Parlemen Indonesia, ‘kebangeten’!

Standard

Membaca berita-berita online pagi ini, saya menemukan beberapa hal menarik. Seperti yang disinyalir oleh Jawapos online (Sabtu, 7 Juli 2007), dengan judul “Dewan Nekat ke Belanda”.

SURABAYA – Di tengah hujan kritik dari berbagai kalangan, anggota Komisi A DPRD Jatim tetap nekat mewujudkan “impiannya” melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Belanda. Kemarin sore, sembilan anggota komisi yang membidangi urusan pemerintahan itu berangkat ke Denhaag, Belanda, untuk kunjungan selama tujuh hari, 8-14 Juli. Di negeri penjajah itu, mereka akan melakukan studi khusus untuk mencari hari jadi Provinsi Jawa Timur.

Ironis!
Di tengah-tengah sebagian besar perusahaan berfikir untuk melakukan berbagai efisiensi, atau lebih umum dikenal dengan ‘lean management’, manajemen yang ramping. Yang intinya berusaha untuk memangkas setiap aktivitas yang dipandang berlebihan dan tidak perlu. Misal, mengurangi jumlah persediaan barang (mentah, setengah jadi atau barang jadi). Menghemat waktu. Mengurangi atau rightsizing karyawan. Sehingga, beban biaya dari aktivitas-aktivitas yang tidak perlu dapat dikurangi. Tapi, justru Parlemen Indonesia yang terhormat, melakukan sebaliknya.

Perusahaan menerapkan lean system dengan tujuan efisiensi, yang akhirnya membuat perusahaan menjadi lebih kompetitif (Porter, 1998). Inilah yang juga disadari oleh parlemen-parlemen asing. Lihat saja, bagaimana Parlemen Belanda berusaha menerapkan konsep ini.

Seperti yang diberitakan detiknews beberapa waktu sebelumnya, berjudul “Anggota Parlemen Belanda Harus Menuangkan Kopi Sendiri” (Detiknews, 22/06/2007).

“Anggota parlemen Belanda sudah biasa naik sepeda, tram, atau mobil sendiri dengan diganti tunjangan bahan bakar atau transportasi. Kini mereka terus berbenah dan berhemat lagi agar negerinya semakin kompetitif, dengan menelurkan Rencana Efisiensi terbaru. Dalam rencana tersebut antara lain tertuang bahwa ke depan para anggota parlemen harus menuang kopi atau teh sendiri. Pasalnya, para tenaga penunga dan pengantar kopi dalam rapat-rapat atau sidang-sidang di parlemen dipandang mubazir dan tidak perlu. Mereka akan dihapuskan. Untuk keperluan minum itu para anggota parlemen dinilai cukup bisa melayani diri sendiri.”

Mengapa menjadi berbeda seperti ini?
Jika merujuk kategorisasi budaya menurut Hofstede, yang membagi kelompok masyarakat atau bangsa tertentu dalam empat dimensi budaya: power distance, uncertainty avoidance, individualism vs. collectivism, femininity vs. masculinity. Beginilah hasilnya:

Indonesia has Power Distance (PDI) as its highest ranking Hofstede Dimension at 78. The high Power Distance (PDI) is indicative of a high level of inequality of power and wealth within the society. This condition is not necessarily forced upon the population, but rather accepted by the society as part of their cultural heritage. The average Power Distance for the greater Asian countries is 71.

Sementara dimensi budaya yang menonjol dari negara Belanda:

The high Individualism (IDV) ranking for the Netherlands is indicative of a society with more individualistic attitudes and relatively loose bonds with others. The populace is more self-reliant and looks out for themselves and their close family members. Due to the importance of the individual within the society, individual pride and respect are highly held values and degrading a person is not well received, accepted, or appreciated.

Jelas terpampang di depan mata, betapa feodalistisnya masyarakat Indonesia (i.e. parlemen) dengan adanya tunjangan baju sekian juta, mobil dinas, laptop, melanglang buana dengan rombongan sebesar Qarun, punya lift khusus secara luxeus sementara rakyat diharuskan berjubel-jubel (Detiknews, 2007). Sungguh memprihatinkan memang.

Apapun teori yang dapat menjelaskan fenomena tersebut, yang jelas, di tengah kondisi Indonesia yang terpuruk, apalagi sebagian besar masyarakat Jawa Timur (i.e Porong, Sidoarjo) harus bersusah payah hidup di bawah tenda-tenda dan masa depan tidak pasti karena musibah lumpur, ehh, anggota DPRD-nya, justru jalan-jalan ke Eropa. Dimana empati dan rasa kebersamaan dari wakil-wakil rakyat kita? Ahh, betapa tidak dewasanya wakil rakyat kita. Jadi ingat statement Gus Dur (1999-2001), bahwa DPR Indonesia seperti anak-anak TK. Setuju Gus!

3 thoughts on “Parlemen Indonesia, ‘kebangeten’!

  1. ngomong – ngomong soal kebangetan saya punya sebuah kisah :

    Alkisah ada Kerajaan miskin berinisial “I” datang ke Kerajaan kaya “B” untuk mengajukan pinjaman. Lalu berangkatlah para utusan kerajaan “I” ke kerajaan “B”. Sesampainya di kerajaan “B”, para utusan kerajaan “I” menginap di Penginapan paling mewah sekaligus menyewa kereta beserta kuda paling mewah saat itu. Padahal kerajaan “B” sebagai kerajaan yang akan memberikan pinjaman, para pejabat istananya hanya menggunakan kuda biasa tidak dilengkapi kereta kuda yang mewah. (based on true story).

    MMm mudah – mudahan cerita ini hanya fiktif belaka. Amin. Atau kalau ada nama atau tempat kejadian yang mirip dengan kisah diatas mudah2an negara tersebut menjadi lebih baik. Amin.

  2. Masalah Kebangetan…. itu banyak terjadi di Negara tercinta ini (Indonesia),,
    Kisah Nyata…
    Suatu saat Pemerintah membuat program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sedianya hanya diberikan kepada orang yang betul betul “MISKIN”
    ternyata yang pergi menerima di loket-loket pembayaran, ada yang pergi dengan kendaraan sepeda motor, bahkan ada dengan gaya bintang film yang penuh dengan asesoris seperti kalung / anting-anting dengan bahan baku Mas murni.Sementara yang betul-betul “MISKIN” menunggu, menanti di pondok reot, rumah gubuk yang tidak tau bahwa pada hari itu banyak orang sedang menerima BLT tersebut.
    Itu namanya K E B A N G E T A N …..

  3. parlemen indonesia seharisnya mampu menggugah pamuda yang hanya berpengku tanga. ketrgantunga pemuda menjadikan pengangguran bertambah banyak. mereka hanya memberatkan negara saja tanpa memberikan solusi yang yerbaik untuk memajukan indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s