Sosok Alumni (FE) UGM ber`nyali rendah`?

Standard

Seperti apakah sosok alumni ekonomi UGM, khususnya di mata industri? Apakah lulusan universitas sudah dapat menjawab kebutuhan industri yang selalu berkembang dan penuh kompetisi? Bagaimana sebaiknya kurikulum tingkat sarjana harus dikemas sehingga tercipta link and match yang ideal, atau setidaknya gap yang sering muncul dari teori dan praktis dapat dikurangi. Diskusi internal Jurusan Manajemen FEB UGM, 1 Agustus 2007 yang membahas kurikulum jurusan diharapkan dapat menjadi media untuk mencari jawaban dari sekian pertanyaan-pertanyaan tersebut. Berikut catatan diskusinya.

Bernyali rendah atau kurang percaya diri dan tidak komunikatif adalah beberapa karakter kuat yang disoroti oleh pihak industri level nasional maupun multinasional, terhadap sosok alumni Fakultas Ekonomi UGM atau UGM secara keseluruhan. Selain, kemampuan berbahasa Inggris yang masih minim atau ala Tukul. Meskipun, pihak industri tidak meragukan kemampuan intelektual khususnya dari segi teori lulusan UGM, dengan cakupan knowledge yang lengkap, luas dan kaya pemahaman akan teori dasar keilmuan. Disamping lulusan UGM, diakui cukup rajin, idealis, berapi-api, pintar dan berpengetahuan luas serta jarang komplain.

Bagi akademisi, masukan seperti ini menjadi koreksi dan evaluasi dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. Memfasilitasi proses pembelajaran yang untuk menghasilkan output dan outcome yang menjadi sasaran industri, di kondisi saat ini merupakan sebuah keharusan. Inilah peran besar universitas. Perbaikan kurikulum yang mengarah pada kebutuhan industri menjadi hal yang krusial pula.

Mengutip pendapat Prof. Rolf Kunisch (Germany), setidaknya industri mengharapkan lulusan universitas memiliki tiga aspek: knowlegde, attitude dan character yang baik. Dengan kata lain, bentuk output yang seperti ini adalah output ideal atau disebut juga manusia yang utuh. Apa yang dapat disediakan oleh universitas? Lebih lanjut, Prof. Kunisch menegaskan bahwa akademisi memegang prioritas utama dalam mensupplai knowledge. Mulai dari know-what (domain knowledge itu sendiri), dan know-how (applied knowledge). Yang kedua hal ini, penekanan dan fokus masing-masing perguruan tinggi dapat saja berbeda-beda.

Aspek attitude (sikap), dapat distimulasi di lingkungan pendidikan. Hanya saja, kembali, adanya sinergi dengan pihak industri yang menggunakan output universitas dalam pembentukan sikap menjadi prioritas utama pihak industri. Karena pihak industrilah yang akan menggunakan output dari perguruan tinggi. Dengan kata lain, what business will pay for it.

Yang ketiga adalah karakter. Tidak dapat dipungkiri, tentu saja, tidak mudah membentuk karakter seseorang. Karena pembentukan karakter, tidak hanya sebatas saat mahasiswa menempuh pendidikan di bangku kuliah, tapi jelas terkait mulai darimana dia berasal, bagaimana dia dibesarkan di lingkungan terkecil dan seterusnya. So, jelaslah, karakter bukan bagian dari peran akademisi.

Dari diskusi hari ini, telah ditetapkan bahwa kurikulum jurusan yang berfondasi pada hal yang basic dan broad education, dengan focus perubahan adalah pada learning dari output-based (i.e IPK) mengarah pada outcome-based (employeability). Selain, adanya penekanan kuat pada aspek perubahan atmosfir akademik yang memungkinkan mahasiswa lebih bersikap terbuka dan berani mengeluarkan pendapat, percaya diri dan komunikatif. Harapannya, dengan perubahan kurikulum seperti ini, lulusan universitas, khususnya jurusan Manajemen, FEB UGM dapat menjadi lulusan unggulan dan pilihan industri di masa mendatang. Setidaknya, apa yang dilakukan hari ini, menjadi langkah nyata untuk perbaikan ke depan. Karena … “Vision without action is merely a dream. Action without vision just passes the time. Vision with action can change the world” (Joel Baker).

33 thoughts on “Sosok Alumni (FE) UGM ber`nyali rendah`?

  1. Bu, artikel ini bermanfaat sekali untuk saya. hehehehe karena saat ini saya masuk Fresh Graduate dan sedang mencari job opportunity… hehehehe. iya ya Bu, karakter itu memang penting banget. Produk yang unik different dari yang lain dan mampu satisfied customer pasti lebih laku. dalam seni tarik suara pun, suara yang khas dan berkarakter lebih menjual. Dan repotnya karakter memang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat. Butuh proses yang panjang, bahkan sebelum kita lahir (Gen orang tua jelas membawa pengaruh terhadap karakter kita).

    Kalau dalam Human Resource Management bahwa setiap karakter adalah unik dan setiap karakter dapat berkembang dengan baik asalkan job person fit (karekter tersebut berada pada bidang pekerjaan yang tepat). Namun konsep tersebut tidak boleh diartikan secara sempit. Bagaimanapun juga, perusahaan pasti memiliki standart dari definisi unik itu. Jadi konsep diatas tidak bisa kita telan mentah – mentah dan menganggap apapun karakter kita pasti “baik”. Mungkin terus belajar adalah salah satu kunci yang bisa dijadikan solusi. Terus mengembangakan kelebihan kita dan berusaha untuk memperbaiki kekurangan kita.

    If there a will there is a way. imposible is nothing (bahasa inggris tukul ya Bu, gapapa ya Bu, masih belajar).

