Tidak lulus, apa artinya?

Standard

Beberapa waktu lalu, suasana menjadi begitu menegangkan bagi sebagian besar generasi muda bangsa ini. Mereka adalah calon lulusan SMP dan SMA yang bersiap-siap menapaki jenjang yang lebih tinggi. Bagi yang lulus, hiruk-pikuk kegembiraan, walaupun sesaat tak terelakkan lagi. Bagi yang apes dan tidak lulus, alamat petaka dan habislah dunia ini. Begitulah kira-kira gambaran sebagian besar yang terjadi di generasi muda pada saat kelulusan.

Disisi lain, mendengar dan membaca berita dari berbagai media massa tentang hal ini, membuat prihatin juga. Diberitakan, sebuah sekolah swasta di daerah tertentu di luar Pulau Jawa menyatakan bahwa tingkat kelulusan hanya 50%. Atau bahkan yang lebih tragis lagi, tingkat ketidaklulusan mencapai 100%. Sungguh sangat-sangat memprihatinkan. Mengapa bisa terjadi?

Jika sebuah sekolah dipandang sebagai mesin produksi. Setidaknya ada tiga komponen mendasar dalam mesin produksi yang menentukan baik-tidaknya proses produksi yang dilakukan. Yaitu input, proses dan output. Input bagi sekolah adalah siswa lulusan jenjang pendidikan sebelumnya. Kalau SMP, berarti inputnya adalah siswa lulusan SD atau yang setara dengannya. Input SMU adalah siswa-siswa lulusan SMP dan yang sederajat. Komponen kedua, proses dari mesin produksi itu sendiri. Dalam proses akan sangat ditentukan dari mesin produksi yang digunakan, apakah masih cukup baik? Atau sudah out of date. Mesin tua yang masih saja dipertahankan. Metode proses produksi yang diterapkan. Pelaksana atau yang menjalankan proses produksi itu sendiri, missal karyawan, teknisi atau dalam konteks sekolah adalah para guru. Serta fasilitas-fasilitas lain yang menunjang proses produksi. Komponen terakhir adalah output produksi. Dalam hal ini adalah siswa yang lulus dan tidak lulus. Idealnya dan sesuai harapan, mesin produksi mampu menciptakan output dengan 100% good quality, artinya tidak ada deffect (ie. siswa yang tidak lulus). Yang hal ini tentu akan sangat ditentukan pada kualitas input, kualitas proses dan akhirnya kualitas output itu sendiri. Kenyataannya, simpangan atau error menjadi hal yang wajar dalam sebuah proses. Untuk perusahaan manufaktur, tingkat kegagalan berkisar 10% masih berada dalam batas toleransi. Meskipun, di berbagai perusahaan, misal di Jepang, 0% deffect menjadi suatu keharusan dengan penerapan just in time (JIT)-nya selama ini.

Lalu, jika ketidaklulusan menjadi lebih dari 50%? Dan bahkan 100%? Tidakkah ini mencerminkan hal yang sangat tidak wajar? Dimanakah sumber masalah sebenarnya? Inputnya kah, yang sudah sedemikian jelek? Yang hal ini juga berarti mencerminkan mutu output dari proses produksi jenjang sebelumnya. Atau justu di proses produksinya itu sendiri. Kalau toh memang input ada yang outlayer, proses yang ada tidak sempurna, tapi ya masak outputnya bisa 100% gagal/deffect. Ini kan sungguh sangat-sangat memprihatinkan.

Rasanya tidak berlebihan kalau kita menganggap bahwa hal ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk mencermati dan memperbaiki sistem pendidikan kita selama ini. Kalau tidak dari kita, dan sekarang, lalu … siapa dan kapan lagi? Generasi mendatang adalah investasi kita saat ini.

