Pendidikan atau lapangan pekerjaan?

Standard

Kontradiksi opini tentang komersialisasi pendidikan, sudah berkumandang beberapa waktu silam. Dan obrolan ini lagi ramai-ramainya di salah satu milis yang saya ikuti. Inikah konsekuensi tuntutan jaman? Dimana semua hal menjadi hal yang selalu ditakar? Diperdagangkan? Dan tidak terkecuali pendidikan? Bukannya memang sudah sejak dulu pendidikan menjadi barang mahal, dan akan semakin mahal bagi anak cucu kita kelak? Atau, inilah proses bangsa ini belajar.

Dibentuknya BHMN-BHMN dari beberapa universitas besar di negeri kita, disinyalir telah menjadi pemicu utama komersialisasi pendidikan. Dalih otonomi? Sisi positif, PT-PT besar ini kemudian ditantang untuk segera belajar bagaimana melakukan efisiensi internal. Yang nyatanya, memang sebagian besar PT menghadapi problem inefisiensi internal. Nah lho? Belum lagi, dengan dikuranginya subsidi pendidikan dari pemerintah. Apa tumon? Tentu saja, banyak PT yang menjadi kelabakan, kebingungan. Gimana tidak, selama ini, keenakan, ibarat anak kecil yang selalu disusui ASI oleh ibunya. Begitu disapih, menangis … meronta-ronta … perlu waktu untuk terbiasa. Sampai kapan kah?

Dan demo pun tak terelakkan untuk kontra kebijakan ini. Ah, pemerintah, bukankah hak setiap individu itu untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang layak? Kalau begini, gimana pendidikan Indonesia ke depan? Tapi sedemikian urgent-nya kah, isu itu diangkat, untuk isu utama bangsa ini, di era saat ini? Entahlah …

Saya jadi teringat, ketika ngobrol dengan Bapak di rumah. Saat itu, sedang maraknya demo anti komersialisasi pendidikan tinggi dan berkurangnya subsidi pemerintah. Dan sang Bapak pun berkomentar … ah, kok demonya menuntut pendidikan itu murah, alokasi subsidi untuk pendidikan, kalau semua orang di Indonesia ini berpendidikan tinggi, siapa yang mau ngurusin kerjaan yang level bawah? Bukankah lebih penting memikirkan penciptaan lapangan pekerjaan? Kalau semua lulusan PT, semua berharap dapat pekerjaan. Lha siapa yang menciptakan lapangan kerja? Apa ngga mending pemerintah fokus pada bagaimana menciptakan lapangan kerja yang luas di tengah semakin tinggi persaingan yang ada. So, kesempatan kerja tinggi, penghasilan terjamin, daya beli orang untuk sekolah akhirnya akan lebih tinggi juga …

Ahh, bener juga rasanya.

5 thoughts on “Pendidikan atau lapangan pekerjaan?

  1. Sebenarnya nihh… aku tak setuju dengan privatisasi (pem-BHMN-nan) pendidikan. Pendidikan itu tanggung jawab negara (pemerintah), sehingga pemerintahlah yang wajib membiayai.. dan memikirkan arah pendidikan rakyatnya.

    Privatisasi itu sama saja dengan menyerahkan tanggung jawab pendidikan sepenuhnya kepada masyarakat/rakyat. Akibatnya pendidikan jadi semangkin super-mahal. Anak-anak miskin jadi semangkin terpinggirkan. Dan .. Ihiks..UGM kena dampaknya.

    Kurikulum..fakultas..jurusan..pun menjadi sesuai selera pasar. Padahal ada ilmu2 tertentu yg sangat dibutuhkan negara namun tidak populer.

    Maaf yaa mbak kl tak berkenan.

  2. Mengenai .. pemerintah lebih baik untuk lebih konsen ke memberi lapangan pekerjaan. Saya punya sisi pandang lain, tidak semua sarjana bermental ingin jadi pegawai. Ini tergantung pada pendidikan yg kita terapkan.

    JIka masyarakat rata2 berpendidikan tinggi, maka mereka akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan juga (Tentu saja jika pemerintah turut memikirkan pendidikan yg memotivasi alumni untuk menciptakan lap kerja ini).

    Para pemuda sarjana akan mau membikin usaha jika situasi kondisi mendukung, sebagaimana investor asing mau masuk. Tidak ada pungli, aturan mudah, ada rasa aman/nyaman, dll. Lapangan pekerjaan ini akan otomatis akan menyerap tenaga kerja.

    Kalau sekr konsen ke memberi lapangan kerja. Apa yg diperbuat? Membuat pabrik2? Memberi kesempatan ke bos2.. akhirnya subsidi ke orang2 yg sudah kaya juga.

  3. Tentu saja pendidikan yang bisa membantu menciptakan kerja bukan menghasilkan pencari kerja. Alias pendidikan entrepreneurship.

    Silahkan Ciputra Entrepreneur Foundation telah menyusun kurikulum dari TK sampai Universitas dan menerapkan pendidikan Entrepreneurship sejak 2 tahun lalu dan sedang mendorong pemerintah mendorong Gerakan Nasional Budaya Wirausaha.

    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s