  2. Ya. Good luck Ludi! Buktikan bahwa tidak semua alumni FE (B) UGM seperti itu. The future is in your hand. All the best!

  3. Mbak Nurul,
    Saya pikir persepsi seperti itu tidak hanya dilekatkan pada lulusan FE (B) UGM. Secara umum, mudah-mudahan saya salah, image kita memang seperti itu (low profile, nrimo, kurang ambisius, ndeso) di mata praktisi industri.

    Untuk beberapa perusahaan, sebenarnya attitude sperti itu malahan yang dicari. Sayangnya perusahaan yang mencari lulusan seperti itu cenderungnya juga punya budaya serupa dengan yang akan direkrut.

    Beberapa hal yg saya amati yg mungkin membentuk hal seperti itu:
    a. Belum jelasnya visi dan budaya UGM. UGM=kampus rakyat. Apa sih artinya? Apakah artinya kita harus selalu meminggirkan diri sendiri, tidak mau menunjukkan prestasi, risk averse, dll

    b. Dari budaya yg belum clear, turun ke bawah ke jenjang operasional. Dosen kurang memberikan proporsi yg cukup untuk mendorong mahasiswa & lulusan bersikap profesional, berani mengambil inisiatif, bangga terhadap profesi dan almamaternya: “saya Lulusan UGM, sarjana teknik Industri” misalnya. Ya, ini auto-ktirik untuk kita sendiri. Berapa persen dari kita (UGM) yg berani berkata demikian dengan bangga saat mereka berada satu grup diskusi bersama sarjana lulusan luar negeri?

    Namun saya optimis. Itu image masa lalu. Saya amati, seperti di Teknik Industri, sebagian besar mahasiswa sudah berani bersaing, risk takers, PeDe dan tidak lagi jago kandang. Saya yakin itu gejala umum di UGM. Dosen-dosennnya (terutama yg junior) juga sudah lebih progresif dan berwawasan maju.

    Satu hal yang harus diasah dari semua lulusan adalah “learning how to learn”. Mudah-mudahan ke depannya lulusan UGM bisa menjadi teladan: tetap rendah hati tapi berprestasi tinggi.

  4. Thanks atas komentarnya Mas Boed. Iya saya juga sependapat dengan Mas Boed. Memang, diskusi pada bulan Juli itu, kami, dosen Manajemen hanya mengkhususkan pada lulusan Ekonomi (jur. Manajemen). Yang kebetulan, alumni yang didatangkan adalah mereka yang saat ini berkecimpung di MNC (i.e GE Lighting, ABN Amro, Strategic assistant in Germany) dan Indosat (National). Dan kalau ditarik secara umum, ya itulah sosok alumni kita, setidaknya sampai saat ini.

    Selain yang Mas Boed sampaikan, saya kemudian lebih cenderung melihat dari aspek budaya dimana UGM itu berada. Di Yogyakarta yang sangat kental dengan budaya feodal, nerimo, ulet, sabar, prihatin yang tinggi. Meskipun di beberapa fakultas sudah ada pergeseran hal-hal ini, seiring dengan banyaknya interaksi UGM dengan dunia luar. Tapi peran budaya lokal (Yogya or Jawa) masih cukup kuat. Ini jugalah yang mempengaruhi mahasiswa-mahasiswa kita, karena mereka tidak hanya berinteraksi dengan universitas dan juga masyarakat di sekitar kita. Jadi, local culture is all about.

    Nah, saya pikir dan mendukung pendapat Mas Boed, kalau kita sebagai pihak universitas bisa mengemas ini dengan baik, ya maka saya mengamini doa Anda. Sukses selalu ya.

  5. Sedikit mau memberi komentar buat artikel ibu Nurul,
    Mengenai pengembangan karakter memang sebuah proses yang cukup panjang, namun saya tertarik dengan kalimat bahwa karakter bukanlah peran dari seorang akademisi.
    Kebetulan saya seorang alumni FE UGM Manajemen angkt 1998 yang baru lulus tahun 2003. Memang waktu tempuh studi saya tidaklah sesingkat rata-rata teman-teman saya dan dengan Ipk yang hanya sedikit diatas 3.
    Saya menyadari sepenuhnya adanya perubahan total pada diri saya selama saya menempuh kuliah. Keterlibatan saya sejak semester awal di organisasi kemahasiswaan (BEM FE – IKAMMA) hingga akhir semester 6 memberikan sebuah pelajaran yang sangat bermanfaat terutama berkaitan dengan pengembangan karakter diri saya.
    Sebuah kondisi yang pernah saya alami saat itu adalah :
    1. Sulitnya melakukan kaderisasi kepada adik angkatan, terutama menyangkut percepatan kuliah yang nampaknya menjadi indikator kesuksesan belajar seorang sarjana.
    2. Ruang gerak kreasi organisasi kemahasiswaan yang terbatas dengan minimnya dukungan dari para dosen untuk memahami aktivitas yang dilakukan para pengurus organisasi kemahasiswaan.

    Dari pengamatan saya terhadap adik2 angkatan tahun 2003 sudah benar-benar terfokus untuk menyelesaikan studi mereka secara cepat. Salah satu contoh kasat mata adalah semakin sedikitnya perkumpulan yang dilakukan di ‘Selasar’ seusai jam kuliah sehingga terjadi minimnya interaksi sesama mahasiswa. Mungkin hal ini terjadi akibat penerapan kurikulum output-based yang selama ini diterapkan.
    Beberapa opini saya pribadi mengenai peranan yang dapat dilakukan oleh akademisi dalam rangka tercapainya atmosfir lulusan dengan kualifikasi berkarakter (lebih bersikap terbuka dan berani mengeluarkan pendapat, percaya diri dan komunikatif) adalah :
    a. menghidupkan kembali budaya berorganisasi pada mahasiswa
    b. menerapkan sistem magang kerja sebagai salah satu kurikulum (jaman saya belum ada)
    c. menyelenggarakan simulasi tahapan seleksi kerja secara rutin sehingga para lulusan bisa lebih mempersiapkan diri dan lebih percaya diri.

