Film Naga bonar Jadi 2: Indonesia banget!

Standard

Melepas malam dengan menonton film, pastilah mengasyikkan. Apalagi dengan film yang tepat untuk dinikmati. Dan malam ini, saya pun mengisinya dengan nonton film Indonesia berjudul Naga bonar Jadi 2. Sebenarnya, beberapa kawan bahkan adik sendiri pernah menyarankan untuk nonton (di bioskop), ah sayang belum sempat. Lagi pula, saya sempat mikir, apa iya, film Indonesia itu bagus. Ternyata dugaan saya meleset.

Dengan menggunakan layar kecil di laptop, dan akses film lewat youtube.com. Kok ya, kebetulan pas ada temen yang kasih link (wah, wah, thank you banget). Akhirnya, saya habiskan malam ini dengan nonton Naga bonar 2. Asyikkk bangettt! Mungkin itulah kata yang tepat melukiskan, nikmatnya nonton film, meskipun sendiri, di kamar dan dengan monitor kecil. 😉

Khas Indonesia yang cukup kental, dengan mengambil setting dan nuansa perjuangan, dibintangi aktor dan aktris yang sudah tidak diragukan kemampuannya lagi. Sederhana, mengena, mendidik dengan diselingi humor-humor segar namun tak luput dari berbagai sindiran kecil pada apa yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Benar-benar puas malam ini. Semoga aja, semakin banyak film-film tanah air yang seperti itu. Layak ditonton dan Indonesia banget!

Bagi yang berakses internet gratis dan berminat nonton, silahkan kunjungi link ini:
http://www.youtube.com/watch?v=09ME-l6FqCA&mode=related&search=

Selamat menikmati.

Advertisements

Happy Birthday, My Little Angel

Standard

Pagi hari ini, saya dan suami buat kejutan kecil untuk malaikat kecil kami. Ah ya, hari ini dia tepat berusia 8 tahun, 23 Agustus. Saya bangunkan dia, yang masih tertidur pulas dengan wajah khasnya. Happy Birthday, sayang … selamat ulang tahun ya. Udah 8 Tahun, udah bukan anak kecil lagi. … Semoga sehat selalu, Semakin rajin belajar, panjang umur dan bahagia selalu. Amin amin amin.

Setelah menerima kecupan sayang dari papa-mamanya. Kue ultah dan lilin pun ditiup. Lalu berdoa untuk semuanya. Kue yang sudah saya siapkan sebelum menjemput dia pulang dari sekolah, sebagai bentuk kejutan kecil untuknya pagi ini. Papanya pun tidak kalah memberikan kejutan ’mainan’ kesayangannya. Menambah lagi koleksi boneka kecil-kecilnya. Untuk mengisi rutinitas keseharian dia yang selalu bergulat dengan boneka barbienya. Entah dimandikan. Dihias. Dibongkar sana-sini. Dilukis. Diberi makan. Diajak berdialog. Tiada hentinya. Khas anak perempuan, mungkin.

Terima kasih Tuhan, untuk apa yang telah Engkau titipkan pada kami. Semoga kami dapat selalu memberikan kasih sayang yang dia butuhkan. Mohon, untuk selalu beri kami kesempatan menjadi orang tua yang baik untuknya. Amin.

Happy Birthday, Aqila Salma Kamila, Mila.

Pelajaran from my pilot study

Standard

Menyenangkan, menantang dan melelahkan.

Alhamdulillah, puji syukur pada Allah swt, hampir dua minggu saya berkutat dengan survey awal riset yang sedang saya geluti. Tujuan utama tentu saja, menguji awal instrumen penelitian yang sudah saya rancang selama dua bulan sebelumnya. Disamping, menambah pengetahuan saya tentang kondisi bisnis yang akan saya teliti: mebel/furnitur dan software development di Indonesia. Setidaknya, di seputar Yogyakarta dan Bandung.Menyenangkan, menantang dan jelas melelahkan. Senang bisa bertemu dengan pelaku-pelaku bisnis yang begitu ahli dan berpengalaman dalam menjalankan usahanya. Dan tak disangka, pilot study ini pun, mempertemukan saya dengan teman-teman lama, yang tak terduga memiliki bisnis yang sukses. Wah wah! Small world!

