Jangan main-main dengan merek

Standard

What’s a name? Apalah arti sebuah nama, demikian menurut sastrawan terkenal, William Shakespeare. Bagi sebagian orang, nama mungkin tidak bermakna apapun. Namun, bagi sebagian lainnya, nama menjadi sangat penting dalam banyak hal, terutama untuk konteks bisnis.

Nama, label atau merek yang merupakan identitas pembeda. Bagi orangtua, nama pada anak merupakan doa dan harapan ke depan. Bagi perusahaan, nama menjadi representasi nilai yang ditawarkan yang membedakannya dari perusahaan-perusahaan lain. Nama mencerminkan reputasi tertentu. Dengan reputasi yang baik, nama dapat menjadi alat promosi agar produk yang dihasilkan menjadi lebih dikenal. Lebih dari itu, dengan nama tidak menutup kemungkinan menjadi rangsangan untuk investasi. Singkat kata, nama/merek dan bagaimana merek dipilih yang melekat pada suatu produk menjadi sangat krusial. Alih-alih untung besar, salah memberikan nama akan berujung pada kegagalan suatu produk menembus pasar.

Hal ini tampaknya dipahami betul oleh Thierry Detournay, pemilik Coklat Monggo. Cerita Cokelat Monggo dimulai dari tahun 2001. Thierry adalah seorang pria berkebangsaan Belgia yang pada waktu itu berusia 35 tahun, yang datang ke Yogyakarta untuk mengajar bahasa Perancis di Universitas Gadjah Mada. Tinggal di Indonesia, sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, dia merasa kecewa dengan kualitas cokelat yang dijual di toko-toko. Dia kesulitan untuk menemukan cokelat yang sesuai dengan seleranya. Thierry kemudian memutuskan untuk membuat beberapa produk cokelat cita rasa Belgia sendiri dengan sumberdaya yang terbatas. Cokelat “truffle” yang dibuatnya pertama kali diberikan kepada teman-teman Indonesianya dan langsung mendapatkan tanggapan: “Anda harus membuatnya lagi!”, kata mereka yang merasakan nikmatnya cokelat tersebut dan ketagihan.

Respons positif teman-temannya pada produk cokelat buatannya, menyemangati Thierry untuk membuat cokelat lebih banyak lagi. Dengan memanfaatkan vespa tua pink miliknya sebagai tempat jualan, setiap minggu Thierry berjualan di daerah kampus Universitas Gadjah Mada dan Gereja Kota Baru. Awalnya hanya untuk kesenangan pribadi dan menaksir minat serta reaksi masyarakat, bukan untuk mencari keuntungan. Seiring berjalannya waktu, Thierry bermimpi untuk menjadi pembuat cokelat pertama di Yogyakarta, Thierry pun menggabungkan sumber daya dan modal terbatas yang dimilikinya. Ide awalnya adalah membuka sebuah toko, namun mengalami kegagalan. Tidak terlalu lama, dia bertemu dengan Edward Riyanto Picasau. Pada tahun 2005, mereka sepakat untuk mendirikan CV Anugerah Mulia. Pada waktu itu, modal awal perusahaan ini hanya sebesar Rp 150 juta. Kegiatan produksi dilakukan di sebuah rumah kontrakan kecil di Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul. Thierry dibantu lima orang karyawan yang bekerja secara serabutan. Setiap hari mereka hanya mengolah lima kilogram bahan cokelat.

Kembali ke isu merek. Perusahaan ini meluncurkan produk pertamanya yaitu cokelatpraline bermerek “Cacaomania” yang ditujukan untuk anak-anak muda. Pada perjalanannya, perusahaan baru itu meninggalkan merek “Cacaomania” karena ternyata sudah ada perusahaan lain yang menggunakan nama yang sama. Selain itu, nama “Cacaomania” terkesan terlalu umum dan sulit diucapkan oleh lidah Indonesia. Mereka membutuhkan nama khusus (mudah didengar, mudah diingat, dan unik). Untuk mendapatkan nama yang mudah didengar, diingat, dan unik, Thierry dan timnya melakukan banyak diskusi. Akhirnya, mereka menemukan kata yang pas yaitu “Monggo”.

Cokelat Monggo mengklaim dirinya sebagai pionir cokelat buatan rumahan pertama yang mengedepankan tradisi Jawa sebagai tema cokelatnya. Thierry sangat cerdas mengambil istilah lokal yang kental dengan nuansa Jawa, yaitu “Monggo”. Monggo adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang berarti “silakan” yang selalu digunakan oleh orang-orang Yogyakarta sambil mengacungkan ibu jari ataupun ketika kita lewat di depan orang, serta pada saat kita mengundang orang masuk ke rumah atau meninggalkan rumah seseorang. Tidak hanya orang Yogyakarta, kata ini sebenarnya juga digunakan secara luas. Secara khusus, nama “Monggo” sangat menggambarkan budaya Jawa dan kota Yogyakarta.

Merek yang diterima pasar bernilai sangat mahal. Sepatu produksi pabrik di Jakarta atau Bandung ketika diberi label yang kurang dikenal akan bernilai rendah dan tidak menarik pasar, tetapi ketika merek besar dilekatkan kepadanya seperti Nike atau Reebok, barang yang sama bisa bernilai sangat berbeda.

Thierry tidak salah. Cokelat Monggo saat ini telah diterima oleh pasar dengan baik, dan bahkan dianggap sebagai salah satu oleh-oleh khas dari Yogyakarta. Kalau Anda mengunjungi kota bersemboyan “berhati nyaman” ini, monggo mampir ke Cokelat Monggo. BeIum sempat ke Yogyakarta? Kunjungi http://chocolatemonggo.com/

Ini adalah cerita kekuatan sebuah merek.

Sumber: Kasus Bisnis berjudul Cokelat Monggo, ditulis oleh Bayu Sutikno dan Nurul Indarti (Pemenang Penulisan Buku Kasus Magister Manajemen FEB UGM 2012).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s