Kesempatan kedua

Standard

Awalnya saya berfikir, segala sesuatu sungguh akan berkesan, pada kali pertama. Bagi pengagum cinta, tak heran lalu berstatement: loves at the first sight is the real one, cinta pada pandangan pertama. Para pemilih ulung dan mungkin opportunis, mereka akan berujar, chance does not come twice! So take or leave it!

Ya, mungkin quotation saya tidak terlalu tepat untuk konteks yang saya pikirkan, tapi yang saya rasa, tapi justru pada kali kesempatan kedua, semua tampak jauh lebih indah.;-) Apakah itu?

Saat liburan summer, Juli 2009 lalu, saya berkesempatan untuk mengambil two-weeks break, off dari segala rutinitas yang melelahkan pikiran dan batin, i.e. menganalisis data thesis. Pilihannya adalah Norwegia. Salah satu negara di Skandinavia, terkenal dengan Viking dan penghasil minyak dunia, negara yang tidak murah untuk hidup di sana. Mengacu pada the Economist Intelligence Unit, Norway was rated the second most expensive country (in the world) and the most expensive European country in which to live (Quality of Life Index 2006). Lalu kenapa Norway? Sudah menjadi impian lama, saya ingin mengajak si kecil melihat dimana saya dulu berjuang untuk menyelesaikan studi lanjut. And thanks God for making this possible!

Tiba di Kjevik, the airport of Kristiansand, pikiran saya terbayang sekian tahun lalu saya tiba di bandara ini dengan air mata. Tapi kali ini? Sulit diungkapkan hanya dengan kata HAPPY! Dijemput si mbakyu ayu nan baik hati, saya dan si kecil melaju, menyusuri jalanan di Kristiansand. Tak ada yang berubah, everything exactly the same! Yang berbeda, hanya semua tampak lebih indah. Jauh lebih indah! Tak henti-hentinya, saya berujar, “Mbak Ret, kok Kristiansand jadi indah banget ya … Padahal dulu …”.

Kunjungan berikutnya, Bergen. Kota yang menakjubkan indahnya. Lagi-lagi, setiba di Flesland (Bergen airport), kami disambut hangat oleh si Cantik, Jeanny 😉 Melaju melewati jalanan yang dulu juga pernah saya lewati. “Wow, Jean, Bergen indah banget yaaa. Much much more beautiful!!”   Pun, waktu kami berkunjung ke Oslo city, Vigelands parken. “Oslo lebih cantik, Mbak Anni”. 😉

Ternyata perasaan, kondisi pikiran, fasilitas akan mempengaruhi bagaimana keindahan atau ketidakindahan akan suatu hal terbangun dan terdefinisi. Jadi ingat, bahwa tak ada yang absolute di dunia ini. Perception of something will be depending on timing, situation, mental and physical conditions. Yah, setidaknya itu yang saya alami.

Beruntung saya mendapatkan kesempatan kedua yang ternyata jauh lebih indah. Terima kasih untuk suami as my main sponshor (hehe) dan sahabat-sahabat terkasih yang membuat hal ini menjadi sangat mungkin dan indah! Semoga Allah selalu memberikan limpahan kesempatan-kesempatan yang selanjutnya untuk merasakan keindahan nikmat-Nya. Sekali lagi, thanks so much!

*Very special thanks to Retno Tomstad & Fam plus Utty, Jeanny Samuelsen & Fam, Anni Brendholen and Stale & Ningsih. This means a lot for me and Mila (especially).

Advertisements

Yogyakarta: kota berjuta bendera?

Standard

Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu … Masih seperti dulu …
Begitulah sepenggal lirik dari lagu Yogyakarta, ala Katon Bagaskara tentang kota Yogyakarta.

Ya, siapa yang tidak mengenal kota yang satu ini. Dalam catatan sejarah, kota ini jelas menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini menuju kemerdekaan. Dalam goresan keilmuan, kota ini sangat dikenal dengan kota pendidikan, dimana begitu banyak lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi, termasuk perguruan tinggi terkemuka berlokasi di kota ini. Data terbaru, terdapat sekitar 51 perguruan tinggi di Yogyakarta. Sungguh kota yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Dalam catatan pemerintahan, kota ini unik dengan sistem pemerintahan yang berbeda dibanding kota-kota lain di Indonesia. Dimana konsep kerajaan (Kesultanan) telah berasimilasi dengan baik dengan konsep pemerintahan negara yang ada. Masih banyak istilah-istilah lain yang mengagumkan tentang Yogyakarta. Disamping kota Budaya, kota Gudeg, Kota Bakpia, dan lainnya dengan semboyan Yogya, Yogyakarta Berhati Nyaman.

