Seribu Cara Bilang Tidak

Standard

“Pernah tidak setuju akan suatu hal?”
“Pernah menolak ajakan orang lain?”
“Pernah keberatan dengan sesuatu?”

Apa yang kemudian lazim diucapkan? Bagaimana Anda menyatakan perasaaan Anda?

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata “Tidak”, “No” dalam bahasa Inggris, “Nei” dalam bahasa Belanda dan Norwegia, “Laa” dalam bahasa Arab, “Mboten” dalam bahasa Jawa Krama Inggil. Atau bahkan dengan isyarat “gelengan kepala”. Sejuta ungkapan bahasa untuk mengatakan tidak. Kata “tidak” yang dalam berbagai bahasa saya tersebut, intinya mengungkap ketidaksetujuan, penolakan, ketidaksediaan seseorang untuk berpartisipasi pada suatu hal.

Dalam kenyataannya, setiap orang punya gaya atau cara sendiri untuk mengungkapkan ketidaksetujuan sikapnya. Bagi mereka yang terbuka atau straight forward person atau orang-orang yang to the point, sudah sangat terbiasa mengekspresikan perasaan tidak suka atau tidak setuju secara tegas dan terbuka. Cukup bilang: “Tidak ah, maaf.” Atau dengan singkat, “Tidak”. Namun tidak demikian bagi sebagian orang yang lain, yang mungkin akan sangat kesulitan untuk mengatakan ketidaksetujuan, ketidakbersediaan dibandingkan kalau menunjukkan setujunya dan keinginannya berpartisipasi. Manakah yang baik? Yang buruk?

Tulisan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menganalisis suatu sikap orang lain. Tapi setidaknya memberikan gambaran bahwa ada sejuta cara untuk mengatakan kata tidak. Kejadian-kejadian seperti ini sering saya temui pada saat saya melakukan pendekatan untuk meminta kesediaan wawancara UKM-UKM terkait dengan penelitian yang sedang saya lakukan. Saya jadi teringat pernyataan supervisor saya di Belanda yang bilang “Orang Indonesia itu (Orang Jawa, maksudnya) punya seribu cara untuk mengatakan TIDAK. Kalau mereka tidak setuju, tidak langsung bilang tidak setuju, tapi muter-muter kemanaaa duluuu … (hehehe), tapi intinya kalau kita tahu, mereka tidak setuju. Jadi harus pinter-pinter menganalisis”. Begitulah inti komentar yang pernah disampaikan supervisor saya (Prof. Rene Jorna yang pernah tinggal di Indonesia selama 1 tahun) beberapa waktu lalu, saat mendiskusikan progress survey bagian pertama.

Wah surprise dengar statement tersebut saat itu. oO. Benarkah sebagian besar kita kesulitan untuk secara langsung mengatakan tidak? Dan berbulan-bulan melakukan wawancara dengan UKM di Indonesia, semakin memperkuat pernyataan Rene. hmm…

Rasa-rasanya budaya dimana kita dibesarkan, cukup mempengaruhi? Budaya yang mengandung unsur tenggang rasa yang tinggi pada orang lain, apalagi jika itu akan melukai atau menyebabkan suasana jadi tidak nyaman. Begitulah kira-kira. Menurut Anda?

Advertisements

Bermain di Taman Pintar

Standard

Bermain selalu identik dengan anak-anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Hampir tiap detik hidupnya, setiap anak di muka bumi ini sebenarnya tidak pernah dari bermain (bahasa edukatifnya; mengeksplorasi). Dan, minggu kemarin, anak saya mengajak saya bermain di Taman Pintar. “Ayo Mah, kita ke Taman Pintar, ” begitu pintanya.

Sebenarnya ini bukan kali pertama baginya mengunjungi Taman Pintar. Melalui acara field trip di sekolahnya pun, Ia dan teman-teman sekolahnya sudah ke sana. Beberapa waktu lalu, saat saya masih di Belanda, sudah berkali-kali mengunjungi ke sana, dengan papanya. Dan namanya juga anak-anak, minggu kemarin, giliran saya ditagih untuk menemaninya ke Taman Pintar, sekali lagi. Bagi saya, ini pengalaman pertama, memasuki Taman Pintar yang berlokasi di Area Shopping (Toko-toko Buku Lama), maaf saya lupa nama jalannya.