Yang namanya lupa …

Standard

Lupa. Siapa sih yang tidak pernah lupa? Saya yakin setiap kita, sepanjang perjalanan hidupnya, pernah melakukan hal yang disebut lupa. Dan hal ini merupakan sunnatullah. Terima kasih pada Tuhan yang menciptakan rasa lupa. Bayangkan, jika kita tidak pernah lupa atas semua yang terjadi dalam kehidupan kita. Wah wah …

Banyak orang beranggapan lupa adalah hal sepele dan sederhana. Mungkin demikian, jika akibat kelalaian atau kelupaan yang kita lakukan, hanya terkait dengan kepentingan sendiri. Misal, lupa bawa kaca mata, padahal mata kita sangat tergantung pada kaca mata. Lupa sarapan. Kalau toh, apes, perut sakit, setidaknya yang merasakan akibatnya, minimal diri sendiri. Tapi bagaimana jika terjadi dalam lingkup organisasi atau perusahaan, dimana disitulah interaksi dengan pihak-pihak luar sangat terkait. Dapatkah cukup dimaklumi?

Saya jadi teringat peristiwa kemarin pagi, Selasa 24 Juni 2008. Pagi itu, saya tergopoh-gopoh berangkat ke kantor, karena ada jadwal menguji thesis mahasiswa. Tepat pukul 07.00. Sudah mruput-mruput begitu, tibalah saya di tempat sidang mahasiswa. Suasana yah biasa saja. Saya dan kolega yang akan menguji lalu memasuki ruang ujian. Tak terlihat mahasiswa yang akan diuji, yang biasa duduk di luar menunggu dipanggil. Yang justru ikut masuk adalah staf akademik yang sangat kami kenal wajahnya. Dengan wajah seperti putus asa, si Mbak ini, duduk di hadapan kami. “Lho, Mbak, ada apa? Kok rasa-rasanya ada yang ngga beres nih”, tanya saya waktu itu. Dan benar saja, si Mbak pun, menjelaskan duduk perkaranya. Oalahhhh … ternyata si Mbak ini melakukan hal yang ’sepele’ yaitu lupa menginformasikan kepada mahasiswa yang akan diuji. Si Mbak pun, dengan sangat meminta-minta permohonan maaf dari kami. Sampai-sampai, kalau mau dihukum apapun oleh Bapak dan Ibu, saya terima, begitu Si Mbak mengharap dengan wajah tertunduk. Ohh. Saya dan kolega jadi speechless. Mau marah kok ya tidak menyelesaikan masalah. Tapi untuk puas, juga tidak ada yang bisa dianggap good news dalam keadaan yang unsatisfied seperti itu. Yah, lalu kamipun berembug lagi me-reset jadwal ujian yang jujur sangat tidak mudah menentukan waktunya.

Saya sempat berpikir, kenapa bisa lupa? Kita sepakat lupa adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi jika sudah terkait dalam lingkup organisasi, bagi saya ini menjadi hal yang patut dibenahi. Adakah kesalahan dalam standar operating procedure di lembaga tersebut yang diterapkan? Dimanakah pengendalian proses yang bisa menghindari kealpaan individu semacam itu? Apakah hal itu dapat dijadikan indikasi overload-nya seorang staf dengan pekerjaan yang dibebankan? Untungnya (ini kalau orang Jawa berfikir), konsekuensi dari kealpaan staf tidak berakibat fatal. Fatal dalam arti kerugian waktu yang suangat besar atau hilangnya nyawa seseorang. Tapi juga tidak bisa dikatakan tidak merugikan. Sangat. Coba kalau kealpaan tersebut terjadi pada perusahaan yang sangat sarat dengan ketepatan. Misal di jasa penerbangan, seorang staf lupa mengecek avtur (bahan bakar pesawat) sebelum tinggal landas (seingat saya ini pernah terjadi). Seorang dokter lupa kalau jam 10.00 ada jadwal operasi kritis. Seorang koki lupa mematikan kompor dan pergi begitu saja dari restoran. Bayangkan akibat fatal yang akan terjadi. Bisa jadi sekian banyak kecelakaan fatal di bumi ini berangkat dari kealpaan yang dilakukan individu. Jadi, masihkah layak, alpa dianggap hal sepele dan akhirnya dimaklumi? Maka, berhati-hatilah dari sekarang.

Does knowledge impact an innovation of a firm?

