PLN Kita: Kinerjamu `Byar Pet`!

Standard

Duh Anjlok. Lagi-lagi anjlok. Byar pet! Menyebalkan dan menjengkelkan. Inilah yang sering saya rasakan di pagi hari saat saya mewarnai pagi hari, selepas mengantar si kecil sekolah. Melakukan aktivitas-aktivitas rumah tangga, seperti mengepel, mencuci (dengan mesin cuci, tentunya), masak nasi (dengan magic jar, tentunya) atau menuangkan pikiran dalam tulisan-tulisan ringan atau sekedar mencoba menyelesaikan kewajiban riset yang sempat tertunda dengan bantuan laptop kesayangan atau sekedar browsing menggunakan akses internet `gratis`. Praktis, semua aktivitas saya dipermudah dengan adanya listrik. Tapi, rutinitas saya, terkadang terhambat, hanya karena listrik padam, selama hampir dua pekan berjalan. Atau voltage menurun, dan anjlok. Lagi-lagi anjlok. Kenapa terjadi, di saat sebagian besar masyarakat justru sedang aktif-aktifnya melakukan kegiatan pagi. Bagaimana dengan perkantoran? Tak jarang, listrik padam, tanpa aba-aba sebelumnya. Berapa kerugian yang harus ditanggung? Ah PLN, kenapa semena-mena begitu?

Begitu banyak cerita PLN merugi, yang nilai nominalnya tidak tanggung-tanggung, yang diakibatkan oleh force major (ie. gempa bumi, banjir) dan faktor lain (i.e pencurian listrik, kebakaran). Atau tidak menutup kemungkinan hanya karena ketidakmampuan perusahaan listrik papan atas negara ini, menjalankan aktivitas perusahaan secara lebih efisien dan efektif. Tapi mungkin ini menjadi ciri khas BUMN jika tidak ada pesaing besar. PLN adalah monopoli terbesar listrik di negara kita. So, tidak heran, jika mereka terkesan `semena-mena`. Tapi sebagai perusahaan milik negara yang sudah bukan seumur jagung lagi, patutkah memiliki kinerja seperti itu? Bahkan, sepertinya tidak pernah merasa untung? Lihat saja, kinerja PLN di 2 tahun sebelumnya (Republika, 2006):

Dalam laporannya PLN menyatakan memiliki pendapatan usaha Rp 104,742 triliun atau meningkat 36,8 persen dibandingkan tahun 2005 yang mencapai Rp 76,543 triliun. Sedangkan pendapatan pelanggan mencapai Rp 70,735 triliun pada 2006 atau meningkat 11,84 persen dibandingkan tahun 2005 yang mencapai Rp 63,246 triliun. Namun demikian, meski pendapatan PLN mengalami peningkatan namun beban usaha PLN juga mengalami kenaikan sebesar 38,41 persen dari Rp 76,024 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 105,228 triliun pada tahun 2006. Kondisi inilah yang mengakibatkan kerugian operasional PLN tahun 2006 mencapai Rp 502 miliar.

Yah, kok rugi lagi. Kalau sudah begini, haruskah masyakarat umum yang menanggung buruknya kinerja ini. Byar pet, byar pet.

Bahkan, pemerintah (i.e PLN) pernah menggalakkan program hemat energi listrik, yang mungkin sebagai bentuk strategi agar PLN tidak kekurangan listrik. Sehingga tidak harus byar pet itu tadi. Berikut saya cuplik tips hemat listrik tersebut dari http://www.pln-jabar.co.id:
1.    Gunakan daya tersambung listrik yang sesuai dengan kebutuhan listrik sehari-hari.
2.    Pergunakan peralatan rumah tangga, khususnya peralatan elektronik yang tepat dan sesuai kebutuhan.
3.    Budayakan kebiasaan hemat listrik sebagai perilaku sehari-hari seluruh anggota keluarga, seperti :

  • Menyalakan/menggunakan peralatan listrik pada saat digunakan saja.
  • Menggunakan peralatan listrik secara bergantian.
  • Bila memungkinkan, gunakan listrik untuk menambah pendapatan rumah tangga (kegiatan yang bersifat produktif).

