Kemana restauran Indonesia?

Standard

Tulisan ini merupakan rangkuman peristiwa yang telah terjadi beberapa waktu lalu. Entah mengapa saya ingin menuangkannya pagi ini, sambil nunggu jadwal bis ke kantor.

Akhir bulan Oktober lalu (akhir pekan), RuG PhD committee mengadakan excursion untuk lebih menjalin keakraban di antara sesama PhD dari berbagai latar belakang dan negara. Tak kurang dari 60-an orang berpartisipasi dalam acara tersebut. Excursion dimulai dari olahraga bowling di Kardinge sport center, Groningen, dari pukul¬† 17.00-18.30. Sungguh sangat menyenangkan. Rasanya relaks, bisa melempar bola bowling yang berat dan mengenai pion-pion yang seakan menantang untuk ditendang. Byaarrr … kennaa deh tuh pion. Skor pun okay. hehehe. Sayangnya, pagi harinya badan serasa hancur lebur, dan kaku-kaku. Konsekuensi orang yang tidak pernah olah raga. Begitulah.

Menjelang malam, rombongan menuju restoran untuk menyantap hidangan dinner. Ternyata yang dipilih adalah Chinese Restaurant yang fancy dan elegan. Hmm, bisa dibayangkan menunya sangat enak. Saya pun memilih tempat duduk, bergabung dengan beberapa rekan yang lain. Acara standar pembukaanpun dimulai. Lalu, kamipun mulai mengambil makanan sendiri sesuai selera. Saat itu, restoran cukup dipadati oleh para penikmat makanan. Maklum, weekend dan cuaca masih bersahabat. Tak terlihat kursi yang kosong.

Di tengah asyiknya menyantap hidangan, saya sempat berbisik dengan temen yang kebetulan orang Indonesia, wah, kenapa ya tidak di restoran Indonesia. Toh menu dan rasa makanannya kalau dipikir-pikir juga sama aja. Komentar saya ke teman saya. Lalu, dijawab, lha, emang ada restoran Indonesia kayak begini di Groningen? hmm, iya ya … Dimana restoran Indonesia kita?

Eh, tidak berapa lama dari itu, rekan lain yang orang Belanda yang tengah asyik menyantap menu ala kodok berujar, yang kira-kira begini:¬† “wah, sebenarnya masakan di sini ndak jauh beda, dengan masakan-masakan Indonesia lho. These food are not really Chinese food. It really similar to Indonesian tastes. But where is the Indonesian restaurant like here in Groningen?

Wah wah, ternyata komentarnya sama persis dengan yang sedang dibicarakan oleh saya dan teman Indonesia tadi. Dan sesaat kamipun saling berpandangan. Kenapa harus Cina? Sebagai informasi, di Groningen saja, sudah terdapat tiga restauran lumayan berkelas termasuk salah satunya adalah restauran yang dipilih oleh pihak PhD committee. Restauran Indonesia? Hmm, seingat saya hanya ada 2 restauran yang mungkin lebih tepat disebut “warung makan” Indonesia. Karena dari segi menu, penyajian, luas tempat jauh bisa disebut sebagai restauran yang elegan dan mengundang daya tarik pengunjung untuk menikmatinya, apalagi untuk moment/event tertentu. Kenapa ya Restauran Indonesia? Dimana pengusaha Indonesia berinvestasi? Someday, kalau ada duit nih, rasa-rasanya saya bercita-cita untuk buat restoran Indonesia di negeri orang. Upsss, mengkhayal bukan-bukan. Udah ah … ngebisssss.

Advertisements

Determining sustainability

Standard

Hari ini (Kamis, 20 Nopember 2008) saya mengikuti workshop Determining and Measuring SUstainability di Hamsphire Hotel, Groningen. Salah satu pembicaranya adalah calon PhD yang sore harinya akan segera dikukuhkan, Mark McElroy. Sudah cukup banyak buku atau tulisan-tulisan McElroy tentang knowledge management dan sustainability innovation.

Sustainability atau dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya sebagai kesinambungan, masih merupakan hot issue saat ini. Erat hubungannya dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberlangsungan ekosistem di muka bumi ini, sejalan dengan meningkatnya kerusakan-kerusakan yang terjadi. Dalam pemaparannya McElroy menawarkan sebuah pendekatan untuk mengukur sustainability. Ukuran-ukuran yang sudah berkembang selama ini, jika ditinjau dalam kajian epistemologi memuat tiga hal utama: aspek normatif, aspek deskriptif dan aspek normatif yang lain. Artinya? McElroy menegaskan bahwa sampai sejauh ini belum ada ukuran-ukuran sustainability yang menyentuh dasar apa yang sebenarnya perlu diukur dalam kajian sustainability.

McElroy menawarkan sebuah pendekatan baru yang diberi nama Social FootPrints Method, matriks untuk mengukur social sustainability performance baik terutama dalam level organisasi. Menurutnya, pengukuran sustainability dapat dilakukan dengan berdasar pada apa yang disebut dengan Triple Bottom Line yaitu environment bottom line, economic bottom line dan social bottom line. Ketiga aspek tersebut akhirnya akan menentukan kinerja sustainability yang ujungnya akan berimbas pada sisi financial bottom line pihak yang diukur.

Moga aja pendekatan baru yang ditawarkan McElroy dengan menyentuh aspek sosial melengkapi pendekatan-pendekatan terutama untuk mengukur sustainability yang sudah dikembangkan selama ini. Bagaimana dengan konsep ini di Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang?