Kano’s tour vs. Duck’s tour vs. Andong’s tour (?)

Standard

Mengelilingi sungai atau kanal dengan berkano ria, sungguhlah menyenangkan. Biasanya hal seperti ini banyak sekali dijumpai saat-saat musim panas dan menjelang musim autumn di hampir semua bagian Belanda. Di Groningen saja, pada bulan-bulan Juli hingga September, cukup banyak masyarakat, segala kalangan, berkano ria. Mengelilingi kanal dengan kano atau kalau ingin berkelompok dengan perahu kecil motor berkapasitas 6-8 orang. Berkeliling dengan waktu 1 jam, menikmati indahnya sungai dan pemandangan sepanjang kota Groningen. Cukup dengan 5 euro per kepala, jika ini beregu. Tidaklah mahal.

Saya jadi teringat, sewaktu saya dan keluarga berada di Singapura, kami sempat menikmati perjalanan mengelilingi kota dengan yang disebut Duck Tour. Dengan membayar, SGD32 per orang, perjalanan dimulai dari melihat kota, mall-mall, tempat-tempat bersejarah, parlemen, hotel tertua dan termahal di Singapore lalu menuju ke patung Lion sambil melewati sungai. Total trip tidak sampai 1 jam. Mulai-nya ontime, dan berakhir kembali ke tempat awalpun tepat waktu. Dengan menggunakan mobil ala perang, karena seperti tank begitu yang didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai wujud bebek, dengan perlengkapan pelampung membuat Duck Tour ini bernilai lebih. Dan benar saja, hampir sebagian besar turis-turis yang mengunjungi Singapura selalu ingin menikmati Duck Tour ini. Padahal ya, kalau dipikir-pikir, cuma keliling seperti itu, dan hanya mendapatkan sebotol air mineral. Tidak lebih. Tapi, setiap keberangkatan Duck Tour ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Dan semua pengunjung adalah turis.

Apa yang menarik dari ini semua? Kemasan.

Yah, di Groningen dan sebagian besar Belanda dengan Kano’s tour-nya dan di Singapure dengan Duck Tour-nya. Inilah kemasan yang cukup jitu, membuat yang biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang memang layak dan pantas untuk dinikmati. Dan sepertinya, inilah yang terabaikan. Saya membayangkan jika di Yogya saja, ada hal seperti ini, Andong’s Tour mengelilingi jalanan Malioboro dan Keraton dengan rute yang jelas, tarif, dan waktu yang jelas dapat diprediksi, saya yakin, Yogya akan semakin laris-manis. Sayang, saya belum menemukan pola-pola kemasan seperti ini yang begitu terintegrasi dengan baik. Saya jadi ingat, dulu, si kecil saat berumur 5 tahun sangat menyukai andong, kendaraan tradisional dengan kuda, hewan berkaki empat. Wah, masih ingat jaman itu, begitu susahnya mencari dimana pangkalan andong. Kadang ada, kadang tidak ada. Dan sekarang? mungkin semakin menjadi transportasi yang amat sangat langka. Dalam bayangan saya, kalau ada Andong Tour di Yogya, kalau kebetulan ada turis manca ke sana, bisa jadi alternatif baru untuk sight seeing kota. Menyenangkan. Hayo atuh, mbok ya … diadakan Andong Tour, naik andong keliling Yogya, cukup 45 menit, harga 40 ribu, siapa cepat dia dapat. hehehe.

2 thoughts on “Kano’s tour vs. Duck’s tour vs. Andong’s tour (?)

  1. Seingat saya ketika masih tinggal di Jogja beberapa waktu lalu, cikal bakal seperti yang Mbak Nurul bayangkan Sight Seeing by Andong sudah ada. Saya pernah melihat beberapa yang seliweran antara Kotagede-Beringharjo, hanya saja tidak terkelola dengan baik diantaranya jadwal tidak jelas, pemandu wisata belum ada, agen perjalanan belum ada (artinya belum ada pengelola yang ditunjuk untuk bertanggungjawab) dan yang cukup penting untuk awal sebuah penataan wisata kota adalah keteraturan lalu lintas serta sarana transportasi umum… yang jelas jangan dibandingkan dengan kondisi di europe… mungkin setelah mbak Nurul kembali dari europe dapat mengaplikasikan ilmu yang di dapat untuk memajukan wisata kota Jogja…

  2. Terima kasih atas komentarnya Pak Eddy. Iya saya juga masih melihat andong berseliweran di Yogya. Tapi sepertinya andong tersebut hanya menjadi transportasi umum saja versi tradisional, layaknya becak. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh belajar dari Eropa, di Singapura saja, negara kota yang sangat dekat dengan Indonesia, mampu mengemas hal-hal seperti itu dengan baik. Tak heran, banyak turis yang sengaja atau karena transit cukup lama di Changi, menyempatkan waktu untuk melakukan City Tour juga mereka naik Duck Tour. Saya membayangkan, kalau di Yogya (di yogya saja dulu), tidak perlu berbicara cakup Indonesia, karena terlalu luas, ada model seperti itu, saya yakin wisata Yogya akan semakin maju. Yah, mudah-mudahan ke depan, semua bisa mewujudkan apa yang diimpikan dengan lebih baik. Sedikit, kecil tapi nyata. Sukses selalu buat Pak Eddy dengan Pegadaiannya, yang Mengatasi Masalah Tanpa Masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s