Afsprak

Standard

“Afsprak” atau appointment atau janji menjadi salah satu kata penting bagi sebagian besar masyarakat Belanda. Tidak mengenal usia, tidak mengenal jenis pekerjaan, tidak mengenal jenis kelamin. Tepatnya semua lapisan masyarakat sangat menjunjung tinggi arti kata appointment atau “janjian” (dalam istilah jawanya).

Tidak hanya untuk urusan pekerjaan, mulai dari urusan ke dokter, harus buat janji dulu. Membuka account di bank, terlebih janjian dulu dengan pihak bank. Bahkan sampai janjian untuk berkunjung yang dilakukan oleh seorang anak kepada ibunya sendiri, prosedur yang umum dilakukan adalah dengan membuat janji sebelumnya. Setidaknya, saya dapat dilihat bagaimana orang Belanda sangat menghargai privacy seseorang. Dan sangat respek dengan apa yang sudah disepakati sebelumnya. Bahkan tak heran, setiap orang memiliki (buku atau catatan) agenda tersendiri, untuk sewaktu-waktu digunakan dalam mengecek jadwal jika ada usulan agenda atau janjian baru. Menarik. Budaya yang sebenarnya patut untuk ditiru. Bagaimana sangat teratur dan menghargai arti pentingnya waktu dan kesepakatan yang sudah dibuat.

Karena sedikit terbiasa dengan kondisi seperti ini, pada saat saya melakukan survey yang tentu sangat bergantung dengan agenda para pengusaha, saya nyaris lupa kalau  di lapangan, tidak sedikit kita yang dengan mudah membuat janji dan kemudian mengabaikan janji tersebut. Betapa tidak, untuk membuat satu interview selesai, saya harus membuat berkali-kali janji dengan pengusaha. Sebagai contoh, saya pernah dijanjikan untuk bertemu, pada hari tertentu, sebut saja, Selasa jam 4 sore. Sesampai ditempat tujuan, tertegun saya, ehhh, ternyata si empunya, dengan mendadak sudah tidak ada di tempat, karena tiba-tiba ada urusan. Saya disarankan menunggu. Setelah hampir 1 jam, rasanya tak datang juga. Saya pun, buat janji untuk bertemu berikutnya di hari selanjutnya. Saya telpon, dan buat janji lagi. Sebut saja, saya dijanjikan bertemu hari Kamis, jam 10. Dan ketika saya mau menuju lokasi, untuk sekedar memastikan saya telpon kembali, dan aha, benar saja. Ternyata yang bersangkutan baru saja keluar ke suatu tempat sampai batas waktu yang tidak diketahui. oO.

Saya keluhkan hal ini sebagai salah satu hambatan dalam mendapatkan data. Dan cukup mengejutkan, profesor saya bilang: “I know your culture, it’s normal in Indonesia, isn’t? You shouldn’t be surprised.” Hehehe, saya pun terkekeh. But still, it makes me so frustated, sahut saya saat itu juga. Ya ya ya.

Kapan ya bisa lebih menghargai hal-hal kecil tanpa memandang siapa dia?
Pasti, someday.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s