Bertiga, menjelang senja, kamipun ke sana. Hmm, Dengan lokasi Taman Pintar yang cukup strategis, dekat dengan area Malioboro, tak butuh waktu lama menuju lokasi. Dan ternyata, tiket masuk untuk anak dan orang dewasa sangat murah (di luar dugaan). Hanya, Rp. 3000,- untuk dewasa, dan Rp. 1500,00 untuk anak-anak. (Tidak mahal bukan?). Taman ternyata didesain semenarik mungkin, dengan setting bermain bagi anak, tapi mengandung unsur edukatif yang cukup kental. Memasuki ruang Oval, anak-anak disuguhi dengan area Dinosaurus, kemudian Planet dan Tata Surya. Pada saat kami mengunjungi, tersedia beberapa atraksi atau eksperimen yang sedang dilakukan. Ada eksperimen tsunami, gempa, tenaga pedal yang menghasilkan listrik, arus litrik dan lainnya. Sayang, beberapa fasilitas yang ada sudah tampak rusak dan tidak bisa digunakan. Setelah keliling sekitar 1 jam, kami pun keluar dan berjalan-jalan sebentar di taman luar.

Tampak jelas terlihat animo masyarakat dari adanya beberapa rombongan dari berbagai sekolah yang mengunjungi Taman Pintar. Fenomena yang menarik. Tak dapat dipungkiri, masyarakat DIY dan sekitarnya sangat-sangat membutuhkan tempat dan area hiburan yang murah, tapi menyogohkan unsur edukatif. Taman Pintar mestinya bisa menjadi alternatif bagi masyarakat DIY dan sekitarnya, terutama anak-anak. Sayangnya, Taman Pintar sendiri yang sebenarnya relatif baru didirikan masih perlu berbenah. Dengan menyodorkan semakin banyak alternatif mainan yang edukatif, dengan kualitas alat yang tidak mudah rusak. Jika hal tersebut dikelola dengan baik, saya sangat optimis, Taman Pintar bisa menjadi aset wisata edukatif yang sangat handal bagi DIY. Monggo Bapak/Ibu Pemda dan Swasta terkait, mari sama-sama kita suguhkan hiburan yang edukatif buat anak-anak kita. Kalau tidak, masa’ iya, hiburannya cuma ke Mall, atau Time Zone. Kan sayang banget tho?

Bahan Bakar Lagi-lagi Langka: Dimana masalahnya?!

Standard

Mencermati fakta sumber bahan bakar masyarakat (tidak hanya minyak tanah, LPG, BBM) yang langka akhir-akhir ini, dan selalu menjadi langka terutama setelah isu kenaikan BBM, ada satu pertanyaan yang mengusik: Mengapa bisa terjadi? Ujung-ujungnya, siapa juga yang harus menanggung kerugian dari semua ini? Jelas, end-consumer, konsumen-konsumen akhir seperti kita-kita ini. Yang notabene, pendapatan terbatas, yang notabene, masih menggantungkan kehidupan dapur dari hidupnya kompor minyak atau kompor gas. Atau yang hanya mengandalkan jasa transportasi kendaraan pribadi (sepeda motor atau mobil) jika ingin kemana-mana (karena in fact, sarana transportasi publik, tidak memadai).

Sudah jamak, pasokan utama bahan bakar sebagian besar masyarakat kita, disediakan oleh sebuah BUMN Minyak Nasional. Sebut saja semacam monopoli, setidaknya sampai saat ini yang terasa seperti itu. Jika ditanya pada BUMN tersebut, apakah produksi dikurangi, sehingga supply yang didistribusikan ke masyarakat, berkurang? Dan kenapa dikurangi, sebagai konsekuensi dari semakin naiknya harga minyak dunia. Hmm, bisa saja. Sah-sah saja (mungkin). Tapi, kenyataan BUMN ini selalu mengklaim, tak pernah mengurangi produksi dan pasokannya. Artinya dari segi produksi, tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan ketika isu kelangkaan LPG besar-besaran terjadi beberapa waktu lalu. Masih saja, BUMN ini menyatakan tidak mengurangi produksi. Untuk diketahui BUMN ini memang tidak menangani distribusi sampai ke konsumen akhir. Karena dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas, distribusi dialihkan kepada berbagai pihak (perusahaan lain) yang bertanggung jawab untuk mendistribusikannya ke tangan konsumen dengan cepat, tepat, dan right quality. Sehingga, ketika terjadi kelangkaan di saluran akhir konsumen, BUMN ini pun dengan tegas (tanpa malu-malu, bilang), wah ini diluar kontrol kami, begitulah kira-kira.

