Selamat hari ibu

Standard

Seorang kawan memforward ucapan Selamat hari ibu. Aha, tepat 22 Desember, adalah hari Ibu.

Sebuah lagu dari Iwan Fals, berjudul Ibu, cukup menggambarkan arti perjuangan seorang Ibu.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas, Ibu, Ibu …

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas, Ibu, Ibu …

I love and miss you so much, Ibu.

Mari, Ibu-ibu Indonesia, maju dan bangkitkan Indonesia kita. Merdeka!!

Advertisements

Winter yang kelabu

Standard

Dingin, gelap, suram, serba putih dan semakin dingin. Itulah suasana khas Eropa di kala musim dingin. Winter kali ini ternyata terjadi lebih awal. Jauh lebih awal dibanding dua winter sebelum-sebelumnya.

Dan hari ini, sejak pagi hingga larut malam, suasana begitu suram. Betapa tidak, kabut bergelayut sepanjang hari. Seolah-olah tak memberikan kesempatan kepada sang surya untuk bersinar. Meskipun saya yakin sinarnya pun takkan sanggup memberikan kehangatan semestinya. Tapi, hari ini, rasa-rasanya Sang Surya tak sanggup menaklukan kekuatan Sang Kabut yang seolah-olah enggan beranjak dari Bumi Groningen. Pekat, dan sumpek. Tak ayal, suasana-suasana winter seperti inilah yang menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat depresi bagi sebagian besar masyarakat di Eropa. Bagaimana tidak? Salah seorang kolega berujar, berangkat saat gelap dan pulang kantorpun hari sudah gelap. Di jalanan, semua orang prefer untuk menggunakan pakaian bernuansa gelap. Lengkap sudah, lengkaplah sudah.

Kalau sudah begini, membayangkan enaknya tinggal di curahan kehangatan sang Surya yang seolah takkan pernah berakhir. Wah, senangnya … Duh jadi kangen. Kapan ya pulang? Miss you all already …

Kemana restauran Indonesia?

Standard

Tulisan ini merupakan rangkuman peristiwa yang telah terjadi beberapa waktu lalu. Entah mengapa saya ingin menuangkannya pagi ini, sambil nunggu jadwal bis ke kantor.

Akhir bulan Oktober lalu (akhir pekan), RuG PhD committee mengadakan excursion untuk lebih menjalin keakraban di antara sesama PhD dari berbagai latar belakang dan negara. Tak kurang dari 60-an orang berpartisipasi dalam acara tersebut. Excursion dimulai dari olahraga bowling di Kardinge sport center, Groningen, dari pukul  17.00-18.30. Sungguh sangat menyenangkan. Rasanya relaks, bisa melempar bola bowling yang berat dan mengenai pion-pion yang seakan menantang untuk ditendang. Byaarrr … kennaa deh tuh pion. Skor pun okay. hehehe. Sayangnya, pagi harinya badan serasa hancur lebur, dan kaku-kaku. Konsekuensi orang yang tidak pernah olah raga. Begitulah.

Menjelang malam, rombongan menuju restoran untuk menyantap hidangan dinner. Ternyata yang dipilih adalah Chinese Restaurant yang fancy dan elegan. Hmm, bisa dibayangkan menunya sangat enak. Saya pun memilih tempat duduk, bergabung dengan beberapa rekan yang lain. Acara standar pembukaanpun dimulai. Lalu, kamipun mulai mengambil makanan sendiri sesuai selera. Saat itu, restoran cukup dipadati oleh para penikmat makanan. Maklum, weekend dan cuaca masih bersahabat. Tak terlihat kursi yang kosong.

Di tengah asyiknya menyantap hidangan, saya sempat berbisik dengan temen yang kebetulan orang Indonesia, wah, kenapa ya tidak di restoran Indonesia. Toh menu dan rasa makanannya kalau dipikir-pikir juga sama aja. Komentar saya ke teman saya. Lalu, dijawab, lha, emang ada restoran Indonesia kayak begini di Groningen? hmm, iya ya … Dimana restoran Indonesia kita?

Eh, tidak berapa lama dari itu, rekan lain yang orang Belanda yang tengah asyik menyantap menu ala kodok berujar, yang kira-kira begini:  “wah, sebenarnya masakan di sini ndak jauh beda, dengan masakan-masakan Indonesia lho. These food are not really Chinese food. It really similar to Indonesian tastes. But where is the Indonesian restaurant like here in Groningen?

