Kesempatan kedua

Standard

Awalnya saya berfikir, segala sesuatu sungguh akan berkesan, pada kali pertama. Bagi pengagum cinta, tak heran lalu berstatement: loves at the first sight is the real one, cinta pada pandangan pertama. Para pemilih ulung dan mungkin opportunis, mereka akan berujar, chance does not come twice! So take or leave it!

Ya, mungkin quotation saya tidak terlalu tepat untuk konteks yang saya pikirkan, tapi yang saya rasa, tapi justru pada kali kesempatan kedua, semua tampak jauh lebih indah.;-) Apakah itu?

Saat liburan summer, Juli 2009 lalu, saya berkesempatan untuk mengambil two-weeks break, off dari segala rutinitas yang melelahkan pikiran dan batin, i.e. menganalisis data thesis. Pilihannya adalah Norwegia. Salah satu negara di Skandinavia, terkenal dengan Viking dan penghasil minyak dunia, negara yang tidak murah untuk hidup di sana. Mengacu pada the Economist Intelligence Unit, Norway was rated the second most expensive country (in the world) and the most expensive European country in which to live (Quality of Life Index 2006). Lalu kenapa Norway? Sudah menjadi impian lama, saya ingin mengajak si kecil melihat dimana saya dulu berjuang untuk menyelesaikan studi lanjut. And thanks God for making this possible!

Tiba di Kjevik, the airport of Kristiansand, pikiran saya terbayang sekian tahun lalu saya tiba di bandara ini dengan air mata. Tapi kali ini? Sulit diungkapkan hanya dengan kata HAPPY! Dijemput si mbakyu ayu nan baik hati, saya dan si kecil melaju, menyusuri jalanan di Kristiansand. Tak ada yang berubah, everything exactly the same! Yang berbeda, hanya semua tampak lebih indah. Jauh lebih indah! Tak henti-hentinya, saya berujar, “Mbak Ret, kok Kristiansand jadi indah banget ya … Padahal dulu …”.

Kunjungan berikutnya, Bergen. Kota yang menakjubkan indahnya. Lagi-lagi, setiba di Flesland (Bergen airport), kami disambut hangat oleh si Cantik, Jeanny 😉 Melaju melewati jalanan yang dulu juga pernah saya lewati. “Wow, Jean, Bergen indah banget yaaa. Much much more beautiful!!”   Pun, waktu kami berkunjung ke Oslo city, Vigelands parken. “Oslo lebih cantik, Mbak Anni”. 😉

Ternyata perasaan, kondisi pikiran, fasilitas akan mempengaruhi bagaimana keindahan atau ketidakindahan akan suatu hal terbangun dan terdefinisi. Jadi ingat, bahwa tak ada yang absolute di dunia ini. Perception of something will be depending on timing, situation, mental and physical conditions. Yah, setidaknya itu yang saya alami.

Beruntung saya mendapatkan kesempatan kedua yang ternyata jauh lebih indah. Terima kasih untuk suami as my main sponshor (hehe) dan sahabat-sahabat terkasih yang membuat hal ini menjadi sangat mungkin dan indah! Semoga Allah selalu memberikan limpahan kesempatan-kesempatan yang selanjutnya untuk merasakan keindahan nikmat-Nya. Sekali lagi, thanks so much!

*Very special thanks to Retno Tomstad & Fam plus Utty, Jeanny Samuelsen & Fam, Anni Brendholen and Stale & Ningsih. This means a lot for me and Mila (especially).

Ini dia, artikel Intensi Kewirausahaan itu

Standard

Sejak saya muat intisari artikel Intensi Kewirausahaan, hasil studi dari tiga negara (Indonesia, Norwegia, dan Jepang) beberapa waktu lalu, ternyata antusiasme dan ketertarikan dari pembaca blog ini, sangatlah tinggi. Terbukti dari mengalirnya permintaan yang ditujukan langsung pada saya via email atau melalui blog ini. Beberapa mungkin sudah saya reply dengan mengirimkan artikel tersebut. Tapi, bisa jadi, hingga detik ini, saya belum berkesempatan untuk mengirimkannya ke alamat yang dimaksud.