Beberapa hal yang bisa saya ambil dari diskusi dengan pebisnis. Kunci sukses bisnis yang mereka jalankan. Fokus, fokus dengan usaha yang dijalankan. Gampang-gampang susah juga, karena godaan cukup banyak. Tapi dengan fokus dan konsisten pada satu usaha tertentu, bisnis lebih awet. Jujur dan berkata apa adanya, menjadi kata kunci sukses selanjutnya. Apalagi jika perusahaan berhubungan dengan pihak luar (foreign buyer). Ya, sebenarnya siapapun buyernya, tidak ingin dibohongi oleh penjual. Sekali kebohongan terbongkar, jangan harap, pembeli akan kembali.

Tiada henti berfikir dan berinovasi. Inilah yang membuat bisnis yang mereka tekuni sebagian besar, masih terus bertahan dan bahkan berkembang. Inovasi rasa-rasanya menjadi kunci untuk menangkap peluang, dan membuat perusahaan menjadi punya identitas dengan keunikannya sendiri.

Menantang, karena banyak hal-hal atau temuan-temuan di lapangan, yang membuat saya harus berfikir ulang. Pikir-pikir, renungkan dan pikir lagi, apakah sesuai dengan metode riset yang sudah saya rancang, apakah akan menjawab pertanyaan riset yang sudah saya ngen-ngen jauh sebelumnya. Jadi tidak sabar untuk segera melakukan survey dan menemukan jawaban-jawaban dari apa yang sudah saya formulasikan. Tapi, sabar-sabar … inilah riset. Perlu kesabaran, ketelitian dan perenungan. Cieee…

Melelahkan, wah wah. Ngobrol dengan orang-orang yang berkompeten di bidangnya, jelas akan menghabiskan waktu lama. Apalagi mendengarkan pengalaman mereka dalam menjalankan bisnis. Saat mulai, saat bergelut dengan persaingan, saat dengan banyak-banyaknya order. Dan saat, dimana pertumbuhan bisnis begitu menjanjikan. Menarik sekali. Dengan bantuan pertanyaan berjumlah 9 halaman, wow, ngobrol pun kadang ada yang memakan waktu 2-3 jam. Tepar, begitu sampai rumah. Mana cuaca Yogya, yang sangat-sangat panas dan tidak bersahabat. Membuat badan serasa exhausted sekali. Really dog-tired.

Tapi, alhamdulillah sekali lagi, begitu banyak hal baru dan informasi yang sangat bermanfaat dari pilot ini. Beruntung, saya bertemu dengan pelaku-pelaku bisnis yang begitu bersahabat dalam berdiskusi dan sangat-sangat membantu. Sampai tidak enak hati rasanya. Bahkan masih suka saya ’ganggu’ via telepon dan email jika ada informasi yang harus diupdate. Kedepannya, untuk aktivitas large survey, mudah-mudahan Allah beri kemudahan lagi. Amin.

NB: Thousand thanks, buat ukm mebel dan software development yang sudah bersedia berbagi.

Malangnya Borobudur kita …

Standard

Membaca Warta Ekonomi edisi 9 Juli 2007 lalu, hati rasanya trenyuh. Betapa tidak, tertulis disana berita tentang candi Borobudur, yang sejak dulu dalam pelajaran sejarah, bahkan sampai sekarang saya masih merasa dan sering `promosi` ke rekan-rekan dari luar, bahwa Borobudur sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia! Ternyata … “UNESCO mendepak candi Borobudur dari daftar 21 nominasi Tujuh Keajaiban Dunia versi terbaru” (Warta Ekonomi, 2007).

