Kreativitas dalam Bisnis Hijau

Standard

Perca, menurut kamus bahasa Indonesia berarti sisa-sisa kain yang sudah tidak digunakan dari suatu proses produksi. Siapa sangka bahan sisa-sisa produksi ini menjelma menjadi sesuatu yang bernilai dan laku pasaran. Perlu seseorang dengan kreativitas tinggi untuk mengubah sesuatu yang dianggap tidak berharga menjadi bernilai. Itulah yang dilakukan oleh M. Mahmud di Rumah Perca yang didirikannya pada tahun 2006. Mahmud cukup cerdas membaca adanya peluang ini dan dengan kreativitas yang dimilikinya, kain-kain yang terbuang dapat disulap menjadi hal yang menguntungkan.

Mahmud bersama dengan sekitar 20 perajin berkreasi menghasilkan berbagai produk seperti sprei, selimut, sarung bantal dan guling, serta berbagai pernak-pernik dari bahan perca. Bahan baku utama produknya didapatkan dari sisa-sisa atau limbah perusahaan garment yang berasal dari sekitar Yogya dan utamanya dari Jakarta dan Bandung. Mahmud memiliki jejaring yang bagus dengan perusahaan garment ini, sehingga selama ini belum ada permasalahan kelangkaan bahan baku.

Proses inovasi pengembangan produk yang dilakukan sangat tergantung pada pola bahan perca itu sendiri. Yang dilakukan perusahaan adalah membuat pola-pola dari perca yang ada, dengan memanfaatkan seoptimal mungkin sisa kain. Setelah berbagai pola dihasilkan (e.g. kotak, segitiga, lingkaran dalam berbagai ukuran dan warna), kemudian di tangan Mahmudlah berbagai produk kreatif bermunculan. Mahmudlah yang memunculkan gagasan-gagasan untuk kreasi baru dari pola-pola kain yang didapatkan. Gagasan menurutnya bisa bersumber dari reka-reka yang dibuatnya (trial and error), tapi lebih sering bersumber dari luar terutama dari Internet, majalah dan produk-produk sejenis yang beredar di pasar. Sumber kreativitas bisa datang dari mana saja.

Tampak jelas, bahwa kreasi dan inovasi muncul dari sosok pemilik yang bertindak sekaligus sebagai manajer utama di perusahaan. Hal ini adalah gambaran umum karakteristik usaha kecil di negara berkembang termasuk Indonesia yang dikenal dengan istilah one man show. Pemilik berperan multi; sebagai investor, pengambil keputusan mulai dari aspek pengembangan produk, pelaksanaan produksi, dan pemasaran bahkan juga aspek keuangan. Tantangan ke depan, adalah terkait dengan keberlanjutan usaha.

Siapa sangka barang-barang sisa yang merupakan sisa dari produksi di perusahaan lain bisa diubah menjadi sesuatu yang mendatangkan keuntungan, mempunyai dampak sosial, dan ramah lingkungan. Inilah pengejawantahan konsep triple bottom line: profit, people, planet yang merupakan inti dari bisnis hijau

Catatan Bincang Bisnis #5, 6 Mei 2013 (TVRI Yogyakarta) dengan M. Mahmud, Rumah Perca 

3 thoughts on “Kreativitas dalam Bisnis Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s