Saya yakin, sebagian masyarakat Indonesia, akan sangat kooperatif melakukan program penghematan bersama. Hemat listrik, hemat energi dan hemat biaya. Setiap tahun kebutuhan listrik naik sekitar enam persen, sehingga jika tidak ada penghematan, suatu saat akan terjadi kekurangan pasokan (Republika, 2005). Namun semestinya, gerakan hemat listrik dari masyarakat juga harus diimbangi efisiensi di PLN sendiri. Kita tahu selama ini PLN belum efisien baik dalam mengelola listrik (sehingga terjadi penyusutan sampai 20 persen) maupun dalam manajemen keuangan. Tanpa efisiensi dari PLN, gerakan penghematan dari masyarakat akan sia-sia. Nah, hayoo, PLN tunjukkan kinerjamu yang akan jauh lebih baik. Sehingga yang ada byar pyar!

7 thoughts on “PLN Kita: Kinerjamu `Byar Pet`!

  1. Semoga sedikit komentar ini bisa dapat meluruskan tulisan yang Ibu Nurul buat…
    Sebelum saya bekerja di lingkungan PLN saya juga banyak mengeluhkan pelayanan yang kadang byar pet sehingga mengganggu aktifitas keseharian saya.

    Namun setelah hampir 4 tahun saya bekerja, saya merasakan upaya yg cukup baik yg telah dilakukan oleh pihak PLN. Namun saya tidak memungkiri masih terjadinya kelemahan dalam pengambilan keputusan strategis yang dalam tanda petik berkaitan dengan kepentingan politis.
    Mengutip sedikit kalimat ibu yg berbunyi “Kita tahu selama ini PLN belum efisien baik dalam mengelola listrik (sehingga terjadi penyusutan sampai 20 persen)” saya merasakan karena sebagian besar pembangkit yang dimiliki PLN masih menggunakan bahan bakar minyak (thermal) yang akhirnya memakan cukup banyak subsidi negara.
    PLTA saat ini dianggap sebagai pembangkit listrik dengan biaya produksi terendah namun tetap saja kehandalan nya dalam mendukung sistem ketenagalistrikan kita sangat bergantung kepada iklim/musim di negara kita. Sebatas pengetahuan saya dalam sistem interkoneksi jawa bali, prioritas PLTA digunakan sebagai emergency supply dalam jaringan apabila terjadi gangguan PLTG/U di pulau Jawa.
    Selanjutnya energi nuklir dipercaya sebagai salah satu alternatif energi dengan biaya rendah dan memiliki daya mampu MW yang sangat besar. Namun seperti yang terjadi saat ini yaitu banyaknya pihak yang tidak setuju dengan pembangunan pembangkit nuklir di Indonesia. Bukankah hal ini menjadi sangat dilematis?

    Kedua mengenai komentar bahwa PLN sebagai monopoli sistem ketenagalistrikan. Memang PLN menguasai bisnis ini dari hulu hingga hilir, namun perlu diketahui bersama bahwa sudah terdapat beberapa pemain /produsen listrik swasta dalam pengelolaan ketenagalistrikan di Indonesia (Independent Powr Plant (IPP)). Saat ini harga jual yang ditawarkan oleh pihak swasta lebih mahal dari penawaran yang dikeluarkan oleh anak perusahaan PLN pengelola pembangkitan. Harus sampai kapan pemerintah mau mensubsidi pembelian energi listrik kepada pihak IPP demi kepentingan menarik investor asing??? Saat ini beberapa teman kami sedang melakukan demo penolakan penyerahan Paiton blok 3&4 kepada pihak swasta. Semoga pemerintah segera menyadari kesalahan pengambilan keputusan tersebut karena akan semakin meningkatkan kemungkinan kenaikan harga jual listrik konsumen.

    lalu sedikit komentar mengenai ajakan untuk hemat listrik. Hal itu memang harus dilakukan untuk menyadarkaan masyarakat mengenai keterbatasan penyediaan listrik berkaitan dengan peningkatan kebutuhan tiap tahunnya. Oleh karena itu memang seharusnya kampanye penghematan listrik dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat kita semua. Diharapkan kesadaran penggunaan listrik secara efektif akan mampu menjaga kehandalan sistem ketenagalistrikan di Indonesia sampai dengan terbangunnya pembangkit baru (yang ujung2nya menunggu keputusan pihak elite politik nega kita).

    Well saya harap sedikit komentar ini dapat membuka wacana pembaca tulisan ibu berikutnya sehingga tidak terlalu mendeskriditkan kinerja pegawai di lingkungan PLN.

