Bahan Bakar Lagi-lagi Langka: Dimana masalahnya?!

Standard

Mencermati fakta sumber bahan bakar masyarakat (tidak hanya minyak tanah, LPG, BBM) yang langka akhir-akhir ini, dan selalu menjadi langka terutama setelah isu kenaikan BBM, ada satu pertanyaan yang mengusik: Mengapa bisa terjadi? Ujung-ujungnya, siapa juga yang harus menanggung kerugian dari semua ini? Jelas, end-consumer, konsumen-konsumen akhir seperti kita-kita ini. Yang notabene, pendapatan terbatas, yang notabene, masih menggantungkan kehidupan dapur dari hidupnya kompor minyak atau kompor gas. Atau yang hanya mengandalkan jasa transportasi kendaraan pribadi (sepeda motor atau mobil) jika ingin kemana-mana (karena in fact, sarana transportasi publik, tidak memadai).

Sudah jamak, pasokan utama bahan bakar sebagian besar masyarakat kita, disediakan oleh sebuah BUMN Minyak Nasional. Sebut saja semacam monopoli, setidaknya sampai saat ini yang terasa seperti itu. Jika ditanya pada BUMN tersebut, apakah produksi dikurangi, sehingga supply yang didistribusikan ke masyarakat, berkurang? Dan kenapa dikurangi, sebagai konsekuensi dari semakin naiknya harga minyak dunia. Hmm, bisa saja. Sah-sah saja (mungkin). Tapi, kenyataan BUMN ini selalu mengklaim, tak pernah mengurangi produksi dan pasokannya. Artinya dari segi produksi, tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan ketika isu kelangkaan LPG besar-besaran terjadi beberapa waktu lalu. Masih saja, BUMN ini menyatakan tidak mengurangi produksi. Untuk diketahui BUMN ini memang tidak menangani distribusi sampai ke konsumen akhir. Karena dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas, distribusi dialihkan kepada berbagai pihak (perusahaan lain) yang bertanggung jawab untuk mendistribusikannya ke tangan konsumen dengan cepat, tepat, dan right quality. Sehingga, ketika terjadi kelangkaan di saluran akhir konsumen, BUMN ini pun dengan tegas (tanpa malu-malu, bilang), wah ini diluar kontrol kami, begitulah kira-kira.

Jika tidak ada pengurangan produksi, kenapa selalu saja ada kejadian langka? Beberapa pihak agen penyalur LPG, minyak tanah mengaku selama ini tidak ada pengurangan pasokan dari BUMN tersebut. Sebagian lainnya, justru sebaliknya. Kenyataannya, pada tingkat pengguna akhir di pelosok/pinggiran, LPG semakin susah didapatkan, dan saat bersamaan minyak tanah semakin langka, BBM naik. Lalu, kenapa bisa terjadi? Dimana masalahnya? Adakah pihak-pihak opportunis yang memanfaatkan kondisi ini semua? Sengaja menimbun? Sengaja menyimpan untuk kemudian dijual pada saat harga sudah naik? Atau sengaja dilakukan untuk memperburuk keadaan dan citra pemerintah sekarang yang sedang galaknya melakukan program konversi minyak tanah ke LPG? Atau? Wallahu ’alam.

Lalu, dimana Pemerintah?

One thought on “Bahan Bakar Lagi-lagi Langka: Dimana masalahnya?!

  1. Kan banyak energi alternatif. Ada kayu bakar, air terjun, matahari, angin pantai. Ini belum terpikirkan.

    Mengenai di mana BBM? .. entahlah. Biasanya juga ngilang.

    Di mana pemerintah? Yoooo .. dr JKT sampai balai desa ada di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s