Gratisan sebagai strategi bisnis*

Standard

Gratisan atau pemberian cuma-cuma, siapa yang tidak ingin mendapatkan? Banyak orang menikmati pemberian cuma-cuma, baik dalam bentuk barang, atau layanan tertentu. Misalnya mendapatkan satu buah apel gratis, atau mendapatkan dua kaos, padahal hanya membayar untuk satu produk.

Di mata konsumen, pemberian produk secara gratis akan memberikan kesempatan konsumen untuk mencoba, merasakan, dan mengevaluasi suatu produk yang mungkin baru dijumpainya. Pengalaman mencoba dan merasakan ini adalah hal penting bagi calon konsumen. Menurut teori perilaku, keputusan seseorang untuk membeli banyak ditentukan dari pengetahuan sebelumnya atau keyakinan akan sesuatu yang didapatkan dari menggunakan suatu produk. Karenanya, tidak sedikit perusahaan yang mengadopsi strategi “gratisan” sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peluang konsumen (baru) menggunakan produk yang ditawarkan.

Matrik Ladang Belajar (MLB) yang didirikan oleh Erika Oktarini di 2006 menikmati ‘keuntungan’ dengan mengadopsi pendekatan serupa. MLB awalnya hanya merupakan bimbingan belajar ‘biasa’ dan hanya memiliki satu guru yaitu Erika sendiri. MLB adalah bimbingan belajar yang menawarkan berbagai program belajar tambahan untuk berbagai mata pelajaran dari kelas empat sampai kelas 12. Lambat laun hingga saat ini, MLB memiliki 15 guru dari berbagai latar belakang dengan lebih dari 200 anak didik dalam satu tahun. Continue reading

Advertisements

Pemasaran Berbasis Komunitas

Standard

Komunitas adalah kumpulan dari individu-individu yang memiliki ketertarikan dan perhatian yang sama pada hal tertentu. Ketertarikan ini dapat berangkat dari hobby, minat, atau kesadaran perjuangan yang sama. Sebagai contoh, komunitas pecinta sepeda onthel memiliki ketertarikan dan minat di bidang sepeda sebagai bentuk kepedulian sosial bersama mengurangi polusi. Atau, komunitas tarian reog yang berangkat dari kumpulan penari dan pecinta tarian tradisional reog Ponorogo. Ada pula komunitas pecinta fotografi.

Yang utama dalam sebuah komunitas adalah terbentuknya identitas atau ciri khas komunitas tersebut. Identitas inilah yang membedakan antara komunitas satu dengan lainnya. Identitas biasanya dicerminkan dengan berbagai atribut yang digunakan sebagai representasi khas sebuah komunitas. Atribut yang paling sering dijumpai tentu saja dari nama, pakaian, topi, sepatu, gelang, atau lainnya yang menjadi ciri khas. Diyakini dengan atribut inilah anggota komunitas memiliki rasa memiliki satu sama lain. Dengan cara inilah sebuah komunitas mempertahankan eksistensinya.

Munculnya bisnis distro (distribution store atau distribution outlet) di Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari keberadaan beragam komunitas. Sekitar 300 distro anak muda kreatif dapat ditemukan di kota pendidikan ini.  Sejarah awal distro adalah toko yang menjual merchandise grup band tertentu (khususnya musik beraliran underground) atau perlengkapan olahraga skateboard. Dalam perkembangannya berbagai distro di Yogyakarta, Bandung dan kota-kota lainnya lebih dekat dengan bidang fashion seperti kaos dan jaket dan hal-hal terkait fashion antara lain topi, syal, sepatu, dan tas. Continue reading