Farewell party dan farewell party …

Standard

Farewell party adalah tradisi yang biasa dilakukan ketika ada rekan, teman atau kolega akan `berpisah`. Ya semacam pesat perpisahan lah. Dan, dua malam berturut-turut, saya mengikuti farewell party. Senin malam, 28 Januari, jatah ikut farewell salah satu kolega dari UGM yang harus pergi ke Jerman, karena masa ‘tugas’ nya di Groningen selesai. Meskipun dinnernya di restoran Italy, dekat Esterhaven Groningen, tapi suasana Indonesia bahkan Jawa cukup kental. Gimana tidak? Meskipun santapannya adalah lasagna, pasta atau spaghetti ala Italy dengan porsi guedeee, tapi obrolannya adalah obrolan khas Yogya. Sedaaappp… serasa nongkrong di Yogya.

Hari berikutnya, Selasa, 29 Januari, jatahnya dinner di Restoran De Pauw, restoran ala Perancis yang terkenal cukup fancy dan muahalll. Kebetulan, salah seorang profesor akan pindah kerja di perusahaan lain di Belanda. Dan sudahlah, atas nama departemen, semua kolega diundang. Sekitar 30an orang yang hadir. Empat menu makanan menjadi santapan. Mulai dari appettizer, main course dan dessert. Huwaaaa. Kuenyanggg itu pasti. Ngobrol ngalur ngidul, tapi tetap saja suasananya beda. Yah gimana pun suasananya, yang jelas, dua malam ini, tidurpun serasa nikmattt. Tanpa mimpi, eh tau-tau sudah pagi. hehehe.

Ayo, siapa lagi yang mau ajak dinner? Ditunggu. 😉

Mahasiswa Indonesia dan budaya Jawa, terkaitkah?

Standard

Beberapa waktu lalu, dengan teman serumah saya sempat mendiskusikan kenapa karakter dan sikap mahasiswa Indonesia terutama ketika berdiskusi dan berdebat dengan supervisor. What’s wrong? Yah, tentu saja, obrolan simpang siur yang kami lakukan, bukan mencari siapa yang benar dan salah, tapi kadang perlu untuk lebih memahami siapa kita sebenarnya. Cieee, sok wise.

“Tau ngga, kenapa? Di departemenku, sekarang-sekarang ini, mereka lebih membuka peluang buat mencari calon PhD baru dari Eastern Europe. Dan bukannya dari Asia. Alasannya, orang-orang muda dari Eropa Timur lebih berani berdebat dan berani beda pendapat. Dan itu terang-terangan. Lha, dibandingkan temen-temen dari Asia, apalagi Indonesia, kita-kita ini, wahhh, gimana gitu rasanya kalau berdebat dengan supervisor sendiri.”

Begitulah, statement kawan saya saat itu. Aha, benar juga. Kenapa ya sedemikian susah? Masih ingat di kepala saya, kesan saya pada beberapa mahasiswa waktu saya mengajar dulu, mereka begitu takut untuk berbeda dengan dosennya. Padahal, udah dipancing-pancing. Masih ingat juga, gimana rasanya saya beda pendapat pertama kali dengan supervisor sendiri, waktu diskusi ide riset. Sampai akhirnya, ditengahi oleh supervisor yang lain, yaahh, kita lihat hasilnya saja nanti. Mana yang benar … Dan saat itu, saya bilang, upsss, sorryyy …. Dan tentu saja, langsung dikomentari, “O, you don’t need to say sorry, Nurul. It’s just discussion …But, I understand your culture”

Oo, does culture matter?

Mengutip buku Magnis-Suseno (1989; 61), digambarkan bahwa

“the highest virtue for a Javanese person is the preservation of harmony in society. One is supposed to have a harmonious relationship with nature, with other people and with the spiritual world. For a Javanese the cosmos is in all its dimensions a well-regulated whole. Harmony only exists if each element stays in the place where it belongs. … The Javanese people believe that if harmony is disrupted, wars, catastrophes, hazards and misfortune will occur. Therefore, it is in everyone’s interest to sustain the existing harmony or if it is disrupted, to rebuild it.”

