Haering, apa enaknya ya?

Standard

Bagi mereka yang pernah ke Groningen atau setidaknya main ke Belanda, pastinya cukup kenal dengan istilah ini. Iya, haering adalah salah satu makanan khas Belanda atau Groningen (sepertinya). Apa itu haering? Haering salah satu jajanan pasar yang sering dijual kalau saat hari pasar tertentu. Makanan ini terbuat dari ikan laut berukuran kecil, yah kira-kira seperti ikan sarden dengan panjang 5-7 cm. Setelah dilumuri dengan sejenis minyak, lalu ikan dimakan dalam keadaan mentah (segar). Dimakan dengan parutan bawang bombay. Nikmattt, begitulah komentar penyuka makanan mentah.

Pada saat belanja dengan teman, saya lewat di depan orang berjualan seafood dan tentu saja haering. Melihat teman saya ini makan dengan lahap, dan juga orang-orang disana makan dengan lahap. Bisa dipastikan, selera makan pun langsung mencuat. Enak lho. Coba saja. Hmm, pikir-pikir cukup lama. Ya, karena tidak terbayang rasanya makan ikan bentuk seperti itu dan pastinya gimana gitu. Dicoba aja, sahut seseorang yang sedang makan haering, karena merasa saya lihatin terus. “Iya mbak, dicoba aja”, kata temen saya saat itu. “Kalau ngga ndak suka, nanti aku yang habisin”, lanjutnya. Oke. Akhirnya saya pun beli satu. Dan langsung saya makan. Nyam … secepat mungkin saya coba kunyah. Oiii, aneh sekali rasanya dimulut. Secepat mungkin berusaha ditelan. Tapi, sepertinya ikan yang saya kunyah tetap saja ngendon di mulut. Wakksss, rasanya aneh bangettt. Membutuhkan waktu cukup lama untuk memasukkannya ke tenggorokan dan leepp… masukk. Hehehe. Mau coba menelan berikutnya … oo, tidak. Dan saya pun, quit di babak kedua. Hehehe. Haering, haering … 

Wah kalau rasanya seperti itu, apa enaknya ya?? Hanya penikmat haering yang tau 😉 Tot ziens! 

Advertisements

Bagaimana industri perikanan tanah air kita?

Standard

Pernah makan ikan? Saya yakin, hampir semuanya menjawab iya. Pernahkah terpikir bagaimana industri ini bergerak atau dikelola? Dengan membandingkan kondisi di negara berkembang dan negara-negara maju, setidaknya kita jadi lebih paham bagaimana kualitas olah ikan yang kita konsumsi. Atau tidak jauh-jauh ke sana, bagaimana kondisi pelaku bisnis (dalam hal ini nelayan) yang memproduksi semua itu? Simak ulasannya. 😉

Selasa, 19 Februari kemarin, saya menunggui presentasi salah satu kolega dari Vietnam (Le Nguyen Doan Khoi) pada RuG PhD conference yang mengkaji kondisi industri ikan di negara maju (Barat) dan Vietnam. Jika dilakukan perbandingan kondisi nelayan dan industri ikan, berikut adalah temuannya:

Kondisi industri ikan di negara-negara Barat:
-Industri umumnya terintegrasi
-Tingkat kepadatan persediaan yang dimiliki optimal
-Kebijakan zoning dan adanya lisensi
-Memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen nutrisi dan makanan
-Kualitas makanan ikan cukup kering dengan good FCR (feed conversion ratio)
-Jenis penyakit yang ada umumnya yang sudah diketahui
-Daya tahan hidup ikan 95%
-Fokus pada pencegahan
-Dokumentasi baik
-Vaksinasi menjadi hal yang umum

