Bagaimana Indonesia kita?

Standard

BusinessWeek Edisi Indonesia edisi terbaru (No.23, Sep 2007, h. 14) memuat wawancara dengan Profesor Pervez Ghauri (Professor di International Business Manchester Business School). Ada beberapa bagian wawancara yang cukup tajam untuk Indonesia. Yang cukup menarik untuk direnungkan, dan disikapi. Berikut kutipannya:

***
BusinessWeek [BW]: Macan Asia tak hanya China dan India. Ada pula Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu Timur Tengah juga tengah bangkit. Apakah ini dapat menular ke Indonesia?

Pervez Ghauri [PG]: Tidak. Anda membutuhkan politisi yang berwawasan ke depan. Untuk, maju setiap negara harus memiliki rencana jangka panjang. Semua negara –apakah itu China, India, atau Jepang– tentunya lebih peduli akan diri sendiri. Mereka membuat rencana jangka panjang untuk meraih sesuatu. Mereka lalu berjuang selama 20-25 tahun. Kita bisa menjadikan Malaysia sebagai contoh. Di bawah kepemimpinan Mahathir Muhamad, negara itu membuat perencanaan 25 tahun. Sejak awal telah dipikirkan bagaimana kebijakannya, alokasi anggarannya, dan sebagainya. Lalu, semua upaya dikerahkan demi mencapai tujuan itu. Nah, menurut Anda; apakah Indonesia, Pakistan, atau Thailand memiliki visi dan rencana seperti itu.

BW: Menurut Anda?

PG: Negara-negara tersebut hanya hidup-hidup dari hari ke hari. Politisi di negara-negara tersebut, termasuk Indonesia, hanya berpikir dari pemilu ke pemilu. Mereka tidak peduli bagaimana seharusnya Indonesia dalam 25 tahun ke depan. Masalah lainnya adalah media massa. Pers umumnya menciptakan atmosfer yang tidak mendukung pembangunan. Media massa hanya memperkeruh suasana. Mestinya, pers ikut membangun kesadaran akan bagaimana seharusnya negara ini ke depan. Anda mesti ikut membantu rakyat membuka diri dan fokus pada berbagai persoalan. Dengan dorongan media, rakyat akan memiliki komitmen. Kalau rakyat sudah memiliki komitmen, mereka tidak akan memilih politisi yang hanya jago bicara.

BW: Jadi, bagaimana Anda memandang kondisi Indonesia?

PG: Wilayah Asia kini tengah menjadi pemenang. Tetapi, Indonesia masih menjadi pecundang. Jika Indonesia terus saja mengisolasi diri, bekerja sendirian dan tak mau bergabung dengan yang lain dalam kerja sama ekonomi dan sebagainya, akan dibutuhkan waktu yang lama untuk berhasil. Jika berkeinginan menjadi bagian dari wilayah yang tengah menikmati kemenangan ini, Indonesia harus jalan bersama-sama dengan negara lain. Bagaimanapun harus disadari bahwa setiap negara harus membuka pasar masing-masing. Semua negara mesti terbuka mengundang orang lain untuk masuk. Menurut saya, Indonesia harus membuka diri agar semua orang bisa masuk ke sini.

***
Satu hal yang saya ingin komentari, adalah statement terakhir Pervez, yaitu Indonesia harus membuka diri agar semua orang bisa masuk ke sini. Apa yang kurang dari Indonesia dalam hal buka-bukaan. Semua elemen bangsa ini, rasanya udah cukup terbuka dengan globalisasi. Hampir semua produk-produk asing, ada di Indonesia. Kalau kita bicara barang-barang konsumsi. Justru menurut saya, Indonesia seperti tidak punya kendali atau rem untuk hal buka-bukaan. Masyarakat menjadi sangat konsumtif, pola hidup menjadi begitu modern dengan pendapatan tradisional. Memprihatinkan. Sangking terbukanya, dimana budaya Indonesia tidak cukup kuat dan Indonesia seperti tidak punya fondasi di negeri sendiri, jadilah kita konsumen di negeri sendiri. Siapa yang menikmati? Yah, bangsa-bangsa luar yang begitu mudah masuk ke Indonesia. Ironis!

One thought on “Bagaimana Indonesia kita?

  1. Indonesia itu… mayoritas pendidikannya masih payah.

    Jadi…. seandainya kita ambil acak (random) untuk jadi pemimpin, anggota parlemen, besar kemungkinan dapat yang payah-payah.
    Dipilih lewat pemilu pun…… sama saja. :-((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s