Time flies …

Standard

Yes, time flies!
Itulah ungkapan kata yang tepat dari perjalanan yang sudah saya tempuh. Tak terasa, hanya dalam hitungan 2×24 jam lagi saya akan pulang ke Yogya. Meskipun, kepulangan kali ini jelas bukan untuk sebenar-benarnya liburan, tetapi tetap saja, berada di tengah anak, suami dan semua keluarga yang menyayangi, adalah hal yang tak ternilai dari apapun. Alhamdulillah, akhirnya 2,5 bulan di Groningen, terlewati dengan progress yang cukup signifikan.

Begitu banyak hal yang terjadi, mulai dari hal-hal yang sangat ilmiah. Jelas, perkembangan riset sangat signifikan. Diskusi bermula dari hasil pilot studi, dilanjut dengan extended pilot study, terkait dengan data collection, metodologi dan semakin memperdalam teori yang dibangun. Sangat-sangat menggairahkan. Meskipun kadang naik dan turun, sangat produktif, dan bahkan sangat jenuh. Makna hidup yang lebih berarti dengan menikmati puasa jauh dari keluarga, melihat dan bergesekan dengan kehidupan orang-orang sekitar. Mudah-mudahan, membuat hidup semakin bermakna. Urusan pindahan apartemen, alhamdulillah mulus. Packing barang-barang kantor, selesai sudah kemarin. Tinggal last meeting today. Dan tadi pagipun, sudah say Good Bye dengan co-supervisor yang karena sakit tidak dapat ikutan meeting. Enjoy your trip back to Indonesia … itulah kalimat terakhir terucap dari supervisor saya yang mirip Pierce Brosnan (wahh, kereeennn … mauuu!!!). hehehe.

Dan, Alhamdulillah.
Dalam hitungan 2×24 jam, saya pulang ….

Pulang ke kotamu, (Yogyakarta)
Ada setanggup haru dalam rindu

Advertisements

Pendidikan atau lapangan pekerjaan?

Standard

Kontradiksi opini tentang komersialisasi pendidikan, sudah berkumandang beberapa waktu silam. Dan obrolan ini lagi ramai-ramainya di salah satu milis yang saya ikuti. Inikah konsekuensi tuntutan jaman? Dimana semua hal menjadi hal yang selalu ditakar? Diperdagangkan? Dan tidak terkecuali pendidikan? Bukannya memang sudah sejak dulu pendidikan menjadi barang mahal, dan akan semakin mahal bagi anak cucu kita kelak? Atau, inilah proses bangsa ini belajar.

Dibentuknya BHMN-BHMN dari beberapa universitas besar di negeri kita, disinyalir telah menjadi pemicu utama komersialisasi pendidikan. Dalih otonomi? Sisi positif, PT-PT besar ini kemudian ditantang untuk segera belajar bagaimana melakukan efisiensi internal. Yang nyatanya, memang sebagian besar PT menghadapi problem inefisiensi internal. Nah lho? Belum lagi, dengan dikuranginya subsidi pendidikan dari pemerintah. Apa tumon? Tentu saja, banyak PT yang menjadi kelabakan, kebingungan. Gimana tidak, selama ini, keenakan, ibarat anak kecil yang selalu disusui ASI oleh ibunya. Begitu disapih, menangis … meronta-ronta … perlu waktu untuk terbiasa. Sampai kapan kah?

Dan demo pun tak terelakkan untuk kontra kebijakan ini. Ah, pemerintah, bukankah hak setiap individu itu untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang layak? Kalau begini, gimana pendidikan Indonesia ke depan? Tapi sedemikian urgent-nya kah, isu itu diangkat, untuk isu utama bangsa ini, di era saat ini? Entahlah …

Saya jadi teringat, ketika ngobrol dengan Bapak di rumah. Saat itu, sedang maraknya demo anti komersialisasi pendidikan tinggi dan berkurangnya subsidi pemerintah. Dan sang Bapak pun berkomentar … ah, kok demonya menuntut pendidikan itu murah, alokasi subsidi untuk pendidikan, kalau semua orang di Indonesia ini berpendidikan tinggi, siapa yang mau ngurusin kerjaan yang level bawah? Bukankah lebih penting memikirkan penciptaan lapangan pekerjaan? Kalau semua lulusan PT, semua berharap dapat pekerjaan. Lha siapa yang menciptakan lapangan kerja? Apa ngga mending pemerintah fokus pada bagaimana menciptakan lapangan kerja yang luas di tengah semakin tinggi persaingan yang ada. So, kesempatan kerja tinggi, penghasilan terjamin, daya beli orang untuk sekolah akhirnya akan lebih tinggi juga …

Ahh, bener juga rasanya.