Awalnya, memang artikel tersebut hanya saya muat intisarinya di blog saya ini. Toh, sebenarnya bisa diakses di paper-based version karena sudah dimuat di JEBI edisi Oktober 2008. Tapi, ternyata saya menyadari, bahwa sebagian besar yang berminat tidak memiliki akses langsung ke jurnal tersebut. Atau bisa juga meminta langsung ke saya, hanya saja, ternyata baru saya sadari, bahwa saya tidak selalu berada dalam kondisi dimana akses Internet sedemikian mudah dan cepat untuk merespon setiap permintaan. Sehingga, setidaknya dari sisi saya pribadi,  saya bisa berkenalan dan bersilaturahmi dengan siapapun yang tertarik dan berkepentingan dengan artikel tersebut. Maunya sih gitu. Tapi, ya, kenyataannya, sekalipun, dalam kondisi dengan akses Internet full, ada halangan yang di luar perkiraan dan harapan saya terjadi. Ya, misalnya, laptop rusak dan harus dibawa ke kota lain untuk perbaikan. Wuihhh. Setelah ‘sembuh’, ternyata kadang terlewat juga, karena memory saya yang lama-lama mulai berkurang kehandalannya. Hehe. Tapi ya, maklum, namanya juga udah mulai menua ini.

Maka dengan ini, saya menyengaja — karena sudah ngerti caranya juga hehe — memberi link bagi yang ingin akses artikel Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi antara Indonesia, Jepang dan Norwegia. Silahkan diakses, kalau memungkinkan untuk meninggalkan pesan bagi yang mengakses, saya akan sangat mengapresiasi. Semoga artikel dan link tersebut bermanfaat.

indarti-rostiani-jebi-2008

Salam,

Selamat hari ibu

Standard

Seorang kawan memforward ucapan Selamat hari ibu. Aha, tepat 22 Desember, adalah hari Ibu.

Sebuah lagu dari Iwan Fals, berjudul Ibu, cukup menggambarkan arti perjuangan seorang Ibu.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas, Ibu, Ibu …

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas, Ibu, Ibu …

I love and miss you so much, Ibu.

Mari, Ibu-ibu Indonesia, maju dan bangkitkan Indonesia kita. Merdeka!!

Winter yang kelabu

Standard

Dingin, gelap, suram, serba putih dan semakin dingin. Itulah suasana khas Eropa di kala musim dingin. Winter kali ini ternyata terjadi lebih awal. Jauh lebih awal dibanding dua winter sebelum-sebelumnya.

Dan hari ini, sejak pagi hingga larut malam, suasana begitu suram. Betapa tidak, kabut bergelayut sepanjang hari. Seolah-olah tak memberikan kesempatan kepada sang surya untuk bersinar. Meskipun saya yakin sinarnya pun takkan sanggup memberikan kehangatan semestinya. Tapi, hari ini, rasa-rasanya Sang Surya tak sanggup menaklukan kekuatan Sang Kabut yang seolah-olah enggan beranjak dari Bumi Groningen. Pekat, dan sumpek. Tak ayal, suasana-suasana winter seperti inilah yang menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat depresi bagi sebagian besar masyarakat di Eropa. Bagaimana tidak? Salah seorang kolega berujar, berangkat saat gelap dan pulang kantorpun hari sudah gelap. Di jalanan, semua orang prefer untuk menggunakan pakaian bernuansa gelap. Lengkap sudah, lengkaplah sudah.

Kalau sudah begini, membayangkan enaknya tinggal di curahan kehangatan sang Surya yang seolah takkan pernah berakhir. Wah, senangnya … Duh jadi kangen. Kapan ya pulang? Miss you all already …

Overload?

Standard

Apa itu overload? Kelebihan beban atau pekerjaan yang dialami oleh seseorang, itulah kira-kira apa yang disebut dengan ‘overload’. Basically, setiap kita punya kapasitas (terpasang) yang sudah diberikan yang Maha dari segala Maha. Ibarat mesin, kapasitas yang kita milikipun bisa digunakan untuk menghasilkan apapun yang diinginkan oleh si empunya kapasitas.

