Suntik dan arti keberanian

Standard

Disuntik? Bagi sebagian besar kita yang sudah berumur puluhan tahun, tentu tidaklah asing mendengar kata suntik. Tapi bagi anak-anak, seusia anak saya, 8 tahun, disuntik untuk hal yang bukan karena sakit adalah hal yang luar biasa. Seperti itulah kira-kira perasaan yang dapat saya bayangkan.

Beberapa hari sebelum acara suntik-menyuntik vaksin TT di sekolahnya, dia sudah mengeluh pada saya, saat menunjukkan surat pemberitahuan dari sekolah, bahwa akan diadakan kegiatan penyuntikan vaksin TT. “Wah gimana ya Ma? Kenapa harus disuntik tho? Kan tidak sakit aku.” Demikian dia berargumen. Dan, hari ini, saat saya jemput, dengan semangatnya dia bercerita tentang proses penyuntikan yang dilaluinya tadi pagi. “Wah Mah, disuntik itu ngga sakit kok. Iya cuma kerasa dicubit aja gitu. Jadi gak masalah dan aku ngga nangis. Begitu dia menceritakan dengan bangganya. Malah Ma, aku yang minta sama Miss (Bu Guru) ketika ditanya: Siapa yang mau disuntik duluan? Terus aku bilang, aku mau disuntik yang duluan Miss.” Wah-wah …

Dengan bangganya dia menunjukkan betapa dia berani membuat keputusan untuk disuntik lebih dahulu. “Toh sama aja Ma, disuntik duluan atau belakangan, kan akhirnya juga disuntik. Wong itu buat mencegah penyakit. Jadi suntikan itu penting.” Cieee… dia berargumen lagi. Terus dengan semangat di sepanjang jalan pulang, dia bercerita teman-temannya yang menangis saat disuntik, yang harus ditungguin Mamanya saat mau disuntik, yang harus dibujuk-bujuk saat mau disuntik, yang mungkin ngga masuk sekolah karena takut untuk disuntik, demikian dia menganalisis. “Ada juga lho Ma, temenku itu yang buat surat keterangan untuk ngga ikut disuntik. Tapi mau disuntik nanti di tempat dokter. Wah kan rugi itu Mah. Kan kalau di sekolah, gratis, kalau di tempat dokter kan harus mbayar”, katanya berapi-api. Hehehe. (Dasar anaknya orang ekonomi manajemen, hihihi).

Sampai menjelang tidurpun tadi, ceritanya pun seakan-akan tak berhenti, mengulang cerita tadi sore, itu-itu lagi … dengan semangatnya.

Hari ini, aku sedikit belajar arti keberanian anak kecil menghilangkan rasa takut dari jarum suntik. Hebat kamu, Nduk!

Jadilah yang luar biasa!

Standard

Siang tadi saya mengikuti seminar tunggal tentang motivasi, yang diselenggarakan oleh PPM FEB UGM dalam rangkaian acara Pelatihan Manajemen Terapan, Perum Pegadaian 2007. Pembicaranya? Tak disangka-sangka, ia adalah seorang ibu muda, yang ‘hanya’ lulusan SMA dan mantan TKW – tanpa bermaksud merendahkan – (pembantu) yang sudah bekerja di profesinya selama 6 tahun di Hongkong, bernama Eny Kusuma. Ckck. Tapi ini benar-benar luar biasa.

Sewaktu di Belanda, saya sempat menemukan link tentang buku motivasi berjudul “Anda Luar Biasa”, karangannya dan hanya sempat mengikuti sedikit ulasan interview dan resensi bukunya di pembelajar.com. Saat itupun, hati saya sudah bergetar, karena sangking salut dan terharunya. Sungguh, dengan segala keterbatasan, tak menutup dan membatasi kreativitas dan kesuksesan seseorang. Mbak Eny, sudah membuktikannya.

Dan beruntung, hari ini saya bisa menikmati langsung paparannya. Hebat! Selama di ruangan, menyimak, meliat dan mengikuti sesi yang disajikan, adalah detik-detik yang luar biasa. Saya bisa merasakan aura positif yang begitu kuat. Dari pemaparan mbak Eny ini, begitu banyak yang bisa dijadikan acuan dan memperkuat pandangan tentang hidup.

