Penggusuran … Oh, Penggusuran

Standard

Penggusuran dan penggusuran. Lagi-lagi, penggusuran. Membaca dan mendengar berita seperti itu, yang sebenarnya sudah terlalu sering terjadi dan diberitakan, terjadi, diberitakan di Indonesia. Tidak hanya di kota-kota metropolitan. Bahkan di kota-kota kecil. Berulang terus. Jika memang harus demikian, salah siapa ini semua? Kenapa harus digusur? dan menggusur?

Kadang saya berfikir, kenapa kemudian hal-hal seperti ini bisa terjadi dan selalu terjadi? Yang tidak jarang, di tempat itu-itu juga. Yang sebenarnya kalau dirunut ke belakang, awalnya dari tanah yang tidak bertuan. Ya kalau toh itu bertuan, banyak orang yang berasumsi tidak bertuan. Awalnya, mungkin coba-coba. Bangun yang bisa bongkar pasang. Lama-lama, dan semakin lama, tidak ada yang melarang. Jadilah mereka-mereka ini, membuat bangunan semi permanen. Bahkan permanen. Mereka jelas-jelas sudah invest (mengeluarkan biaya) untuk membangun rumah kecil atau tempat berjualan permanen. Di semen, dibuat sedemikian indah dan nyaman untuk tempat tinggal dan berjualan. Ah aman, tidak ada yang mengusir, demikian mungkin pemikiran yang terlintas. Dan ini sudah berlangsung sekian tahun, bahkan mungkin sekian generasi.

Dan, ketika aparat tersadar bahwa tempat itu bertuan, dan akan digunakan untuk pembangunan, barulah masalah menguak. Ayo, gusur dan gusur. Jelas, mereka sudah merasa berinvestasi. Kok tega? begitu kira-kira komentar pada pihak pemerintah. Dan aparat hanya akan jawab, ya kami ini kan cuma menjalankan tugas. Hmm, dan hampir semua cerita serupa, berujung pada ketidaknyamanan. Sebut saja, kasus penggusuran pedagang kaki lima di sekitar selokan Mataram UGM beberapa tahun silam. Demo marak. Kecaman pada UGM yang sudah tidak peduli wong cilik. Dan ini pun menjadi isu senada ketika ada penggusuran dimanapun. Di jalan TOl Jakarta, baru-baru ini.

Ah kok bisa begini ya? Salah siapa?
Saya jadi teringat sewaktu di Yogya beberapa waktu lalu (Agustus, 2007). Saya sempat melewati jalan di depan Kantor Balaiyasa Yogyakarta. Seingat saya, sekian puluh tahun lalu, kira-kira tahun 85an, jalan ini sepi. Saya sering melewatinya, kalau berangkat sekolah, jalan kaki atau bersepeda. Bersama teman, kami sering mencari kenari-kenari yang jatuh. Nyaman sekali. Dan kalau haus, kami berhenti membeli es dawet gula jawa. Satu-satunya pedagang saat itu. Sekarang? Si bapak tua itu, sudah ditemani dengan pedagang-pedagang kaki lima lainnya. Yang bangunannya lebih modern, pakai tenda, kursi, bahkan ada yang sudah membangunnya sedikit permanen.

Saya sempat mikir, kok ya dibiarkan tho, ya Bapak/Ibu di Pemerintahan? Kalau sedari awal mereka sudah diingatkan, bahwa tanah itu bertuan, dilarang berjualan, mereka tidak akan mensulap daerah itu menjadi lahan pencaharian yang permanen. Segera saja. Kalau tidak, cerita kelam penggusuran yang berlarut-larut, akan selalu mewarnai harian berita di tanah air ini. Tapi mungkin, rumusnya adalah kalau bisa nanti, kenapa harus sekarang?

Oo.

One thought on “Penggusuran … Oh, Penggusuran

  1. Itu namanya korupsi di tingkat wong cilik

    Yang namanya korupsi itu kan.. memakai fasilitas umum untuk kepentingan sendiri.. untuk memperkaya diri sendiri.

    Sama saja PKL yg ga mau ditertibkan.. dia pakai fasilitas umum untuk memperkaya sendiri (jualan kan = memperkaya diri). Sampai mengganggu ketertiban umum.

    Jadi…. sama saja …. korupsi.

    Masalahnya ..aparat juga tidak cepat tanggap. Tunggu dulu sampai banyak. Baru setelah bermasalah .. geger semua.

    Maaf mbak Nurul.. kalau ga berkenan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s