Bagaimana industri perikanan tanah air kita?

Standard

Pernah makan ikan? Saya yakin, hampir semuanya menjawab iya. Pernahkah terpikir bagaimana industri ini bergerak atau dikelola? Dengan membandingkan kondisi di negara berkembang dan negara-negara maju, setidaknya kita jadi lebih paham bagaimana kualitas olah ikan yang kita konsumsi. Atau tidak jauh-jauh ke sana, bagaimana kondisi pelaku bisnis (dalam hal ini nelayan) yang memproduksi semua itu? Simak ulasannya.😉

Selasa, 19 Februari kemarin, saya menunggui presentasi salah satu kolega dari Vietnam (Le Nguyen Doan Khoi) pada RuG PhD conference yang mengkaji kondisi industri ikan di negara maju (Barat) dan Vietnam. Jika dilakukan perbandingan kondisi nelayan dan industri ikan, berikut adalah temuannya:

Kondisi industri ikan di negara-negara Barat:
-Industri umumnya terintegrasi
-Tingkat kepadatan persediaan yang dimiliki optimal
-Kebijakan zoning dan adanya lisensi
-Memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen nutrisi dan makanan
-Kualitas makanan ikan cukup kering dengan good FCR (feed conversion ratio)
-Jenis penyakit yang ada umumnya yang sudah diketahui
-Daya tahan hidup ikan 95%
-Fokus pada pencegahan
-Dokumentasi baik
-Vaksinasi menjadi hal yang umum

Studi eksploratori yang dilakukan Khoi (2007) di Vietnam menunjukkan:
-Nelayan dengan skala kecil dengan jumlah yang relatif besar
-Tingkat kepadatan persediaan yang sangat tinggi
-Tidak berlaku kebijakan zoning dan lisensi
-Kurang memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen nutrisi dan makanan, umumny home-made feed
-Rendah kualitas tingkat kekeringan makanan ikan dengan little focus on FCR
-Sering terjadi penyakit yang tidak diketahui sebabnya dan sumber kematian
-Daya tahan hidup ikan 60%
-Fokus pada pengobatan
-Dokumentasi sangat sedikit
-Jarang dilakukan vaksinasi

Jika Vietnam menjadi keterwakilan negara berkembang, dan Indonesia merupakan negara berkembang, dengan perairan “sebenarnya menjadi salah satu aset dan sumber daya terbesar bangsa kita, bagaimana ya kira-kira kondisinya? Akankah sama dengan kondisi perikanan di Vietnam? Lebih baik? Atau sebaliknya?

*yang lagi seneng makan ikan (apalagi kalau gratis dan dimasakin, hehehe)

3 thoughts on “Bagaimana industri perikanan tanah air kita?

  1. Artikel ini sudah lama, tetapi saya baru sempat membacanya.Maklum karena berdeba bidang yang ditekuni. Masih ada yang tersisa dalam ingatan saya. Pada tahun ’80-an, Sutan Takdir Alisjahbana sudah mempromosikan kepada masyarakat bawha 2/3 wilayah Indonesia teridi atas lautan. Jadi, penduduk Indonesia jangan menggantungkan hidupnya hanya di darat. Kekayaan alam yang dilaut belum diberdayakan secara optimal. STA membuka Fakultas Biologi Kelautan waktu itu. Akantetapi, wilayah Indonesia yang sangat luas, ada lautan ada pegunungan. Orang pegunungan kalaupun disuruh makan ikan, digratisin, dimasakin, belum tentu juga mau. Jadi soal pengonsunsumsi ikan yang orang yang tinggal didataran atau dekat dengan laut. Orang pegunungan lebih suka daging daripada ikan.
    Maksud saya, Industri perikanan harus tetap dimajukan. Jangan kalah dari Industri asing. Industri dalam negeri lebih unggul dong. Kenyataannya Bagaimana? selalu saya kurang modal, kurang SDM, kurang….. kurang semua hahahaha……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s