Intensi kewirausahaan mahasiswa: berbedakah antar bangsa?

Standard

Survei terhadap 332 mahasiswa perguruan tinggi dari tiga universitas di tiga negara (Indonesia, Jepang dan Norwegia) menunjukkan bahwa intensi kewirausahaan mahasiswa dan faktor-faktor yang mempengaruhinya berbeda antara satu negara dengan negara yang lain. Hasil penelitian dapat membuktikan bahwa efikasi diri mempengaruhi intensi mahasiswa Indonesia dan Norwegia.

Kesiapan instrumen – mencakup ketersediaan informasi, kemudahan akses modal dan jaringan sosial – dan pengalaman bekerja menjadi faktor penentu intensi kewirausahaan bagi mahasiswa Norwegia. Latar belakang pendidikan menjadi faktor penentu intensi bagi mahasiswa Indonesia, dengan arah berlawanan. Sementara kebutuhan akan prestasi, umur, dan jender tidak terbukti secara signifikan sebagai prediktor intensi kewirausahaan. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa kemampuan model untuk menjelaskan fenomena tersebut hanya sebesar 28,2% (Indonesia), 14,2% (Jepang) dan 24,8% (Norwegia).

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan pada berbagai pihak seperti universitas dan lembaga pemerintah terkait dengan pembuatan kebijakan-kebijakan yang meningkatkan semangat kewirausahaan.

*The best paper award Call for Paper JEBI 2008. Ditulis bersama dengan Rokhima Rostiani.

Spring dengan ‘si putih’

Standard

Cuaca memang tidak dapat ditebak. Dan selalu berubah dari waktu ke waktu. Itulah yang terjadi di musim semi tahun ini. Jika dibandingkan dengan musim semi 2007 lalu, dengan suhu tropikal yang sangat hangat, tapi musim semi kali ini, justru sebaliknya. Meskipun beberapa waktu lalu, tampak bunga-bunga berwarna kuning dan putih khas musim semi sudah mulai bermekaran. Akan tetapi, beberapa hari terakhir, justru snowy. Indah memang, tapi tentu saja suhu seakan enggan beranjak naik, masih pada kisaran kurang dari 5 C. Brrrr …

Dan sejak tiga hari terakhir, di tengah nuansa liburan Paskah, sang salju pun serasa menikmati masa liburannya. Bertaburan kian kemari. Menutupi atap-atap rumah, mobil yang di parkir di sepanjang jalan, menutupi onggokan tanah-tanah lapang yang tadinya penuh dengan rumput yang menghijau. Semua putih. Inilah musim semi dengan si putih. Aneh, tapi itulah yang ada. “Do you enjoy this snow weather or not, Rul?” Begitu temen-temen di kantor bertanya? “Yes, I like snow, but not cold, hopefully”. Hehehe.

Dan hari ini, salju turun lagi. Tuh kan,  … yuk, main salju yuk …

Korupsi bukanlah karakter permanen: so what?

Standard

Itulah pernyataan menarik yang disampaikan oleh PhD baru, kang Harry Seldadyo Gunardi dalam PhD defense, kamis lalu (20 Maret 2008). Berikut sedikit liputannya, langsung dari Academic gebouw, RuG Groningen at 16.15 CET. 😉

Korupsi telah memberikan banyak konsekuensi tidak hanya dampak ekonomi tetapi juga sosial. Terlihat dari jumlah rakyat miskin yang ada dengan kecenderungan semakin meningkat. Ditambah, dengan tingkat kematian balita dan tingkat putus sekolah yang masih saja tinggi. Selain itu, korupsi juga memberikan efek yang negatif pada distribusi pendapatan suatu negara, khususnya pada kualitas infrastruktur publik dan pertumbuhan produktitivitas. Indeks korupsi menunjukkan bahwa sekitar 60-80% negara-negara di dunia dipimpin oleh birokrat yang korup (Seldadyo, 2008), terutama negara-negara di Amerika Latin, Afrika dan Asia.