    Electricity For a Better Life …

  2. Halo Pak/Mas Kunto, saya berterima kasih sekali atas waktunya untuk masukannya. Memang tulisan yang saya buat lebih menunjukkan hal-hal subyektif saya, karena saat itu sedang “kesal” dengan ketidakkompromian fasilitas listrik di Yogya (setidaknya di rumah saya). Anjlok dan mati melulu. Sehingga mungkin apa yang saya utarakan agak jauh dari obyektivitas, walau mungkin memang beberapa fakta menunjukkan hal demikian. Yang sebenarnya tidak menutup mata, sebagian besar masyarakat kita yang awam, yang tidak bekerja di dunia listrik, yang hanya sebagai user punya pandangan yang tidak jauh beda dengan saya.

    Setidaknya apa yang Pak Kunto komentari dapat melengkapi sisi subyektivitas saya dengan hal-hal yang lebih obyektif.
    Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

    Untuk Indonesia kita yang akan jauh lebih baik. Salam buat temen-temen di PLN ya.

  3. Salam ….Buat Mbaak Nurul..
    PLN SELALU JAYA SETIA SETIAP SAAT…………………..

    Saya ngak Bisa ngomentari Panjang lebar Mbak Ya…
    1.Masalah PLN Rugi TerusSSSSSS.
    Gimana Ngak rugi Mbak dalam dunia bisnis Ujung2nya keuntungan yang di kejar.(Bisnis Oriented).
    Dimana Biaya Produksi Misalnya Rp.1,- Berarti saya harus jual minimal Rp.1Atau Rp.1,5,-…………..
    sementara PLN Biaya produksi Lebih Mahal dari harga Jual…
    Dari Mana Untungnya Mbak.
    Mungkin mbak Nurul Punya Resep/Racikan yang dimana Biaya Produksi Besar,HARGA JUAL RENDAH DARI HARGA PRODUKSI lalu Kita Untung Gede……
    2.PLN sebuah BUMN dengan Status PT.Kalau demikian percayakan saja sepenuhnya kebijakan dan wewenang tersebut kepada Team Direksi yang ditunjuk untuk mengatur Roda kehidupan PLN.Dalam hal ini campur Tangan Pemerintah jangan terlalu dominan…….
    Ibarat kita disuruh Harus Lari Se kencang2 nya,Tapi Kaki kita di Ikat..
    Smoga Mbak mengerti maksud Tulisan saya ini……….
    Terimakasih…….

    Bagaimanapun juaga “Electricity For a Better Life …”
    “LISTRIK UNTUK KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK”
    SALAM UNTUK REKANKU WARGA PLN YANG SETIA………….

  4. mbak saya mo nanya nih, tolong di jawab ya. apasih maksud slogan PLN “yang penting matikan yang tidak penting” jika dihubungkan dengan Manajemen Penggunaan dari sisi konsumen (demand side management)? makasi…..

  5. Mbak Nanda, thanks atas pertanyaannya. Rasanya pertanyaan lebih tepat diajukan ke PLN sendiri, karena yang membuat slogan kan juga pihak PLN.😉 Ya tho? Tapi mungkin perkiraan saya, intinya slogan PLN mengajak masyarakat untuk berperilaku seperlunya saja terkait dengan penggunaan listrik. Hemat. Jadi selagi bisa, kenapa tidak?

  6. Memang keteladanan itu harus berawal dari diri sendiri… PLN bilang yg penting matikan yang tidak penting, tp coba lihat sj penerangan d pusat2 pembangkit itu, berapa ribu W? juga d Gardu2 Induk, penting sih penting tp koq sepertinya berlebihan….
    @pak Kunto: sthu sy kebanyakan pembangkit2 PLN berbahan bakar batu bara sprti: suralaya, paiton, cilacap bukannya minyak (oil) dan selain itu msh bnyk lg pembangkit2 yg berbahn bakar panas bumi sperti Garut, Dieng dll jd sy kurang paham klo jd nambah subsidi negara gr2 knaikan harga minyak dunia?
    @pak Sugeng: teorinya memang g bakalan ketemu untungnya klo harga jual < hrga produksi, tp gara2 ini, PLN jgn trus rugi terus, gmn caranya terus d upayakan…… klo pelanggan sy yakin ready utk diajak berhemat, bukannya Rosullulloh mengajarkan kepada kita utk tidak bersifat boros

  7. @soto ayam jeruk nipis
    saat ini mmg msh banyak pembangkit PLN yg menggunakan minyak, ditambah lg ada beberapa PLTG (Gas) yg seharusnya menggunakan gas, tetapi krn ketiadaan pasokan gas akhirnya memakai minyak, dpt dibayangkan PLN harus membeli minyak dgn harga nternasional akibat regulasi pemerintah yg malah menjual gas ke luar negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s