalah semoga rutinitas menulis di blog menjadi cara jitu saya mengisi aktivitas senggang ‘masa bertapa’, selain outputnya menjadi catatan bersejarah dalam perjalanan saya menjadi manusia yang sedikit lebih baik.

Ah, sudah shubuh. Waktunya berkomunikasi dengan-Nya.

Berharganya waktu

Standard

Minggu, 1 Juli 2007 lalu, saya mengantar kolega yang kebetulan sedang berkunjung ke Belanda menuju Amsterdam. Karena sangat singkatnya waktu, kami pergi di pagi hari yang masih diliputi rintikan hujan. Cuaca khas Belanda yang sangat tidak menentu. Dengan harapan, kami tiba di Amsterdam CS menjelang siang. Dimana pertokoan sudah buka, karena misi utama kolega saya ini ke Amsterdam yaitu Shopping! Dan benar saja, train berangkat tepat waktu 08.04 CET dan tiba pula tepat waktu di Amsterdam CS, 10.31 CET.

Dengan diantar seorang kawan yang studi di Amsterdam, kami bergegas menuju pertokoan. Kolega saya ini, ternyata sudah mempersiapkan daftar belanjaan souvenir yang harus dibelinya.;-) Berpindah dari satu toko souvenir ke toko yang lain, cepat dan cepat. Karena sebelum senja, kami harus sudah menuju Groningen. Maklumlah, jadwal dinner sudah menunggu di sana, jam 19.00 CET.

Setelah cukup lama berkeliling, kami sempatkan berfoto-foto di depan Damm, De Bijenkorf, Amsterdam. Bahkan sempat mengunjungi Madame Tussauds. Heran sekali, dengan harga tiket yang begitu mahal (20 euro) untuk satu orang, benar-benar tidak puas. Meskipun disana, terdapat patung-patung orang dan artis terkenal seperti Lady Di, Mahatma Gandhi, Elvis Presley, Michael Jackson, Ratu Belanda, Brad Pitt yang sangat-sangat mirip dengan aslinya. Tema yang sedang diangkat kali ini adalah seputar film Pirates of the Carribian, dengan Kapten Jack Sparrow-nya. Hanya saja, kalau dipikir-pikir, tetap saja, menurut ukuran student seperti saya, harga itu terlalu mahal. Tapi mungkin memang begitulah nilai sebuah apresiasi seni. [Ah, toh sekali-kali menghibur diri, sah-sah saja ya ;-)]

Anyway, keluar dari Madame Tussauds, bertiga kami makan siang menjelang sore di restoran yang berjejer di sepanjanga pertokoan, sambil menikmati Damm dan hilir mudik pejalan kaki, yang seperti tiada pernah berhenti. Tanpa sadar waktu terus berjalan. Bergegas kami menuju ke Amsterdam CS, untuk pulang ke Groningen, dengan kereta jam 15.27 CET. Benar saja, sesuai dugaan, kereta berangkat dari Amsterdam CS menuju Groningen, tepat waktu dan tiba di Groningen CS pukul 17.53 CET. Fantastik! Wah, benar-benar on time, sampai ke menit-menitnya, komentar kolega saya saat itu. Dengan sistem public transportation yang tepercaya seperti ini. Handal dari segi keselamatan dan waktu, juga murah dari segi biaya, dibanding transportasi yang lain. Saya sempat bergurau ke kolega saya saat itu: “Wah, kalau di Jepang bu, hitungannya itu dalam detik, kalau di Eropa hitungan dalam menit, nah kalau di Indonesia, … dalam jam atau bahkan hari.” 😦

Benar saja, fenomena kontras justru terjadi pada keluarga di Yogya. Karena saat bersamaan, si kecil dan neneknya ditemani Om-nya pergi ke Jakarta. Dengan keinginan untuk menikmati suasana perjalanan yang santai, mereka memutuskan untuk naik transportasi murah meriah, kereta api. Saya sempat mbathin, kenapa tidak naik pesawat saja. Toh lebih cepat dan kalau dibandingkan dengan biaya, hitungannya tetap tidak terlalu mahal, saya pikir. “Yah ini mau sambil jalan-jalan, Mila yang pengin”, begitu kata Ibu saya waktu saya tanya via telepon. Akhirnya mereka naik kereta. Seperti yang sudah diduga, kereta tiba di Jakarta, mundur 2 jam lebih dari yang dijadwalkan. No wonder. Untungnya, mereka tidak dalam keadaan terburu-buru atau sudah ada agenda lain. Kalau tidak, berapa banyak pihak yang harus berkorban untuk itu. Tapi setidaknya, pelajaran berkereta yang cukup lama kemarin, cukup membuat si kecil bisa membuat keputusan: “Mah, pulangnya ke Yogya, naik pesawat aja deh. Males aku, lama banget keretanya. ” 😉

Ok Nduk, mudah-mudahan, saat generasi kamu nanti, keretanya sudah bisa on time. Tidak hanya ontime, tapi handal dan bisa dipercaya.

***
Special thank to Punang, yang sudah bersedia dan setia menemani berkeliling di Amsterdam.