Ini dia, artikel Intensi Kewirausahaan itu

Standard

Sejak saya muat intisari artikel Intensi Kewirausahaan, hasil studi dari tiga negara (Indonesia, Norwegia, dan Jepang) beberapa waktu lalu, ternyata antusiasme dan ketertarikan dari pembaca blog ini, sangatlah tinggi. Terbukti dari mengalirnya permintaan yang ditujukan langsung pada saya via email atau melalui blog ini. Beberapa mungkin sudah saya reply dengan mengirimkan artikel tersebut. Tapi, bisa jadi, hingga detik ini, saya belum berkesempatan untuk mengirimkannya ke alamat yang dimaksud.

Awalnya, memang artikel tersebut hanya saya muat intisarinya di blog saya ini. Toh, sebenarnya bisa diakses di paper-based version karena sudah dimuat di JEBI edisi Oktober 2008. Tapi, ternyata saya menyadari, bahwa sebagian besar yang berminat tidak memiliki akses langsung ke jurnal tersebut. Atau bisa juga meminta langsung ke saya, hanya saja, ternyata baru saya sadari, bahwa saya tidak selalu berada dalam kondisi dimana akses Internet sedemikian mudah dan cepat untuk merespon setiap permintaan. Sehingga, setidaknya dari sisi saya pribadi,  saya bisa berkenalan dan bersilaturahmi dengan siapapun yang tertarik dan berkepentingan dengan artikel tersebut. Maunya sih gitu. Tapi, ya, kenyataannya, sekalipun, dalam kondisi dengan akses Internet full, ada halangan yang di luar perkiraan dan harapan saya terjadi. Ya, misalnya, laptop rusak dan harus dibawa ke kota lain untuk perbaikan. Wuihhh. Setelah ‘sembuh’, ternyata kadang terlewat juga, karena memory saya yang lama-lama mulai berkurang kehandalannya. Hehe. Tapi ya, maklum, namanya juga udah mulai menua ini.

Maka dengan ini, saya menyengaja — karena sudah ngerti caranya juga hehe — memberi link bagi yang ingin akses artikel Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi antara Indonesia, Jepang dan Norwegia. Silahkan diakses, kalau memungkinkan untuk meninggalkan pesan bagi yang mengakses, saya akan sangat mengapresiasi. Semoga artikel dan link tersebut bermanfaat.

indarti-rostiani-jebi-2008

Salam,

Advertisements

Does knowledge impact an innovation of a firm?

Standard

Pengetahuan (knowledge) merupakan sumber utama bagi inovasi menuju tercapainya keunggulan kompetitif. Dalam dunia bisnis yang penuh persaingan seperti saat ini, diakui atau tidak, perusahaan tidak hanya bisa menyandarkan pada kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya saja, tetapi juga memerlukan pengetahuan-pengetahuan yang digali dari pihak luar. Pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan komplemen atau pelengkap yang diperoleh dari berbagai pihak di luar perusahaan.

Survei terbaru yang dilakukan pada 100 perusahaan pengembang software di empat kota di Indonesia (yaitu Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Malang) menunjukkan sumber-sumber pengetahuan utama yang menunjang inovasi di perusahaan adalah dari Internet, diikuti dari pembeli/customer dan dari pesaing.

Beberapa kutipan hasil wawancara mendalam dengan beberapa pengusaha software: “So far, no barriers to obtain knowledge. All are already available in the Internet, indeed. We just write what we need, and zappp… all information are available. Just find which is important and useful for our company.” Other firm’s owners indicate other external sources of knowledge and importance of relationship with other parties. “So, we never consider other firms as competitor, even, they can be our business partner. We also get information form them either directly or indirectly.”

Lebih spesifik, ditinjau dari inovasi yang dilakukan, inovasi produk lebih banyak dihasilkan/dilakukan oleh perusahaan software dibandingkan inovasi proses dan organisasi (termasuk didalamnya inovasi pasar). Hal ini dapat dimengerti karena karakter utama bisnis software yang ada di Indonesia masih sangat tergantung pada apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan konsumen/buyer. Dengan demikian, model bisnis yang banyak dijalankan adalah bagaimana sebisa mungkin menyediakan produk-produk yang menjadi kebutuhan konsumen (order-based oriented). Selain itu, muatan atau konten pengetahuan (ie. pengetahuan tentang produk/desain, pasar dan administrasi/manajemen) mempunyai yang kuat terhadap inovasi produk/jasa dan organisasi yang dilakukan perusahaan.