Dalam manajemen operasi, kapasitas (capacity) dikenal dengan output atau keluaran yang dihasilkan dari sebuah mesin produksi pada satuan waktu atau periode tertentu. Bisa dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu dst. Ambil contoh, sebuah mesin produksi untuk mencetak kertas. Dalam satu hari (8 jam kerja efektif) mesin dirancang untuk menghasilkan 10000 eksemplar kertas. Ini yang disebut dengan design capacity. Kapasitas sudah diukur dengan mempertimbangkan usia hidup mesin, dan kontinuitas produksi, juga biaya minimal dengan output tertentu. Jika ‘dipaksa’, mesin dapat saja berproduksi melebihi output yang direncanakan tersebut. Ini yang disebut dengan maximum capacity, yaitu output yang dihasilkan pada periode tertentu dengan mengerahkan segenap sumber daya. Tak menutup kemungkinan, dalam kondisi-kondisi tertentu, semisal musim awal studi dimana permintaan terhadap kertas meningkat, maka perusahaan ‘memaksa mengejar setoran’ dengan memaksimalkan kapasitas yang ada. Perlu dicatat, yang seperti ini, biasanya dalam kondisi-kondisi tertentu. Karena jika tidak? Mesin pun juga manusia … begitulah kira-kira. Apa yang terjadi? Masa hidup mesin akan dipaksa menjadi sangat pendek.

Ilustrasi sederhana di atas yang terjadi dalam konteks mesin, pun terjadi dalam konteks manusia, indeed. Kelebihan pekerjaan atau beban kerja yang dirasakan seseorang akan sangat mempengaruhi kondisi fisik dan mental si pelaku. Akibatnya? Overload. Ya, ‘penyakit’ ini menjadi cukup familiar di telinga saya beberapa bulan terakhir ini. Kenapa? Beberapa waktu lalu, PhD coordinator SOM membuat pengumuman masa kerjanya yang sangat terbatas dan harus mengambil long-break, karena menurut dokter, beliau mengalami overload. Jika dalam sehari otak ‘dipaksa’ berfikir lebih dari 4 jam, akibatnya pusing, mual, segera menyerbu. Tak berapa lama dari itu, direktur sekolah dasar Internasional dimana anak saya mau sekolah di sana, juga mengalami hal serupa. Wow, coincident? atau memang sudah menggejala?

Jika mesin saja ada ‘masa hidup’, apalagi manusia ya? So, berhati-hatilah. Hanya kita yang tahu, seberapa besar kapasitas ‘mesin’ diri kita, sehingga tidak sampai batas overload, dan harus ‘off’ segalanya. Mumpung masih ada waktu, mumpung masih seperti ini, tak ada salahnya menjaga.

Selamat mengukur kapasitas diri untuk hidup yang lebih bermakna. 🙂

Kemana restauran Indonesia?

Standard

Tulisan ini merupakan rangkuman peristiwa yang telah terjadi beberapa waktu lalu. Entah mengapa saya ingin menuangkannya pagi ini, sambil nunggu jadwal bis ke kantor.

Akhir bulan Oktober lalu (akhir pekan), RuG PhD committee mengadakan excursion untuk lebih menjalin keakraban di antara sesama PhD dari berbagai latar belakang dan negara. Tak kurang dari 60-an orang berpartisipasi dalam acara tersebut. Excursion dimulai dari olahraga bowling di Kardinge sport center, Groningen, dari pukul  17.00-18.30. Sungguh sangat menyenangkan. Rasanya relaks, bisa melempar bola bowling yang berat dan mengenai pion-pion yang seakan menantang untuk ditendang. Byaarrr … kennaa deh tuh pion. Skor pun okay. hehehe. Sayangnya, pagi harinya badan serasa hancur lebur, dan kaku-kaku. Konsekuensi orang yang tidak pernah olah raga. Begitulah.

Menjelang malam, rombongan menuju restoran untuk menyantap hidangan dinner. Ternyata yang dipilih adalah Chinese Restaurant yang fancy dan elegan. Hmm, bisa dibayangkan menunya sangat enak. Saya pun memilih tempat duduk, bergabung dengan beberapa rekan yang lain. Acara standar pembukaanpun dimulai. Lalu, kamipun mulai mengambil makanan sendiri sesuai selera. Saat itu, restoran cukup dipadati oleh para penikmat makanan. Maklum, weekend dan cuaca masih bersahabat. Tak terlihat kursi yang kosong.

Di tengah asyiknya menyantap hidangan, saya sempat berbisik dengan temen yang kebetulan orang Indonesia, wah, kenapa ya tidak di restoran Indonesia. Toh menu dan rasa makanannya kalau dipikir-pikir juga sama aja. Komentar saya ke teman saya. Lalu, dijawab, lha, emang ada restoran Indonesia kayak begini di Groningen? hmm, iya ya … Dimana restoran Indonesia kita?

