Menjual Konsep dalam Bisnis Fotrografi

Standard

A picture is worth a thousand words. Satu gambar bernilai sama dengan seribu kata. Inilah mengapa kenangan akan lebih berbekas jika disajikan dalam bentuk foto. Meski dengan kamera yang tepat, hasil jepretan seorang fotografer amatir dapat seberkualitas dengan yang profesional, namun jarang sekali orang yang ‘berani’ mempercayakan dokumentasi momen berharga kepada fotografer amatir. Terlalu mahal harganya jika momen tersebut hilang tanpa bekas yang berkualitas dalam foto.

Peluang inilah yang ditangkap dengan jeli oleh para fotografer komersial dengan menawarkan layanan fotografi yang berkonsep. Foto yang dihasilkan tidak hanya hasil ‘asal’ jepret, tetapi didasarkan pada konsep spesifik sesuai dengan keinginan konsumen. Momen yang dilayani pun sangat beragam, tidak hanya ketika bahagia seperti pernikahan, ulang tahun atau wisuda, tetapi juga merambah momen penting lain, seperti pemakaman.

Inilah yang dilakukan oleh Misbahul Munir dengan http://www.poetrafoto.com-nya yang sukses dalam menjual konsep foto dalam bisnis fotografi. Misbah memulai bisnis foto komersial karena pengetahuannya di bidang fotografi terasah sejak Misbah menjadi peliput berita di tempat kerja sebelumnya. Akhirnya, ketertarikan di bidang foto meningkat dan diwujudkan dengan membeli sebuah kamera. Secara bertahap Misbah dengan bersemangat menjual konsep produk fotonya untuk acara-acara khusus seperti pertunangan dan pernikahan kepada konsumen dari kalangan terdekat. Karena ‘gethok tular’, dari satu pelanggan ke pelanggan lain, nama poetrafoto pun menjadi lebih dikenal. Misbah cukup cerdas dalam menyajikan konsep produk dalam foto kepada para calon konsumennya. Mengingat, perlu dicatat fotografi komersial di era digital seperti saat ini tingkat persaingan bisnisnya cukup tinggi. Continue reading

Advertisements

Kreativitas dalam Bisnis Hijau

Standard

Perca, menurut kamus bahasa Indonesia berarti sisa-sisa kain yang sudah tidak digunakan dari suatu proses produksi. Siapa sangka bahan sisa-sisa produksi ini menjelma menjadi sesuatu yang bernilai dan laku pasaran. Perlu seseorang dengan kreativitas tinggi untuk mengubah sesuatu yang dianggap tidak berharga menjadi bernilai. Itulah yang dilakukan oleh M. Mahmud di Rumah Perca yang didirikannya pada tahun 2006. Mahmud cukup cerdas membaca adanya peluang ini dan dengan kreativitas yang dimilikinya, kain-kain yang terbuang dapat disulap menjadi hal yang menguntungkan.

Mahmud bersama dengan sekitar 20 perajin berkreasi menghasilkan berbagai produk seperti sprei, selimut, sarung bantal dan guling, serta berbagai pernak-pernik dari bahan perca. Bahan baku utama produknya didapatkan dari sisa-sisa atau limbah perusahaan garment yang berasal dari sekitar Yogya dan utamanya dari Jakarta dan Bandung. Mahmud memiliki jejaring yang bagus dengan perusahaan garment ini, sehingga selama ini belum ada permasalahan kelangkaan bahan baku. Continue reading

Jangan main-main dengan merek

Standard

What’s a name? Apalah arti sebuah nama, demikian menurut sastrawan terkenal, William Shakespeare. Bagi sebagian orang, nama mungkin tidak bermakna apapun. Namun, bagi sebagian lainnya, nama menjadi sangat penting dalam banyak hal, terutama untuk konteks bisnis.

Nama, label atau merek yang merupakan identitas pembeda. Bagi orangtua, nama pada anak merupakan doa dan harapan ke depan. Bagi perusahaan, nama menjadi representasi nilai yang ditawarkan yang membedakannya dari perusahaan-perusahaan lain. Nama mencerminkan reputasi tertentu. Dengan reputasi yang baik, nama dapat menjadi alat promosi agar produk yang dihasilkan menjadi lebih dikenal. Lebih dari itu, dengan nama tidak menutup kemungkinan menjadi rangsangan untuk investasi. Singkat kata, nama/merek dan bagaimana merek dipilih yang melekat pada suatu produk menjadi sangat krusial. Alih-alih untung besar, salah memberikan nama akan berujung pada kegagalan suatu produk menembus pasar. Continue reading