Studi eksploratori yang dilakukan Khoi (2007) di Vietnam menunjukkan:
-Nelayan dengan skala kecil dengan jumlah yang relatif besar
-Tingkat kepadatan persediaan yang sangat tinggi
-Tidak berlaku kebijakan zoning dan lisensi
-Kurang memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen nutrisi dan makanan, umumny home-made feed
-Rendah kualitas tingkat kekeringan makanan ikan dengan little focus on FCR
-Sering terjadi penyakit yang tidak diketahui sebabnya dan sumber kematian
-Daya tahan hidup ikan 60%
-Fokus pada pengobatan
-Dokumentasi sangat sedikit
-Jarang dilakukan vaksinasi

Jika Vietnam menjadi keterwakilan negara berkembang, dan Indonesia merupakan negara berkembang, dengan perairan “sebenarnya menjadi salah satu aset dan sumber daya terbesar bangsa kita, bagaimana ya kira-kira kondisinya? Akankah sama dengan kondisi perikanan di Vietnam? Lebih baik? Atau sebaliknya?

*yang lagi seneng makan ikan (apalagi kalau gratis dan dimasakin, hehehe)

We know more than we can tell

Standard

“Kita mengetahui lebih dari apa yang dapat kita katakan”. Ya, pernyataan yang sangat menarik dan cerdas dari Michael Polanyi (1966, h. 136) dalam bukunya Tacit Dimension. Bagi mereka yang menekuni bidang manajemen pengetahuan dan sebangsanya, siapa yang tidak kenal dengan penulis dan penggagas ide tacit knowledge ini. Hampir semua paper dan tulisan ilmiah terkait dengan manajemen pengetahuan, selalu merujuk nama penulis ini.

Apa itu tacit knowledge?
Penyataan di atas, sangat jelas namun tak mudah untuk menjelaskan apa yang dimaksud sebenarnya (Polanyi, 1966). Sebagai misal, kita mengetahui wajah seseorang, bernama A, dan kita dapat mengenali orang tersebut dari sekian banyak ribuan, bahkan milyaran orang di muka bumi ini. Akan tetapi, biasanya kita tidak dapat mengatakan dengan mudah, bagaimana kita dapat mengenali wajah orang A tersebut dan menjelaskannya. Alhasil, hampir semua pengetahuan yang kita ketahui tersebut, tidak dapat kita tuangkan dalam kata-kata. Jika dalam sebuah kasus kejahatan, dan kita sebagai saksi, maka biasanya polisi akan memberikan beberapa gambar wajah untuk membantu kita mengatakan apa yang kita ketahui. Dengan metode ini, mungkin berhasil, mungkin tidak. Tetap saja, metode yang diterapkan pihak kepolisian tidak mengubah kenyataan bahwa: kita tahu lebih banyak dari yang dapat kita ucapkan.

Contoh lain, misalnya, kita bisa mengetahui physiognomy (karakter seseorang dari apa yang dapat kita lihat – contohnya wajah). Dari wajah, kita terkadang dapat mengenali mood/kondisi psikologis seseorang pada saat itu, tanpa dapat kita jelaskan mengapa kita dapat mengetahui, dari tanda-tanda tersebut yang dapat kita tangkap.

Itulah yang disebut dengan tacit knowledge. Pengetahuan yang kita ketahui dan biasanya tidak tersedia dalam dokumen, manual tertulis lainnya. Kita dapat mengetahuinya, dari yang kita lihat, yang kita rasa dan yang kita alami. Dan tentu saja, hampir semua kita akan mengetahui lebih banyak dari yang dapat dikatakan. Benarkan? So, jangan anggap remeh lawan bicara kita. Bisa jadi, dia tau lebih banyak dari yang dia bisa katakan …

Sumber: Michael Polanyi (1966), Tacit Dimension

Afsprak

Standard

“Afsprak” atau appointment atau janji menjadi salah satu kata penting bagi sebagian besar masyarakat Belanda. Tidak mengenal usia, tidak mengenal jenis pekerjaan, tidak mengenal jenis kelamin. Tepatnya semua lapisan masyarakat sangat menjunjung tinggi arti kata appointment atau “janjian” (dalam istilah jawanya).