Jika dikaitkan dengan keberadaan departemen R&D seperti yang kebanyakan dapat dijumpai di perusahaan-perusahaan berskala besar, tampaknya keberadaan departemen ini belum memberikan impak yang siginifikan terhadap inovasi di perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena departemen yang ada masih belum dipandang sebagai departemen yang ideal, atau peran departemen belum optimal seperti yang ada di perusahaan-perusahaan berskala besar. Dengan kata lain, due to the lack of independence and due to the lack of independence and flexibility in executing the idea of innovation. Aspek keuangan masih saja dikeluhkan sebagai salah satu hambatan utama dalam mendapatkan pengetahuan dari luar.

Demikian adalah, ringkasan hasil sementara survei tentang perusahaan pengembang software di Indonesia terkait dengan aksesnya pada pengetahuan dan inovasi yang ada di perusahaan. Yang telah diuraikan di atas merupakan bagian dari paper yang berjudul “Does knowledge matter? The impact of external knowledge on innovation in Indonesian sofware firms” yang akan dipresentasikan pada salah satu internasional konferensi di Bali, Agustus mendatang. Tertarik lebih lanjut akan ulasannya, tunggu tanggal mainnya ya. 😉

Intensi kewirausahaan mahasiswa: berbedakah antar bangsa?

Standard

Survei terhadap 332 mahasiswa perguruan tinggi dari tiga universitas di tiga negara (Indonesia, Jepang dan Norwegia) menunjukkan bahwa intensi kewirausahaan mahasiswa dan faktor-faktor yang mempengaruhinya berbeda antara satu negara dengan negara yang lain. Hasil penelitian dapat membuktikan bahwa efikasi diri mempengaruhi intensi mahasiswa Indonesia dan Norwegia.

Kesiapan instrumen – mencakup ketersediaan informasi, kemudahan akses modal dan jaringan sosial – dan pengalaman bekerja menjadi faktor penentu intensi kewirausahaan bagi mahasiswa Norwegia. Latar belakang pendidikan menjadi faktor penentu intensi bagi mahasiswa Indonesia, dengan arah berlawanan. Sementara kebutuhan akan prestasi, umur, dan jender tidak terbukti secara signifikan sebagai prediktor intensi kewirausahaan. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa kemampuan model untuk menjelaskan fenomena tersebut hanya sebesar 28,2% (Indonesia), 14,2% (Jepang) dan 24,8% (Norwegia).

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan pada berbagai pihak seperti universitas dan lembaga pemerintah terkait dengan pembuatan kebijakan-kebijakan yang meningkatkan semangat kewirausahaan.

*The best paper award Call for Paper JEBI 2008. Ditulis bersama dengan Rokhima Rostiani.

We know more than we can tell

Standard

“Kita mengetahui lebih dari apa yang dapat kita katakan”. Ya, pernyataan yang sangat menarik dan cerdas dari Michael Polanyi (1966, h. 136) dalam bukunya Tacit Dimension. Bagi mereka yang menekuni bidang manajemen pengetahuan dan sebangsanya, siapa yang tidak kenal dengan penulis dan penggagas ide tacit knowledge ini. Hampir semua paper dan tulisan ilmiah terkait dengan manajemen pengetahuan, selalu merujuk nama penulis ini.

Apa itu tacit knowledge?
Penyataan di atas, sangat jelas namun tak mudah untuk menjelaskan apa yang dimaksud sebenarnya (Polanyi, 1966). Sebagai misal, kita mengetahui wajah seseorang, bernama A, dan kita dapat mengenali orang tersebut dari sekian banyak ribuan, bahkan milyaran orang di muka bumi ini. Akan tetapi, biasanya kita tidak dapat mengatakan dengan mudah, bagaimana kita dapat mengenali wajah orang A tersebut dan menjelaskannya. Alhasil, hampir semua pengetahuan yang kita ketahui tersebut, tidak dapat kita tuangkan dalam kata-kata. Jika dalam sebuah kasus kejahatan, dan kita sebagai saksi, maka biasanya polisi akan memberikan beberapa gambar wajah untuk membantu kita mengatakan apa yang kita ketahui. Dengan metode ini, mungkin berhasil, mungkin tidak. Tetap saja, metode yang diterapkan pihak kepolisian tidak mengubah kenyataan bahwa: kita tahu lebih banyak dari yang dapat kita ucapkan.