Bagaimana ceritanya?
Sebuah lembaga di bawah UNESCO, Komite Peninggalan Sejarah, menemukan 830 bangunan (heritage) yang layak masuk dalam daftar Tujuh Keajaiban Dunia versi Terbaru. Bekerja sama dengan New7Wonders Foundation, kemudian menyusut menjadi 21 nominasi. Caranya, mirip dengan acara-acara Idol. Yaitu dengan SMS. Hasilnya, Borobudur tidak masuk dalam daftar nominasi tersebut. Ke-21 bangunan itu adalah:
1. Acropolis, Athena, Yunani
2. Alhambra, Granada, Spanyol
3. Angkor, Kamboja
4. Piramid Chichen Itza, Meksiko
5. Patung Christ Redeemer, Rio de Janeiro, Brasil
6. Colosseum, Roma, Italia
7. Patung Easter Island, Cile
8. Menara Eiffel, Paris, Perancis
9. Piramid Giza, Mesir
10. Hagia Sophia, Istanbul, Turki
11. Kuil Kiyomizu, Kyoto, Jepang
12. Kremlin dan Katedral St. Basil’s, Moskwa, Rusia
13. Patung Liberty, New York, AS.
14. Machu Picchu, Peru
15. Kastil Neuschwanstein, Schwangau, Jerman
16. Opera House, Sydney, Australia
17. Petra, Yordania
18. Stonehenge, Amesbury, Inggris
19. Taj Mahal, Agra, India
20. Tembok Besar, Cina
21. Timbuktu, Mali
(sumber: New7wonders Foundation, 2007 dikutip dari Warta Ekonomi, Juli 2007).

Sekalipun, mungkin ada faktor bias, karena penentuan nominasi berdasar polling SMS, tapi setidaknya dengan tidak masuknya Borobudur, peninggalan Dinasti Syailendra, yang pernah begitu membanggakan kita semua, sudah semestinya, semua pihak (pemerintah i.e kementrian pariwisata dan kebudayaan terkait) dan masyarakat Indonesia berbenah. Kurangnya promosi, menurut saya, menjadi bagian penting dari semua ini. Tak mengherankan mungkin, hingga Borobudur menjadi hal yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat dunia. Inilah PR bersama generasi sekarang dan yang akan datang.

62 Tahun Indonesia Merdeka!

Standard

Merdeka!! Hidup Indonesia!

Tak terasa, besok, sudah 17 Agustus lagi. Tahun ini, kemerdekaan bangsa Indonesia tepat 62 tahun lamanya. Teringat kisah-kisah heroik perjuangan pahlawan kita dalam merebut Indonesia kembali ke pangkuan kita. Bersyukur dan bangga rasanya, memiliki begitu banyak pahlawan di masa itu, yang dengan berani mempertahankan apa yang seharusnya layak untuk dipertahankan. Isu sentral perjuangan kemerdekaan pada masa itu adalah mengusir penjajah, negara-negara lain yang ingin menguasai wilayah Indonesia. Perjuangan pun identik dengan peperangan (utamanya fisik) yang penuh kekerasan, senjata, tank-tank, darah, dan air mata. Semua diperjuangkan sampai titik darah terakhir.

62 tahun Indonesia dalam masa kemerdekaan. Tapi, benarkah Indonesia kita merdeka dalam arti sesungguhnya. Tentu saja, isu sentral perjuangan kemerdekaan era saat ini, tidak akan sama dengan pada masa 62 tahun silam. Saya jadi teringat, berita yang begitu hangat beberapa waktu lalu tentang `perang dingin` Indonesia dan Cina. Masalahnya, awalnya mungkin sepele. Hasil uji Balai POM Indonesia, menemukan adanya penggunaan zat-zat yang membahayakan (i.e formalin) di berbagai produk-produk buatan Cina, seperti kosmetika, permen dan lainnya. Alhasil, pemerintah melarang keras beredarnya produk-produk Cina di pasar Indonesia. Tak berselang lama, Cina pun melakukan larangan serupa, terhadap semua produk seafood Indonesia, yang menurut Cina, karena tingkat kontaminasi produk seafood Indonesia sangat-sangat tinggi. Padahal, ekspor utama non-migas kita dari sektor ini. Wah wah! Perang dagang telah dimulai, rupanya.

Juga, terkait dengan adanya EU Banned untuk maskapai Indonesia, yang kemudian berimbas juga pada larangan maskapai Indonesia ke tanah suci. Oo, apa-apaan ini? Dan masih banyak cerita senada.