Alhamdulillah, aku jenuh …

Standard

Jenuh …
Mungkin itulah kata yang tepat untuk sedikit menggambarkan apa yang sedang saya alami. Beberapa hari terakhir. Khususnya setelah lebaran pergi dengan diam dalam kesendirian. Nyaris tanpa makna. Seakan, hanya menjadi rutinitas yang berlalu begitu saja. Ahhh…

Apa yang sesungguhnya terjadi? Entahlah. Ada yang berbeda dari biasanya, yang serasa penuh semangat. Padat dengan segala pemikiran dan pemikiran, yang nyaris tak henti. Tak seperti, pada saat-saat awal, saya merintis perjalanan ini. Begitu menantang, dan begitu cepat berjalan. Too fast!! Itulah komentar dua supervisor saya. Hmm, tapi, akhir-akhir ini, rasanya geliat itu mengendur. Adakah yang salah? Padahal juga load kerja tak mengendur dari biasanya. Tapi kenapa? :- (

….
Di saat waktu berhenti,
Kosong
Dimensi membutakan mata, memekakkan telinga
Lalu diri menjadi hampa

Saat paradigma dunia tak lagi digunakan untuk menerka,
Sadarku hadir-Mu, mematahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri


Alhamdulillah, saya bisa merasakan jenuh saat ini. A good sign for my mind to realize that still a long way to go … Don’t be too fast! Slowly but sure.

Alhamdulillah,
Kupersembahkan syukur padaMu Ya Allah, untuk nama … harta, dan keluarga yang mencinta, … dan untuk perjalanan yang selama ini sudah tertempa.
Alhamdulillah, pilihan dan kesempatan, yang membuat hamba lebih mengerti lebih baik tentang makna diri.

Semua lebih berarti apabila dihayati. Alhamdulillah, alhamdulillah …
(Too Phat feat Dian Sastro dalam Alhamdulillah)

Alhamdulillah, aku jenuh …

Arti sebuah keputusan …

Standard

Life is a matter of choices. Hidup adalah masalah pilihan. Tentu saja, setiap pilihan yang dibuat tidaklah gratis, tapi mengandung segudang konsekuensi. Plus-minus, enak-tidak enak. Yah inilah hidup. Sejak semalam, saya ikut merasakan dilema itu. Susah memang. Sangat mudah, dan semua orang tahu bahwa semua hal terkait dengan keputusan yang dibuat. Sayangnya, sangatlah tidak mudah, menjalankan keputusan yang diambil, apalagi dengan konsekuensinya (ie. yang tidak menyenangkan, tentunya).

Saya pun mengalaminya. Jadi teringat, keputusan saat untuk mengambil studi lanjut. Saya sadar betul, saya akan mengalami masa-masa terberat dan tersusah setelah begitu dekat dengan si kecil dan suami. Jelas, tidak mungkin memaksa suami untuk ikut menemani sekolah, sementara tanggung jawab di Yogya juga menanti. Mengajak si kecil di saat-saat awal periode tak bertuan, sangatlah beresiko. Akhirnya memang keputusannya, pergi, mencari ilmu, jauh dari segala kemapanan. Detik-detik sebelum berangkat, segudang rasa berkecamuk. Yeah, sampai berpikir, untuk reject the decision. Tapi … beruntung, saya punya keluarga kuat dan Tuhan beri kemudahan untuk menjalaninya hingga saat ini.

