Romantisme Kolonial yang Terbengkalai

Standard

Selasa, 17 Juli 2007, saya kebetulan dapat tugas untuk menghadiri beauty contest di PT. Bank BNI Tbk, yang berlokasi di Jalan Lada, Jakarta. Dari bandara Soekarno-Hatta, saya dengan teman menuju lokasi. Memasuki kawasan yang dituju, suasana yang saya lihat adalah hal yang sangat kental dengan khas Jakarta adalah ramai, padat dan macet. Selain sumpek, panas dan agak kumuh (tepatnya kotor), serta macet tentu saja. Tapi inilah gambaran khas Jakarta kita. Pusat dimana hampir sebagian besar aktivitas perekonomian berada di kota ini. No doubt tentang hal itu. Akan tetapi ada hal menarik yang dapat saya nikmati dalam perjalanan menuju Kantor BNI tersebut. Setidaknya sambil melihat ke kanan dan ke kiri tampak jelas bangunan-bangunan kental bernuansa kolonial. Mulai dari bangungan pertokoan dan kantor-kantor yang masih menggunakan sisa bangunan kolonial. Stasiun Jakarta Kota misalnya, bahkan sungai-sungai yang membentang di tengah kota, mirip sekali dengan kanal-kanal yang sering saya lihat di Belanda. Sungguh kental khas kolonial masa lalu, di kawasan ini.

Tapi, terlihat betul perbedaannya. Yang terpampang jelas perbedaannya adalah bangunan-bangunan peninggalan Belanda itu tampak terlihat kotor, tidak terawat dan jelas sudah semakin tua dimakan jaman. Sungai yang ada tampak tak berair dan kotor dipenuhi dengan sampah-sampah dedaunan dan limbah lainnya. Ah sayang sekali.

Begitu memasuki gedung kantor BNI di Jalan Lada, Jakarta, saya mendapati nuansa bangunan yang justru sangat kental dengan modernitas yang dikemas cukup apik di dalam kemegahan sisa-sisa kolonial. Selidik punya selidik, ternyata inilah bentuk agreement pihak BNI dan pemerintah lokal setempat. Agreement yang dimaksud mengatur perubahan dan penambahan bangunan di lokasi tersebut. Pihak industri (terutama) dan masyarakat diperbolehkan melakukan renovasi asal tidak mengubah atau melakukan penambahan yang cukup signifikan dari kondisi bangunan asal. Ah, bagus sekali kebijakan tersebut. Setidaknya, dengan cara inilah, saksi-saksi sejarah yang berupa bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda dapat tetap berdiri di sana dan dilestarikan. Sudah semestinya, pemerintah (lokal setempat) cukup aware juga dengan pemeliharaan lingkungan di sudut-sudut kota Jakarta yang sarat dengan nilai-nilai historis Belanda. Saya membayangkan betapa indahnya jika ada kawasan sejarah di salah satu sudut kota Jakarta yang cukup sesak dipenuhi bangunan-bangunan modern, mall-mall dan ciri modernitas lainnya. Bukan mustahil, hal itu akan menjadi aset tersendiri di masa mendatang. Karena, dalam benak saya, akan semakin banyak orang yang justru menyenangi romantisme-romantisme sejarah seiring dengan kemajuan dalam banyak hal. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s