Tidak hanya untuk urusan pekerjaan, mulai dari urusan ke dokter, harus buat janji dulu. Membuka account di bank, terlebih janjian dulu dengan pihak bank. Bahkan sampai janjian untuk berkunjung yang dilakukan oleh seorang anak kepada ibunya sendiri, prosedur yang umum dilakukan adalah dengan membuat janji sebelumnya. Setidaknya, saya dapat dilihat bagaimana orang Belanda sangat menghargai privacy seseorang. Dan sangat respek dengan apa yang sudah disepakati sebelumnya. Bahkan tak heran, setiap orang memiliki (buku atau catatan) agenda tersendiri, untuk sewaktu-waktu digunakan dalam mengecek jadwal jika ada usulan agenda atau janjian baru. Menarik. Budaya yang sebenarnya patut untuk ditiru. Bagaimana sangat teratur dan menghargai arti pentingnya waktu dan kesepakatan yang sudah dibuat.

Karena sedikit terbiasa dengan kondisi seperti ini, pada saat saya melakukan survey yang tentu sangat bergantung dengan agenda para pengusaha, saya nyaris lupa kalau  di lapangan, tidak sedikit kita yang dengan mudah membuat janji dan kemudian mengabaikan janji tersebut. Betapa tidak, untuk membuat satu interview selesai, saya harus membuat berkali-kali janji dengan pengusaha. Sebagai contoh, saya pernah dijanjikan untuk bertemu, pada hari tertentu, sebut saja, Selasa jam 4 sore. Sesampai ditempat tujuan, tertegun saya, ehhh, ternyata si empunya, dengan mendadak sudah tidak ada di tempat, karena tiba-tiba ada urusan. Saya disarankan menunggu. Setelah hampir 1 jam, rasanya tak datang juga. Saya pun, buat janji untuk bertemu berikutnya di hari selanjutnya. Saya telpon, dan buat janji lagi. Sebut saja, saya dijanjikan bertemu hari Kamis, jam 10. Dan ketika saya mau menuju lokasi, untuk sekedar memastikan saya telpon kembali, dan aha, benar saja. Ternyata yang bersangkutan baru saja keluar ke suatu tempat sampai batas waktu yang tidak diketahui. oO.

Saya keluhkan hal ini sebagai salah satu hambatan dalam mendapatkan data. Dan cukup mengejutkan, profesor saya bilang: “I know your culture, it’s normal in Indonesia, isn’t? You shouldn’t be surprised.” Hehehe, saya pun terkekeh. But still, it makes me so frustated, sahut saya saat itu juga. Ya ya ya.

Kapan ya bisa lebih menghargai hal-hal kecil tanpa memandang siapa dia?
Pasti, someday.

Hebohnya Terracota Army of Xi’an

Standard

Minggu, 10 Februari 2008, saya dan teman-teman berkesempatan untuk mengikuti program trip internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan atau Pensiunan RuG. Tujuan utama adalah mengunjungi museum terakota tentara Kekaesaran Qin dan Han yang dibangun di Xi’an, di Drent Museum (http://www.drentsmuseum.nl/) di Assen, Groningen. Mengapa museum itu yang dipilih? Ini adalah bentuk apresiasi universitas pada perayaan Hari Besar Cina, Gong Xi Fa Chai. Dan tentu saja, di antara 30-an peserta, mayoritas yang ikut adalah mahasiwa-mahasiswa Cina.

Sampai di museum, kami diberi pemaparan menarik tentang perjalanan museum dan perjalanan kekaesaran Cina, Dinasti Xi’an dan Han, diselingi jamuan cake beraneka ragam, kopi dan teh hangat. Begitu selesai mendengarkan penjelasan, huwaaa … tak terbayangkan betapa besar kemegahan Xi’an yang ada.

