Tidak lulus, apa artinya?

Standard

Beberapa waktu lalu, suasana menjadi begitu menegangkan bagi sebagian besar generasi muda bangsa ini. Mereka adalah calon lulusan SMP dan SMA yang bersiap-siap menapaki jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang lulus, hiruk-pikuk kegembiraan, walaupun sesaat tak terelakkan lagi. Bagi yang apes dan tidak lulus, alamat petaka dan habislah dunia ini. Begitulah kira-kira gambaran sebagian besar yang terjadi di generasi muda pada saat kelulusan.

Disisi lain, mendengar dan membaca berita dari berbagai media massa tentang hal ini, membuat prihatin juga. Diberitakan, sebuah sekolah swasta di daerah tertentu di luar Pulau Jawa menyatakan bahwa tingkat kelulusan hanya 50%. Atau bahkan yang lebih tragis lagi, tingkat ketidaklulusan mencapai 100%. Sungguh sangat-sangat memprihatinkan. Mengapa bisa terjadi?

Jika sebuah sekolah dipandang sebagai mesin produksi. Setidaknya ada tiga komponen mendasar dalam mesin produksi yang menentukan baik-tidaknya proses produksi yang dilakukan. Yaitu input, proses dan output. Input bagi sekolah adalah siswa lulusan jenjang pendidikan sebelumnya. Kalau SMP, berarti inputnya adalah siswa lulusan SD atau yang setara dengannya. Input SMU adalah siswa-siswa lulusan SMP dan yang sederajat. Komponen kedua, proses dari mesin produksi itu sendiri. Dalam proses akan sangat ditentukan dari mesin produksi yang digunakan, apakah masih cukup baik? Atau sudah out of date. Mesin tua yang masih saja dipertahankan. Metode proses produksi yang diterapkan. Pelaksana atau yang menjalankan proses produksi itu sendiri, missal karyawan, teknisi atau dalam konteks sekolah adalah para guru. Serta fasilitas-fasilitas lain yang menunjang proses produksi. Komponen terakhir adalah output produksi. Dalam hal ini adalah siswa yang lulus dan tidak lulus. Idealnya dan sesuai harapan, mesin produksi mampu menciptakan output dengan 100% good quality, artinya tidak ada deffect (ie. siswa yang tidak lulus). Yang hal ini tentu akan sangat ditentukan pada kualitas input, kualitas proses dan akhirnya kualitas output itu sendiri. Kenyataannya, simpangan atau error menjadi hal yang wajar dalam sebuah proses. Untuk perusahaan manufaktur, tingkat kegagalan berkisar 10% masih berada dalam batas toleransi. Meskipun, di berbagai perusahaan, misal di Jepang, 0% deffect menjadi suatu keharusan dengan penerapan just in time (JIT)-nya selama ini.

Lalu, jika ketidaklulusan menjadi lebih dari 50%? Dan bahkan 100%? Tidakkah ini mencerminkan hal yang sangat tidak wajar? Dimanakah sumber masalah sebenarnya? Inputnya kah, yang sudah sedemikian jelek? Yang hal ini juga berarti mencerminkan mutu output dari proses produksi jenjang sebelumnya. Atau justu di proses produksinya itu sendiri. Kalau toh memang input ada yang outlayer, proses yang ada tidak sempurna, tapi ya masak outputnya bisa 100% gagal/deffect. Ini kan sungguh sangat-sangat memprihatinkan.

Rasanya tidak berlebihan kalau kita menganggap bahwa hal ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk mencermati dan memperbaiki sistem pendidikan kita selama ini. Kalau tidak dari kita, dan sekarang, lalu … siapa dan kapan lagi? Generasi mendatang adalah investasi kita saat ini.

2 thoughts on “Tidak lulus, apa artinya?

  1. dear miss nurul,
    sy setuju dengan pernyataan mb, tentang input-proses-output. tingkatan pendidikan harus berani mempunyai standart output yang bisa di jual, di bawah standart harus diproses ulang atau bahkan di reject. demikian juga dengan standart guru, dan yang terpenting adalah inovasi dalam proses/metode pembelajaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s