Jelas, perang yang dihadapi saat ini tidak sama dengan perang 62 tahun lalu. Perlu strategi dan penanganan yang jitu. Negosiasi untuk win-win solution menjadi keharusan. Yah, kerja kita belum selesai. Masih banyak hal yang harus dilakukan untuk membuat Indonesia merdeka dalam arti sesungguhnya di masa-masa mendatang. Merdeka Indonesia. Sekali Merdeka Tetap Merdeka. Selama hayat masih dikandung badan.
***

PLN Kita: Kinerjamu `Byar Pet`!

Standard

Duh Anjlok. Lagi-lagi anjlok. Byar pet! Menyebalkan dan menjengkelkan. Inilah yang sering saya rasakan di pagi hari saat saya mewarnai pagi hari, selepas mengantar si kecil sekolah. Melakukan aktivitas-aktivitas rumah tangga, seperti mengepel, mencuci (dengan mesin cuci, tentunya), masak nasi (dengan magic jar, tentunya) atau menuangkan pikiran dalam tulisan-tulisan ringan atau sekedar mencoba menyelesaikan kewajiban riset yang sempat tertunda dengan bantuan laptop kesayangan atau sekedar browsing menggunakan akses internet `gratis`. Praktis, semua aktivitas saya dipermudah dengan adanya listrik. Tapi, rutinitas saya, terkadang terhambat, hanya karena listrik padam, selama hampir dua pekan berjalan. Atau voltage menurun, dan anjlok. Lagi-lagi anjlok. Kenapa terjadi, di saat sebagian besar masyarakat justru sedang aktif-aktifnya melakukan kegiatan pagi. Bagaimana dengan perkantoran? Tak jarang, listrik padam, tanpa aba-aba sebelumnya. Berapa kerugian yang harus ditanggung? Ah PLN, kenapa semena-mena begitu?

Begitu banyak cerita PLN merugi, yang nilai nominalnya tidak tanggung-tanggung, yang diakibatkan oleh force major (ie. gempa bumi, banjir) dan faktor lain (i.e pencurian listrik, kebakaran). Atau tidak menutup kemungkinan hanya karena ketidakmampuan perusahaan listrik papan atas negara ini, menjalankan aktivitas perusahaan secara lebih efisien dan efektif. Tapi mungkin ini menjadi ciri khas BUMN jika tidak ada pesaing besar. PLN adalah monopoli terbesar listrik di negara kita. So, tidak heran, jika mereka terkesan `semena-mena`. Tapi sebagai perusahaan milik negara yang sudah bukan seumur jagung lagi, patutkah memiliki kinerja seperti itu? Bahkan, sepertinya tidak pernah merasa untung? Lihat saja, kinerja PLN di 2 tahun sebelumnya (Republika, 2006):

Dalam laporannya PLN menyatakan memiliki pendapatan usaha Rp 104,742 triliun atau meningkat 36,8 persen dibandingkan tahun 2005 yang mencapai Rp 76,543 triliun. Sedangkan pendapatan pelanggan mencapai Rp 70,735 triliun pada 2006 atau meningkat 11,84 persen dibandingkan tahun 2005 yang mencapai Rp 63,246 triliun. Namun demikian, meski pendapatan PLN mengalami peningkatan namun beban usaha PLN juga mengalami kenaikan sebesar 38,41 persen dari Rp 76,024 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 105,228 triliun pada tahun 2006. Kondisi inilah yang mengakibatkan kerugian operasional PLN tahun 2006 mencapai Rp 502 miliar.

Yah, kok rugi lagi. Kalau sudah begini, haruskah masyakarat umum yang menanggung buruknya kinerja ini. Byar pet, byar pet.

Bahkan, pemerintah (i.e PLN) pernah menggalakkan program hemat energi listrik, yang mungkin sebagai bentuk strategi agar PLN tidak kekurangan listrik. Sehingga tidak harus byar pet itu tadi. Berikut saya cuplik tips hemat listrik tersebut dari http://www.pln-jabar.co.id:
1.    Gunakan daya tersambung listrik yang sesuai dengan kebutuhan listrik sehari-hari.
2.    Pergunakan peralatan rumah tangga, khususnya peralatan elektronik yang tepat dan sesuai kebutuhan.
3.    Budayakan kebiasaan hemat listrik sebagai perilaku sehari-hari seluruh anggota keluarga, seperti :

  • Menyalakan/menggunakan peralatan listrik pada saat digunakan saja.
  • Menggunakan peralatan listrik secara bergantian.
  • Bila memungkinkan, gunakan listrik untuk menambah pendapatan rumah tangga (kegiatan yang bersifat produktif).