Iqra’. Ya, saya jadi teringat tentang perintah Allah pertama kali pada manusia, yaitu membaca. Membaca apa saja yang layak untuk dibaca. Membaca dan kemudian menulis, adalah aktivitas yang bukan menjadi aktivitas spesial bagi kaum akademisi saja, kaum terpelajar, kaum bermartabat, tapi adalah aktivitas semua manusia, tak memandang status, usia dan lainnya. Dengan membaca, kita bisa mengenal dunia. Dengan membaca dan menulis, kita bisa menaklukkan dunia. Dari mbak Eny, saya semakin sadar, bahwa, membaca dan menulis dua hal yang membuat seseorang yang nothing, bisa menjadi somebody. ”Belajar dimanapun bisa. Dan keterbatasan saya adalah peluang saya” (Eny Kusuma, 2007). Hebat!

The power of mind. Kekuatan pikiran. Saya sering mendengar kata-kata indah tentang ini. Bagaimana pentingnya berpikir positif. Jika seseorang selalu berfikir positif, selalu, selalu, dan akhirnya tertanam di alam bawah sadar orang tersebut, akhirnya, pikiran itulah yang akan mengantarkan kesuksesan orang tersebut. Mbak Eny proved it! Cool. Mendengar, dan menyaksikan dia memaparkan sesi motivasi, serta membaca tulisan-tulisannya, siapa sangka, dia hanya lulusan SMA dari kota terpencil dan dia hanya seorang pembantu (tanpa bermaksud merendahkan). Nyatanya, dia membuktikan, the power of mind! Salute!

Sadar, menikmati dan bangga profesi yang ada. Satu hal menarik yang saya tangkap dari yang diuraikan mbak Eny, adalah pentingnya sadar diri. Sadar posisi, profesi dan berperan dengan baik profesi yang dipilihnya. Dengan bangganya mbak Eny berujar: “Saya tidak minder, Saya ini pembantu Rumah Tangga, tapi pembantu Rumah Tangga yang Luar Biasa!” Lalu, so, kalau Anda jadi manajer, jadilah manajer yang luar biasa! Kalau Anda dosen, jadilah dosen yang luar biasa! Kalau Anda mahasiswa, jadilah mahasiswa yang luar biasa! 😉

So, sudahkah Anda jadi yang luar biasa?!

Allah itu, tidak berpendahulu?

Standard

Kemarin malam, saya menemani si kecil, belajar. Materi yang dipelajari kali ini adalah tentang pendidikan agama Islam. Setelah melihat silabus pelajaran untuk besoknya, mulailah kami berdua membuka Bab 3, Sifat Wajib Allah. Saya pun menemani si kecil, membaca bait per bait kata. Sampailah pada salah satu sifat wajib Allah SWT, yaitu Qidam (tidak berawal atau terdahulu). Atau dengan kata lain, Allah itu ada semenjak dahulu, tapi didahului sesuatu.

Dan tak diduga, si kecil pun berhenti membaca dan berujar :’’Aku bingung’’, Lho kok bingung ? sahut saya. Ya, bingung aja, ngga ngerti maksudnya gimana ? Dia lalu mengulangi kebingungannya kembali. Kok bisa ngga ada pendahulunya ? Kan segala sesuatu itu pasti ada yang mendahului ? Kok Allah itu bisa tidak ada yang mendahului ? Begitu argument si kecil, sambil menunjukkan wajah innocent-nya.

oO, dia mulai berpikir kritis, saya pikir.
Saya pun mulai merangkai kata-kata yang sangat sederhana untuk menjelaskan apa maksud sifat wajib tersebut. Ya, karena itu Allah, maka itu mungkin terjadi. Kalau itu adalah sesuatu, tumbuhan, hewan, atau manusia atau semua makhluk di bumi ini, maka memang akan ada yang menciptakan (mendahului). Taman Uwas-nya Mbak Mila bisa ada, karena Mbak Mila ada (yang membuatnya), boneka-boneka Mbak Mila ada karena ada orang lain yang bekerja di pabrik yang membuatnya. Tetapi karena itu Allah SWT, maka Allah tidak mungkin ada yang mendahului-Nya. Hmm, si kecil bergumam, mendengar penjelasan saya. Seakan-akan mencoba memahami. Lalu, dia berujar lagi … oO gitu ya … Tapi tetap tidak masuk akal, Ma. … Gubrak!! oO. 😉

Publikasi internasional: why not?