Contoh lain, misalnya, kita bisa mengetahui physiognomy (karakter seseorang dari apa yang dapat kita lihat – contohnya wajah). Dari wajah, kita terkadang dapat mengenali mood/kondisi psikologis seseorang pada saat itu, tanpa dapat kita jelaskan mengapa kita dapat mengetahui, dari tanda-tanda tersebut yang dapat kita tangkap.

Itulah yang disebut dengan tacit knowledge. Pengetahuan yang kita ketahui dan biasanya tidak tersedia dalam dokumen, manual tertulis lainnya. Kita dapat mengetahuinya, dari yang kita lihat, yang kita rasa dan yang kita alami. Dan tentu saja, hampir semua kita akan mengetahui lebih banyak dari yang dapat dikatakan. Benarkan? So, jangan anggap remeh lawan bicara kita. Bisa jadi, dia tau lebih banyak dari yang dia bisa katakan …

Sumber: Michael Polanyi (1966), Tacit Dimension

Mengurangi waktu tunggu: Belajar dari Restoran Ni Hao

Standard

Menyantap hidangan lezat yang menggugah selera, pastilah dinanti-nanti banyak orang. Bagi para penikmat makanan, mereka akan cukup jeli dalam memilih restoran mana yang menyajikan makanan yang lezat, bervariasi, dengan tempat dan pelayanan yang prima pula. Jika ada restoran yang seperti ini, sudah bisa dipastikan restoran akan penuh dengan pengunjung. Seperti halnya yang saya amati di Restoran Ni Hao, Groningen, tiga hari lalu. Kebetulan, bersama beberapa kolega, kami berkesempatan untuk mencicipi masakan enak dan sangat enak, apalagi dengan gratis.

Dengan 20 euro per orang, then all you can eat, hal ini pulalah yang membuat restoran Ni Hao tidak pernah sepi, disamping tentu saja, makanannya yang super lezat dan kenyamanan juga pelayanan yang diberikan. So pasti, restoran ini selalu ramai. Dan menunggu adalah hal yang wajar.

Sayangnya, dalam kondisi nyata, sebagian besar orang sangat enggan menunggu. Survei membuktikan, bahwa menunggu adalah hal yang paling sangat tidak disukai bagi hampir sebagian besar manusia di muka bumi ini. Meskipun hanya dalam hitungan menit bahkan detik sekalipun. Metters et al., (2003) menambahkan bahwa kecenderungan orang secara psikologis akan selalu mengoverestimate durasi dalam menunggu. Misalnya, seorang hanya menunggu kedatangan pacarnya selama 5 menit (actual time), tetapi ketika ditanya sang pacar, apa yang dia jawab? Wah, luammaaa bangettttt, sampai kaki serasa membatu. Sangat hiperbola. No wonder, karena proses menunggu memang melibatkan subyektivitas atau perasaan seseorang.

Dalam industri jasa makanan seperti restoran, waktu tunggu konsumen untuk dilayani menjadi sangat krusial. Apalagi terkait dengan masalah perut. Dalam kenyataannya, sebagian besar orang yang berkunjung ke restoran adalah mereka yang berstatus lapar. Bisa dipastikan, tingkat sensitivitas yang dimiliki jika waktu yang dibutuhkan untuk menunggu dilayani, cukup signifikan.

Lalu, jika memang perusahaan mengharuskan konsumen menunggu atau dengan kata lain, jika menunggu tidak dapat dihindari? Solusinya? Seperti yang saya rasakan sewaktu berada di Ni Hao, sejak memasuki sistem layanan, setiap konsumen sudah dilibatkan dalam proses pelayanan itu sendiri. Konsumen melakukan proses pemilihan apa saja yang akan disantapnya. Berpindah dari satu counter ke counter yang lain. Fun and relax bagi kebanyakan pengunjung, tentu saja. Ditambah, proses pelayanan memasak yang sangat-sangat cepat. Jelas, membuat konsumen merasa tidak pernah menunggu. Dengan melibatkan sedini mungkin konsumen dalam proses pelayanan dipandang sebagai salah satu cara jitu mengurangi rasa subyektif menunggu (Metters et al., 2003). Karena, dengan demikian, konsumen tidak sadar bahwa dia menunggu. Konsumen dibuat sibuk dengan aktivitas tertentu pada saat menunggu, membuat konsumen merasa tidak menunggu.