Banyak pakar berpendapat bahwa korupsi adalah karakter yang permanent. Sebaliknya menurut Kang Harry, pendapat ini tidaklah benar. Korupsi bukanlah karakter yang tetap, tetapi berubah sepanjang waktu, jadi, korupsi bukanlah fenomena yang statis. Dari data International Country Risk Guide (ICRG) periode 1984-2003 menunjukkan bahwa tingkat negara-negara korup justru berkurang, sementara, beberapa negara yang tidak korup (‘clean’) justru menjadi lebih korup. Lebih lanjut, sistem administrasi di suatu negara, menunjukkan adanya korelasi dengan sistem administrasi di negara-negara tetangga. Dengan kata lain, semakin dekat suatu negara dengan negara lain yang memiliki sistem administrasi yang baik, akan semakin baik pula kualitas administrasi di negara, dan sebaliknya.

***

Jika korupsi bukanlah hal permanen, semoga sedikit demi sedikit, tingkat korupsi Indonesia, berkurang, berkurang dan Indonesia menjadi salah satu negara yang ‘clean’. Someday, harapan itu masih ada … semoga.

Anyway,
Sukses Kang, buat disertasinya. Selamat kembali dan membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Manusia yang berpengetahuan, seperti apakah itu?

Standard

Para pakar psikologi umumnya menggolongkan kelompok manusia menurut karakter-karakter dasar yang menonjol. Sebut saja, orang yang senang cuap-cuap, spontan, ekspresi masuk dalam golongan orang-orang ekstrovert. Atau sebaliknya. Astrolog mungkin membagi kelompok orang, dari tahun dan bulan kelahiran dimana gugusan bintang bernaung di atasnya yang membentuk ciri khas tertentu pada sekelompok orang yang lahir pada saat itu. Beberapa lain, mungkin akan menggolongkan kelompok orang, dari atribut-atribut tertentu dan dimensi yang lain.

Nah, kelompok manusia terkait dengan pengetahuan yang dimilikinya, seperti apa ya kira-kira. Frappaolo et al. (2004), membuat matrik mengetahuai dan tidak mengetahui, untuk membedakan kesadaran pengguna informasi (manusia) dan sumber informasi yang digunakan. Kelompok pertama, mereka yang mengetahui bahwa mereka ketahui (know what we know). Saya menyebut ini sebagai kelompok smart. Mereka adalah orang yang sadar akan potensi plusnya. Tidak semua orang lho, sadar bahwa apa yang diketahuinya.
Kedua, adalah mereka yang tahu, apa yang tidak mereka ketahui (know what we don’t know). Ini kelompok yang sadar diri. Tahu apa yang tidak diketahuinya. Yang kemudian, menjadi berusaha dan bersemangat untuk mengisi kekurangtahuannya tersebut. Yang ketiga, mereka yang tidak tahu bahwa apa yang mereka ketahui (don’t know what we know). Sepertinya rada-rada silly and so poor, kalau kita justru tidak tahu bahwa kita itu mengetahui sesuatu. Lha, bagaimana mau dimanfaatkan buat sesama, wong yang empunya pengetahuan saja tidak tahu apa yang menjadi potensinya. Sungguh sayang seribu sayang. Tapi mungkin kelompok ini sedikit lebih baik, daripada kelompok keempat, mereka yang tidak tahu apa yang mereka tidak ketahui (dont know what we don’t know). Inilah bahaya. Dan biasanya, bicara dengan kelompok manusia semacam ini sudah mudah ditebak, ujung-ujung obrolan biasanya diakhir dengan pokokmen. Wis, pokokmen. Yah, tidak mengapa juga, yang penting pede.