Standard

Pengetahuan (knowledge) merupakan sumber utama bagi inovasi menuju tercapainya keunggulan kompetitif. Dalam dunia bisnis yang penuh persaingan seperti saat ini, diakui atau tidak, perusahaan tidak hanya bisa menyandarkan pada kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya saja, tetapi juga memerlukan pengetahuan-pengetahuan yang digali dari pihak luar. Pengetahuan-pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan komplemen atau pelengkap yang diperoleh dari berbagai pihak di luar perusahaan.

Survei terbaru yang dilakukan pada 100 perusahaan pengembang software di empat kota di Indonesia (yaitu Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Malang) menunjukkan sumber-sumber pengetahuan utama yang menunjang inovasi di perusahaan adalah dari Internet, diikuti dari pembeli/customer dan dari pesaing.

Beberapa kutipan hasil wawancara mendalam dengan beberapa pengusaha software: “So far, no barriers to obtain knowledge. All are already available in the Internet, indeed. We just write what we need, and zappp… all information are available. Just find which is important and useful for our company.” Other firm’s owners indicate other external sources of knowledge and importance of relationship with other parties. “So, we never consider other firms as competitor, even, they can be our business partner. We also get information form them either directly or indirectly.”

Lebih spesifik, ditinjau dari inovasi yang dilakukan, inovasi produk lebih banyak dihasilkan/dilakukan oleh perusahaan software dibandingkan inovasi proses dan organisasi (termasuk didalamnya inovasi pasar). Hal ini dapat dimengerti karena karakter utama bisnis software yang ada di Indonesia masih sangat tergantung pada apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan konsumen/buyer. Dengan demikian, model bisnis yang banyak dijalankan adalah bagaimana sebisa mungkin menyediakan produk-produk yang menjadi kebutuhan konsumen (order-based oriented). Selain itu, muatan atau konten pengetahuan (ie. pengetahuan tentang produk/desain, pasar dan administrasi/manajemen) mempunyai yang kuat terhadap inovasi produk/jasa dan organisasi yang dilakukan perusahaan.

Jika dikaitkan dengan keberadaan departemen R&D seperti yang kebanyakan dapat dijumpai di perusahaan-perusahaan berskala besar, tampaknya keberadaan departemen ini belum memberikan impak yang siginifikan terhadap inovasi di perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena departemen yang ada masih belum dipandang sebagai departemen yang ideal, atau peran departemen belum optimal seperti yang ada di perusahaan-perusahaan berskala besar. Dengan kata lain, due to the lack of independence and due to the lack of independence and flexibility in executing the idea of innovation. Aspek keuangan masih saja dikeluhkan sebagai salah satu hambatan utama dalam mendapatkan pengetahuan dari luar.

Demikian adalah, ringkasan hasil sementara survei tentang perusahaan pengembang software di Indonesia terkait dengan aksesnya pada pengetahuan dan inovasi yang ada di perusahaan. Yang telah diuraikan di atas merupakan bagian dari paper yang berjudul “Does knowledge matter? The impact of external knowledge on innovation in Indonesian sofware firms” yang akan dipresentasikan pada salah satu internasional konferensi di Bali, Agustus mendatang. Tertarik lebih lanjut akan ulasannya, tunggu tanggal mainnya ya. 😉

Arti kemenangan …

Standard

“Wah, nanti kalau hadiahnya udah dapet, seperempatnya, buat dik Rara …”
Seperempat bagaimana? Tanya saya dan papanya, pada si kecil.
“Iya, seperempat dari hadiah aku, Mah. Soalnya, kan aku dapat hadiah ini juga dari dik Rara. Kan dik Rara yang kasih info ada lomba Komik, Mah. Iya kan?!”,

Begitulah penjelasannya bertubi-tubi. Sangking semangatnya, mau dapat hadiah. ;-).

Itulah sekilas rekaman pembicaraan saya, suami dan si kecil, kemarin malam (Minggu, 1 Juni 2008), pada saat kami berangkat menuju lokasi tempat penyerahan hadiah lomba Komik Ibu dan Anak yang diadakan oleh salah satu Bank BUMN di Yogyakarta.

