Publikasi internasional: why not?

Standard

Hari ini, saya baru saja mengikuti workshop tentang publishing, bagaimana mempublish hasil kajian ke media, khususnya ke jurnal-jurnal internasional bahkan journal-journal papan atas di bidangnya, yang diselenggarakan oleh SOM Research School. Menarik dan sangat menyenangkan workshop kali ini. Really inspiring. Selain karena workshop diisi oleh seorang Profesor di bidang Marketing, Profesor Veorhoef, yang sangat-sangat produktif dan berhasil menaklukan kesulitan dan tantangan besar, konsiten dalam publikasi internasional. Cool! Juga, workshop ini, memberikan cukup dalam inspirasi bagaimana mempublikasi artikel di papan atas.

Motivasi apa yang melandasi?
Kembali, jika merujuk teori kebutuhan dan motivasi Maslow, setidaknya ada empat tipe motivasi yang mendorong akademisi begitu bersemangat untuk menulis artikel di jurnal-jurnal terutama jurnal internasional.

1.Career motives? Bagi mereka yang sudah masuk dalam sistem akademik atau yang bekerja di universitas, jelas, menulis artikel apalagi yang dimuat di jurnal internasional, setidaknya akan memuluskan dan semakin memantapkan karir yang dilalui.
2.More status? Dipercaya bahwa, dengan menulis di jurnal internasional di suatu bidang tertentu, secara otomatis akan memasukkan kita dalam lingkungan network society tertentu. Bagi sebagian besar akademisi, berada dalam sirkulasi lingkungan tersebut adalah yang so prestisius. The more we write the higher status we will get.
3.Achieving impact in the field? Bagi sebagian orang, pencapaian dengan indikator factor impact yang tinggi (banyak orang yang mensitasi tulisan kita), cukup mendorong akademisi untuk publish di jurnal internasional. Semakin menunjukkan siapa dan apa tingkat keilmuan kita yang sesungguhnya.
4.Personal development? Jelas, bagi mereka yang memutuskan untuk bergelut di dunia pendidikan, menulis adalah bagian yang tidak terpisahkan. Melihat tulisan sendiri terpublikasi di salah satu juga nasional (awalnya) dan internasional (setelah beberapa lama), it feels like intellectually orgasm, nikmat luar biasa. Puass dan nikmattt. Dan semakin tergoda untuk selalu menulis dan menulis.

Bagi saya, rasanya motivasi pertama dan keempat untuk saat ini, menjadi landasan kuat saya untuk bisa mempublikasikan riset yang sedang saya lakukan. Tantangan? Of course!
Survey membuktikan bahwa over 90% of papers is rejected, only 10% is accepted! So, why should not publish? Or?

Bagaimana dengan Anda?

3 thoughts on “Publikasi internasional: why not?

  1. Membaca bagian awal, saya terpesona dan jadi pengen ikut jejak mba Nurul untuk produktif dalam menulis/research. Tapi begitu melihat fakta di bagian akhir, nyali saya jadi ciut :p Ha..ha..ha..

  2. Mbak Winda, salam kenal dari saya.😉 Tentang jurnal internasional, tidak semua jurnal internasional harus “membayar” jika paper kita dipublish. Beberapa jurnal international terutama yang online-journal, free. Selamat mencoba. Salam. Nurul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s