Eh, tidak berapa lama dari itu, rekan lain yang orang Belanda yang tengah asyik menyantap menu ala kodok berujar, yang kira-kira begini:  “wah, sebenarnya masakan di sini ndak jauh beda, dengan masakan-masakan Indonesia lho. These food are not really Chinese food. It really similar to Indonesian tastes. But where is the Indonesian restaurant like here in Groningen?

Wah wah, ternyata komentarnya sama persis dengan yang sedang dibicarakan oleh saya dan teman Indonesia tadi. Dan sesaat kamipun saling berpandangan. Kenapa harus Cina? Sebagai informasi, di Groningen saja, sudah terdapat tiga restauran lumayan berkelas termasuk salah satunya adalah restauran yang dipilih oleh pihak PhD committee. Restauran Indonesia? Hmm, seingat saya hanya ada 2 restauran yang mungkin lebih tepat disebut “warung makan” Indonesia. Karena dari segi menu, penyajian, luas tempat jauh bisa disebut sebagai restauran yang elegan dan mengundang daya tarik pengunjung untuk menikmatinya, apalagi untuk moment/event tertentu. Kenapa ya Restauran Indonesia? Dimana pengusaha Indonesia berinvestasi? Someday, kalau ada duit nih, rasa-rasanya saya bercita-cita untuk buat restoran Indonesia di negeri orang. Upsss, mengkhayal bukan-bukan. Udah ah … ngebisssss.

Determining sustainability

Standard

Hari ini (Kamis, 20 Nopember 2008) saya mengikuti workshop Determining and Measuring SUstainability di Hamsphire Hotel, Groningen. Salah satu pembicaranya adalah calon PhD yang sore harinya akan segera dikukuhkan, Mark McElroy. Sudah cukup banyak buku atau tulisan-tulisan McElroy tentang knowledge management dan sustainability innovation.

Sustainability atau dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya sebagai kesinambungan, masih merupakan hot issue saat ini. Erat hubungannya dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberlangsungan ekosistem di muka bumi ini, sejalan dengan meningkatnya kerusakan-kerusakan yang terjadi. Dalam pemaparannya McElroy menawarkan sebuah pendekatan untuk mengukur sustainability. Ukuran-ukuran yang sudah berkembang selama ini, jika ditinjau dalam kajian epistemologi memuat tiga hal utama: aspek normatif, aspek deskriptif dan aspek normatif yang lain. Artinya? McElroy menegaskan bahwa sampai sejauh ini belum ada ukuran-ukuran sustainability yang menyentuh dasar apa yang sebenarnya perlu diukur dalam kajian sustainability.

McElroy menawarkan sebuah pendekatan baru yang diberi nama Social FootPrints Method, matriks untuk mengukur social sustainability performance baik terutama dalam level organisasi. Menurutnya, pengukuran sustainability dapat dilakukan dengan berdasar pada apa yang disebut dengan Triple Bottom Line yaitu environment bottom line, economic bottom line dan social bottom line. Ketiga aspek tersebut akhirnya akan menentukan kinerja sustainability yang ujungnya akan berimbas pada sisi financial bottom line pihak yang diukur.

Moga aja pendekatan baru yang ditawarkan McElroy dengan menyentuh aspek sosial melengkapi pendekatan-pendekatan terutama untuk mengukur sustainability yang sudah dikembangkan selama ini. Bagaimana dengan konsep ini di Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang?

Yogyakarta: kota berjuta bendera?

Standard

Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu … Masih seperti dulu …
Begitulah sepenggal lirik dari lagu Yogyakarta, ala Katon Bagaskara tentang kota Yogyakarta.

Ya, siapa yang tidak mengenal kota yang satu ini. Dalam catatan sejarah, kota ini jelas menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini menuju kemerdekaan. Dalam goresan keilmuan, kota ini sangat dikenal dengan kota pendidikan, dimana begitu banyak lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi, termasuk perguruan tinggi terkemuka berlokasi di kota ini. Data terbaru, terdapat sekitar 51 perguruan tinggi di Yogyakarta. Sungguh kota yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Dalam catatan pemerintahan, kota ini unik dengan sistem pemerintahan yang berbeda dibanding kota-kota lain di Indonesia. Dimana konsep kerajaan (Kesultanan) telah berasimilasi dengan baik dengan konsep pemerintahan negara yang ada. Masih banyak istilah-istilah lain yang mengagumkan tentang Yogyakarta. Disamping kota Budaya, kota Gudeg, Kota Bakpia, dan lainnya dengan semboyan Yogya, Yogyakarta Berhati Nyaman.