Tapi apa komentar orang yang baru saja mengetahui Yogya? What will be the first impression about Yogyakarta? Dalam sebuah kesempatan baru-baru ini, salah satu supervisor saya, Theo Postma berwarga negara Belanda berkunjung ke Yogyakarta. Ini kali pertama, Theo menginjakkan kaki ke Yogya. Bahkan ke Indonesia. Bisa dibayangkan apa yang dilakukannya sebelum datang ke Yogyakarta atau Indonesia. Yap, membaca dan menggali semua informasi tentang kota ini dari berbagai buku bacaan. Ciri khas orang yang akan bepergian ke suatu tempat di negara antah berantah. Begitulah kira-kira.

Sesampai di Yogya, mulai dari perjalanan dari airport menuju hotel. Melewati jalan Malioboro. Mengunjungi usaha kecil yang berlokasi di Imogiri, melihat proses pembuatan batik dan perak, khas Yogyakarta. Berkeliling melihat persawahan, perkebunan salak khas Yogyakarta. Melihat-lihat Merapi dan sekitarnya. Mengunjungi kampus tercinta, UGM, and so on, and so on. Semua dilalui si Theo ini, mulai melihat dari kota, rural dan country side kota ini. Apa comment dia?

Setelah menyebut hal-hal ini lainnya (ie. nice people, nice culture, nice city … so many motorbikes). Satu hal yang membuat saya agak terkejut, Theo bilang:
Wow, Yogya is a city with so many flags … Really so many, with different colors.

Terkekeh juga saya mendengar komentar tersebut.
Yap, kedatangan Theo masih berdekatan dengan masa-masa perayaan kemerdakaan Indonesia. Bendera tampak dimana-mana. Tapi disisi lain, memang begitu banyak bendera-bendera partai berkibar dimana-mana. Maklum Theo, partai di Indonesia saat ini 38 partai bo’. Tak heran bendera berkibar dimana-mana. Bahkan, masih sangat jelas terlihat ketika menyusuri country side of Yogyakarta. Indah? Too crowded?

Dan setelah sampai di Bali, fenomena benderapun masih terlihat di sana, hanya less motorbikes, akhirnya Theo berujar: Indeed, there are so many flags in this country (ie. Indonesia).

Banyaknya bendera di sebuah negara, lambang apa ya?
😉

Ketika bad luck menjadi good luck …

Standard

Malang tak dapat ditolak dan dihindari, begitu bunyi salah satu kata bijak yang pernah saya dengar. Mungkin itulah gambaran ‘rezeki’ yang diberikan dan sudah ditentukan oleh Yang Maha Kehendak. Yah, siapa sih yang mau mengalami bad luck. Ternyata, saya pun mengalaminya. Tepat di momen-momen yang semuanya sudah dipersiapkan dengan matang dan diperkirakan tak bakal ada hal unexpected occurs. Nyatanya?

Kejadian ini berlangsung saat saya harus presentasi paper pada sebuah konferens di Bali, beberapa waktu lalu. Jauh hari materi sudah disiapkan, termasuk konsep presentasi. Yah standar persiapan seperti yang sudah sering saya lakukan. Maklum, saya termasuk orang yang selalu striving for excellence, meskipun yah tak ada yang namanya sempurna. Hard to believe! Apalagi presentasi kali ini, di depan salah satu supervisor saya yang juga datang di konferens tersebut. Mistakes are strictly not acceptable, begitulah pikiran saya. Ternyata, semua hal tidak bisa diukur dengan rasio. Dan benar saja, jauh di luar dugaan, karena semua sudah well-settled and well-prepared, kok ya `ujug-ujug` (dalam bahasa Indonesia, tiba-tiba = sekonyong-konyong), baru beberapa menit presentasi, laptop panitia turn off sendiri. Unbelievable! Dari sekian banyak yang sudah presentasi dalam beberapa hari sebelumnya, the laptop was so fine. Bahkan, presenter sebelum saya juga tidak mengalami hal serupa. Sungguh, di luar bayangan. Presentasi yang sedang semangat-semangatnya ini, sempat terhenti … really destruct my mind. How then I start again?