    Salah satu motto yang banyak digunakan teman2 aktivis angkatan saya saat itu adalah ” Kuliah boleh agak lama tapi dapat kerja pasti cepat “. Alhamdullilah saya berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu BUMN dua bulan setelah hari wisuda saya.

    Demikian sedikit komentar saya, semoga FE(B) UGM terus maju mendidik penerus bangsa.

  6. Wah-wah ternyata Mas Kunto ini, alumni Manajemen tho? Hehehe. Saya bangga, Anda termasuk yang lulus tepat waktu dan cepat diterima ditempat kerja. Tetap semangat ya dan semoga sukses selalu.

    Terkait dengan apa yang saya tulis tentang karakter bukan peran akademisi. Ya, saya sepakat dengan Prof. Rofl yang disampaikan pada saat diskusi tersebut. Karena pembentukan karakter itu mulai dari saat kita masih di kandungan ibu (menurut saya). Apalagi dengan kenyataan, seperti yang Anda sampaikan, kondisi kurikulum saat ini, di FEB terutama, dibuat sangat-sangat basic dengan menjadi 144 sks dan akan berkurang lagi (masih digodok). Dulu, waktu jaman saya kuliah, 160 sks, dengan rata-rata masa studi 5-6 tahun. Yang sebenarnya pengurangan muatan sks juga bukan tanpa alasan. Tapi dengan waktu studi hanya 3-4 tahun, dan interaksi mahasiswa dengan dosen/lingkungan fakultas berbeda dengan masa-masa studi di SMA, misalnya, jelas universitas/akademisi tidak bisa berperan dalam pembentukan karakter. Karena karakter mnurut saya, pada saat kuliah, mahasiswa sudah punya karakter tertentu yang ini kemudian akan dapat dipoles atau lebih dikembangkan dengan berbagai kegiatan mahasiswa. Yang tentu saja, lagi-lagi akan disesuaikan dengan karakter mahasiswa itu sendiri. Jadi, saya sepakat dengan Prof Rofl, bahwa fokus utama universitas adalah providing knowledge, selanjutnya untuk sikap terutama karakter menjadi tanggung jawab industri dan masyarakat itu sendiri.

    Saya setuju dengan masukan Mas Kunto tentang upaya PT untuk pengembangan karakter lulusan. Dan memang inilah yang sudah dilakukan. Kegiatan kemahasiswaan, setau saya selalu berkembang. Tentu perkembangannya berbeda-beda dari tahun ke tahun, sesuai perkembangan jaman dan trend juga diri mahasiswanya itu sendiri. Kegiatan magang sangat-sangat diaktifkan dari tahun ke tahun. Juga, perubahan kurikulum dengan memasukkan materi-materi yang lebih meningkatkan kemampuan tadi, sudah dilakukan. Misal, kuliah kewirausahaan, komunikasi bisnis, perencanaan bisnis dan lain sebagainya. Belum ideal dan masih jauh dari sempurna. Tapi usaha nyata ke arah sana sudah ada. Justru itulah, dari pihak universitas sangat memerlukan pemikiran dari alumni-alumni untuk perbaikan apa-apa yang masih dapat diperbaiki ke depannya. So, jangan segan sering-sering main ke FE(B) ya.😉 Sukses selalu dan tetap semangat.

  7. Bu Nurul,
    diatas ibu sebutkan kalau saat ini sebagai contoh ada bbrp mata kuliah kewirausahaan, kombis dsb… dulu sewaktu kuliah saya juga mengambil beberapa mata kuliah tersebut. Namun yang saya rasakan adalah kurang tepatnya metodologi pembelajaran yg diterapkan. Salah satu bentuk nyata adalah dominasi materi kuliah berasal dari dosen yang notabene adalah akademisi. Saya rasa metode itu harus diimbangi dengan mengundang praktisi bisnis di Yogya dan sekitarnya, Diharapkan dengan mengundang praktisi tesebut nantinya teman2 kuliah akan lebih menjiwai makna “enterprenurship” sehingga lulusan UGM tidak selalu menjadi pekerja saja.
    Lalu mengutip pernyataan ibu mengenai fokus utama sebagai knowledge provider, saya rasa memang ada benarnya. Namun selama saya mengikuti proses seleksi kerja hanya sedikit sekali yg menuntut keahlian selama kuliah kita. Yang saya perhatikan perusahaan lebih menilai kematangan berpikir kita dan kemampuan untuk bekerja didalam tim. Salah satu yang sangat saya rasakan adalah pembentukan diskusi interaktif (yg mungkin harus dipaksakan) sehingga teman2 berani mengemukakan opini dalam forum. Salah satu kelas yang sampai saat ini tidak saya lupakan adalah kelas Pemasaran yg dulu diajar oleh Ibu Yuke. Semoga metode interaktif seperti yang diterapkan oleh ibu Yuke terus digunakan oleh dosen Manajemen lainnya.

    Sukses selalu untuk FE(B) UGM bu!

  8. Seiring dengan berjalannya waktu, ada banyak perbaikan dan perubahan di FEB. Di matakuliah kewirush yang pernah saya ampu, metode pembelajaran (jauh) berbeda dari yang lain. Meskipun jelas jauh dari ideal, karena bagaimanapun, mendesain perkuliahan akan sangat ditentukan dari dosen, sistem dan mahasiswa itu sendiri. Dan mengajak praktisi sudah banyak dilakukan oleh dosen-dosen lain tidak hanya di kelas yang saya ampu. Nah, mudah-mudahan suatu saat ke depan, jika mas Kunto sudah menjadi bos sebuah BUMN (atau orang sukses papan atas negeri ini – Amin -) tetap bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi pada almamater. Sinergi seperti inilah yang selalu kita harapkan. Karena menurut saya, menciptakan manusia Indonesia ideal masa depan, bukan hanya tanggung jawab PT, tapi siapapun dengan cara apapun dan dimanapun. Saya tunggu ya (someday). Thanks a lot.

