Yang namanya lupa …

Standard

Lupa. Siapa sih yang tidak pernah lupa? Saya yakin setiap kita, sepanjang perjalanan hidupnya, pernah melakukan hal yang disebut lupa. Dan hal ini merupakan sunnatullah. Terima kasih pada Tuhan yang menciptakan rasa lupa. Bayangkan, jika kita tidak pernah lupa atas semua yang terjadi dalam kehidupan kita. Wah wah …

Banyak orang beranggapan lupa adalah hal sepele dan sederhana. Mungkin demikian, jika akibat kelalaian atau kelupaan yang kita lakukan, hanya terkait dengan kepentingan sendiri. Misal, lupa bawa kaca mata, padahal mata kita sangat tergantung pada kaca mata. Lupa sarapan. Kalau toh, apes, perut sakit, setidaknya yang merasakan akibatnya, minimal diri sendiri. Tapi bagaimana jika terjadi dalam lingkup organisasi atau perusahaan, dimana disitulah interaksi dengan pihak-pihak luar sangat terkait. Dapatkah cukup dimaklumi?

Saya jadi teringat peristiwa kemarin pagi, Selasa 24 Juni 2008. Pagi itu, saya tergopoh-gopoh berangkat ke kantor, karena ada jadwal menguji thesis mahasiswa. Tepat pukul 07.00. Sudah mruput-mruput begitu, tibalah saya di tempat sidang mahasiswa. Suasana yah biasa saja. Saya dan kolega yang akan menguji lalu memasuki ruang ujian. Tak terlihat mahasiswa yang akan diuji, yang biasa duduk di luar menunggu dipanggil. Yang justru ikut masuk adalah staf akademik yang sangat kami kenal wajahnya. Dengan wajah seperti putus asa, si Mbak ini, duduk di hadapan kami. “Lho, Mbak, ada apa? Kok rasa-rasanya ada yang ngga beres nih”, tanya saya waktu itu. Dan benar saja, si Mbak pun, menjelaskan duduk perkaranya. Oalahhhh … ternyata si Mbak ini melakukan hal yang ’sepele’ yaitu lupa menginformasikan kepada mahasiswa yang akan diuji. Si Mbak pun, dengan sangat meminta-minta permohonan maaf dari kami. Sampai-sampai, kalau mau dihukum apapun oleh Bapak dan Ibu, saya terima, begitu Si Mbak mengharap dengan wajah tertunduk. Ohh. Saya dan kolega jadi speechless. Mau marah kok ya tidak menyelesaikan masalah. Tapi untuk puas, juga tidak ada yang bisa dianggap good news dalam keadaan yang unsatisfied seperti itu. Yah, lalu kamipun berembug lagi me-reset jadwal ujian yang jujur sangat tidak mudah menentukan waktunya.

Saya sempat berpikir, kenapa bisa lupa? Kita sepakat lupa adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi jika sudah terkait dalam lingkup organisasi, bagi saya ini menjadi hal yang patut dibenahi. Adakah kesalahan dalam standar operating procedure di lembaga tersebut yang diterapkan? Dimanakah pengendalian proses yang bisa menghindari kealpaan individu semacam itu? Apakah hal itu dapat dijadikan indikasi overload-nya seorang staf dengan pekerjaan yang dibebankan? Untungnya (ini kalau orang Jawa berfikir), konsekuensi dari kealpaan staf tidak berakibat fatal. Fatal dalam arti kerugian waktu yang suangat besar atau hilangnya nyawa seseorang. Tapi juga tidak bisa dikatakan tidak merugikan. Sangat. Coba kalau kealpaan tersebut terjadi pada perusahaan yang sangat sarat dengan ketepatan. Misal di jasa penerbangan, seorang staf lupa mengecek avtur (bahan bakar pesawat) sebelum tinggal landas (seingat saya ini pernah terjadi). Seorang dokter lupa kalau jam 10.00 ada jadwal operasi kritis. Seorang koki lupa mematikan kompor dan pergi begitu saja dari restoran. Bayangkan akibat fatal yang akan terjadi. Bisa jadi sekian banyak kecelakaan fatal di bumi ini berangkat dari kealpaan yang dilakukan individu. Jadi, masihkah layak, alpa dianggap hal sepele dan akhirnya dimaklumi? Maka, berhati-hatilah dari sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s