Terus terang, saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya tersebut, saya dan suami sempat saling memandang dan tersenyum, nyengir. Kaget juga. Ngga nyangka, di usianya yang masih beranjak ke angka 9, sudah terbersit dalam pikirannya arti peran seseorang dalam sukses yang dia dapat (menang lomba). Dalam hal ini, teman kecilnya. Bagaimana tidak? Informasi lomba dan berkas materi lomba yang diikutinya kemarin, dia dapatkan dari teman kecilnya itu. Yang kebetulan sudah sempat berkunjung ke Pameran Komik dan mungkin tahu kalau Mila suka menggambar. Lalu berbaik hatilah, Rara membawakan berkas itu ke rumah. Dan setelah ikutan lomba, ehhh … Mila masuk jadi pemenang.

Sebagai manusia, jelas, keberadaan kita tidak pernah lepas dari keberadaan orang lain yang ada di sekitar kita. Setuju atau tidak, disadari atau tidak, dan diakui atau tidak, kehidupan kita tidak akan lepas dari bantuan orang disekeliling kita. Tak ada satupun kita yang sebenarnya tanpa bantuan orang lain. Tanpa bantuan campur tangan orang lain. Entah itu yang riil, bantuan modal uang, bantuan tenaga. Atau hanya berupa doa yang selalu dipanjatkan oleh orang-orang yang memperhatikan dan menyayangi kita. Merekalah semua ini yang membuat perjalanan kehidupan ini menjadi lebih bermakna, lebih dari sekedar sukses dari karir dan materi yang didapat.

Jika hati ini terbuka, masih pantaskah kita berujar kalau kesuksesan/kemenangan yang kita dapatkan selama ini, adalah karena kita yang selalu bekerja keras? “Tau ngga, aku bisa mencapai sampai posisi ini, karena jerih payahku, bukan orang lain!! Ngga ada hubungannya dengan lembaga atau siapapun.” Pernyataan yang kadang sering saya dengar. Jika dari pikiran anak berusia 8,5 tahun saja terbersit pengertian peran orang lain dalam suksesnya, masa’ iya, kita lupa peran semua pihak yang nyata dan tidak nyata, yang membuat kita, masih bisa ’berdiri’ sampai sejauh ini. Rasanya, tak ada yang bisa dilakukan, selain: terima kasih.

Seribu Cara Bilang Tidak

Standard

“Pernah tidak setuju akan suatu hal?”
“Pernah menolak ajakan orang lain?”
“Pernah keberatan dengan sesuatu?”

Apa yang kemudian lazim diucapkan? Bagaimana Anda menyatakan perasaaan Anda?

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata “Tidak”, “No” dalam bahasa Inggris, “Nei” dalam bahasa Belanda dan Norwegia, “Laa” dalam bahasa Arab, “Mboten” dalam bahasa Jawa Krama Inggil. Atau bahkan dengan isyarat “gelengan kepala”. Sejuta ungkapan bahasa untuk mengatakan tidak. Kata “tidak” yang dalam berbagai bahasa saya tersebut, intinya mengungkap ketidaksetujuan, penolakan, ketidaksediaan seseorang untuk berpartisipasi pada suatu hal.

Dalam kenyataannya, setiap orang punya gaya atau cara sendiri untuk mengungkapkan ketidaksetujuan sikapnya. Bagi mereka yang terbuka atau straight forward person atau orang-orang yang to the point, sudah sangat terbiasa mengekspresikan perasaan tidak suka atau tidak setuju secara tegas dan terbuka. Cukup bilang: “Tidak ah, maaf.” Atau dengan singkat, “Tidak”. Namun tidak demikian bagi sebagian orang yang lain, yang mungkin akan sangat kesulitan untuk mengatakan ketidaksetujuan, ketidakbersediaan dibandingkan kalau menunjukkan setujunya dan keinginannya berpartisipasi. Manakah yang baik? Yang buruk?