Tapi apa komentar orang yang baru saja mengetahui Yogya? What will be the first impression about Yogyakarta? Dalam sebuah kesempatan baru-baru ini, salah satu supervisor saya, Theo Postma berwarga negara Belanda berkunjung ke Yogyakarta. Ini kali pertama, Theo menginjakkan kaki ke Yogya. Bahkan ke Indonesia. Bisa dibayangkan apa yang dilakukannya sebelum datang ke Yogyakarta atau Indonesia. Yap, membaca dan menggali semua informasi tentang kota ini dari berbagai buku bacaan. Ciri khas orang yang akan bepergian ke suatu tempat di negara antah berantah. Begitulah kira-kira.

Sesampai di Yogya, mulai dari perjalanan dari airport menuju hotel. Melewati jalan Malioboro. Mengunjungi usaha kecil yang berlokasi di Imogiri, melihat proses pembuatan batik dan perak, khas Yogyakarta. Berkeliling melihat persawahan, perkebunan salak khas Yogyakarta. Melihat-lihat Merapi dan sekitarnya. Mengunjungi kampus tercinta, UGM, and so on, and so on. Semua dilalui si Theo ini, mulai melihat dari kota, rural dan country side kota ini. Apa comment dia?

Setelah menyebut hal-hal ini lainnya (ie. nice people, nice culture, nice city … so many motorbikes). Satu hal yang membuat saya agak terkejut, Theo bilang:
Wow, Yogya is a city with so many flags … Really so many, with different colors.

Terkekeh juga saya mendengar komentar tersebut.
Yap, kedatangan Theo masih berdekatan dengan masa-masa perayaan kemerdakaan Indonesia. Bendera tampak dimana-mana. Tapi disisi lain, memang begitu banyak bendera-bendera partai berkibar dimana-mana. Maklum Theo, partai di Indonesia saat ini 38 partai bo’. Tak heran bendera berkibar dimana-mana. Bahkan, masih sangat jelas terlihat ketika menyusuri country side of Yogyakarta. Indah? Too crowded?

Dan setelah sampai di Bali, fenomena benderapun masih terlihat di sana, hanya less motorbikes, akhirnya Theo berujar: Indeed, there are so many flags in this country (ie. Indonesia).

Banyaknya bendera di sebuah negara, lambang apa ya?
😉

Ketika bad luck menjadi good luck …

Standard

Malang tak dapat ditolak dan dihindari, begitu bunyi salah satu kata bijak yang pernah saya dengar. Mungkin itulah gambaran ‘rezeki’ yang diberikan dan sudah ditentukan oleh Yang Maha Kehendak. Yah, siapa sih yang mau mengalami bad luck. Ternyata, saya pun mengalaminya. Tepat di momen-momen yang semuanya sudah dipersiapkan dengan matang dan diperkirakan tak bakal ada hal unexpected occurs. Nyatanya?

Kejadian ini berlangsung saat saya harus presentasi paper pada sebuah konferens di Bali, beberapa waktu lalu. Jauh hari materi sudah disiapkan, termasuk konsep presentasi. Yah standar persiapan seperti yang sudah sering saya lakukan. Maklum, saya termasuk orang yang selalu striving for excellence, meskipun yah tak ada yang namanya sempurna. Hard to believe! Apalagi presentasi kali ini, di depan salah satu supervisor saya yang juga datang di konferens tersebut. Mistakes are strictly not acceptable, begitulah pikiran saya. Ternyata, semua hal tidak bisa diukur dengan rasio. Dan benar saja, jauh di luar dugaan, karena semua sudah well-settled and well-prepared, kok ya `ujug-ujug` (dalam bahasa Indonesia, tiba-tiba = sekonyong-konyong), baru beberapa menit presentasi, laptop panitia turn off sendiri. Unbelievable! Dari sekian banyak yang sudah presentasi dalam beberapa hari sebelumnya, the laptop was so fine. Bahkan, presenter sebelum saya juga tidak mengalami hal serupa. Sungguh, di luar bayangan. Presentasi yang sedang semangat-semangatnya ini, sempat terhenti … really destruct my mind. How then I start again?