Saya jadi ingat nasehat kolega saya, saat itu waktu kami sama-sama pegang lembaga penelitian dan sedang menangani konflik yang ada. “Rul, kalau bisa, jangan sampai membuat konflik frontal. Boleh berbeda, boleh saya tidak setuju, tapi caranya harus cantik, demikian katanya. 

Lebih lanjut, setidaknya ada empat prinsip dalam budaya Jawa untuk menjaga keharmonisan dalam hidup ini:

  1. One should always behave according to the traditions, customs, taboos, rituals and forms of reciprocal help that have been internalized through socialization, from childhood onwards. The relationships with nature and the spiritual world are especially regulated through these traditions.
  2. The other three principles are related to the behavioural codes of conduct, which a Javanese person has to take into consideration when he is communicating with other people. These codes determine what is and is not appropriate in particular situations.
  3. The Javanese people have to follow the traditional forms of politeness in order to assure harmonious interpersonal relationships.
    1. One should in every situation behave in a way that would not lead to open conflict named as the principle of conflict avoidance
    2. One should always show the appropriate form of respect in terms of language and gesture, according to the status of that particular person, named as the principle of respect.

So, budaya dimana kita tinggal dan dibesarkan, sangat mempengaruhi how we behave ya? Menurut Anda?

The stuff of life: We Are All Family!

Standard

I have just read Chapter 26 from the book entitled “A Short History of Nearly Everything”, written by Bill Bryson. It’s really inspiring, that is why I just want to share it with


If your two parents hadn’t bonded just when they did – possibly to the second, possibly to the nanosecond – you wouldn’t be here. And if their parents hadn’t bonded in a precisely timely manner, you wouldn’t be here ether. And if their parents hadn’t done likewise, and their parents before them, and so on, obviously and indefinitely, you wouldn’t be here.

Push backwards through time and these ancestral debts begiin to add up. Go back just eight generations to about the time that Charles Darwin and Abraham Lincoln were born, and already there are over 250 people on whose timely couplings tour existence depends. Continue further, to the time of Shakespeare and the Mayflower pilgrims, and you have no fewer than 16,384 ancestors earnestly exchanging genetic material in a way that would, eventually and miraculously, result in you.

At twenty generations ago, the number of people procreating on your behalf has risen to 1,048,576. Five generations before that, and there are no fewer than 33,554,432 men and women on whose devoted couplings your existence depends. By thirty generations ago, your total number of forebears – remember, these aren’t cousins and aunts and other incidental relatives, but only parents and parents of parents in a line leading ineluctably to you – is over one billion (1,073,741,824, to be precise). If you go back sixty-four generations, to the time of the Romans, the number of people on whose co-operative efforts your eventual existence depends has risen to approximately one million trillion, which is several thousand times the total number of people who have ever lived.

Clearly, something has gone wrong with our maths here. The answer, it may interest you to learn, is that your line is not pure. You couldn’t be here without a little incest – actually quite a lot of incest – albeit at a genetically discreet remove. With some many millions of ancestors in your background, there will have been many occasions when a relative from your mother’s side of the family procreated with some distant cousin from your father’s side of the ledger. In fact, if you are in a partnership now with someone from your own race an d country, the chances are excellent that you are at some level related. Indeed, if you look around you on a bus or in a park of cafe’ of any crowded place, most of the people you see are very probably relatives. When someone boasts to you that he is descended from Shakespeare or William the Conqueror, you should answer at once: “Me, too!”. In the most literal and fundamental sense, WE ARE ALL FAMILY.
….