Akhirnya, karena limited time, presentasipun manual. Bayangkan! Dan alhamdulillah, entahlah, ada kekuatan yang lain, yang membuat rasa nervous sudah melayang. Hehe. Malah terkekeh-kekeh sendiri dengan ‘nasib’ yang menimpa. Akhirnya selesai juga presentasi. Hanya saja, rasa upset dan disappointed masih tersisa. Begitu upset, karena andaikan tidak ada technical problem, saya lebih bisa bercerita ke audiens, dan harapannya dapat masukan/input dari audiens. Ini yang ditunggu-tunggu. Tapi, lagi-lagi, tak ada yang bisa menolak hal buruk. Selain menerima dan menikmati … hehehe, meskipun pahit.

Konferensipun berakhir. Dan tak disangka, pada pengumuman best presenters, saya kok ya bisa masuk salah satu best presenter (bukan bermaksud nyombong). Pada saat maju menerima award, saya terkekek-kekek terus mengingat semua yang terjadi. Theo, supervisor saya waktu itu bilang, … See Nurul, your bad luck, now, become your good luck. You deserve to get it! … Ahh, saya jadi ingat, seorang motivator pernah bilang, jangan pernah abaikan arti penderitaan, karena dibalik itu, muncul kesuksesan. Hmm … Thanks God for everything!

Tidak lulus, apa artinya?

Standard

Beberapa waktu lalu, suasana menjadi begitu menegangkan bagi sebagian besar generasi muda bangsa ini. Mereka adalah calon lulusan SMP dan SMA yang bersiap-siap menapaki jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang lulus, hiruk-pikuk kegembiraan, walaupun sesaat tak terelakkan lagi. Bagi yang apes dan tidak lulus, alamat petaka dan habislah dunia ini. Begitulah kira-kira gambaran sebagian besar yang terjadi di generasi muda pada saat kelulusan.

Disisi lain, mendengar dan membaca berita dari berbagai media massa tentang hal ini, membuat prihatin juga. Diberitakan, sebuah sekolah swasta di daerah tertentu di luar Pulau Jawa menyatakan bahwa tingkat kelulusan hanya 50%. Atau bahkan yang lebih tragis lagi, tingkat ketidaklulusan mencapai 100%. Sungguh sangat-sangat memprihatinkan. Mengapa bisa terjadi?

Jika sebuah sekolah dipandang sebagai mesin produksi. Setidaknya ada tiga komponen mendasar dalam mesin produksi yang menentukan baik-tidaknya proses produksi yang dilakukan. Yaitu input, proses dan output. Input bagi sekolah adalah siswa lulusan jenjang pendidikan sebelumnya. Kalau SMP, berarti inputnya adalah siswa lulusan SD atau yang setara dengannya. Input SMU adalah siswa-siswa lulusan SMP dan yang sederajat. Komponen kedua, proses dari mesin produksi itu sendiri. Dalam proses akan sangat ditentukan dari mesin produksi yang digunakan, apakah masih cukup baik? Atau sudah out of date. Mesin tua yang masih saja dipertahankan. Metode proses produksi yang diterapkan. Pelaksana atau yang menjalankan proses produksi itu sendiri, missal karyawan, teknisi atau dalam konteks sekolah adalah para guru. Serta fasilitas-fasilitas lain yang menunjang proses produksi. Komponen terakhir adalah output produksi. Dalam hal ini adalah siswa yang lulus dan tidak lulus. Idealnya dan sesuai harapan, mesin produksi mampu menciptakan output dengan 100% good quality, artinya tidak ada deffect (ie. siswa yang tidak lulus). Yang hal ini tentu akan sangat ditentukan pada kualitas input, kualitas proses dan akhirnya kualitas output itu sendiri. Kenyataannya, simpangan atau error menjadi hal yang wajar dalam sebuah proses. Untuk perusahaan manufaktur, tingkat kegagalan berkisar 10% masih berada dalam batas toleransi. Meskipun, di berbagai perusahaan, misal di Jepang, 0% deffect menjadi suatu keharusan dengan penerapan just in time (JIT)-nya selama ini.