Akhirnya, karena limited time, presentasipun manual. Bayangkan! Dan alhamdulillah, entahlah, ada kekuatan yang lain, yang membuat rasa nervous sudah melayang. Hehe. Malah terkekeh-kekeh sendiri dengan ‘nasib’ yang menimpa. Akhirnya selesai juga presentasi. Hanya saja, rasa upset dan disappointed masih tersisa. Begitu upset, karena andaikan tidak ada technical problem, saya lebih bisa bercerita ke audiens, dan harapannya dapat masukan/input dari audiens. Ini yang ditunggu-tunggu. Tapi, lagi-lagi, tak ada yang bisa menolak hal buruk. Selain menerima dan menikmati … hehehe, meskipun pahit.

Konferensipun berakhir. Dan tak disangka, pada pengumuman best presenters, saya kok ya bisa masuk salah satu best presenter (bukan bermaksud nyombong). Pada saat maju menerima award, saya terkekek-kekek terus mengingat semua yang terjadi. Theo, supervisor saya waktu itu bilang, … See Nurul, your bad luck, now, become your good luck. You deserve to get it! … Ahh, saya jadi ingat, seorang motivator pernah bilang, jangan pernah abaikan arti penderitaan, karena dibalik itu, muncul kesuksesan. Hmm … Thanks God for everything!

Apa itu Fungsi Keberhasilan?

Standard

Berhasil atau sukses, pasti menjadi dambaan setiap orang di muka bumi ini. Detik demi detik, berlalu hingga mencapai menit, jam, hari, melewati minggu, bulan bahkan tahunan dan dekade. Semua berusaha untuk mengejar apa yang disebut dan dimaknai dengan sukses. Intinya adalah bahwa setiap orang yang hidup pasti bermimpi dan menginginkan sukses. Sukses yang sifatnya tangible, misalnya kaya (punya harta melimpah), pekerjaan yang mapan, dan hal-hal lain yang bisa terukur. Sebagian mendefinisikan sukses lebih dari sekedar pencapaian hal-hal yang sifatnya terukur tersebut, apa itu? Kebahagiaan. Karena aspek kebahagiaan merupakan hal yang sifatnya relatif, dan karena relatif maka akan menjadi sangat subjektif, tentu menjadi tidak terlalu menarik (menurut saya) untuk membahasnya dalam tulisan ini.

Sukses yang tangible (kaya, punya usaha yang berkembang dan terus berkembang), itulah yang bisa saya lihat dari sosok entrepreneur dari Yogya, pemilik dan sekaligus pelopor berdirinya apotek K-24. Yang sejak diluncurkannya konsep waralaba apotek lokal beberapa waktu lalu, membuat K-24 mendapat penghargaan dari MURI atas ide cemerlangnya tersebut, hingga saat ini sudah memiliki cabang (dalam bentuk waralaba) sebanyak 160 (yang sudah MoU). Ditargetkan pada tahun 2010 akan menjadi 500 K-24 di seluruh Indonesia. Amazing!

Apa dibalik keberhasilan beliau? Dalam penuturannya yang dapat saya catat, saat bersama-sama menjadi panelis dalam acara Seminar Entrepreneurship and Innovation yang diselenggarakan oleh GamaMulti UGM, Senin, 30 Juni lalu, Pak Gideon mengungkap rahasia kesuksesannya. Fungsi keberhasilan itu adalah

FS = D x C x B x A

Dimana;
FS : Fungsi Sukses
D : Doa
C : Cita-cita (mimpi)
B : Bekerja dengan giat
A : Alat (modal)

Kesuksesan seseorang, akan ditentukan dari banyaknya doa yang dia selalu panjatkan, mimpi atau cita-cita kuat untuk dikejar, bekerja atau berusaha yang pantang menyerah dan alat (modal yang ada). Setiap aspek fungsi memiliki bobot atau pengaruh yang sama pada tingkat keberhasilan yang akan dicapai. Seberapapun besar usaha, modal yang dimiliki, dan cita-cita yang sudah sangat melangit dan selalu terbayang-bayang, tanpa dibarengi dengan Doa (D = 0), hasilnya akan nihil. Atau, begitu takjimnya berdoa tanpa henti, punya modal yang menunjang, cita-cita yang tinggi tapi tidak ada unsur usaha/kerja keras, hasilnya pun jelas akan nihil pula.

Bagaimana fungsi keberhasilan Anda? Semoga sukses selalu. Tetap semangat.