Wah wah, ternyata komentarnya sama persis dengan yang sedang dibicarakan oleh saya dan teman Indonesia tadi. Dan sesaat kamipun saling berpandangan. Kenapa harus Cina? Sebagai informasi, di Groningen saja, sudah terdapat tiga restauran lumayan berkelas termasuk salah satunya adalah restauran yang dipilih oleh pihak PhD committee. Restauran Indonesia? Hmm, seingat saya hanya ada 2 restauran yang mungkin lebih tepat disebut “warung makan” Indonesia. Karena dari segi menu, penyajian, luas tempat jauh bisa disebut sebagai restauran yang elegan dan mengundang daya tarik pengunjung untuk menikmatinya, apalagi untuk moment/event tertentu. Kenapa ya Restauran Indonesia? Dimana pengusaha Indonesia berinvestasi? Someday, kalau ada duit nih, rasa-rasanya saya bercita-cita untuk buat restoran Indonesia di negeri orang. Upsss, mengkhayal bukan-bukan. Udah ah … ngebisssss.

Yang namanya lupa …

Standard

Lupa. Siapa sih yang tidak pernah lupa? Saya yakin setiap kita, sepanjang perjalanan hidupnya, pernah melakukan hal yang disebut lupa. Dan hal ini merupakan sunnatullah. Terima kasih pada Tuhan yang menciptakan rasa lupa. Bayangkan, jika kita tidak pernah lupa atas semua yang terjadi dalam kehidupan kita. Wah wah …

Banyak orang beranggapan lupa adalah hal sepele dan sederhana. Mungkin demikian, jika akibat kelalaian atau kelupaan yang kita lakukan, hanya terkait dengan kepentingan sendiri. Misal, lupa bawa kaca mata, padahal mata kita sangat tergantung pada kaca mata. Lupa sarapan. Kalau toh, apes, perut sakit, setidaknya yang merasakan akibatnya, minimal diri sendiri. Tapi bagaimana jika terjadi dalam lingkup organisasi atau perusahaan, dimana disitulah interaksi dengan pihak-pihak luar sangat terkait. Dapatkah cukup dimaklumi?

Saya jadi teringat peristiwa kemarin pagi, Selasa 24 Juni 2008. Pagi itu, saya tergopoh-gopoh berangkat ke kantor, karena ada jadwal menguji thesis mahasiswa. Tepat pukul 07.00. Sudah mruput-mruput begitu, tibalah saya di tempat sidang mahasiswa. Suasana yah biasa saja. Saya dan kolega yang akan menguji lalu memasuki ruang ujian. Tak terlihat mahasiswa yang akan diuji, yang biasa duduk di luar menunggu dipanggil. Yang justru ikut masuk adalah staf akademik yang sangat kami kenal wajahnya. Dengan wajah seperti putus asa, si Mbak ini, duduk di hadapan kami. “Lho, Mbak, ada apa? Kok rasa-rasanya ada yang ngga beres nih”, tanya saya waktu itu. Dan benar saja, si Mbak pun, menjelaskan duduk perkaranya. Oalahhhh … ternyata si Mbak ini melakukan hal yang ’sepele’ yaitu lupa menginformasikan kepada mahasiswa yang akan diuji. Si Mbak pun, dengan sangat meminta-minta permohonan maaf dari kami. Sampai-sampai, kalau mau dihukum apapun oleh Bapak dan Ibu, saya terima, begitu Si Mbak mengharap dengan wajah tertunduk. Ohh. Saya dan kolega jadi speechless. Mau marah kok ya tidak menyelesaikan masalah. Tapi untuk puas, juga tidak ada yang bisa dianggap good news dalam keadaan yang unsatisfied seperti itu. Yah, lalu kamipun berembug lagi me-reset jadwal ujian yang jujur sangat tidak mudah menentukan waktunya.

Saya sempat berpikir, kenapa bisa lupa? Kita sepakat lupa adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi jika sudah terkait dalam lingkup organisasi, bagi saya ini menjadi hal yang patut dibenahi. Adakah kesalahan dalam standar operating procedure di lembaga tersebut yang diterapkan? Dimanakah pengendalian proses yang bisa menghindari kealpaan individu semacam itu? Apakah hal itu dapat dijadikan indikasi overload-nya seorang staf dengan pekerjaan yang dibebankan? Untungnya (ini kalau orang Jawa berfikir), konsekuensi dari kealpaan staf tidak berakibat fatal. Fatal dalam arti kerugian waktu yang suangat besar atau hilangnya nyawa seseorang. Tapi juga tidak bisa dikatakan tidak merugikan. Sangat. Coba kalau kealpaan tersebut terjadi pada perusahaan yang sangat sarat dengan ketepatan. Misal di jasa penerbangan, seorang staf lupa mengecek avtur (bahan bakar pesawat) sebelum tinggal landas (seingat saya ini pernah terjadi). Seorang dokter lupa kalau jam 10.00 ada jadwal operasi kritis. Seorang koki lupa mematikan kompor dan pergi begitu saja dari restoran. Bayangkan akibat fatal yang akan terjadi. Bisa jadi sekian banyak kecelakaan fatal di bumi ini berangkat dari kealpaan yang dilakukan individu. Jadi, masihkah layak, alpa dianggap hal sepele dan akhirnya dimaklumi? Maka, berhati-hatilah dari sekarang.