Cara lain?
Misal dengan membuat suasana tunggu atau tempat layanan senyaman mungkin. Dengan memberikan fasilitas AC atau berventilasi dan bersirkulasi udara yang baik. Atau dengan menyediakan fasilitas TV atau bahan bacaan lain yang membuat perhatian konsumen dapat sedikit beralih ke hal-hal tersebut. Di beberapa tempat layanan, ada pula yang memberikan fasilitas khusus tempat bermain bagi anak-anak. Fasilitas ruangan dan kursi duduk yang nyaman, diselingi dengan iringan musik yang kondusif, tentu akan membuat konsumen merasa nyaman dalam menunggu.

Hal lain, misalnya dengan memberikan prosedur yang adil bagi semua konsumen ketika menunggu. Umumnya, hukum yang berlaku dalam menunggu adalah first come first serve. Konsumen akan merasa diperlakukan fair atau adil. Banyak perusahaan kemudian menggunakan fasilitas antrian dengan menggunakan kartu atau alat tertentu. Dengan perlakuan yang adil seperti ini, konsumen dapat memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk menunggu.

Selain itu, informasi kepada konsumen tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menunggu, juga disinyalir dapat mengurangi rasa menunggu konsumen. Misal dengan memberi tahu perkiraan waktu yang diperlukan untuk mengantri, proses layanannya itu sendiri. Dengan demikian, konsumen akan punya perkiraan waktu yang dibutuhkan, sehingga konsumen yang akan memutuskan apakah akan menunggu dengan segala konsekuensinya atau tidak.

Mengapa memanaje waktu tunggu menjadi penting?
Selain karena hal psikologis, bahwa kecenderungan orang akan selalu mengoverestimate waktu tunggu, seperti yang sudah dipaparkan di atas. Dipercaya juga, bahwa waktu menunggu akan mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen. As the perceived time of waiting increases, customer satisfaction typically decrease (Metters et al., 2003). Selain itu, kesan pertama konsumen pada kinerja organisasi akan dipengaruhi oleh waktu tunggu. Dan terbukti, cukup banyak konsumen yang berpaling mencari layanan dari perusahaan lain, bukan karena produknya tidak bagus tapi karena lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menunggu. 

So, jangan pernah anggap remeh manajemen antrian, jika tidak ingin kehilangan konsumen potensial dan pelanggan.

***

Special thank to Prof. Luchien Karsten, yang udah traktir makan-makan. Sering-sering ya Luchien. 😉

Sumber utama:
Metters, R. King-Metters, K. and Pullman, M. 2003. Successful service operation management. Canada: Thomson South-Western.

New name: new identity?

Standard

What’s a name? begitulah yang sering kita dengar dari sastrawan terkenal Inggris, Williams Shakespeare. “Apalah arti sebuah nama”. Namun, tentu tidaklah demikian bagi sebagian besar kita. Nama membawa perilaku dan citra. Kalau memang ada nama yang tidak sesuai dengan makna yang disandang maka tidak ada cara lain kecuali kita mengubahnya. Ada keyakinan Jawa bahwa kalau orang menyandang nama yang tidak sesuai dengan keadaannya maka orang itu dapat sakit-sakitan (Suwardjono, 2007). Dalam pandangan agama yang saya yakini, nama yang orang tua berikan atau yang kita berikan ke anak-anak kita, ibarat doa yang dipanjatkan. Ibarat harapan yang digantungkan. Ibarat impian yang diangankan. Intinya, memuat segala nuansa yang mengandung kebaikan di masa mendatang.