Tapi sependek pengamatan, ada juga lho kelompok satu lagi, yang ini tambahan sendiri. Oo siapa dia? Ya, mereka inilah kelompok yang sok tau? Rasa-rasanya kian hari kian banyak kelompok yang seperti ini. Kapan biasanya teridentifikasi. Lihat saja, jika ada sebuah isu yang sedang booming di media, di kalangan tertentu, semua orang angkat bicara. Seolah-olah merekalah yang tahu dari yang tahu. Mahanya Tahu. Hayo, siapakah dia? Mudah-mudahan bukan yang menulis atau membaca tulisan ini 😉

*peace ahh … yang sedang semangat untuk selalu mencari tahu.

Antara kebutuhan dan keinginan

Standard

Sabtu lalu, dengan seorang teman, saya sengaja jalan-jalan keliling pertokoan di Herrestad Groningen. Tak ada tujuan spesifik. Memang hanya ingin “menghabiskan waktu”, setelah berhari-hari berkutat di depan komputer, dan lembaran kertas-kertas. Udara cukup cerah, meskipun tidak panas dan tidak hujan. Angin juga tidak terlalu kencang bertiup. Berdua kami pun bersepeda ke sentrum.

Sampai di kota, kami menuju tempat jualan ikan, dan bersantap “lekkerbak” (ikan goreng) terlebih dahulu. Lalu, lanjut jalan. Dari satu toko, ke toko yang lain. Dari toko pakaian, peralatan bayi, perlengkapan barang serba ada sampai ke supermarket. Sempat juga jalan ke pasar tiban. Tak terasa, hampir seharian berlangsung.

Sebagai “single person di Belanda, kegiatan belanja bukanlah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari. Untuk kebutuhan basic, bisa jadi seminggu sekali. Untuk hal-hal yang mendesak (makanan, minuman segar) paling tidak dua-tiga kali dalam seminggu. Jumlah yang dibeli? Nah ini yang sangat berbeda dari yang sering saya lakukan di Indonesia. Jauh berbeda. Menjadi kebiasaan (buruk, mungkin ya) kalau di Yogya, sekali belanja bisa memenuhi satu keranjang dorong superindo. Lengkap dengan segala isinya. Tapi di Belanda, setidaknya, saya jadi belajar menentukan prioritas. Mana yang benar-benar diperlukan (mana kebutuhan) dan mana yang diinginkan (keinginan). Sepele mungkin. Tapi ini mengajarkan banyak hal. Mengamati cara hidup orang Belanda, yang dikenal sangat efisien (untuk tidak mengatakan pelit), yaitu hanya benar-benar membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkan (fungsionalitas). Tidak mudah memang mengubah kebiasaan, tapi ketika kondisi yang ada menuntut harus realistis, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. So, apa sebenarnya kebutuhanmu? Dan apa yang sebenarnya hanya keinginanmu? Tentukan itu sebelum pergi belanja, mungkin bisa jadi cara jitu hidup hemat. Ingat, hemat pangkal kaya (masih berlaku tidak ya, pepatah ini). 😉

Melukis dengan cotton bud?

Standard

“Mah, aku tadi nglukis lagi. Dengan cat poster pake cotton bud. Abis, kuasnya dicari-cari gak ketemu-ketemu, ya udah pake cotton bud aja”. Begitu celoteh si kecil saat saya tadi bicara ditelpon dengannya (Minggu, 16 Maret 2008), tentang bagaimana dia menghabiskan waktu weekend kali ini. Sambil menunjukkan hasil lukisannya yang sudah langsung dipasang di pigura (melalui webcam). Waah bagguuus sekaliii, komentar saya bersemangat. “Iya, gampang kok Mah. Gak butuh waktu lama. Dan habis sekitar 20an cotton bud. Malah lebih mudah pake cotton bud dibanding kuas”, begitu dia menganalisis.

Mendengar dan melihat lukisan si kecil, wah cukup membuat hati berbunga-bunga, senada dengan lukisan taman bunga di saat hari yang cerah, yang dibuatnya. Sambil membayangkan, bagaimana ide menggunakan cotton bud itu muncul. “Papa, yang kasih usul itu. Ya terus aku coba. Eh, bisa”. Begitu dia menjelaskan lagi. “Iya, kalau kreatif dan terus berusaha, yang tadinya ngga bisa dan ngga ada, semua jadi bisa ya, Mil. Sahut saya menambahkan. “Bener, memang harus kreatif, sahut dia kemudian.