Jika tidak ada pengurangan produksi, kenapa selalu saja ada kejadian langka? Beberapa pihak agen penyalur LPG, minyak tanah mengaku selama ini tidak ada pengurangan pasokan dari BUMN tersebut. Sebagian lainnya, justru sebaliknya. Kenyataannya, pada tingkat pengguna akhir di pelosok/pinggiran, LPG semakin susah didapatkan, dan saat bersamaan minyak tanah semakin langka, BBM naik. Lalu, kenapa bisa terjadi? Dimana masalahnya? Adakah pihak-pihak opportunis yang memanfaatkan kondisi ini semua? Sengaja menimbun? Sengaja menyimpan untuk kemudian dijual pada saat harga sudah naik? Atau sengaja dilakukan untuk memperburuk keadaan dan citra pemerintah sekarang yang sedang galaknya melakukan program konversi minyak tanah ke LPG? Atau? Wallahu ’alam.

Lalu, dimana Pemerintah?

Mengenal Riset Kualitatif

Standard

Berangkat dari riset kuantitatif yang selama ini sudah menjadi semacam tradisi riset di lembaga saya bekerja. Menyimak materi kajian mengenai riset kualitatif membawa nafas segar bagi pikiran. Setidaknya mungkin itu yang dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa (termasuk saya) yang mengikuti kuliah Umum yang diberikan oleh Dr. Bartjan Pennink, Pakar Riset Kualitatif dari Faculty of Economics and Business, Groningen bulan April lalu di MM UGM. Beruntung saya bisa mengikuti acara tersebut.

Apa itu riset kualitatif? Apakah perbedaan mendasar dari riset berbasis kuantitatif? Data yang digunakan kah? Pendekatan yang diambil? Atau apa?

Merujuk teori metode penelitian, sudah jamak dikenal bahwa pendekatan riset yang lazim dilakukan adalah riset kuantitatif dan kualitatif. Riset kuantitatif umumnya digunakan untuk mencari jawaban atas serangkaian argumen awal (dugaan) yang berbasis teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Maka tidaklah mengherankan, pendekatan riset ini biasanya dengan membuat serangkaian hipotesis untuk diuji kebenarannya. Dengan tools statistik (apakah itu uji beda, uji korelasi, uji regresi dan lainnya). Dengan kata lain, pendekatan ini mengajak peneliti untuk membuktikan teori sebelumnya dengan kondisi yang ada sekarang ini (yang sedang diuji), apakah mendukung atau memberikan temuan baru yang lain. Inilah yang disebut dengan explanatory research, mencari penjelasan dari fenomena-fenomena yang ada (umumnya secara statistik).

Bagaimana dengan riset kualitatif, apakah tidak menggunakan data dan serangkaian angka-angka? Secara historis, pendekatan riset ini sangat dikenal dalam penelitian sosial (antropologi, sosiologi) yang mencoba mengungkap dan menggali secara mendalam suatu kondisi atau fenomena sosial tertentu. Dalam perkembangannya, pendekatan ini pun kemudian banyak diadopsi dalam penelitian manajemen/bisnis. Pendekatan kualitatif selalu didasari pada ‘open questions’ atas satu fenomena yang ditemui. Pertanyaan-pertanyaan terbuka dengan kata ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’. Berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang sudah didukung oleh teori-teori established sebelumnya, pendekatan kualitatif biasanya tidak atau belum ada teori basic/kuat yang mendukung. Karenanya, memang pendekatan ini dimaksudkan untuk menggali atau mengeksplor apa yang ada di lapangan. Itulah yang disebut dengan exploratory research. Sehingga, umumnya, tidak memiliki argumen sementara yang akan diuji, tapi justru menyengaja, membuat pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk menggali lebih dalam lagi. Apakah dengan demikian, tidak diperlukan data? Tentu saja, dalam riset kualitatif, data berupa angka, gambar dan lainnya menjadi penguat temuan yang sedang dikaji. Jadi, adalah tidak benar, jika hanya penelitian kuantitatif yang selalu menggunakan angka/data. Sedangkan penelitian kualitatif sama sekali tidak menggunakan angka/data.