Bagi masyarakat Cina terutama para kaisar, mereka percaya bahwa akan ada kehidupan yang akan dilalui setelah kehidupan di dunia ini. Untuk mempertahankan kehidupan yang ada abadi sampai hari nanti, seorang kaisar Cina di masa lalu (ie. Kaisar sengaja membangun kuburan bagi dirinya) dengan dikeliling oleh istana atas bumi dan bawah tanah yang begitu megah). Semua dipersiapkan, mulai dari luas lahan, posisi atau lokasi terhadap mata angin yang menunjukkan simbol-simbol kekuatan bagi dirinya, juga para prajurit dan segala hal-hal kecil lainnya. Semua dipersiapkan dengan matang, dan sangat-sangat detil. Ornamen, warna dan bentuk. Amazing. Saya tak habis pikir, betapa cerdasnya orang-orang yang ada dibalik semua itu, pada zaman itu merancang semuanya. Belum lagi, kalau dikira-kira berapa banyak tenaga kerja (paksa) yang dikerahkan untuk membangun sebegitu kemegahan hanya untuk jasad raja yang meninggal? Mm, merinding rasanya mendengarnya.

Terlepas dari itu semua, kita memang perlu mengakui begitu besar kebudayaan Cina. Pantas, Cina sampai sekarang masih jaya dimana-mana. Jadi pengin pergi ke Cina. Sempat terpikir juga, dengan Astana Giri Bangun yang ada di Solo. Ah jangan-jangan kemegahannyaakan menjadi suatu kehebohan bagi generasi anak-anak saya nanti. Will see 

Selesai mengunjungi semua koleksi, kamipun keluar museum menuju restauran De Jong, untuk makan siang. Sampai di luar, saya sempat tertegun. Wah, ternyata yang antri menuju ke museum, bejibun. Panjangnya antrian mencapai 25 meter. Wow, saya sangat impress dengan apresiasi masyarakat Belanda terhadap nilai sejarah. Di hari minggu, mereka gunakan untuk melihat-lihat kebudayaan, dan mau antri cukup lama hanya untuk masuk ke museum, yang sebenarnya tidak terlalu besar, baunya tidak segar … tapi semangatnya, layak diacungi jempol. Pantas saja, Eropa selalu jadi center budaya, karena masyarakatnya sangat-sangat mengapresiasi nilai sejarah. Wah jadi pengin ajak keluarga lihat-lihat museum di Indonesia ah. Hmm, museum apa ya …

Menunggu kelahiran si mungil

Standard

Kelahiran siapa? Aha, tentu saja ini bukan kelahiran anak sendiri. Tapi meskipun begitu, karena kedekatan emosional, cukup membuat jantung berdegup lebih kencang.

Habis shubuh (Minggu, 10 Februari pukul 06.40 CET), handphone saya berdering. Kaget juga, siapa pagi-pagi begini telepon. Eh, terdengar suara khas suami tercinta. “Ma, tante mau melahirkan, ini sudah di klinik”. Wah, lalu tiba-tiba, terdengar suara khas, si mungil, “Mamah, tante udah mau melahirkan ini. Diperkirakan jam 1 siang waktu sini, Mah”. Begitu jelasnya terdengar sangat heboh. “Udah ya Mah”. Ok.

Telepon pun terhenti. Sejenak terlintas dalam pikiran, wah, wah, pasti sangat heboh suasana di klinik. Kebayang, gimana dulu rasanya melahirkan. Ngga nyangka Mila begitu antusias menyambut sang adik. Sambil berbenah menuju ke Assen, setelah satu jam lewat, tak ada kabar. Sampai di Assen, juga tak ada kabar. Bahkan setelah beberapa jam berlalu, masih juga tak ada kabar. Lalu ada sms masuk: “belum melahirkan. Masih menunggu.” Duh, lama amat ya …

Dan tepat pukul 16.47 CET, telpon berdering lagi. Aha, good news, suami mengabarkan bayi mungil itu, si ibu juga selamat. Hanya butuh istirahat. Ohh, syukurlah. Lega rasanya. Ahh, jadi pengin banget liat gimana wajahnya yaaa. Mirip siapa kah?

