Overload?

Standard

Apa itu overload? Kelebihan beban atau pekerjaan yang dialami oleh seseorang, itulah kira-kira apa yang disebut dengan ‘overload’. Basically, setiap kita punya kapasitas (terpasang) yang sudah diberikan yang Maha dari segala Maha. Ibarat mesin, kapasitas yang kita milikipun bisa digunakan untuk menghasilkan apapun yang diinginkan oleh si empunya kapasitas.

Dalam manajemen operasi, kapasitas (capacity) dikenal dengan output atau keluaran yang dihasilkan dari sebuah mesin produksi pada satuan waktu atau periode tertentu. Bisa dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu dst. Ambil contoh, sebuah mesin produksi untuk mencetak kertas. Dalam satu hari (8 jam kerja efektif) mesin dirancang untuk menghasilkan 10000 eksemplar kertas. Ini yang disebut dengan design capacity. Kapasitas sudah diukur dengan mempertimbangkan usia hidup mesin, dan kontinuitas produksi, juga biaya minimal dengan output tertentu. Jika ‘dipaksa’, mesin dapat saja berproduksi melebihi output yang direncanakan tersebut. Ini yang disebut dengan maximum capacity, yaitu output yang dihasilkan pada periode tertentu dengan mengerahkan segenap sumber daya. Tak menutup kemungkinan, dalam kondisi-kondisi tertentu, semisal musim awal studi dimana permintaan terhadap kertas meningkat, maka perusahaan ‘memaksa mengejar setoran’ dengan memaksimalkan kapasitas yang ada. Perlu dicatat, yang seperti ini, biasanya dalam kondisi-kondisi tertentu. Karena jika tidak? Mesin pun juga manusia … begitulah kira-kira. Apa yang terjadi? Masa hidup mesin akan dipaksa menjadi sangat pendek.

Ilustrasi sederhana di atas yang terjadi dalam konteks mesin, pun terjadi dalam konteks manusia, indeed. Kelebihan pekerjaan atau beban kerja yang dirasakan seseorang akan sangat mempengaruhi kondisi fisik dan mental si pelaku. Akibatnya? Overload. Ya, ‘penyakit’ ini menjadi cukup familiar di telinga saya beberapa bulan terakhir ini. Kenapa? Beberapa waktu lalu, PhD coordinator SOM membuat pengumuman masa kerjanya yang sangat terbatas dan harus mengambil long-break, karena menurut dokter, beliau mengalami overload. Jika dalam sehari otak ‘dipaksa’ berfikir lebih dari 4 jam, akibatnya pusing, mual, segera menyerbu. Tak berapa lama dari itu, direktur sekolah dasar Internasional dimana anak saya mau sekolah di sana, juga mengalami hal serupa. Wow, coincident? atau memang sudah menggejala?

Jika mesin saja ada ‘masa hidup’, apalagi manusia ya? So, berhati-hatilah. Hanya kita yang tahu, seberapa besar kapasitas ‘mesin’ diri kita, sehingga tidak sampai batas overload, dan harus ‘off’ segalanya. Mumpung masih ada waktu, mumpung masih seperti ini, tak ada salahnya menjaga.

Selamat mengukur kapasitas diri untuk hidup yang lebih bermakna.πŸ™‚

2 thoughts on “Overload?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s