Arti sebuah keputusan …

Standard

Life is a matter of choices. Hidup adalah masalah pilihan. Tentu saja, setiap pilihan yang dibuat tidaklah gratis, tapi mengandung segudang konsekuensi. Plus-minus, enak-tidak enak. Yah inilah hidup. Sejak semalam, saya ikut merasakan dilema itu. Susah memang. Sangat mudah, dan semua orang tahu bahwa semua hal terkait dengan keputusan yang dibuat. Sayangnya, sangatlah tidak mudah, menjalankan keputusan yang diambil, apalagi dengan konsekuensinya (ie. yang tidak menyenangkan, tentunya).

Saya pun mengalaminya. Jadi teringat, keputusan saat untuk mengambil studi lanjut. Saya sadar betul, saya akan mengalami masa-masa terberat dan tersusah setelah begitu dekat dengan si kecil dan suami. Jelas, tidak mungkin memaksa suami untuk ikut menemani sekolah, sementara tanggung jawab di Yogya juga menanti. Mengajak si kecil di saat-saat awal periode tak bertuan, sangatlah beresiko. Akhirnya memang keputusannya, pergi, mencari ilmu, jauh dari segala kemapanan. Detik-detik sebelum berangkat, segudang rasa berkecamuk. Yeah, sampai berpikir, untuk reject the decision. Tapi … beruntung, saya punya keluarga kuat dan Tuhan beri kemudahan untuk menjalaninya hingga saat ini.

Tinggal di sebuah rumah bersama keluarga muda di Belanda, suami-istri dengan satu bayi mungil, berusia kurang dari 2 bulan. Sejuk rasanya. Saya sempat membayangkan, wah ideal sekali. Bisa mengajak keluarga, bersama dalam suka dan duka secara nyata. Menikmati pesona romantik sudut utara Eropa. Hmm, ternyata, hidup itu masalah sawang-sinawang, menurut orang-orang tua dulu. Yah, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih indah dan hijau dibanding rumput sendiri. Dan benar saja, belum beranjak 1 tahun bersama di Belanda, rencana untuk stay sampai studi suami selesai. Pudar. Keinginan kuat untuk pulang, seakan tak terbendung lagi. Kadang saya sempat mikir, ahhh, kok bisa tidak betah? Kenapa harus pulang? Dan segudang pemikiran lainnya … Plus-minus, memang. Hmm …

Dan mereka sedang menghadapi dilema besar. Pulang, artinya jauh dari suami. Berdua dengan si kecil di Indonesia, selama beberapa periode. Jika ingin ke Belanda lagi, tentu bukan perkara mudah, dari segi biaya dan administrasi. Hmm … yah, konsekuensi.

Ternyata, setiap kita punya jatah masalah-nya sendiri-sendiri. Menjadi tidak bijaksana jika kemudian kita beropini tentang masalah orang lain, dengan kaca mata sendiri. Yang terbaik adalah menjalani dan menikmati peran yang diberikan sebaik mungkin. Dengan bismillah, Allah akan selalu berikan jalan kemudahan. Toh, jika dipikir-pikir, bukankah inilah yang membuat hidup, jadi lebih hidup (E-mild, kali!). Dan bukankah, setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan ?! … Dalam firman Allah, “Allah akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” (Al-Thalaq: 7). Dalam ayat lain, kemudahan itu dikatakan datang bersama dengan kesulitan itu sendiri. Dengan kata lain, dicelah-celah setiap kesulitan selalu ada kemudahan. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”(Al-Insyirah: 5-6).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s