  9. Dear all,

    Saya FE-UGM’ers manajemen 87 tapi lulus 1993 (lumayan lama ya, sengaja karena waktu itu bayarnya murah ….hehehe).
    This was a good auto critics…and it’s true!
    I even face it by myself. Waktu saya lulus & nerusin ambil MM di PPM jakarta, sangat terasa sekali kita2 yg dari UGM agak kurang komunikatif dalam cara penyampaian gagasan atau kalo harus berargumentasi. I don’t know how lecturing process right now di FE UGM, tapi kalo dulu menurutku ya…kurang mendukung proses pembentukan karakter mahasiswa yg komunikatif dan berani tampil. Secara jumlah mahasiswanya kebanyakan kali ya…
    Tapi juga peran dosen’nya…maaf ya mas2 dosennya juga kurang encourage mahasiswanya sih. Mungkin dan saya yakin sekarang ambient’nya udah beda, yang diperlukan adalah dosen2 yang karakternya lebih greget…mungkin jangan yang terlalu mas-mas deh…hehehehe…Kalo soal kurikulum dan lainnya sih ok

  10. Bu Nurul saya mahasiswa S1 Manajemen FEB UGM angkt. 07. Jujur, aku sangat terkesan dengan artikel ini. Memberikan aku secercarh harapan buat kuliah di FEB UGM ini.
    Oya, aku minta ijin buat nampilin artikel ini di Blognya IKAMMA ya. (Ikammafeb.blogspot.com). Moga2 bisa berguna buat temen2 yang lain.
    Makasih bgt ya bu….

  11. Silahkan saja Rio, jika dipandang bisa memberikan manfaat buat semua. Sukses buat Ikamma dan selamat menikmati kuliah di FEB. Salam.

  12. Bu Nurul, saya coba ikut “urun rembug”. Saya juga alumni FE UGM angk1984 lulus 1990. Alhamdulillah dulu selesai wisuda langsung dapat kerja di ASTRA (keterima saat msh kuliah, ada test dr ASTRA).
    Meskipun kerja pindah beberapa kali (kutu loncat?). Pernah menjadi Auditor di BPKP Pusat (1991-1995), terus sebagai Internal Auditor di BUMN (PT. KS), sempat penugasan (perbantuan) di BPIS dan Kantor meneg. BUMN. Tiap Sabtu ngajar sbg DLB di FE Usakti, STIE Trisakti & FE Un. Mercu Buana , sempat ngajar di MAKSI Un. Budi Luhur Jakarta.
    Berdasarkan pengalaman pribadi, betul bu Nurul, alumni FE UGM jika hrs bersaing dengan alumni dr PTN/PTS lain (terutama dari Jakarta), kalah dalam hal komunikasi & bhs Inggris. terdapat suatu hal yang cukup membantu, jika saat mhs kita aktif ikut organisasi mhs (baik intra maupun ekstra), maka kita mempunyai rasa percaya diri yang cukup serta kemampuan komunikasi yang lumayan. Namun hsl pengamatan saya thd beberapa tema-teman yang sulit dpt kerja, ternyata semasa mhs mereka tidak aktif di organisasi mhs sama sekali, meskipun IP cukup tinggi.
    Oleh karena itu, agar para mhs FE(B) UGM dianjurkan untuk mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang ada, namun jangan melupakan tugas utama sbg mhs.
    Menurut informasi, tahun 2006 yg lalu peringakt 1 FE adalah FE UI, peringkat 2 FE UGM dan peringkat 3 FE Usakti.
    Kalau bisa diusahakan mengejar FE UI dan jangan sampai terkejar oleh FE Usakti.
    Jika Bu Burul tdk berkeberatan, alamat blog ibu, saya link di alamat blog saya.
    Terima kasih.
    M. Arief Effendi

  13. Mas Arief, terima kasih atas urun rembug-nya. Beruntungnya mas bisa sedemikian sukses meraih karir bekerja. Semoga keberhasilannya bisa menulari adik-adik angkatan berikutnya. Amin. Silahkan saja kalau alamat blog saya di link. Alamat njenengan apa ya? Kan lumayan bisa numpang promosi dan berbagi info lainnya.😉 Salam sukses dan salam alumni, Nurul

  14. Bu Nurul, alamat website (blog) saya di http://muhariefeffendi.wordpress.com, silahkan juga di-link di blog ibu. Kita bisa sharing berbagai pengetahuan & pengalaman yang bermanfaat. Saat ini saya baru mendalami masalah Good Corporate Governance/GCG, dan naskah buku saya tentang “The Power of GCG : Concept & Implementation / Kekuatan Tata Kelola yang Baik : konsep & Implementasi” terdiri dari 22 bab, saat ini masih dalam proses penerbitan di penerbit Buku di Jakarta. Mudah2an segera terbit dan beredar di toko buku. Saya mohon masukan dari bu Nurul kaitan antara GCG dengan Ajaran Agama (khususnya Islam). Dalam buku tsb saya baru memasukkan bab “Dimensi Moral & Agama” secara umum. Terima kasih.