Jadi ingat pepatah, tidak ada rotan, akarpun jadilah. Untuk kasus Mila hari ini, tidak ada kuas gambar, cotton bud, jadilah. 😉

PS: Terus, mau gambar apa lagi Nduk? Dengan cotton bud lagi ya?

Menjadi profesor: Kebutuhan atau kewajiban?

Standard

Dua hari lalu, saya berkesempatan untuk menyaksikan prosesi pengukuhan kolega di departemen saya, Departement of Innovation and Strategic Management, Rogers Lendeers menjadi Guru Besar di University of Groningen, Belanda. Dalam usianya yang belum mencapai 45 tahun, dia layak menyandang gelar guru besar di bidang Product Innovation Management. Prosesi pengukuhan tidak berlangsung cukup lama. Dan tak berbeda dengan prosesi-prosesi yang terjadi di UGM, dimana kolega senior saya menyampaikan pidato orasi untuk pengukuhan Guru Besarnya.

Setelah prosesi besar berlangsung, dilanjut dengan pemberian ucapan selamat dari para kolega dan rekanan yang datang. Nah, ini yang luar biasa lamanya. Saya dan temen-temen harus rela mengantri lebih dari satu jam hanya untuk mengucapkan selamat. Walah, kaki rasanya mau copot. Tapi ya sudah kadhung ngantri. Dan setelah itu, baru mengikuti acara dinner yang diadakan oleh Prof. Roger sendiri.

Menjadi professor, suatu kebutuhan? Atau tanggung jawab moral seseorang? Dari sudut pandang teori kebutuhan Maslow, pencapaian diri (aktualisasi) mungkin dapat menjelaskan kenapa seseorang berusaha menjadi gelar akademik tertinggi, Guru Besar. Tapi, setelah sampai tingkat tersebut, berakhirkah perjalanan? Harapannya tentu saja tidak. Dalam kenyataannya, sepertinya itu yang terjadi di Indonesia. Produktivitas ilmiah cenderung melorot, yah karena untuk apa lagi? Toh sudah tercapai. Meskipun tidak sedikit juga yang semakin produktif dalam meriset dan melakukan aktivitas ilmiah lainnya (menulis, riset, publish, menulis, riset dan publish), bukan “mroyek”. 😉

Yang saya amati, justru beberapa kolegad agak enggan untuk mencapai kesana? Lha kok? “Wah saya ngga berminat jadi professor”, atau “professor bukan jadi cita-cita saya, biarkan orang lain saja”. Jujur, saya kadang heran dengan statement-statement seperti ini. Bagi saya, jika sudah berniat terjun di dunia akademik, impian tinggi ke sana, mutlak. Itu kontribusi terbesar pada keilmuan. Tentu, bukan kemudian penurunan setelah sampai disana. Tapi kalau semangat saja tidak ada, lha bagaimana akan sampai ke sana? Lagipula, menjadi professor bukan tujuan individu semata. Tapi tujuan institusional. Lembaga dimana kita bekerja sangat membutuhkan “pengakuan” seperti itu. Dan itu mutlak. Saya pernah berhadapan sendiri dengan masalah tersebut, saya diminta untuk membantu mengurus persiapan akreditasi program Magister di UGM. Proporsi penilaian pada aspek kepemilikan profesor sangat menentukan. Ini baru level akreditasi nasional, bagaimana dengan akreditas internasional?

Jadi, saya pernah sampaikan ke salah satu kolega saya waktu itu: “Pak, jadi professor itu fardhu ‘ain, dan bukan fardhu kifayah lagi. Yang diperjuangkan, kepentingan institusi dan bukan kebutuhan individu semata”.

Setuju? … 😉