Lalu, mana yang baik dipilih? Perlu dicatat, pendekatan atau metode merupakan cara yang dapat dilakukan peneliti untuk mencari jawab/mengungkap suatu fenomena tertentu. Dalam tradisi kuantitatif, tak heran kita sering mendengar, klaim yang menyatakan bahwa penelitian kuantitatiflah yang lebih baik dari kualitatif, karena hasilnya relatif dapat digeneralisir, dan cukup kuat untuk dibuktikan (secara statistik). Sementara disisi lain, klaim dari pihak lain, mengatakan, banyak fenomena sosial yang justru tidak dapat dijelaskan hanya dengan angka/data. Data tidak bisa bercerita dengan sendirinya. Atau, justru banyak fenomena-fenomena perilaku yang tidak terungkap dengan baik, jika diteliti dalam koridor numbering.
Aha, kalau begitu, setiap pendekatan memiliki sisi kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dengan demikian, peneliti bisa tahu kapan dan dalam cakupan riset yang seperti apa suatu pendekatan bisa digunakan. Dan bukan gagahan, mengadopsi sekian banyak pendekatan, padahal sebenarnya yang sederhana sekalipun sudah cukup.

Bagaimana menurut Anda?

PS: Hjertelige bedankt voor Bartjan, yang sudah mendelivery materi kualitatif menjadi begitu simpel, menarik dan sangat mudah dimengerti.

Setelah sekian lama …

Standard

Adakah yang berubah setelah waktu berlalu cukup lama? Hmm, jawabannya sudahlah pasti. Dan itu rasanya yang saya alami, kemarin. Tak terasa, sejak saya memasuki “masa tugas belajar”, artinya saya bebas dari kewajiban mengajar, tetapi justru sebaliknya, menjadi mahasiswa lagi. Awalnya tentu tak mudah. Terbiasa mendelivery informasi, dengan status mahasiswa menjadi pihak yang menerima informasi. Diisi dengan hal-hal baru. Berkutat dengan paper dan kewajiban sebagai mahasiswa. Saya yakin, sesama mahasiswa sudah tahu maksud tulisan saya ini.

Nah, setelah masa berlalu lebih dari satu tahun, terbebas dari kewajiban mengajar, pada kesempatan kali ini, saya diamanhi untuk ‘mengajar’. Hmm, ada yang aneh ketika memasuki kelas pertama kali. Malamnya pun, ketika mempersiapkan silabus, ada yang aneh, berdesir di dada. Hmm, bukan aneh pada materi yang baru. Jelas, materi yang akan diajar, ini adalah materi ajar yang sudah digeluti sekian tahun. Jadi, bukan barang baru. Tapi, mungkin karena sudah setahun tidak mengajar, tidak mempersiapkan materi, tidak bertemu wajah-wajah mahasiswa, jadi … rasa aneh itu muncul.

Dan benar saja, ada kenikmatan tersendiri begitu memasuki ruangan kelas. Bertemu dengan wajah-wajah segar yang haus akan ilmu, wajah-wajah yang penuh aura semangat. Nikmat rasanya mengajar, setelah sekian lama ‘off’. Apa ini juga berarti hidup perlu variasi? Ada kalanya diisi dengan udara segar, ada kalanya berbagi apa yang dimiliki?

Setelah sekian tahun tak mengajar, sungguh nikmat rasanya masih bisa berbagi. Alhamdulillah, masih Tuhan beri saya kesempatan untuk berbagi.

Kemarin dan Besok

Standard

Apa yang terjadi kemarin dan akan terjadi besok?
Mengapa dua kata ini menarik saya tulis disini.

Kemarin dan besok, keduanya adalah kata yang menunjukkan keterangan waktu. Semua orang tahu, apa yang disebut kemarin. Tentunya, hari yang sudah berlalu, satu hari saja sebelum hari ini. Dalam bahasa lain disebut “yesterday”. Dalam bahasa Indonesia, jelas, kemarin, adalah hari sebelum hari ini (today).

Lalu bagaimana dengan besok?
Besok atau tomorrow (dalam bahasa Inggris), menunjukkan waktu setelah hari ini. Misal, hari ini adalah hari Selasa, berarti besok adalah Rabu. Jika hari ini adalah Minggu, besok adalah Senin dan kemarinnya berarti Sabtu. Cukup jelas dan kongkrit.