Bermain di Taman Pintar

Standard

Bermain selalu identik dengan anak-anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Hampir tiap detik hidupnya, setiap anak di muka bumi ini sebenarnya tidak pernah dari bermain (bahasa edukatifnya; mengeksplorasi). Dan, minggu kemarin, anak saya mengajak saya bermain di Taman Pintar. “Ayo Mah, kita ke Taman Pintar, ” begitu pintanya.

Sebenarnya ini bukan kali pertama baginya mengunjungi Taman Pintar. Melalui acara field trip di sekolahnya pun, Ia dan teman-teman sekolahnya sudah ke sana. Beberapa waktu lalu, saat saya masih di Belanda, sudah berkali-kali mengunjungi ke sana, dengan papanya. Dan namanya juga anak-anak, minggu kemarin, giliran saya ditagih untuk menemaninya ke Taman Pintar, sekali lagi. Bagi saya, ini pengalaman pertama, memasuki Taman Pintar yang berlokasi di Area Shopping (Toko-toko Buku Lama), maaf saya lupa nama jalannya.

Bertiga, menjelang senja, kamipun ke sana. Hmm, Dengan lokasi Taman Pintar yang cukup strategis, dekat dengan area Malioboro, tak butuh waktu lama menuju lokasi. Dan ternyata, tiket masuk untuk anak dan orang dewasa sangat murah (di luar dugaan). Hanya, Rp. 3000,- untuk dewasa, dan Rp. 1500,00 untuk anak-anak. (Tidak mahal bukan?). Taman ternyata didesain semenarik mungkin, dengan setting bermain bagi anak, tapi mengandung unsur edukatif yang cukup kental. Memasuki ruang Oval, anak-anak disuguhi dengan area Dinosaurus, kemudian Planet dan Tata Surya. Pada saat kami mengunjungi, tersedia beberapa atraksi atau eksperimen yang sedang dilakukan. Ada eksperimen tsunami, gempa, tenaga pedal yang menghasilkan listrik, arus litrik dan lainnya. Sayang, beberapa fasilitas yang ada sudah tampak rusak dan tidak bisa digunakan. Setelah keliling sekitar 1 jam, kami pun keluar dan berjalan-jalan sebentar di taman luar.

Tampak jelas terlihat animo masyarakat dari adanya beberapa rombongan dari berbagai sekolah yang mengunjungi Taman Pintar. Fenomena yang menarik. Tak dapat dipungkiri, masyarakat DIY dan sekitarnya sangat-sangat membutuhkan tempat dan area hiburan yang murah, tapi menyogohkan unsur edukatif. Taman Pintar mestinya bisa menjadi alternatif bagi masyarakat DIY dan sekitarnya, terutama anak-anak. Sayangnya, Taman Pintar sendiri yang sebenarnya relatif baru didirikan masih perlu berbenah. Dengan menyodorkan semakin banyak alternatif mainan yang edukatif, dengan kualitas alat yang tidak mudah rusak. Jika hal tersebut dikelola dengan baik, saya sangat optimis, Taman Pintar bisa menjadi aset wisata edukatif yang sangat handal bagi DIY. Monggo Bapak/Ibu Pemda dan Swasta terkait, mari sama-sama kita suguhkan hiburan yang edukatif buat anak-anak kita. Kalau tidak, masa’ iya, hiburannya cuma ke Mall, atau Time Zone. Kan sayang banget tho?

Bahan Bakar Lagi-lagi Langka: Dimana masalahnya?!

Standard

Mencermati fakta sumber bahan bakar masyarakat (tidak hanya minyak tanah, LPG, BBM) yang langka akhir-akhir ini, dan selalu menjadi langka terutama setelah isu kenaikan BBM, ada satu pertanyaan yang mengusik: Mengapa bisa terjadi? Ujung-ujungnya, siapa juga yang harus menanggung kerugian dari semua ini? Jelas, end-consumer, konsumen-konsumen akhir seperti kita-kita ini. Yang notabene, pendapatan terbatas, yang notabene, masih menggantungkan kehidupan dapur dari hidupnya kompor minyak atau kompor gas. Atau yang hanya mengandalkan jasa transportasi kendaraan pribadi (sepeda motor atau mobil) jika ingin kemana-mana (karena in fact, sarana transportasi publik, tidak memadai).