Tinggal di sebuah rumah bersama keluarga muda di Belanda, suami-istri dengan satu bayi mungil, berusia kurang dari 2 bulan. Sejuk rasanya. Saya sempat membayangkan, wah ideal sekali. Bisa mengajak keluarga, bersama dalam suka dan duka secara nyata. Menikmati pesona romantik sudut utara Eropa. Hmm, ternyata, hidup itu masalah sawang-sinawang, menurut orang-orang tua dulu. Yah, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih indah dan hijau dibanding rumput sendiri. Dan benar saja, belum beranjak 1 tahun bersama di Belanda, rencana untuk stay sampai studi suami selesai. Pudar. Keinginan kuat untuk pulang, seakan tak terbendung lagi. Kadang saya sempat mikir, ahhh, kok bisa tidak betah? Kenapa harus pulang? Dan segudang pemikiran lainnya … Plus-minus, memang. Hmm …

Dan mereka sedang menghadapi dilema besar. Pulang, artinya jauh dari suami. Berdua dengan si kecil di Indonesia, selama beberapa periode. Jika ingin ke Belanda lagi, tentu bukan perkara mudah, dari segi biaya dan administrasi. Hmm … yah, konsekuensi.

Ternyata, setiap kita punya jatah masalah-nya sendiri-sendiri. Menjadi tidak bijaksana jika kemudian kita beropini tentang masalah orang lain, dengan kaca mata sendiri. Yang terbaik adalah menjalani dan menikmati peran yang diberikan sebaik mungkin. Dengan bismillah, Allah akan selalu berikan jalan kemudahan. Toh, jika dipikir-pikir, bukankah inilah yang membuat hidup, jadi lebih hidup (E-mild, kali!). Dan bukankah, setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan ?! … Dalam firman Allah, “Allah akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” (Al-Thalaq: 7). Dalam ayat lain, kemudahan itu dikatakan datang bersama dengan kesulitan itu sendiri. Dengan kata lain, dicelah-celah setiap kesulitan selalu ada kemudahan. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”(Al-Insyirah: 5-6).

Malaysia; Teganya…Teganya

Standard

Belum lama ini, sebuah tamparan kembali mengena wajah bangsa Indonesia. Tau dari mana tampatan itu berasal? Ya, dari little brother of Indonesia, Malaysia. Betapa tidak, belum hilang dari ingatan kasus quote-mengquote, Sipadan dan Ligitan, beberapa tahun lalu. Masih cukup membekas, bagaimana selalu bermasalah TKI dan TKW yang bekerja di Malaysia. Selalu Indonesia berada dalam posisi tidak nyaman. Dan baru-baru ini, klaim Malaysia atas lagu daerah Indonesia yang berasal dari Maluku. Rasa-Sayange dijadikan Malaysia sebagai lagu promo Malaysia Trully Asia. Lho, kok bisa?

Yeah, sebenarnya kalau diteliti lebih lanjut, dalam promosi besar-besaran Malaysia, tak sedikit budaya Indonesia atau item-item Indonesia yang mereka klaim, sebagai cirri khas Malaysia. Sebut saja, batik, sate, dan lainnya. Dibenarkan kah? Dalam urusan bisnis, hal seperti menjadi sah-sah saja. Toh selama ini juga tidak ada hak paten atas item-item tersebut. Hanya saja, sebagai warga bangsa Indonesia, sangat tidak rela rasanya jika ikon-ikon tersebut justru menjadi ikon-ikon promosi negara lain. Inilah etika. Abu-abu dan sangat samar-samar. Tapi apakah ini harus didiamkan saja?

Tamparan-tamparan besar dan kecil yang terjadi pada bangsa ini, setidaknya menjadi salah satu indikator, betapa tidak teradminitrasinya dan terapresiasi asset-aset bangsa Indonesia yang begitu besar ini. Begitu ada pihak lain yang mengklaim, begitu pula, Indonesia disadarkan, dan merasa bahwa asset itu adalah asset miliknya. Kenyataan, memang pemerintah dan sebagian besar kita, tidak sadar akan pentingnya mengelola dan mendata atau mendaftarkan kekayaan budaya. Apalagi jika, pemerintah dan kita semua bersikap dan berfikir, … Alaaahh, Malaysia aja dipikirin (Mensesneg, detiknews, 2007). Wah, wah, bisa-bisa, suatu saat nanti, tak satupun asset Indonesia yang bener-bener masih menjadi milik Indonesia. Hiks-hiks, bener-bener, sayangggg bangetttt.