Saya yakin, sebagian masyarakat Indonesia, akan sangat kooperatif melakukan program penghematan bersama. Hemat listrik, hemat energi dan hemat biaya. Setiap tahun kebutuhan listrik naik sekitar enam persen, sehingga jika tidak ada penghematan, suatu saat akan terjadi kekurangan pasokan (Republika, 2005). Namun semestinya, gerakan hemat listrik dari masyarakat juga harus diimbangi efisiensi di PLN sendiri. Kita tahu selama ini PLN belum efisien baik dalam mengelola listrik (sehingga terjadi penyusutan sampai 20 persen) maupun dalam manajemen keuangan. Tanpa efisiensi dari PLN, gerakan penghematan dari masyarakat akan sia-sia. Nah, hayoo, PLN tunjukkan kinerjamu yang akan jauh lebih baik. Sehingga yang ada byar pyar!

Enaknya santap malam di restoran Padang

Standard

3 Agustus 2007, adalah hari ulang tahun saya. Waktu berjalan begitu cepat, memang. Di tahun ini, usia saya genap 31 tahun. Tanggung jawab untuk mengisi hari-hari menjelang menjadi lebih berat tentunya. Terima kasih Tuhan, telah Engkau anugerahkan kehidupan dengan apa yang dapat dinikmati dan dijalani hingga saat ini. Amin Allahumma Amin.

Makan bersama, adalah bagian dari tradisi keluarga besar sebagai bentuk `perayaan` hari lahir. Dan, restoran Padang Sederhana di Jalan Kaliurang Yogyakarta pun menjadi tujuan kami malam itu. (Note, ini bukan promosi lho ya). Alasannya?
Jelas, cita rasa tinggi dan lezat sudah tidak diragukan lagi. Dengan berbagai menu yang disajikan. Sebut saja, ayam pop dengan sambal hijau dan daun singkongnya. Belum lagi, otak sapi yang super nyam-nyam. Ditambah dengan sambal goreng udang dengan pete yang sangat nikmat. Ada juga, sate padang dengan bumbu yang khas. Kepala ikan kakap yang rasanya selalu ngangeni. Cumi-cumi santan pedas yang jadi kegemaran si kecil. Semuanya sangatlah menggugah selera. Membuat lidah tidak berhenti bergoyang.

Selain menu dan cita rasa yang begitu menggugah selera, praktis dan kecepatan melayani, menjadi alasan kuat tentunya. Bagi sebagian orang yang pernah makan di restoran-restoran ala Padang, penyajian yang cepat menjadi ciri khas. Tanpa ba-bi-bu.Begitu konsumen datang, begitu pula makanan-makanan disajikan. Begitu tersaji, langsung tancap, makan!!! Nikmattt. Inilah ciri khas yang begitu unik dari setiap restoran Padang dibandingkan restoran-restoran lainnya. Belum lagi, begitu selesai menyantap, pelayan restoran akan segera mengkalkulasi apa yang dimakan. Dengan cukup hanya memandangi yang disentuh dan piring-piring yang berserakan di meja makan. Catat, hitung, catat dan hitung. Sangking ahlinya, mereka mencatat dan menghitung dengan proses manual. Tanpa kalkulator. Dan, biasanya, konsumen pun percaya apa yang dicatat dan dihitung. Dan langsung membayar. (Yah, daripada diminta ngitung sendiri? Hayoo).

Yang jelas, bagi Anda yang menyukai tempat makan berselera tinggi, dengan tingkat kepraktisan dan kecepatan penyajian, bersantap di restoran Padang, merupakan pilihan yang tepat. Selamat makan!

***
Thanks buat sahabat, teman dan kolega yang telah menyampaikan ucapan dan untaian doa buat saya.