Pemasaran Berbasis Komunitas

Standard

Komunitas adalah kumpulan dari individu-individu yang memiliki ketertarikan dan perhatian yang sama pada hal tertentu. Ketertarikan ini dapat berangkat dari hobby, minat, atau kesadaran perjuangan yang sama. Sebagai contoh, komunitas pecinta sepeda onthel memiliki ketertarikan dan minat di bidang sepeda sebagai bentuk kepedulian sosial bersama mengurangi polusi. Atau, komunitas tarian reog yang berangkat dari kumpulan penari dan pecinta tarian tradisional reog Ponorogo. Ada pula komunitas pecinta fotografi.

Yang utama dalam sebuah komunitas adalah terbentuknya identitas atau ciri khas komunitas tersebut. Identitas inilah yang membedakan antara komunitas satu dengan lainnya. Identitas biasanya dicerminkan dengan berbagai atribut yang digunakan sebagai representasi khas sebuah komunitas. Atribut yang paling sering dijumpai tentu saja dari nama, pakaian, topi, sepatu, gelang, atau lainnya yang menjadi ciri khas. Diyakini dengan atribut inilah anggota komunitas memiliki rasa memiliki satu sama lain. Dengan cara inilah sebuah komunitas mempertahankan eksistensinya.

Munculnya bisnis distro (distribution store atau distribution outlet) di Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari keberadaan beragam komunitas. Sekitar 300 distro anak muda kreatif dapat ditemukan di kota pendidikan ini.  Sejarah awal distro adalah toko yang menjual merchandise grup band tertentu (khususnya musik beraliran underground) atau perlengkapan olahraga skateboard. Dalam perkembangannya berbagai distro di Yogyakarta, Bandung dan kota-kota lainnya lebih dekat dengan bidang fashion seperti kaos dan jaket dan hal-hal terkait fashion antara lain topi, syal, sepatu, dan tas.

Komunitas adalah ceruk pasar distro. Pasar yang tersegmentasi ini sangat menonjolkan identitas komunitas. Mereka ini adalah konsumen yang loyal. Untuk menjalin komunikasi dan menjaga loyalitas anggota, setiap komunitas dapat menggelar beragam acara. Selain itu, keberadaan teknologi informasi yang memungkinkan komunikasi virtual juga perlu dimanfaatkan. Hal ini tidak hanya meningkatkan popularitas dan memperkokoh keberadaan komunitas, tapi di saat yang bersamaan menjadi cara pemasaran yang cukup efektif.

Jika Anda, calon pebisnis dan ingin membuka ala distro, satu hal penting yang tidak boleh diabaikan adalah apakah distro yang akan Anda dirikan sudah memiliki komunitas tertentu yang menjadi sasaran. Jika belum, tidak ada salahnya memikirkan untuk mulai dengan membentuk komunitas yang memiliki identitas kuat dan menjaring sebanyak mungkin anggota baru.

Sumber: Catatan Bincang Bisnis, 21 Oktober 2013 (TVRI Yogyakarta).

One thought on “Pemasaran Berbasis Komunitas

  1. Bagaimana membangun sebuah komunitas yang kuat? Apa indikator sebuah komunitas itu dikatakan sudah kuat? Mohon pencerahannya, Bu Nurul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s