Jika saya cermati, nama-nama di generasi pendahulu saya, umumnya merepresentasikan golongan atau kaum tertentu. Sebut saja, nama Joko, Painem, atau semua yang berawalan depan Soe atau Su, biasanya dimiliki oleh mereka-mereka yang berasal dari Yogyakarta, Solo dan Jawa Tengah dan sekitarnya. Nama yang berupa pengulangan, misal, Nana Sutrisna, Iwan Setiawan, Gugun Gunawan, Dedi Sudedi dan lainnya. Dengan mudah, orang akan menduga, ah, mereka ini tentu dari Suku Sunda. Contoh lain, nama dengan Cut, Teuku (dari Aceh), atau Ni, Made, Ketut (dari Bali). Tentu saja, nama-nama tersebut masih eksis hingga saat ini. Bagi kelompok pasangan muda masa kini, ada kecenderungan memberikan nama anak dengan mengadopsi bahasa-bahasa asing, Arab atau agama Kristiani, misalnya. Setidaknya, untuk nama anak saya, kami mengadopsi dari nama-nama indah dan mulia bahasa Arab, dengan sedikit polesan tentu saja. Atau pada saat saya membaca daftar nama temen-temen sekelas anak saya, hampir semua nama terkesan masa kini dan trendi. Entahlah, mengapa bisa demikian. 😉

Yang jelas, nama seperti apa dan darimana itu berasal, nama menjadi sangat penting untuk menunjukkan identitas. Dalam bahasa manajemen pemasaran, nama kemudian lebih dikenal dengan merek (brand), yang diartikan sebagai “nama, istilah, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing” (Kottler, 2000). Merek-merek terbaik dapat memberikan jaminan kualitas bagi konsumennya. Merek lebih dari sekedar simbol dikarenakan adanya enam level pengertian yang terkandung di dalamnya meliputi: atribut, manfaat, nilai, budaya, kepribadian, dan pemakai.

Dengan kata lain, adanya nama atau merek, menunjukkan keinginan perusahaan untuk mewujudkan yang terbaik sesuai dengan nama yang disandangnya, dan menjadi identitas tersendiri. Inilah yang salah satu hal yang saya pikir melandasi mengapa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada berganti nama menjadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, pada 29 Juni 2007 lalu. Semoga tidak berhenti hanya pada perubahan nama. Tentunya, dengan pergantian nama tersebut, semangat berganti baru dan identitas yang mencerminkan nama tersebut dapat lebih terwujud di masa mendatang. Mari selalu berkarya.

EU’s ban: Cermin Buram Kinerja Airlines Indonesia?

Standard

Hari ini, Thursday, 28 June 2007, 09:59 GMT 10:59 UK, BBC NEWS merilis sebuah berita:

EU Bans All Indonesian Airlines
All 51 Indonesian airlines will be banned from the EU, including national carrier Garuda. Indonesian airlines have suffered a series of accidents this year. On New Year’s Day an Indonesian jet fell into the sea, killing all 102 people on board. Some weeks later, another plane broke in half as it landed. And in March, a Boeing 737 veered off a runway and burst into flames, leaving 21 dead. “European citizens should avoid flying with these carriers”, “They are really unsafe.” an EU official said.

****

Meskipun sudah dapat saya duga sebelumnya, tapi tetap saja, mendengar statement seperti itu, seakan ada yang tergores di hati saya. Tidak nyaman, rasanya. Ah Indonesia, catatan ‘buruk’ apa lagi yang selalu diperdengarkan. Bagaimanapun, juga, sebagai orang yang lahir dan besar di Indonesia, pernyataan tersebut, seperti mempertontonkan dan memperjelas aib nyata kemana-mana. Yang mungkin, tak akan mudah untuk dilupakan dan hilang begitu saja dalam memori yang membacanya. Menyedihkan dan memprihatinkan. Tapi di sisi lain, mungkin, memang Indonesia harus lebih banyak belajar. Karena sesungguhnya seperti itulah cermin buram kinerja perusahaan-perusahaan nasional di tanah air kita.

Berbicara kinerja, sangat terkait dengan bagaimana komitmen perusahaan pada kualitas yang diberikan. Dalam hal ini adalah kinerja maskapai penerbangan yang akan sangat ditentukan dari kualitas layanan yang diberikan. Dimensi kualitas tentu saja tidak hanya sebatas pada keramahan, komunikasi, fasilitas fisik yang ada, kompetensi, atau kemudahan akses, tapi juga aspek keselamatan penerbangan (Davis et al., 2003; Parasuraman et al., 1991). Beberapa tahun lalu, dengan maraknya maskapai penerbangan swasta baru yang masuk dalam pasar nasional, tampaknya ada pergeseran atribut kualitas pelayanan. Tapi tentu saja, aspek keselamatan, suatu hal yang mutlak.

