Menjadi profesor: Kebutuhan atau kewajiban?

Standard

Dua hari lalu, saya berkesempatan untuk menyaksikan prosesi pengukuhan kolega di departemen saya, Departement of Innovation and Strategic Management, Rogers Lendeers menjadi Guru Besar di University of Groningen, Belanda. Dalam usianya yang belum mencapai 45 tahun, dia layak menyandang gelar guru besar di bidang Product Innovation Management. Prosesi pengukuhan tidak berlangsung cukup lama. Dan tak berbeda dengan prosesi-prosesi yang terjadi di UGM, dimana kolega senior saya menyampaikan pidato orasi untuk pengukuhan Guru Besarnya.

Setelah prosesi besar berlangsung, dilanjut dengan pemberian ucapan selamat dari para kolega dan rekanan yang datang. Nah, ini yang luar biasa lamanya. Saya dan temen-temen harus rela mengantri lebih dari satu jam hanya untuk mengucapkan selamat. Walah, kaki rasanya mau copot. Tapi ya sudah kadhung ngantri. Dan setelah itu, baru mengikuti acara dinner yang diadakan oleh Prof. Roger sendiri.

Menjadi professor, suatu kebutuhan? Atau tanggung jawab moral seseorang? Dari sudut pandang teori kebutuhan Maslow, pencapaian diri (aktualisasi) mungkin dapat menjelaskan kenapa seseorang berusaha menjadi gelar akademik tertinggi, Guru Besar. Tapi, setelah sampai tingkat tersebut, berakhirkah perjalanan? Harapannya tentu saja tidak. Dalam kenyataannya, sepertinya itu yang terjadi di Indonesia. Produktivitas ilmiah cenderung melorot, yah karena untuk apa lagi? Toh sudah tercapai. Meskipun tidak sedikit juga yang semakin produktif dalam meriset dan melakukan aktivitas ilmiah lainnya (menulis, riset, publish, menulis, riset dan publish), bukan “mroyek”.😉

Yang saya amati, justru beberapa kolegad agak enggan untuk mencapai kesana? Lha kok? “Wah saya ngga berminat jadi professor”, atau “professor bukan jadi cita-cita saya, biarkan orang lain saja”. Jujur, saya kadang heran dengan statement-statement seperti ini. Bagi saya, jika sudah berniat terjun di dunia akademik, impian tinggi ke sana, mutlak. Itu kontribusi terbesar pada keilmuan. Tentu, bukan kemudian penurunan setelah sampai disana. Tapi kalau semangat saja tidak ada, lha bagaimana akan sampai ke sana? Lagipula, menjadi professor bukan tujuan individu semata. Tapi tujuan institusional. Lembaga dimana kita bekerja sangat membutuhkan “pengakuan” seperti itu. Dan itu mutlak. Saya pernah berhadapan sendiri dengan masalah tersebut, saya diminta untuk membantu mengurus persiapan akreditasi program Magister di UGM. Proporsi penilaian pada aspek kepemilikan profesor sangat menentukan. Ini baru level akreditasi nasional, bagaimana dengan akreditas internasional?

Jadi, saya pernah sampaikan ke salah satu kolega saya waktu itu: “Pak, jadi professor itu fardhu ‘ain, dan bukan fardhu kifayah lagi. Yang diperjuangkan, kepentingan institusi dan bukan kebutuhan individu semata”.

Setuju? …😉

2 thoughts on “Menjadi profesor: Kebutuhan atau kewajiban?

  1. wah profesor kebutuhan ato kewajiban?, beberapa dosen yg sekarang lg mengajar di kelas-kelas saya, kadangkala mereka juga “curhat” mengenai profesor ato g’ profesor? bahkan ad salah satu dosen saya juga pnya pandagan mengapa harus doktor toh klo sudah selesai hanya jadi mesin kapitalis aj, itu ekstrrimnya, padahal klo kita tengok disamping jalan ada tukang becak yg tidak bisa masukin anknya ke kampus tempat dia “mangkal” yg mungkin sebentar lg tidak dapat tempat untuk mangkal krn parkir mobil mhsiswa n mhsiswi yg semakin padaet,bukan tendensius dgn mereka yg bawa mobil lou ya:) krn tidak cukup punya uang. tp comentar counterpart dr dosen saya yg td berpkiran “mainstream” (istilah yg dia gunakan untuk mengambarkan dirinya), g’ bisa mengubah dunia itu hanya 1 orang saja, itu juga make sense menurut pandangan pribadi saya, tp klo kita lihat teori maslow yg menjadi rujukan hirarkhi kebutuhan tertinggi itu bukan aktualsiasi diri namun degreenya yg berbeda dr tiap individu, bukan berarti tukang becak juga tidak punya kebutuhan aktualisasi diri bisa saja dikampungnya dia menjadi guru ngaji setelah narik becak itu lebihmulia bkan self actualizationnya:).bgtu juga saya sebagai mahasiswa juga punya aktualisasi diri dengan bisa ikut menjadi kakak asuh atau etc sehingga yg terpenting menurut saya bukanlah hanya sampai di DR or Profsor tp sudahkah kita menjadi rahmatan alamin buat lingkgan kita…itulah yg menurut saya the true professor, bukankah buya hamka mendapat gealr profesornya bukan dari jenjang akademiks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s