  15. assalammualaikum bu..
    saya sekarang ini masih kuliah di jurusan manajemen ugm. saya mau berbagi pendapat ajahh ni. Sebetulnya saya juga merasakan kegelisahan pd hal yg ibu sampaikan soal lulusan universitas dengan penyerapan tenaga kerja pd dunia real/industri.
    Cuma yg masih menjadi pertanyaan dalam kepala saya, apakah kami ini yang masih kuliah semata-mata hanya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar nanti setelah lulus dapat diterima bekerja, saja? karena ada kekhawatiran pd saya, bila semua mahasiswa berorientasi pd “employability” yg baik saja, maka kebanyakan akan melupakan bahwa salah satu tujuan implisit pendidikan/iniversitas adalah agar para lulusannya mampu melahirkan perbaikan-perbaikan pd komunitas sosial, masyarakat, dan bangsanya setelah mereka lulus nanti..?
    ataukah pandangan seperti ini telah menjadi sesuatu yang sangat naif dan sepantasnya ditinggalkan saja? semoga ibu Nurul mau berbaik hati memberikan masukan dan pandangan soal ini. Semoga juga dapat mengobati kegelisahan ini. Terima kasih sebelumnya ya, bu. wassalammualaikum wa rahmah..

  16. WWW. Mas Alit, terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Senang dapat komentar dari pihak incumbent, salah satunya Anda ini.

    Memang kalau dilihat dari tujuan besar perguruan tinggi adalah menciptakan lulusan yang siap pakai bagi industri. Ini sudah jamak dimana-mana. Hanya saja, dengan semakin banyak lulusan PT sementara daya tampung relatif tetap, tak ayal lagi, unemployement dimana-mana. Ironis memang. Maka, beberapa PT mengubah strategi dengan kemudian juga menitikberatkan aspek (ie. membekali mahasiswa untuk siap membangun diri sendiri, create their business start-up). Yang dilakukan misalnya mengadakan kuliah kewirausahaan (kuliah ini sudah diwajibkan di beberapa fakultas termasuk ekonomi). Beberapa seminar/diskusi tentang membangkitkan semangat berwirausaha di kalangan mahasiswa. Beberapa kemudian bekerja sama dnegan pihak industri, membuat semacam award-award yang intinya untuk merangsang orang-orang muda beralih tidak sekedar berorientasi pada mencari pekerjaan tetapi bagaimana bisa membuat pekerjaan.

    Dengan beberapa agenda seperti ini, saya yakin akan semakin memberikan wawasan pada mahasiswa dan membantu dalam pembentukan jati diri. Karena menjadi karyawan atau penguasaha itu sebuah pilihan (menurut saya begitu). Nah setidaknya, di saat Mas Alit dan rekan-rekan masih berstatus mahasiswa, tentukan mana yang akan menjadi pilihan Anda. Kalau sudah, serius dengan pilihan yang diambil, do the best, sehingga akan lebih mudah setelah lulus nanti. Misal, Anda temukan bahwa diri Anda lebih cocok menjadi karyawan di suatu perusahaan MNC misalnya, ya, dari sekarang belajar dengan sebaik mungkin, ditambah mengikuti hal lain yang menambah wawasan, jadilah yang the best. Yang seperti ini, dalam kondisi apapun akan selalu terserap di pasar kerja. Percayalah. Sukses ya. Salam. Nurul

  17. Salam lagi Bu Nurul.
    Menarik juga mengikuti diskusi tentang “sosok alumni FE-UGM”. Sebagai orang Yogya asli, saya jadi tertarik untuk nimbrung berbagi cerita. Di Yogya, saya lahir dan besar di Kauman. Alumni SMA Teladan tahun 1982, yang kemudian kuliah di IPB, dan lanjut belajar Manajemen di ITB.

    Dulu UGM dekat rumah, karena Pagelaran – Kraton dan ndalem Mangkubumen digunakan sebagai Kampus. Dan sebagai alumni SMA Teladan, maka lebih dari separo teman seangkatan pada kuliah di UGM. Satu lagi, saya ikut upacara penerimaan mahasiswa baru UGM angkatan ’82. Waktu itu kuliah di IPB baru mulai sebulan setelah UGM, jadi dari pada bengong di rumah saya ikut teman-teman berangkat ke Bulaksumur untuk upacara. Saya upacara menyelinap masuk di barisan Fisipol.

    Jadi kayaknya tidak terlalu salah, kalau saya selalu “merasa dekat” dengan UGM (tidak peduli bahwa UGM cuek sama saya), dan ikut nimbrung soal sosok alumni (FE) UGM.

    Bu Nurul, mohon jangan menganggap enteng, atau bahkan melepas kaitkan, korelasi antara lembaga pendidikan dengan karakter anak didik. Saya tidak bisa memberi penjelasan yang ilmiah, tetapi dalam lingkungan kerja itu bisa “dirasakan” kok mana yang alumni IPB, mana yang alumni ITB, dan mana yang alumni UGM.

    Tidak bisa dipungkiri bahwa lembaga pendidikan (tinggi) itu memang memberi “warna” pada anak didik. Dan “warna” itu tidak hanya tampak pada saat masih fresh graduate. Setelah bertahun-tahun berkarir, “warna” itu masih bisa terlihat.

    “Warna” yang tampak pada alumni UGM, salah satunya memang kurang percaya diri dalam mengemukakan pendapat. Saya punya pengalaman tentang hal itu, karena salah satu teman saya alumni UGM.

    Teman itu sudah 2 kali mengoreksi kesalahan saya dalam melakukan perhitungan. Sayangnya 2 kali koreksi itu bukan dilakukan pada saat rapat, tetapi pada saat rapat baru saja bubar. Tentu saja saya jadi kelabakan, untuk mengoreksi perhitungan itu cuma masalah pencet2 keyboard, tetapi mengoreksi keputusan rapat kan harus dengan rapat lagi.