Hanya saja, pada kenyataannya, menjaga komitmen untuk memberikan layanan terbaik, merupakan hal langka di Indonesia. Bagi industri yang tidak secara langsung, terkait dengan kepentingan konsumen, mungkin efeknya tidak akan sedahsyat perusahaan-perusahaan jasa yang tingkat interaksi dengan konsumen tinggi.

Telah dipercaya bahwa, kualitas jasa yang baik mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen. Konsumen yang puas, biasanya tidak akan segan-segan untuk melakukan pembelian ulang dan jadilah mereka ini, kelompok loyal customer. Sayang, menurut Kottler (2003), lebih dari 70% perusahaan justru gagal dalam menjaga loyalitas konsumennya. Disinyalir, kegagalan tersebut adalah karena tidak mampu menjaga konsistensi kualitas yang disediakan. Tampaknya inilah yang terjadi di hampir semua maskapai penerbangan di Indonesia. Tidak mampu mempertahankan kualitas dengan baik. Lihatlah, maskapai nasional kita, Garuda Indonesia. Pada Oktober 2006, Presiden Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengumumkan bahwa Garuda baru menerima penghargaan Indonesia Customer Satisfaction Award (ICSA 2006) untuk yang ketujuh kalinya (majalah Garuda, 2006). Nyatanya? Kejadian terburuk di Maret lalu, di saat kepercayaan sebagian besar masyarakat pada jasa penerbangan (terutama swasta) menurun, justru Garuda menambah daftar keburukan kinerja maskapai penerbangan nasional. Sungguh memprihatinkan.

Komitmen pada perbaikan kualitas yang terus-menerus (continous improvement) merupakan keharusan bagi semua perusahaan di era kompetitif seperti sekarang ini. Jika tidak, sudah diduga, seperti yang terjadi pada Garuda dan maskapai penerbangan Indonesia lain. Banned. Luar biasa. Reputasi jatuh, di mata internasional. Dapat dibayangkan, betapa harus berjuangnya maskapai kita, untuk memperbaiki citra yang sudah keburu tercoreng.

Memang kebanyakan perusahaan, lupa bahwa komitmen pada kualitas itu haruslah menyeluruh, tidak hanya tergantung pada kepemimpinan dari atas (top down leadership) tapi juga perlu adanya komitmen dari semua elemen di organisasi (bottom up commitment). Juga, banyak yang mungkin lupa, bahwa perbaikan kualitas itu bukan hal-hal yang sifatnya jangka pendek (short-term goal) yang mudah dilihat hasilnya. Tapi benefit dan hasil dari implementasi kualitas saat itu, akan dinikmati jauh di kemudian hari, dengan benefit yang jelas akan sangat jauh dari investasi yang ditanamkan di awal. Dalam bahasa Crosby, quality is free. Yang akhirnya akan mendatangkan keuntungan balik (return on quality) bagi perusahaan. Terlihat dari reputasi perusahaan yang sangat baik, yang tentu saja akan diikuti dengan tingginya value produk yang ditawarkan (i.e profit bagi perusahaan), lihat Barry and Render (2005). Dengan kata lain, bicara kualitas adalah bicara konsistensi implementasi dan bukan hal-hal yang serba instan. Di negara yang gemar dengan hal-hal yang instan seperti Indonesia, jelas aspek pemeliharaan kualitas luput dari fokus perusahaan.

Semoga, banned dari EU menjadi pembelajaran tersendiri bagi maskapai-maskapai penerbangan kita, untuk dapat perform lebih baik. Ada yang bilang pengalaman dapat menjadi guru yang terbaik. Mudah-mudahan saja, masih ada yang mampu dengan cerdas belajar dari masa lalu. Karena semestinya tidak akan pernah berhenti pembelajaran itu (never ending learning and improvements). Harapannya, Indonesia akan jauh lebih baik. Tapi kapan ya? Yah, semoga jawabannya bukan kapan-kapan. Ahh.