Dalam praktek keseharian, tak sejelas itu penggunaan dua kalimat itu. Setidaknya ini kesan yang sering saya temui saat studi lapangan. Dimana saat itulah saya banyak ngobrol (interview) dengan para pelaku UKM dari berbagai latar belakang pendidikan dan budaya. Menarik untuk saya tulis disini, karena yang terjadi, saya perlu waktu yang tidak sedikit untuk membiasakan diri dengan penggunaan yang lain.

“Wah bisnis saya itu sukses banget, Mbak, kemarin-kemarin itu”.
“Kemarin itu, pesanan bisa datang terus-menerus.”
“Ya, perusahaan saya itu, kemarin, ada dua cabang. Sekarang ini ya sudah tinggal satu ini. Ngga tau, besok itu gimana ya … Kondisi bisnis sedang lesu seperti ini”.

Begitulah beberapa penggalan pembicaraan saya dengan beberapa pemilik UKM yang Alhamdulilah, masih bersedia untuk ngobrol dengan saya. (Sekali lagi, terima kasih Bapak/Ibu UKM yang mau sharing ilmunya).

Jika saya pakai pengertian definisi waktu yang sudah saya tulis di atas, wah wah, bisa bisa informasi yang akan saya terima bias. Jadi saya perlu lakukan elaborasi lebih lanjut. Inilah yang saya pelajari dari mengikuti course Metode Interview tahun lalu. Dan jadi ingat, pertanyaan yang menjadi favorit temen-temen di kelas, adalah “Can you please elaborate more?” …

Ternyata, setelah mengelaborasi, barulah saya tahu, bahwa kemarin itu tidak sama dengan hari sebelum hari ini. Melainkan, masa-masa dimana usaha yang dijalani sedang jaya, Dan itu adalah masa pada tahun 1996-1997an. oO. Sudah cukup lama … Dan besok, apakah sama dengan tomorrow (the day after today?), ternyata juga tidak. Besok adalah ungkapan yang menunjukkan masa yang akan datang. Masa depan bisnis yang ada.

Itulah indahnya bahasa. Sama tulisan, sama ucapan ternyata mengandung sejuta makna yang tidaklah sama. Nah, biar tidak salah paham, ngga ada salahnya mengelaborasi. So, can you elaborate more, please …

Rumah Lukisan si Kecil

Standard

Beberapa waktu lalu, kami bertiga menyempatkan ‘bersih-bersih’ rumah. Sebenarnya, tidak susah untuk membersihkan rumah kami yang sederhana ini. Wong begitu masuk, begitu keluar juga, itulah ungkapan yang saya sering keluarkan, untuk melukis how small my house is. πŸ˜‰ Tapi, hasil bersih-bersih kali ini memberikan nuansa yang berbeda. Ternyata, cukup banyak lukisan si kecil, Mila yang sudah bertengger di dinding rumah. Sampai bingung mau ditempel dimana. Ya karena hampir semua dinding sudah penuh dengan lukisan yang dibuatnya. Meskipun terkadang butuh waktu yang sangat tidak sebentar. Itulah anak kecil.

Sempat suatu ketika, seorang teman yang berkunjung berujar, “Wah, kenapa ngga dibuatkan pameran aja Rul, untuk lukisan-lukisan Mila.” oO. Bener juga ya. Hmm, tapi mungkin tidaklah dalam waktu dekat. Karena lukisannya belum terlalu banyak untuk sebuah pameran. Tapi bolehlah membuat niat ke sana. Someday ya Nduk.

Nah, untuk sementara waktu, lukisan-lukisan yang sudah dibuat, difoto dan dikoleksi oleh Papanya, lalu dibuatkanlah sebuah website untuk tempat lukisan-lukisan tersebut. Sebagian sudah terupload, sebagian masih harus bersabar. Karena tak mudah upload gambar dengan speed Internet yang segitu-segitunya aja. Sabar ya.

Tertarik mengintip seperti apa lukisan-lukisan gadil mungil, bernama Aqila Salma Kamila? Yuk, datang ke Rumah Lukisan nya, di:

http://aqilasalmakamila.wordpress.com

Selamat menikmati.
Doain Mila, selalu semangat menuangkan ide-idenya ya, Pembaca. πŸ˜‰