    Saya heran, kok ada orang yang pintar tetapi tidak percaya dengan kepintarannya sendiri. Lha saya yang tidak sepintar dia saja berani berkoar-koar kesana kemari (Nah yang itu “warna” IPB, pokoknya kalau cuma ngomong nggak pernah kekurangan nyali. Cuma ngomong lho, kalau kerja itu urusan lain).

    Pernah satu waktu saya bicara dengan teman yang dari UGM itu. Saya jelaskan, bahwa saya pernah punya atasan yang sebenarnya teman seangkatan waktu kuliah. Dia jadi atasan, karena lulus 1 tahun lebih cepat dari saya. Dalam suatu rapat kami berbeda pendapat hingga terjadi perdebatan. Dan rapat itu berakhir dengan saya keluar ruangan sambil membanting pintu (Nah yang ini juga “warna” IPB, satu almamater tetapi susah rukun).

    Demikian Bu Nurul, sekilas soal warna-warni sosok alumni.

    Salam
    Parcok

  18. i just can’t believe why did you think like that. as far as i know, its not a matter of what the hell university you came from. its a matter of how you can compete with the challenge ahead by equiping our self with neccesary skills. and i believe once you can compete with others in winning the competition to join such great university like UGM, you have blessed by God with smart brain and luck. that’s the important thing to know. the valuable investment. what you have to do just keep it that way and equip with another skills like english and communication (this skill can be sharpened by joining activities). after that just pray and try your luck.

    by decalaring that statement you just discourage others and the worst is as UGM lecture you’re adoubting your almamater (even a little) and also their alumni without doing some deep analysis/research. how UGM’s alumni can compete with pride when the lecturer is doubting their own capabilty. how pity

    best regards,

    murid hani handoko

  19. Memang harus diakui bahwa sistem pendidikan kita saat ini sepertinya kurang memberi “bekal” pada saat kita turun ke dunia kerja dan masyarakat yang penuh dengan tekanan. Saat kita kuliah kita hanya hanya dijejali dengan teori best practice, padahal dunia tidak seindah dalam buku teori ekonomi yang kita gumuli selama kuliah. Sehingga banyak kita temui seseorang yang sangat vokal ketika masa kuliah hanya bisa “nggih nggih mboten kepanggih” ketika turun di masyarakat, dan banyak lulusan s1 yang dulu sangat kritis saat kuliah hanya menjadi “yes man” ketika di dunia kerja, mereka hanya menjadi manusia yang hanya ikut dengan arus yang ada di sekitarnya, mereka hanya menjadi follower dan tidak bisa menjadi leader. saya masih ingat pertama kali waktu saya masuk S1 ekonomi ugm salah satu dosen berkata bahwa ada 2 aturan dalam kuliah yaitu, pertama dosen selalu benar dan aturan kedua ketika dosen salah ingat aturan pertama, dan ketika masuk dunia kerja aturan itu selalu terpatri dalam otak hanya kata “dosen” diganti dengan “bos”, hasilnya ya “yes man” asal bapak senang. Mereka takut untuk membawa perubahan takut menjadi seorang inovator karena takut gagal, itu bisa dimengerti karena selama kuliah kita hanya menjalani pendidikan yang berorientasi pada hasil dan kurang menghargai proses, yaitu prestasi kita hanya dinilai dari ip. semoga ke depannya sistem perkuliahan kita bisa memberikan ilmu yang lebih nyata dalam mata kuliah, yaitu ilmu yang mendorong untuk berani berpendapat, pengambilan keputusan dll. saya berharap lulusan yang ada menjadi seorang yang berani membawa angin perubahan, berani bertarung untuk memperjuangkan perubahan ke arah yang lebih baik (tidak bernyali rendah). cukup dulu komen saya, maaf kalo tulisannya acak2an lagi belajar menulis nih….(saya juga lagi berjuang membawa perubahan dalam lingkungan sekitar saya walaupun agak sulit sih, tapi yang penting usaha).God Bless Us

  20. ass bu nurul
    aku setuju dengan tulisanmu.mudah2an menjadi motivasi baik bagi yang masih study di fe ugm maupun alumni yang masih belum sukses.tapi meskipun begitu di tempatku ugm masih beda dari yang lain lho…he he

  21. The Outlier, jangan dilupakan.

    Jadi tertarik komentar karena ada beberapa temuan riset kompetitif (Policy Study QUE Project 1999-2003) yang pernah saya ikuti bersama Pak Agus Setiawan, Bu Diah Retno Wulandaru, dan Bu Sari Sitalaksmi, yang masih ada relevansinya dengan posting Bu Nurul ini, yang perlu disegarkan kembali. Komentar ini lebih spesifik terkait dengan alumni manajemen, dan banyak yang tergali dari pengalaman pribadi selama kuliah 1995-2002.(KTM saya genap 14 lembar, sekarang mungkin tidak ada mahasiswa yang mengalami pergantian 3 kali rektor dan 3 dekan)

    1. Saya belum melihat ada filsafat pendidikan manajemen (S1) UGM. Visi,misi program dan kurikulum yang berbasis kompetensi mungkin sudah ada saat ini. Tetapi ini membangkitkan kritik bahwa program manajemen S1-UGM juga tidak lebih daripada mesin produksi yang menerapkan JIT dan TQM. Hanya akan memperhatikan material yang bahan-nya baik, dengan harapan output dan outcome-nya juga akan baik dalam standar mesin itu. Aspirasi,cita-cita mahasiswa kurang tergali penuh dengan model pendidikan seperti ini. Model pendidikan seperti ini bisa berhasil jika mahasiswanya dari awal mendaftar memang sudah punya road map pribadinya (Career Planning) untuk kuliah di manajemen. Pertanyaannya, berapa persen mahasiswa manajemen yang sudah punya ini sehingga model pendidikan terakhir memang layak diterapkan. Filsafat pendidikan yang lebih humanis, terbuka dan berkembang diharapkan bisa menolong para outlier ini. Saya lebih suka menyebutnya outlier (mungkin kurang pas, karena jumlahnya banyak, setidaknya pada jaman saya) mahasiswa yang masuk manajemen bukan karena alasan career planning itu. Saya mengamati para Outlier ini memang menjadi orang sedikit dibandingkan barisan lulusan manajemen lainnya setelah keluar dari kampus.

