Mengenal cara lain promosi budaya: Belajar dari Cina

Standard

Setelah mengunjungi megahnya Xi`an di Museum Assen beberapa waktu lalu, dimana saya sempat terkagum-kagum dengan kemegahan budaya Cina. Dan ternyata, kekaguman saya tidak hanya berhenti sampai disitu.

Beberapa waktu lalu, saya melewati beberapa travel agent yang ada di sentrum Groningen. Dari situ, saya baru sadar bahwa event visit Drents Museum Assen dengan topik Terracota Army of Xi’an menjadi agenda promosi besar-besaran. Tidak hanya itu, pada saat saya cerita ke office-mate tentang kunjungan saya ke Drents museum. Mereka ternyata sudah cukup mendengar informasi tersebut yang disiarkan di televisi-televisi dan radio. Yah, maklum, kalau nonton TV mah, saya cuma liat film doang. hehehe. Dan pastinya memang tidak mengerti bahasa belanda. Tidak hanya itu, promosi juga dilakukan di surat kabar setempat. Ohh, tampaknya pemerintah Cina cukup sistematis mempromosikan ke mana-mana.

Terlihat betul bagaimana kemasan promosi budaya itu dibuat sedemikian menarik. Saya pikir, mungkin Indonesia bisa mencontoh “cara cerdas” Cina dalam mempromosikan budaya bangsanya. Dengan mengirim sekitar 200 artefak peninggalan Dinasti Qin dan Han, kemudian difollow up dengan kerja sama beberapa institusi pariwisata setempat. Terbukti cara ini sangat mengena. Pengunjung museum dan antusiasme masyarakat untuk mengunjungi museum, hanya ingin melihat kemegahan Xi`an cukup tinggi.

Tidak melulu dengan cara konvensional, seperti tarian, promosi wisata tentang alam Indonesia, masakan khas Indonesia, tapi bekerja sama dengan lokal museum atau institusi di negara tujuan, “memindahkan” barang-barang bersejarah Indonesia (patung, atau miniatur atau bukti-bukti sejarah lainnya). Memindahkan tentu dengan strategi dan tetap untuk kepentingan besar bangsa Indonesia. Bukan seperti yang beberapa waktu lalu terjadi. Pemindahan benda-benda bersejarah, yang dilakukan oleh yang namanya oknum dan jelas jauh dari kepentingan bangsa. Huhh, menyebalkan.

Tidak perlu semuanya, sedikit dan beberapa. Buat promosi besar-besaran di negara tujuan, terkait dengan momentum tertentu. Misal, dalam waktu dekat, peringatan Hari Kartini, ada museum Kartini di Jepara (meskipun saya juga belum pernah kesana), oO. Tapi, jangan salah lho, bahkan surat-surat R.A Kartini kepada sahabatnya dulu, justru dapat ditemukan di salah satu perpustakaan di Leiden. Kok bisa ya? Jangan-jangan, banyak benda bersejarah bangsa kita justru sudah tidak ada di Indonesia. Dan diclaim bangsa lain. Masa’ iya, 20an tahun ke depan, saya ajak cucu saya, untuk lihat-lihat peninggalan bangsa sendiri di negara orang lain. Ndak lucu tho?

Anyway,
oO …, Mungkin, cara promosi alternatif yang dilakukan Cina layak untuk dicontoh pemerintah Indonesia. Wong saya saja, setelah mengunjungi museum, menjadi sangat ingin untuk  melihat Cina secara langsung. So pasti, yang lainnya tho?

One thought on “Mengenal cara lain promosi budaya: Belajar dari Cina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s