Tulisan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menganalisis suatu sikap orang lain. Tapi setidaknya memberikan gambaran bahwa ada sejuta cara untuk mengatakan kata tidak. Kejadian-kejadian seperti ini sering saya temui pada saat saya melakukan pendekatan untuk meminta kesediaan wawancara UKM-UKM terkait dengan penelitian yang sedang saya lakukan. Saya jadi teringat pernyataan supervisor saya di Belanda yang bilang “Orang Indonesia itu (Orang Jawa, maksudnya) punya seribu cara untuk mengatakan TIDAK. Kalau mereka tidak setuju, tidak langsung bilang tidak setuju, tapi muter-muter kemanaaa duluuu … (hehehe), tapi intinya kalau kita tahu, mereka tidak setuju. Jadi harus pinter-pinter menganalisis”. Begitulah inti komentar yang pernah disampaikan supervisor saya (Prof. Rene Jorna yang pernah tinggal di Indonesia selama 1 tahun) beberapa waktu lalu, saat mendiskusikan progress survey bagian pertama.

Wah surprise dengar statement tersebut saat itu. oO. Benarkah sebagian besar kita kesulitan untuk secara langsung mengatakan tidak? Dan berbulan-bulan melakukan wawancara dengan UKM di Indonesia, semakin memperkuat pernyataan Rene. hmm…

Rasa-rasanya budaya dimana kita dibesarkan, cukup mempengaruhi? Budaya yang mengandung unsur tenggang rasa yang tinggi pada orang lain, apalagi jika itu akan melukai atau menyebabkan suasana jadi tidak nyaman. Begitulah kira-kira. Menurut Anda?

Bermain di Taman Pintar

Standard

Bermain selalu identik dengan anak-anak. Dunia anak adalah dunia bermain. Hampir tiap detik hidupnya, setiap anak di muka bumi ini sebenarnya tidak pernah dari bermain (bahasa edukatifnya; mengeksplorasi). Dan, minggu kemarin, anak saya mengajak saya bermain di Taman Pintar. “Ayo Mah, kita ke Taman Pintar, ” begitu pintanya.

Sebenarnya ini bukan kali pertama baginya mengunjungi Taman Pintar. Melalui acara field trip di sekolahnya pun, Ia dan teman-teman sekolahnya sudah ke sana. Beberapa waktu lalu, saat saya masih di Belanda, sudah berkali-kali mengunjungi ke sana, dengan papanya. Dan namanya juga anak-anak, minggu kemarin, giliran saya ditagih untuk menemaninya ke Taman Pintar, sekali lagi. Bagi saya, ini pengalaman pertama, memasuki Taman Pintar yang berlokasi di Area Shopping (Toko-toko Buku Lama), maaf saya lupa nama jalannya.

Bertiga, menjelang senja, kamipun ke sana. Hmm, Dengan lokasi Taman Pintar yang cukup strategis, dekat dengan area Malioboro, tak butuh waktu lama menuju lokasi. Dan ternyata, tiket masuk untuk anak dan orang dewasa sangat murah (di luar dugaan). Hanya, Rp. 3000,- untuk dewasa, dan Rp. 1500,00 untuk anak-anak. (Tidak mahal bukan?). Taman ternyata didesain semenarik mungkin, dengan setting bermain bagi anak, tapi mengandung unsur edukatif yang cukup kental. Memasuki ruang Oval, anak-anak disuguhi dengan area Dinosaurus, kemudian Planet dan Tata Surya. Pada saat kami mengunjungi, tersedia beberapa atraksi atau eksperimen yang sedang dilakukan. Ada eksperimen tsunami, gempa, tenaga pedal yang menghasilkan listrik, arus litrik dan lainnya. Sayang, beberapa fasilitas yang ada sudah tampak rusak dan tidak bisa digunakan. Setelah keliling sekitar 1 jam, kami pun keluar dan berjalan-jalan sebentar di taman luar.

Tampak jelas terlihat animo masyarakat dari adanya beberapa rombongan dari berbagai sekolah yang mengunjungi Taman Pintar. Fenomena yang menarik. Tak dapat dipungkiri, masyarakat DIY dan sekitarnya sangat-sangat membutuhkan tempat dan area hiburan yang murah, tapi menyogohkan unsur edukatif. Taman Pintar mestinya bisa menjadi alternatif bagi masyarakat DIY dan sekitarnya, terutama anak-anak. Sayangnya, Taman Pintar sendiri yang sebenarnya relatif baru didirikan masih perlu berbenah. Dengan menyodorkan semakin banyak alternatif mainan yang edukatif, dengan kualitas alat yang tidak mudah rusak. Jika hal tersebut dikelola dengan baik, saya sangat optimis, Taman Pintar bisa menjadi aset wisata edukatif yang sangat handal bagi DIY. Monggo Bapak/Ibu Pemda dan Swasta terkait, mari sama-sama kita suguhkan hiburan yang edukatif buat anak-anak kita. Kalau tidak, masa’ iya, hiburannya cuma ke Mall, atau Time Zone. Kan sayang banget tho?