    2. Jika mengacu secara spesifik kepada kurikulum berbasis kompetensi yang berorientasi pasar, maka mungkin selayaknya lulusan manajemen dapat mempunyai kompetensi dasar untuk diterima kerja, saya lebih suka menyebutnya readiness to work, mungkin agak mirip dengan employability. Basic competence yang sudah disinggung posting sebelumnya misalnya communication skills, team work dan learning skills. Apakah competence ini tidak bisa dikembangkan di kelas? Saya menyebut kelas secara lebih spesifik karena tuntutan belajar angkatan sekarang adalah di dalam kelas. Berbeda di jaman saya dulu, kebijakan fakultas masih longgar sehingga mahasiswa bisa dengan leluasa mengembangkan tiga kompetensi dasar itu di banyak pilihan organisasi kemahasiswaan mulai dari tingkat jurusan, fakultas, univesitas, organisasi dalam kampus dan luar kampus. Riset Pak Agus Setiawan, (Policy Study tahun 1999 or 2000,agak lupa) menemukan aktif di organisasi kemahasiswaan terbukti membantu mengembangkan skills mahasiswa dalam competitive advantage-nya misalnya dalam readiness to work, leadership skills, team work, networking, dll (Ada lima variabel kompetensi dengan banyak dimensi, lupa detilnya). Salah satu rekomendasi hasil penelitian ini kalau saya tidak salah ingat “dorong” mahasiswa untuk aktif di organisasi kemahasiswaan. Sayangnya rekomendasi ini dijaman sekarang mungkin sudah kurang diminati baik oleh mahasiswa maupun oleh pihak pengelola jurusan. Padahal kalau kita amati di iklan-iklan lowongan kerja untuk fresh graduate, selalu ada poin, memiliki pengalaman berorganisasi dan kepemimpinan. Nah Model yang bisa dikembangkan sekarang dari temuan penelitian ini dan kemudian belakangan juga saya ketemu satu artikel di pendidikan manajemen adalah menjadikan kelas sebagai miniatur organisasi.

    3. Saya cek web FE UGM, belum ada career centre. Mungkin ini masih ditangani di level universitas. Temuan riset Bu Sari Sitalaksmi (policy study tahun 2000, or 2001, lupa lagi pasnya) tentang pelatihan karir dan motivasi berprestasi dalam belajar bisa menjadi pertimbangan. Ada motivasi berprestasi yang lebih tinggi bagi mahasiswa awal yang mengikuti pelatihan karir daripada yang tidak. Menurut saya pelatihan karir ini terkait dengan mahasiswa-mahasiswa outlier itu. Masuk jurusan manajemen ndk jelas setelah lulus mau jadi apa, maka perlu dicerahkan dan dibantu buat career planning dari awal kuliah. Sehingga meningkatkan motivasi belajarnya. Tentu motivasi belajar saja tidak cukup, tetapi ini membantu untuk lebih jauh melihat potensi-potensi mahasiswa yang lebih dan kurang dalam tiga kompetensi dasar diatas. Kemudian bisa dikembangkan wacana mengefektifkan kelas sebagai organisasi dimana mahasiswa dan (juga dosen) saling mengevaluasi tidak hanya dalam subject kuliah tetapi juga skills itu. Dimana mahasiswa yang skills-nya menunjukkan perlu pengembangkan, perlu diperhatikan lebih oleh carer centre ini (bisa aja kan mahasiswa yang dapat A dalam subject kuliah tetapi communication skills D). Sehingga dosen bisa fokus ke pengembangan subject kuliah dan career centre fokus ke kompetensi mahasiswa. Pendekatan yang bisa diterapkan oleh career centre bisa kurang lebih seperti program management development yang diikuti oleh fresh graduate di MNC (ada evaluasi kompetense secara reguler).

    Disclaimer: opini yang disampaikan diatas adalah pendapat pribadi dan bukan merupakan pendapat peneliti yang temuan penelitiannya dikutip.

    • Mas Wasi,

      TErima kasih masukannya yang sangat komrepehensif. Semoga menjadi pelengkap dari apa yang sudah saya tulis. dan memberikan tambahan wawasan dan pemikiran bagi yang membaca. Amin. salam.

  22. Masukan yg baik, untuk menjadi perhatian da perbaikan bagi FEB UGM, bersama kita bisa LANJUTKAN… Mau jdi Wkl.Presiden

  23. Benar juga khan Alhamdulillah alumni FE UGM Bp.Prof.Dr.Budiono sbg Cawapres berpasangan dng Capres SBY, smg berhasil…. Komentar saya tgl 5 Mei 2009 terealisir, kita doakan dan dukung tgl 8 Juli 2009 pilih SBY BERBUDI

  24. Ya, masukan yang bagus .. Saya juga merasakan apa yang ditulis oleh penulis di sini (meskipun belum lulus), terutama dalam berkomunikasi dengan bahasa asing (inggris) kita masih kalah dibandingkan universitas lainnya (ex.UI).