Standard

Hari ini, saya baru saja mengikuti workshop tentang publishing, bagaimana mempublish hasil kajian ke media, khususnya ke jurnal-jurnal internasional bahkan journal-journal papan atas di bidangnya, yang diselenggarakan oleh SOM Research School. Menarik dan sangat menyenangkan workshop kali ini. Really inspiring. Selain karena workshop diisi oleh seorang Profesor di bidang Marketing, Profesor Veorhoef, yang sangat-sangat produktif dan berhasil menaklukan kesulitan dan tantangan besar, konsiten dalam publikasi internasional. Cool! Juga, workshop ini, memberikan cukup dalam inspirasi bagaimana mempublikasi artikel di papan atas.

Motivasi apa yang melandasi?
Kembali, jika merujuk teori kebutuhan dan motivasi Maslow, setidaknya ada empat tipe motivasi yang mendorong akademisi begitu bersemangat untuk menulis artikel di jurnal-jurnal terutama jurnal internasional.

1.Career motives? Bagi mereka yang sudah masuk dalam sistem akademik atau yang bekerja di universitas, jelas, menulis artikel apalagi yang dimuat di jurnal internasional, setidaknya akan memuluskan dan semakin memantapkan karir yang dilalui.
2.More status? Dipercaya bahwa, dengan menulis di jurnal internasional di suatu bidang tertentu, secara otomatis akan memasukkan kita dalam lingkungan network society tertentu. Bagi sebagian besar akademisi, berada dalam sirkulasi lingkungan tersebut adalah yang so prestisius. The more we write the higher status we will get.
3.Achieving impact in the field? Bagi sebagian orang, pencapaian dengan indikator factor impact yang tinggi (banyak orang yang mensitasi tulisan kita), cukup mendorong akademisi untuk publish di jurnal internasional. Semakin menunjukkan siapa dan apa tingkat keilmuan kita yang sesungguhnya.
4.Personal development? Jelas, bagi mereka yang memutuskan untuk bergelut di dunia pendidikan, menulis adalah bagian yang tidak terpisahkan. Melihat tulisan sendiri terpublikasi di salah satu juga nasional (awalnya) dan internasional (setelah beberapa lama), it feels like intellectually orgasm, nikmat luar biasa. Puass dan nikmattt. Dan semakin tergoda untuk selalu menulis dan menulis.

Bagi saya, rasanya motivasi pertama dan keempat untuk saat ini, menjadi landasan kuat saya untuk bisa mempublikasikan riset yang sedang saya lakukan. Tantangan? Of course!
Survey membuktikan bahwa over 90% of papers is rejected, only 10% is accepted! So, why should not publish? Or?

Bagaimana dengan Anda?

PhD itu …

Standard

Sebelum memasuki program s3, ngga ada bayangan sama sekali, apa itu studi lanjut bernama PhD.

Ternyata, memasuki bulan ke sepuluh, studi saya, berinteraksi dengan studi, berinteraksi dengan orang-orang di dalamnya, sedikit banyak membuka wawasan saya, menambah sedikit apa yang saya ketahui. Dan PhD itu Benar-benar perjalanan panjang, yang penuh tantangan. Pasang surut, naik turun, bahkan sampai pada titik jenuh … Terbukti, I did feel it.

Seorang teman pernah bilang, PhD itu permanent head damage. Ah, mungkin iya, gampang lupa. Jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu, saya lupa membawa hp ke kantor, hp tertinggal di kamar. Eh, hari berikutnya, ketika sudah tidak lupa bawa hp ke kantor, justru, lupa bawa hp ke rumah. Huwalah.
Dan benar saja, PhD itu permanent head damage.

Baru saja, teman sesama PhD student bercerita, bahwa salah satu teman yang mengambil s3, yang hanya mulai beberapa bulan lalu (Juli 2007), memutuskan untuk tidak melanjutkan studi. Kenapa? Ternyata, dia (laki-laki) baru saja diputus dan ditendang pacarnya. Oo, kok sedahsyat itu efeknya? Can’t imagine. Dan, PhD itu is not just a scientific matter but also a technical matter involved.

Beberapa waktu lalu, sempat diskusi dengan kolega. Ngobrol suka duka studi lanjut. Banyak rekan yang juga mengambil, disinyalir, ‘tak mampu’ menyelesaikan studinya. Oh, benarkah? Bagaimana mungkin dapat terjadi? Sedemikian susahnya kah? Oo, ternyata, karena mereka ini hobby ‘nyamben’. Selagi PhD, selagi itu juga nyambi kerja yang lain, entah mengajar, doing another research, etc. Alhasil, PhD project masih terbengkalai. Ternyata, PhD itu butuh fokus dan konsistensi tinggi.

Bagaimana dengan PhD Anda?
Hopefully, we will find a way to reach a final destiny, our PhD!