Antara kebutuhan dan keinginan

Standard

Sabtu lalu, dengan seorang teman, saya sengaja jalan-jalan keliling pertokoan di Herrestad Groningen. Tak ada tujuan spesifik. Memang hanya ingin “menghabiskan waktu”, setelah berhari-hari berkutat di depan komputer, dan lembaran kertas-kertas. Udara cukup cerah, meskipun tidak panas dan tidak hujan. Angin juga tidak terlalu kencang bertiup. Berdua kami pun bersepeda ke sentrum.

Sampai di kota, kami menuju tempat jualan ikan, dan bersantap “lekkerbak” (ikan goreng) terlebih dahulu. Lalu, lanjut jalan. Dari satu toko, ke toko yang lain. Dari toko pakaian, peralatan bayi, perlengkapan barang serba ada sampai ke supermarket. Sempat juga jalan ke pasar tiban. Tak terasa, hampir seharian berlangsung.

Sebagai “single person di Belanda, kegiatan belanja bukanlah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari. Untuk kebutuhan basic, bisa jadi seminggu sekali. Untuk hal-hal yang mendesak (makanan, minuman segar) paling tidak dua-tiga kali dalam seminggu. Jumlah yang dibeli? Nah ini yang sangat berbeda dari yang sering saya lakukan di Indonesia. Jauh berbeda. Menjadi kebiasaan (buruk, mungkin ya) kalau di Yogya, sekali belanja bisa memenuhi satu keranjang dorong superindo. Lengkap dengan segala isinya. Tapi di Belanda, setidaknya, saya jadi belajar menentukan prioritas. Mana yang benar-benar diperlukan (mana kebutuhan) dan mana yang diinginkan (keinginan). Sepele mungkin. Tapi ini mengajarkan banyak hal. Mengamati cara hidup orang Belanda, yang dikenal sangat efisien (untuk tidak mengatakan pelit), yaitu hanya benar-benar membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkan (fungsionalitas). Tidak mudah memang mengubah kebiasaan, tapi ketika kondisi yang ada menuntut harus realistis, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. So, apa sebenarnya kebutuhanmu? Dan apa yang sebenarnya hanya keinginanmu? Tentukan itu sebelum pergi belanja, mungkin bisa jadi cara jitu hidup hemat. Ingat, hemat pangkal kaya (masih berlaku tidak ya, pepatah ini).😉

2 thoughts on “Antara kebutuhan dan keinginan

  1. setuju rul! sudah saatnya menentukan prioritas, meski godaan yang datang sukar dilawan (dalam hal belanja). dengan uang beasiswa yang masih harus dibagi untuk bayar apartement, listrik, air, gas dan internet, prioritas saat berbelanja memang mutlak. luckily, aku tinggal di ‘kampung’ di jepang ini, so harga sayuran dan ikan lumayan membuat tenang..hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s