Anyway, selamat datang di dunia baru, bayi mungil … Alrafe Muhammad.

Semangatmu luar biasa Pak Pe!

Standard

Usianya boleh dibilang sudah tidak muda lagi, tapi semangatnya untuk berjuang dan tetap belajar, layak untuk dijadikan teladan.

Yang pasti, saya belum terlalu lama mengenal sosok beliau, Pak Pe. Hanya karena keadaan membuat kami jadi saling mengenal. Bertukar pikiran dan mengobrol mulai dari hal ringan dan berat, pun terjadi dalam berbagai kesempatan, bersama teman-teman yang lain. Sampai pada suatu ketika, saya dengan salah seorang rekan diundang makan malam di kost-kost-annya. Nyam-nyam. Bebek goreng dan sapi lada hitam. Yang jelas, ini bukan masakan beliau. Menjelang larut, obrolan pun sampai pada pertanyaan prinsipal, mengapa kita sama-sama ada di sini? Di Groningen ini? Apa yang dicari?

Bagi saya dan rekan saya, sebut saja Emil, dengan usia yang relatif masih muda, jenjang kehidupan kami masih panjang membentang. Meskipun kalau dipikir-pikir, bolehlah dibilang kami ini sudah mapan. Begitulah kira-kira, untuk tidak mengatakan sombong. Tapi kesadaran akan kebutuhan ilmu dan semangat yang besar, membuat kami sampai pada tahap ini. Dan di sini. Tapi bagi seorang Pak Pe, apa ya yang dia cari? Untuk seusia beliau, jelas beliau jauh lebih mapan. Sudah s2 dan sedang menempuh s3 juga di Indonesia. Punya usaha cukup mapan dan juga bekerja di universitas. Kurang apa? Jenjang karir sudah cukup tinggi, tinggal nunggu waktu jadi guru besar. Nah lho?

Apa yang membuatnya sangat kuat belajar kembali, meninggalkan segala kemapanan lahir dan batin di Indonesia. masuk di bangku kuliah s2, bergelut dengan tugas-tugas, perkuliahan, dengan rekan-rekan yang jauh lebih muda? Tiap hari ke kampus dengan naik sepeda onthel, padahal dulu, mobil Merci selalu menemani. Apa yang memotivasi itu semua?

Karena penasaran, saya pun bertanya: “Pak, apa yang Bapak cari sebenarnya?”
Dengan santai dia menjawab: “Sekian taun mengajar dan jadi konsultan, rasa-rasanya ilmunya itu-itu saja. Dan rasanya, sudah “habis” ilmu saya. Saya perlu mengisi dan mencari yang baru”. Waahh … dengan meninggalkan semua kemapanan Pak? Luarr biasa, begitu saya menyahut. Dia tersenyum. “Iya, tidak mudah, sangat tidak mudah. Tapi saya sangat menikmati proses sekarang ini. Dan keluarga sangat mendukung kok.” Great!!

Sungguh semangat belajar yang sangat luar biasa Pak Pe.
Mungkin kalau yang belajar terus itu adalah orang-orang yang masih relatif muda (seperti saya 😉 , atau yang single, is nothing to be discussed. Tapi seusia beliau, sampai pada tahapan yang sekarang, sungguh luar biasa.

Jadi teringat, bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, bahkan sejak dari buaian sampai usia tua bahkan sampai liang lahat. Jadi kalau seorang Pak Pe saja punya semangat baja, harusnya kan kita-kita yang usianya lebih muda, semangatnya melebihi semangat baja, tentunya. So, never give up! Dan tetap semangat !!