Ketika Solusi Generik Tidak Selalu Manjur

Standard

Usaha kecil dan menengah (UKM) telah lama dipahami memiliki peran signifikan bagi pembangunan ekonomi suatu negara. Secara spesifik, keberadaan UKM mampu mengentaskan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB). Seiring dengan meningkatnya kompetisi bisnis, terutama persaingan terhadap perusahaan besar dan modern menempatkan UKM dalam posisi yang rentan. Di Indonesia, hampir sebagian besar UKM beroperasi secara tradisional di lini produksi dan pemasaran. Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, permasalahan-permasalahan utama yang dihadapi UKM bukan karena ukurannya yang kecil tetapi karena isolasi yang menghambat akses UKM pada pasar, informasi, modal dan dukungan institusional.

Selama ini pembinaan UKM di Indonesia sering dilakukan dengan pendekatan “gebyah uyah” (one size fits all). Artinya pembinaan yang dilakukan tidak dibedakan kebutuhannya yang spesifik. Dengan pemetaan permasalahan dasar, strategi pembinaan yang tepat dapat dirumuskan dengan tepat pula. Analogi sederhananya, jika seseorang menderita suatu penyakit, tentunya perlu diidentifikasi secara tepat jenis penyakit yang diidap. Tidak semua solusi generik yang diberikan dapat menyelesaikan beragam masalah.

Pemahaman yang baik akan peta inti permasalahan dapat membantu pemerintah atau pengambil kebijakan merumuskan dan menetapkan pola pembinaan UKM yang tepat sasaran.  Oleh karena itu, menjadi relevan dan penting untuk memikirkan pembinaan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Salah satu pendekatan yang dapat dipilih adalah dengan melakukan pengelompokan (clustering). Pengelompokan ini nantinya akan membantu dalam mendesain program pembinaan yang tepat sasaran dan tepat metode. Paling tidak terdapat dua metode pengelompokan yang dapat dijalankan secara berbarengan, yaitu (a) pengelompokan berbasis masalah (problem-based clustering) dan (b) pengelompokan berbasis orientasi (orientation-based clustering). Pengelompokan ini juga bisa disaling-silangkan.

Pengelompokan berdasarkan masalah mengacu pada kendala-kendala yang dihadapi oleh UKM terkait modal, sumber daya manusia, kreativitas, teknologi, manajemen, dan sebagainya. Namun semuanya perlu dibuat spesifik. Misalnya, masalah kreativitas apa yang spesifik. Jika masalah (bagi UKM yang sudah menjalankan) atau orientasi (yang akan menjalankan) pengusaha mebel yang (akan) menyasar ekspor ke negara Italia, misalnya, ada baiknya pendampingan ditekankan kepada pemahaman selera pasar Italia. Termasuk di dalamnya, misalnya, proses pengawetan bahan baku yang tahan terhadap cuaca di empat musim.

Pengelompokan berdasarkan orientasi merujuk pada visi masa depan yang dimiliki oleh pemilik UKM itu sendiri. Sebagai contoh, tidak sedikit pemilik UKM yang berorientasi untuk lebih mengembangkan usaha yang dijalankannya. Yang tadinya hanya fokus pada pasar lokal, memutuskan untuk melakukan ekspansi ke pasar internasional. Namun, di sisi lain, ada pula pemilik UKM yang sudah merasa puas dengan apa yang dicapainya. Kepuasan pencapaian yang didasarkan pada parameter-parameter non keuangan. Sepanjang usaha yang dijalankan mampu menghidupi kebutuhan keluarga, menyekolahkan anak-anaknya hingga mendapatkan gelar sarjana, mereka sudah merasa cukup. Atau, ada juga mereka yang sudah cukup puas jika usaha yang dirintisnya mampu memberikan keberkahan bagi lingkungan sekitar. Memberikan pelatihan menembus pasar ekspor kepada mereka yang disebut belakangan nampaknya menjadi kurang relevan. Hal ini mirip dengan memberikan obak pilek kepada mereka yang sakit perut.

Dengan mengelompokkan UKM secara spesifik, nampaknya dampak beragam program pendampingan atau pembinaan akan bisa ditingkatkan. Pemerintah, saya yakin juga tidak mungkin jalan sendiri. Karenanya, perlu menggandeng pihak lain yang mempunyai ‘solusi spesifik’, seperti asosiasi industri, lembaga swadaya masyarakat, dan universitas.

Setujukah Anda?

2 thoughts on “Ketika Solusi Generik Tidak Selalu Manjur

  1. sangat setuju bagus, sama dengan pemikiran saya selama ini , terima kasih (hasto wardoyo-dokter spesialis kebidanan kandungan-konsultan bayi tabung- bupati kulonprogo-DIY)

  2. untuk menganalisis akar penyebab kemiskinan sebetulnya sebagai unit analisis terkecilnya adalah keluarga atau KK, sehingga profil KK miskin bisa dipetakan satu persatu, dari situ bisa dilakukan diagnosis spesifik penyebab kemiskinan, baru diberikan drug of choice….insyaAlloh akan memberikan daya ungkit terapi yang signifikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s