Bahan Bakar Lagi-lagi Langka: Dimana masalahnya?!

Standard

Mencermati fakta sumber bahan bakar masyarakat (tidak hanya minyak tanah, LPG, BBM) yang langka akhir-akhir ini, dan selalu menjadi langka terutama setelah isu kenaikan BBM, ada satu pertanyaan yang mengusik: Mengapa bisa terjadi? Ujung-ujungnya, siapa juga yang harus menanggung kerugian dari semua ini? Jelas, end-consumer, konsumen-konsumen akhir seperti kita-kita ini. Yang notabene, pendapatan terbatas, yang notabene, masih menggantungkan kehidupan dapur dari hidupnya kompor minyak atau kompor gas. Atau yang hanya mengandalkan jasa transportasi kendaraan pribadi (sepeda motor atau mobil) jika ingin kemana-mana (karena in fact, sarana transportasi publik, tidak memadai).

Sudah jamak, pasokan utama bahan bakar sebagian besar masyarakat kita, disediakan oleh sebuah BUMN Minyak Nasional. Sebut saja semacam monopoli, setidaknya sampai saat ini yang terasa seperti itu. Jika ditanya pada BUMN tersebut, apakah produksi dikurangi, sehingga supply yang didistribusikan ke masyarakat, berkurang? Dan kenapa dikurangi, sebagai konsekuensi dari semakin naiknya harga minyak dunia. Hmm, bisa saja. Sah-sah saja (mungkin). Tapi, kenyataan BUMN ini selalu mengklaim, tak pernah mengurangi produksi dan pasokannya. Artinya dari segi produksi, tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan ketika isu kelangkaan LPG besar-besaran terjadi beberapa waktu lalu. Masih saja, BUMN ini menyatakan tidak mengurangi produksi. Untuk diketahui BUMN ini memang tidak menangani distribusi sampai ke konsumen akhir. Karena dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas, distribusi dialihkan kepada berbagai pihak (perusahaan lain) yang bertanggung jawab untuk mendistribusikannya ke tangan konsumen dengan cepat, tepat, dan right quality. Sehingga, ketika terjadi kelangkaan di saluran akhir konsumen, BUMN ini pun dengan tegas (tanpa malu-malu, bilang), wah ini diluar kontrol kami, begitulah kira-kira.

Jika tidak ada pengurangan produksi, kenapa selalu saja ada kejadian langka? Beberapa pihak agen penyalur LPG, minyak tanah mengaku selama ini tidak ada pengurangan pasokan dari BUMN tersebut. Sebagian lainnya, justru sebaliknya. Kenyataannya, pada tingkat pengguna akhir di pelosok/pinggiran, LPG semakin susah didapatkan, dan saat bersamaan minyak tanah semakin langka, BBM naik. Lalu, kenapa bisa terjadi? Dimana masalahnya? Adakah pihak-pihak opportunis yang memanfaatkan kondisi ini semua? Sengaja menimbun? Sengaja menyimpan untuk kemudian dijual pada saat harga sudah naik? Atau sengaja dilakukan untuk memperburuk keadaan dan citra pemerintah sekarang yang sedang galaknya melakukan program konversi minyak tanah ke LPG? Atau? Wallahu ’alam.

Lalu, dimana Pemerintah?

Mengenal Riset Kualitatif

Standard

Berangkat dari riset kuantitatif yang selama ini sudah menjadi semacam tradisi riset di lembaga saya bekerja. Menyimak materi kajian mengenai riset kualitatif membawa nafas segar bagi pikiran. Setidaknya mungkin itu yang dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa (termasuk saya) yang mengikuti kuliah Umum yang diberikan oleh Dr. Bartjan Pennink, Pakar Riset Kualitatif dari Faculty of Economics and Business, Groningen bulan April lalu di MM UGM. Beruntung saya bisa mengikuti acara tersebut.