Lalu, jika ketidaklulusan menjadi lebih dari 50%? Dan bahkan 100%? Tidakkah ini mencerminkan hal yang sangat tidak wajar? Dimanakah sumber masalah sebenarnya? Inputnya kah, yang sudah sedemikian jelek? Yang hal ini juga berarti mencerminkan mutu output dari proses produksi jenjang sebelumnya. Atau justu di proses produksinya itu sendiri. Kalau toh memang input ada yang outlayer, proses yang ada tidak sempurna, tapi ya masak outputnya bisa 100% gagal/deffect. Ini kan sungguh sangat-sangat memprihatinkan.

Rasanya tidak berlebihan kalau kita menganggap bahwa hal ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk mencermati dan memperbaiki sistem pendidikan kita selama ini. Kalau tidak dari kita, dan sekarang, lalu … siapa dan kapan lagi? Generasi mendatang adalah investasi kita saat ini.

Kemarin dan Besok

Standard

Apa yang terjadi kemarin dan akan terjadi besok?
Mengapa dua kata ini menarik saya tulis disini.

Kemarin dan besok, keduanya adalah kata yang menunjukkan keterangan waktu. Semua orang tahu, apa yang disebut kemarin. Tentunya, hari yang sudah berlalu, satu hari saja sebelum hari ini. Dalam bahasa lain disebut “yesterday”. Dalam bahasa Indonesia, jelas, kemarin, adalah hari sebelum hari ini (today).

Lalu bagaimana dengan besok?
Besok atau tomorrow (dalam bahasa Inggris), menunjukkan waktu setelah hari ini. Misal, hari ini adalah hari Selasa, berarti besok adalah Rabu. Jika hari ini adalah Minggu, besok adalah Senin dan kemarinnya berarti Sabtu. Cukup jelas dan kongkrit.

Dalam praktek keseharian, tak sejelas itu penggunaan dua kalimat itu. Setidaknya ini kesan yang sering saya temui saat studi lapangan. Dimana saat itulah saya banyak ngobrol (interview) dengan para pelaku UKM dari berbagai latar belakang pendidikan dan budaya. Menarik untuk saya tulis disini, karena yang terjadi, saya perlu waktu yang tidak sedikit untuk membiasakan diri dengan penggunaan yang lain.

“Wah bisnis saya itu sukses banget, Mbak, kemarin-kemarin itu”.
“Kemarin itu, pesanan bisa datang terus-menerus.”
“Ya, perusahaan saya itu, kemarin, ada dua cabang. Sekarang ini ya sudah tinggal satu ini. Ngga tau, besok itu gimana ya … Kondisi bisnis sedang lesu seperti ini”.

Begitulah beberapa penggalan pembicaraan saya dengan beberapa pemilik UKM yang Alhamdulilah, masih bersedia untuk ngobrol dengan saya. (Sekali lagi, terima kasih Bapak/Ibu UKM yang mau sharing ilmunya).

Jika saya pakai pengertian definisi waktu yang sudah saya tulis di atas, wah wah, bisa bisa informasi yang akan saya terima bias. Jadi saya perlu lakukan elaborasi lebih lanjut. Inilah yang saya pelajari dari mengikuti course Metode Interview tahun lalu. Dan jadi ingat, pertanyaan yang menjadi favorit temen-temen di kelas, adalah “Can you please elaborate more?” …

Ternyata, setelah mengelaborasi, barulah saya tahu, bahwa kemarin itu tidak sama dengan hari sebelum hari ini. Melainkan, masa-masa dimana usaha yang dijalani sedang jaya, Dan itu adalah masa pada tahun 1996-1997an. oO. Sudah cukup lama … Dan besok, apakah sama dengan tomorrow (the day after today?), ternyata juga tidak. Besok adalah ungkapan yang menunjukkan masa yang akan datang. Masa depan bisnis yang ada.

Itulah indahnya bahasa. Sama tulisan, sama ucapan ternyata mengandung sejuta makna yang tidaklah sama. Nah, biar tidak salah paham, ngga ada salahnya mengelaborasi. So, can you elaborate more, please …

April yang Vakuum

Standard

Ah tak terasa, hampir sebulan saya tidak menulis di blog ini.
Tak sadar pula, ternyata aktivitas di lapangan, cukup menyita waktu dan pikiran, alhasil tak satupun barit kata yang sempat tertuang. Mohon maaf, pembaca (yang suka membaca tulisan saya), inilah salah satu bentuk ‘kelalaian’ yang harusnya tidak perlu terjadi.

