New name: new identity?

Standard

What’s a name? begitulah yang sering kita dengar dari sastrawan terkenal Inggris, Williams Shakespeare. “Apalah arti sebuah nama”. Namun, tentu tidaklah demikian bagi sebagian besar kita. Nama membawa perilaku dan citra. Kalau memang ada nama yang tidak sesuai dengan makna yang disandang maka tidak ada cara lain kecuali kita mengubahnya. Ada keyakinan Jawa bahwa kalau orang menyandang nama yang tidak sesuai dengan keadaannya maka orang itu dapat sakit-sakitan (Suwardjono, 2007). Dalam pandangan agama yang saya yakini, nama yang orang tua berikan atau yang kita berikan ke anak-anak kita, ibarat doa yang dipanjatkan. Ibarat harapan yang digantungkan. Ibarat impian yang diangankan. Intinya, memuat segala nuansa yang mengandung kebaikan di masa mendatang.

Jika saya cermati, nama-nama di generasi pendahulu saya, umumnya merepresentasikan golongan atau kaum tertentu. Sebut saja, nama Joko, Painem, atau semua yang berawalan depan Soe atau Su, biasanya dimiliki oleh mereka-mereka yang berasal dari Yogyakarta, Solo dan Jawa Tengah dan sekitarnya. Nama yang berupa pengulangan, misal, Nana Sutrisna, Iwan Setiawan, Gugun Gunawan, Dedi Sudedi dan lainnya. Dengan mudah, orang akan menduga, ah, mereka ini tentu dari Suku Sunda. Contoh lain, nama dengan Cut, Teuku (dari Aceh), atau Ni, Made, Ketut (dari Bali). Tentu saja, nama-nama tersebut masih eksis hingga saat ini. Bagi kelompok pasangan muda masa kini, ada kecenderungan memberikan nama anak dengan mengadopsi bahasa-bahasa asing, Arab atau agama Kristiani, misalnya. Setidaknya, untuk nama anak saya, kami mengadopsi dari nama-nama indah dan mulia bahasa Arab, dengan sedikit polesan tentu saja. Atau pada saat saya membaca daftar nama temen-temen sekelas anak saya, hampir semua nama terkesan masa kini dan trendi. Entahlah, mengapa bisa demikian.😉

Yang jelas, nama seperti apa dan darimana itu berasal, nama menjadi sangat penting untuk menunjukkan identitas. Dalam bahasa manajemen pemasaran, nama kemudian lebih dikenal dengan merek (brand), yang diartikan sebagai “nama, istilah, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing” (Kottler, 2000). Merek-merek terbaik dapat memberikan jaminan kualitas bagi konsumennya. Merek lebih dari sekedar simbol dikarenakan adanya enam level pengertian yang terkandung di dalamnya meliputi: atribut, manfaat, nilai, budaya, kepribadian, dan pemakai.

Dengan kata lain, adanya nama atau merek, menunjukkan keinginan perusahaan untuk mewujudkan yang terbaik sesuai dengan nama yang disandangnya, dan menjadi identitas tersendiri. Inilah yang salah satu hal yang saya pikir melandasi mengapa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada berganti nama menjadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, pada 29 Juni 2007 lalu. Semoga tidak berhenti hanya pada perubahan nama. Tentunya, dengan pergantian nama tersebut, semangat berganti baru dan identitas yang mencerminkan nama tersebut dapat lebih terwujud di masa mendatang. Mari selalu berkarya.

One thought on “New name: new identity?

  1. berubahnya nama dari FE to FEB tidak lepas dari peran FE sendiri yang menjadikan ladang bisnis di masing-masing jurusannya..seperti MM, MEP and MAKSI. hehe becanda BU

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s