Busana Sejuta Umat

Standard

Tak hanya kyai yang menyandang predikat ‘sejuta umat’ (baca: Allahu yarham KH. Zainuddin MZ), tetapi predikat tersebut dapat pula kita sematkan untuk busana: ‘busana sejuta umat’, alias busana yang dapat dipakai banyak orang. Dalam bahasa manajemen, ini adalah produk massal. Ciri khas produk seperti ini adalah dijual dengan harga terjangkau, tersedia di banyak tempat, dan mempunyai variasi yang terbatas. Busana muslim produksi Safirah Collection masuk dalam kategori ini. Lihat  www.safirahcollection.com.

Mini Batwing CardiganSafirah Collection adalah perusahaan busana muslim milik Wiwik Dwi Lestari yang memproduksi (khususnya) busana muslim berbahan spandek rayon super T dengan pilihan 30 warna polos. Bahan spandek dipilih dengan alasan berkualitas baik dan dingin sehingga nyaman dipakai. Berangkat dari usaha kecil-kecilan dengan memproduksi kain pel untuk pabrik berbahan perca saat krisis moneter tahun 1998 lalu, Wiwik melihat peluang untuk mengembangkan usahanya merambah ke dunia fesyen.

Busana muslim kreasi Safirah dijual dengan harga terjangkau, dapat dibeli di berbagai outlet (showroom, toko, mal), dan memiliki variasi yang terbatas (dari segi ukuran, warna, maupun model). Tentu yang terakhir ini terbatas waktu, yang bisa jadi cukup pendek. Model yang sudah tidak ‘in’, tidak akan diproduksi lagi, dan digantikan dengan model yang lain. Untuk merespon permintaan khusus (ukuran jumbo untuk model yang sudah ada, misalnya), Safirah mempersilakan konsumen untuk mendatangi showroomnya.

Saat ini, produk Safirah sudah dapat dijumpai di pertokoan-pertokoan di berbagai kota di Indonesia. Produknya cukup diminati konsumen dari kalangan muda atau mereka yang berjiwa muda. Karenanya, Wiwik memposisikannya sebagai busana gaul. Pasar produk ini biasanya ‘cepat bosan’ dan ingin mencoba model baru, sehingga jika harga produk tidak mudah terjangkau, mereka akan berpikir lebih dari dua kali ketika akan membeli.

Dalam produksi massal, menjadi penting bagi perusahaan untuk selalu menjaga efisiensi, dengan menekankan pada economies of scale. Umumnya, produk seperti ini menyasar kelas menengah ke bawah, mereka yang sensitif terhadap harga. Porter membagi tiga strategi umum perusahaan untuk memenangkan persaingan: unggul di biaya (cost leadership), diferensiasi (differentiation), dan/atau kecepatan dalam merespon (quick response). Merujuk tipe strategi a la Porter ini, Safirah dapat dikategorisasikan mengikuti strategi unggul di rendah. Prinsip utama strategi ini adalah bagaimana perusahaan dapat menghasilkan produk dengan biaya rendah atau seefisien mungkin. Karena ujungnya adalah harga yang kompetitif bagi konsumen.

Apa tantangannya? Mencari makanan yang murah di Yogyakarta, misalnya sangat mudah. Tetapi mencari makanan yang murah dan enak, tidaklah mudah. Ini juga yang terjadi dalam bisnis busana massal. Karenanya, untuk menjaga kepuasan ‘umat’ dan memperbesar pasar, disamping memastikan efisiensi produksi, hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Tanpa kualitas yang terjaga, produk massal akan dijauhi oleh pasar, umatnya. Karena produk ini juga sensitif dengan perkembangan ‘selera pasar’, yang tidak jarang diinspirasi oleh selebritas (semacam Jumpsuit Inneke dan Talita), produsen pun dituntut selalu kreatif. Kreativitas desain produk massal adalah komponen kualitas.

Catatan Bincang Bisnis #3, 22 April 2013 (TVRI Yogyakarta) dengan Wiwik D. Lestari, Safirah Collection

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s