Sebulan, sejak kepulangan ke tanah air, waktu tersita untuk pekerjaan-pekerjaan terkait dengan data collection plus lainnya. Hmm, rasanya ‘yang lainnya’ ini juga ternyata cukup menyita sebagian besar pikiran dan waktu saya. Terbukti. Ditambah, dengan kondisi akses Internet yang kadarnya juga terkadang seperti Iman dan Semangat. Ups and down. Jelas ini bukanlah sebuah excuse, tapi ungkapan realita yang ada, kalau dibilang demikian.

Dan entah mengapa, pagi hari ini, setelah berkutat dengan kerjaan rumah tangga … tiba-tiba, semangat menulis di blog memuncak. Mudah-mudahan, terus ya …

Selamat tinggal bulan April, dan selamat datang May yang Maybe (must be) better than last …

Hebohnya Terracota Army of Xi’an

Standard

Minggu, 10 Februari 2008, saya dan teman-teman berkesempatan untuk mengikuti program trip internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan atau Pensiunan RuG. Tujuan utama adalah mengunjungi museum terakota tentara Kekaesaran Qin dan Han yang dibangun di Xi’an, di Drent Museum (http://www.drentsmuseum.nl/) di Assen, Groningen. Mengapa museum itu yang dipilih? Ini adalah bentuk apresiasi universitas pada perayaan Hari Besar Cina, Gong Xi Fa Chai. Dan tentu saja, di antara 30-an peserta, mayoritas yang ikut adalah mahasiwa-mahasiswa Cina.

Sampai di museum, kami diberi pemaparan menarik tentang perjalanan museum dan perjalanan kekaesaran Cina, Dinasti Xi’an dan Han, diselingi jamuan cake beraneka ragam, kopi dan teh hangat. Begitu selesai mendengarkan penjelasan, huwaaa … tak terbayangkan betapa besar kemegahan Xi’an yang ada.

Bagi masyarakat Cina terutama para kaisar, mereka percaya bahwa akan ada kehidupan yang akan dilalui setelah kehidupan di dunia ini. Untuk mempertahankan kehidupan yang ada abadi sampai hari nanti, seorang kaisar Cina di masa lalu (ie. Kaisar sengaja membangun kuburan bagi dirinya) dengan dikeliling oleh istana atas bumi dan bawah tanah yang begitu megah). Semua dipersiapkan, mulai dari luas lahan, posisi atau lokasi terhadap mata angin yang menunjukkan simbol-simbol kekuatan bagi dirinya, juga para prajurit dan segala hal-hal kecil lainnya. Semua dipersiapkan dengan matang, dan sangat-sangat detil. Ornamen, warna dan bentuk. Amazing. Saya tak habis pikir, betapa cerdasnya orang-orang yang ada dibalik semua itu, pada zaman itu merancang semuanya. Belum lagi, kalau dikira-kira berapa banyak tenaga kerja (paksa) yang dikerahkan untuk membangun sebegitu kemegahan hanya untuk jasad raja yang meninggal? Mm, merinding rasanya mendengarnya.

Terlepas dari itu semua, kita memang perlu mengakui begitu besar kebudayaan Cina. Pantas, Cina sampai sekarang masih jaya dimana-mana. Jadi pengin pergi ke Cina. Sempat terpikir juga, dengan Astana Giri Bangun yang ada di Solo. Ah jangan-jangan kemegahannyaakan menjadi suatu kehebohan bagi generasi anak-anak saya nanti. Will see 

Selesai mengunjungi semua koleksi, kamipun keluar museum menuju restauran De Jong, untuk makan siang. Sampai di luar, saya sempat tertegun. Wah, ternyata yang antri menuju ke museum, bejibun. Panjangnya antrian mencapai 25 meter. Wow, saya sangat impress dengan apresiasi masyarakat Belanda terhadap nilai sejarah. Di hari minggu, mereka gunakan untuk melihat-lihat kebudayaan, dan mau antri cukup lama hanya untuk masuk ke museum, yang sebenarnya tidak terlalu besar, baunya tidak segar … tapi semangatnya, layak diacungi jempol. Pantas saja, Eropa selalu jadi center budaya, karena masyarakatnya sangat-sangat mengapresiasi nilai sejarah. Wah jadi pengin ajak keluarga lihat-lihat museum di Indonesia ah. Hmm, museum apa ya …