Sudah jamak, pasokan utama bahan bakar sebagian besar masyarakat kita, disediakan oleh sebuah BUMN Minyak Nasional. Sebut saja semacam monopoli, setidaknya sampai saat ini yang terasa seperti itu. Jika ditanya pada BUMN tersebut, apakah produksi dikurangi, sehingga supply yang didistribusikan ke masyarakat, berkurang? Dan kenapa dikurangi, sebagai konsekuensi dari semakin naiknya harga minyak dunia. Hmm, bisa saja. Sah-sah saja (mungkin). Tapi, kenyataan BUMN ini selalu mengklaim, tak pernah mengurangi produksi dan pasokannya. Artinya dari segi produksi, tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan ketika isu kelangkaan LPG besar-besaran terjadi beberapa waktu lalu. Masih saja, BUMN ini menyatakan tidak mengurangi produksi. Untuk diketahui BUMN ini memang tidak menangani distribusi sampai ke konsumen akhir. Karena dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas, distribusi dialihkan kepada berbagai pihak (perusahaan lain) yang bertanggung jawab untuk mendistribusikannya ke tangan konsumen dengan cepat, tepat, dan right quality. Sehingga, ketika terjadi kelangkaan di saluran akhir konsumen, BUMN ini pun dengan tegas (tanpa malu-malu, bilang), wah ini diluar kontrol kami, begitulah kira-kira.

Jika tidak ada pengurangan produksi, kenapa selalu saja ada kejadian langka? Beberapa pihak agen penyalur LPG, minyak tanah mengaku selama ini tidak ada pengurangan pasokan dari BUMN tersebut. Sebagian lainnya, justru sebaliknya. Kenyataannya, pada tingkat pengguna akhir di pelosok/pinggiran, LPG semakin susah didapatkan, dan saat bersamaan minyak tanah semakin langka, BBM naik. Lalu, kenapa bisa terjadi? Dimana masalahnya? Adakah pihak-pihak opportunis yang memanfaatkan kondisi ini semua? Sengaja menimbun? Sengaja menyimpan untuk kemudian dijual pada saat harga sudah naik? Atau sengaja dilakukan untuk memperburuk keadaan dan citra pemerintah sekarang yang sedang galaknya melakukan program konversi minyak tanah ke LPG? Atau? Wallahu ’alam.

Lalu, dimana Pemerintah?

Setelah sekian lama …

Standard

Adakah yang berubah setelah waktu berlalu cukup lama? Hmm, jawabannya sudahlah pasti. Dan itu rasanya yang saya alami, kemarin. Tak terasa, sejak saya memasuki “masa tugas belajar”, artinya saya bebas dari kewajiban mengajar, tetapi justru sebaliknya, menjadi mahasiswa lagi. Awalnya tentu tak mudah. Terbiasa mendelivery informasi, dengan status mahasiswa menjadi pihak yang menerima informasi. Diisi dengan hal-hal baru. Berkutat dengan paper dan kewajiban sebagai mahasiswa. Saya yakin, sesama mahasiswa sudah tahu maksud tulisan saya ini.

Nah, setelah masa berlalu lebih dari satu tahun, terbebas dari kewajiban mengajar, pada kesempatan kali ini, saya diamanhi untuk ‘mengajar’. Hmm, ada yang aneh ketika memasuki kelas pertama kali. Malamnya pun, ketika mempersiapkan silabus, ada yang aneh, berdesir di dada. Hmm, bukan aneh pada materi yang baru. Jelas, materi yang akan diajar, ini adalah materi ajar yang sudah digeluti sekian tahun. Jadi, bukan barang baru. Tapi, mungkin karena sudah setahun tidak mengajar, tidak mempersiapkan materi, tidak bertemu wajah-wajah mahasiswa, jadi … rasa aneh itu muncul.

Dan benar saja, ada kenikmatan tersendiri begitu memasuki ruangan kelas. Bertemu dengan wajah-wajah segar yang haus akan ilmu, wajah-wajah yang penuh aura semangat. Nikmat rasanya mengajar, setelah sekian lama ‘off’. Apa ini juga berarti hidup perlu variasi? Ada kalanya diisi dengan udara segar, ada kalanya berbagi apa yang dimiliki?

Setelah sekian tahun tak mengajar, sungguh nikmat rasanya masih bisa berbagi. Alhamdulillah, masih Tuhan beri saya kesempatan untuk berbagi.