Apa itu riset kualitatif? Apakah perbedaan mendasar dari riset berbasis kuantitatif? Data yang digunakan kah? Pendekatan yang diambil? Atau apa?

Merujuk teori metode penelitian, sudah jamak dikenal bahwa pendekatan riset yang lazim dilakukan adalah riset kuantitatif dan kualitatif. Riset kuantitatif umumnya digunakan untuk mencari jawaban atas serangkaian argumen awal (dugaan) yang berbasis teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Maka tidaklah mengherankan, pendekatan riset ini biasanya dengan membuat serangkaian hipotesis untuk diuji kebenarannya. Dengan tools statistik (apakah itu uji beda, uji korelasi, uji regresi dan lainnya). Dengan kata lain, pendekatan ini mengajak peneliti untuk membuktikan teori sebelumnya dengan kondisi yang ada sekarang ini (yang sedang diuji), apakah mendukung atau memberikan temuan baru yang lain. Inilah yang disebut dengan explanatory research, mencari penjelasan dari fenomena-fenomena yang ada (umumnya secara statistik).

Bagaimana dengan riset kualitatif, apakah tidak menggunakan data dan serangkaian angka-angka? Secara historis, pendekatan riset ini sangat dikenal dalam penelitian sosial (antropologi, sosiologi) yang mencoba mengungkap dan menggali secara mendalam suatu kondisi atau fenomena sosial tertentu. Dalam perkembangannya, pendekatan ini pun kemudian banyak diadopsi dalam penelitian manajemen/bisnis. Pendekatan kualitatif selalu didasari pada ‘open questions’ atas satu fenomena yang ditemui. Pertanyaan-pertanyaan terbuka dengan kata ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’. Berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang sudah didukung oleh teori-teori established sebelumnya, pendekatan kualitatif biasanya tidak atau belum ada teori basic/kuat yang mendukung. Karenanya, memang pendekatan ini dimaksudkan untuk menggali atau mengeksplor apa yang ada di lapangan. Itulah yang disebut dengan exploratory research. Sehingga, umumnya, tidak memiliki argumen sementara yang akan diuji, tapi justru menyengaja, membuat pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk menggali lebih dalam lagi. Apakah dengan demikian, tidak diperlukan data? Tentu saja, dalam riset kualitatif, data berupa angka, gambar dan lainnya menjadi penguat temuan yang sedang dikaji. Jadi, adalah tidak benar, jika hanya penelitian kuantitatif yang selalu menggunakan angka/data. Sedangkan penelitian kualitatif sama sekali tidak menggunakan angka/data.

Lalu, mana yang baik dipilih? Perlu dicatat, pendekatan atau metode merupakan cara yang dapat dilakukan peneliti untuk mencari jawab/mengungkap suatu fenomena tertentu. Dalam tradisi kuantitatif, tak heran kita sering mendengar, klaim yang menyatakan bahwa penelitian kuantitatiflah yang lebih baik dari kualitatif, karena hasilnya relatif dapat digeneralisir, dan cukup kuat untuk dibuktikan (secara statistik). Sementara disisi lain, klaim dari pihak lain, mengatakan, banyak fenomena sosial yang justru tidak dapat dijelaskan hanya dengan angka/data. Data tidak bisa bercerita dengan sendirinya. Atau, justru banyak fenomena-fenomena perilaku yang tidak terungkap dengan baik, jika diteliti dalam koridor numbering.
Aha, kalau begitu, setiap pendekatan memiliki sisi kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dengan demikian, peneliti bisa tahu kapan dan dalam cakupan riset yang seperti apa suatu pendekatan bisa digunakan. Dan bukan gagahan, mengadopsi sekian banyak pendekatan, padahal sebenarnya yang sederhana sekalipun sudah cukup.

Bagaimana menurut Anda?

PS: Hjertelige bedankt voor Bartjan, yang sudah mendelivery materi kualitatif menjadi begitu simpel, menarik dan sangat mudah dimengerti.