  25. Mbak Nurul,
    mungkin bukan cuma alumni UGM yg seperti mbak Nurul gambarkan di artikel di atas. Kami mengalami hal serupa di PT kami (PTS) meskipun ada di Jakarta tapi ‘nyali’nya juga sama. Mungkin yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita mendidik mahasiswa untuk menemukan KARAKTER mereka dengan menumbuh-kembangkan Softskills mereka bukan hanya sekedar hardskills.
    Mari kita bkali mereka dengan Rasa percaya diri yang tinggi, kemampuan komunikasi yang baik, keberanian tuk mengemukakan pendapat, kemampuan tuk presentasi, kemampuan bahasa asing, dsb.
    Saya yakin hardskills alumni UGM masih di jajaran atas.

    Satu hal lagi, mari kita mendidik putra-putri kita yg masih kecil dengan disiplin tinggi, menjadi pribadi mandiri, kuat & tekun serta bertaqwa. Disini ada andil yang besar dari pola pengasuhan keluarga yakni terlalu memanjakan putra-putri kita yg menyebabkan anak didik kita (mahasiswa) menjadi lembek & tidak bernyali.

    Salam,
    Wardoyo

  26. saya mahasiswa baru angkatan 2010..
    setelah membaca berbagai artikel ini, terbesit sedikit kekhawatiran saya terhadap karir kerja saya di masa depan. Saya khawatir alumni FEB UGM sudah kehilangan satu langkah dari Alumni FE UI, karena perusahaan perusahaan nasional maupun internasional sudah punya stigma yang kurang enak bagi alumni FEB UGm yang tidak berani secara terbuka dan tegas dalam pengamblan keputusan. Sehari hari pada kenyataannya memang banyak mahasiswa FEB UGM yang yang hanya jadi KUPU-KUPU (Kuliah pulang kuliah pulang), dan itu mayoritas adalah mahasiswa yang berasal dari golongan menengah keatas, mereka setiap hari cuma pingin enjoy dan fun dalam kuliah, abis kuliah hang out bareng temen, hunting, main ke mall dll. Ikut Organisasi jauh banget dari pikiran mereka, dan sebenarnya tidak usah heran kalau nanti mereka sulit dapat kerja karena kekurangan softskill, dan dari hasil pengamatan sekilas saya, yang banyak ikut organisasi adalah mereka yang berasal dari golongan menengah kebawah (walaupun jumlahnya sedikit dari mahasiswa FEB).Saya belum tahu korelasi antara golongan ekonomi mahasiswa dengan keaktifan mahasiswa dalam ikut organisasi, tapi dalam prakteknya hal itu sering sesuai. Jadi menurut saya kalau FEB UGM mau memperbaiki stigma yang terlanjur mengakar di perusahaan perusahaan bahwa alumni FEB UGM kurang bernyali karena kurang giat ikut organisasi yang mengembangkan karakter, salah satu yang saya sarankan adalah coba perbanyak jumlah mahasiswa baru nanti yang berasal dari golongan menengah kebawah, karena mereka itu punya daya juang dan semangat yang tinggi dan saya yakin jauh lebih tinggi dari mahasiswa gol menengah keatas, hanya saja mereka kalah dalam hal finansial.
    Semoga FEB UGM adalah Fakultas TERBAIK dari seluruh FE Di Indonesia
    Dan kemudian sari Mayoritas Alumni FEB adalah orang orang yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan, tidak hanya di dalam perusahaan tapi juga di dalam pemerintahan..AMiiiiiinnnn..

    • saya mahasiswa FEB UGM, saya rasa tidak benar yah memberikan judgement tertentu langsung menuju pada suatu fakultas di salah satu universitas.

      statement seperti itu memang sempat beberapa kali terdengar, tetapi itu sudah beberapa tahun yang lalu dan semestinya dari pihak kampus pun telah melakukan perubahan-perubahan yang dirasa perlu untuk mengatasi nya.

      tergantung dari mana point of view masing2. kalo mnurut saya akan lebih fair jika dilihat dari karakter yang terbentuk pada masing2 individu, melainkan BUKAN dari wilayah atau lokasi tertentu dmana universitas tersebut berada.

      tetapi meskipun begitu memang masih banyak lagi yang harus ditingkatkan, bukan hanya pihak akademik kampus (dosen, dll) even perangkat utama lainnya, dalam hal ini mahasiswa.
      semoga kualitas FEB UGM semakin meningkat. Amiinnn

    • maaf, saya kurang setuju dengan pernyataan saudara anggi mengenai mahasiswa menegah keatas yg kupu2 akan sulit mendapat kerja krn kurang organisasi, pengalaman dan pengamatan saya, krn mereka glongan menengah keatas pasti relatif lebih mudah dapat kerja, bisa krn jaringan orangtuanya, aplg kita lihat kalo untuk sekarang banyak yang bagian kedit dan debit spt bank dan lainnya, dimana tentunya perusahaan melihat latar belakang mahasiswa tsb, khususnya pekerjaan yang ditarget. dengan memasukkan mahasiswa tsb di pekerjaan tsb tentunya ada hubungan mutualisme dengan orangtua mereka. maaf kata2nya rumit, tp saya rasa anda mengerti maksudnya. hehehhe

  27. Bu Nurul saya ingin bertanya sedikit tentang UGM management.

    Saya sudah diterima di business management yang double degree di UGM tapi masalahnya orang tua saya agak mempertanyakan apakah akan mudah untuk lulusan UGM terutama dari jurusan management mendapatkan pekerjaan di jakarta? Kebetulan saya tinggal dan besar di jakarta sehingga timbul kekhawatiran dari orang tua saya kalau saya kembali ke jakarta saya tidak akan bisa survive (bekerja) di jakarta apalagi orang tua saya mulai membandingkan dengan FE UI. mohon jawabannya ibu.

    Terima kasih

  28. Mungkin yang perlu difikirkan sekarang adalah bagaimana menghasilkan lulusan yang bisa bekerja sama bukan kerjasama-sama dan saling menolongg dalam kebaikan, bukan kejelakan ya. Insya Alloh lulusan FEB akan semakin kuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s