It’s so touching …
I wonder, if the principle is right for human being in this world. Why the are so many wars in this world? Why is it hard to live together in peace … Why seems difficult to say you are my family …

Arti koin 2 euro

Standard

Tiba tepat waktu di Bandara Internasional Schipol, Amsterdam, saat itu 05.45 CET, 16 Januari 2008. Dinginn. Suhu berkisar 4 C. Setelah melewati proses imigrasi, ambil bagasi yang begitu cepat, saya pun menuju counter tiket kereta.

Beli tiket menuju Groningen. Harga tiket one way 28,80 euro. Dan seperti biasa, gesek … tit tit tit.Oo, sepertinya tidak berfungsi. Coba lagi, masih saja error. Waduh … tiba-tiba jantung jadi berdetak kencang. Betapa tidak? Saya ingat, di dompet saya, hanya ada 300an ribu rupiah plus recehan ribuan, 43an dollar (recehan semua) dan 5 euro (kertas) dan 2 euro (koin). Saya coba bayar dengan kredit card, tidak menerima pembayaran kredit. Dengan dollar, tidak bisa juga. Lalu, saya disarankan mencoba pembayaran tiket lewat electronic. Dan ternyata … sama saja. Nihil. Kartu ABN Amro tidak berfungsi. Waduhh …

Counter ABN terdekat di Schipol tentu saja belum buka. Saya coba ke sana. Cek sekali lagi. Tetap gagal. Coba kartu kredit, ehh dua kali salah password. Duh. Coba kartu debit Maestro, oo, ternyata insufficient fund. Walah. Lengkap sudah. Mau kemana lagi? Saya segera mencari counter money changer. Harus kembali ke area kedatangan, karena lokasinya di sana. Saya pun segera ke sana. 43 dollar pun saya tukarkan. Dan ternyata setelah dipotong fee transaksi, saya pun menerima 22,00 euro. Dengan uang euro yang ada di tangan 7 euro dan 22 euro, jadilah 29 euro. Passss bangetttt buat beli tiket 28,80 euro menuju Groningen. Masih ingat di kepala, kalau 2 euro koin itu adalah koin yang sering saya pakai buat kerokan (hehehe), dan hampir saja tidak akan saya bawa. Hampir saja saya tinggal di meja kerja di rumah. Ahhh. Alhamdulillah, Tuhan masih kasihan sama saya. Kalau tidak … masa’ iya jalan kaki ke Groningen. Hehehe.

Back to Groningen

Standard

16 Januari 2008, tepat pukul 09.53, alhamdulillah, akhirnya saya sampai kembali ke Groningen. Suka tidak suka, siap tidak siap, harus dijalani. Menghirup lagi udara Groningen yang segar, dengan sinar matahari yang cukup hangat namun angin yang begitu kuennceenggg. Membuat kehangatan sinarnya serasa tak berarti.

Badan rasanya cuapekk buangett. Gimana tidak? Sejak perjalanan dari Yogya, pesawat sudah delay, karena cuaca buruk. Tiba juga di Jakarta, langsung menuju counter check in MAS. Ahh, ternyata flight jam penerbangan saya ke KL, cancelled. Penumpang dialihkan ke penerbangan berikutnya. Dan saat check in, sistem entry check in down. Buntutnya bisa ditebak, proses check in menjadi suanggat lambaatttt. Butuh waktu lebih dari 1,5 jam untuk antri berdiri, sambil toleh kanan kiri. Hehehe. Dan akhirnya, berangkat juga …

Dan pukul 11 lebih sampailah di rumah Tante Panca. Tempat tinggal saya yang baru. Bebenah sesaat. Mumpung hari masih belum terlalu siang. Setelah berendam, wahhh, lumayan seger, saya segera ke kantor yang baru. Benar saja, begitu bertemu kawan seperjuangan, karyawan kantor di sana, say hello, kangen-kangenan nih … semangat pun muncul. Menata ruang kerja yang baru, di Zernike kompleks. Serasa, semangat tahun ini pun mengalir kuat. Mudah-mudahan, perjalanan saya kali ini, Engkau selalu berikan kemudahan Ya Allah … Selamat berjuang!