Setelah sekian lama …

Standard

Adakah yang berubah setelah waktu berlalu cukup lama? Hmm, jawabannya sudahlah pasti. Dan itu rasanya yang saya alami, kemarin. Tak terasa, sejak saya memasuki “masa tugas belajar”, artinya saya bebas dari kewajiban mengajar, tetapi justru sebaliknya, menjadi mahasiswa lagi. Awalnya tentu tak mudah. Terbiasa mendelivery informasi, dengan status mahasiswa menjadi pihak yang menerima informasi. Diisi dengan hal-hal baru. Berkutat dengan paper dan kewajiban sebagai mahasiswa. Saya yakin, sesama mahasiswa sudah tahu maksud tulisan saya ini.

Nah, setelah masa berlalu lebih dari satu tahun, terbebas dari kewajiban mengajar, pada kesempatan kali ini, saya diamanhi untuk ‘mengajar’. Hmm, ada yang aneh ketika memasuki kelas pertama kali. Malamnya pun, ketika mempersiapkan silabus, ada yang aneh, berdesir di dada. Hmm, bukan aneh pada materi yang baru. Jelas, materi yang akan diajar, ini adalah materi ajar yang sudah digeluti sekian tahun. Jadi, bukan barang baru. Tapi, mungkin karena sudah setahun tidak mengajar, tidak mempersiapkan materi, tidak bertemu wajah-wajah mahasiswa, jadi … rasa aneh itu muncul.

Dan benar saja, ada kenikmatan tersendiri begitu memasuki ruangan kelas. Bertemu dengan wajah-wajah segar yang haus akan ilmu, wajah-wajah yang penuh aura semangat. Nikmat rasanya mengajar, setelah sekian lama ‘off’. Apa ini juga berarti hidup perlu variasi? Ada kalanya diisi dengan udara segar, ada kalanya berbagi apa yang dimiliki?

Setelah sekian tahun tak mengajar, sungguh nikmat rasanya masih bisa berbagi. Alhamdulillah, masih Tuhan beri saya kesempatan untuk berbagi.

Kemarin dan Besok

Standard

Apa yang terjadi kemarin dan akan terjadi besok?
Mengapa dua kata ini menarik saya tulis disini.

Kemarin dan besok, keduanya adalah kata yang menunjukkan keterangan waktu. Semua orang tahu, apa yang disebut kemarin. Tentunya, hari yang sudah berlalu, satu hari saja sebelum hari ini. Dalam bahasa lain disebut “yesterday”. Dalam bahasa Indonesia, jelas, kemarin, adalah hari sebelum hari ini (today).

Lalu bagaimana dengan besok?
Besok atau tomorrow (dalam bahasa Inggris), menunjukkan waktu setelah hari ini. Misal, hari ini adalah hari Selasa, berarti besok adalah Rabu. Jika hari ini adalah Minggu, besok adalah Senin dan kemarinnya berarti Sabtu. Cukup jelas dan kongkrit.

Dalam praktek keseharian, tak sejelas itu penggunaan dua kalimat itu. Setidaknya ini kesan yang sering saya temui saat studi lapangan. Dimana saat itulah saya banyak ngobrol (interview) dengan para pelaku UKM dari berbagai latar belakang pendidikan dan budaya. Menarik untuk saya tulis disini, karena yang terjadi, saya perlu waktu yang tidak sedikit untuk membiasakan diri dengan penggunaan yang lain.

“Wah bisnis saya itu sukses banget, Mbak, kemarin-kemarin itu”.
“Kemarin itu, pesanan bisa datang terus-menerus.”
“Ya, perusahaan saya itu, kemarin, ada dua cabang. Sekarang ini ya sudah tinggal satu ini. Ngga tau, besok itu gimana ya … Kondisi bisnis sedang lesu seperti ini”.

Begitulah beberapa penggalan pembicaraan saya dengan beberapa pemilik UKM yang Alhamdulilah, masih bersedia untuk ngobrol dengan saya. (Sekali lagi, terima kasih Bapak/Ibu UKM yang mau sharing ilmunya).

Jika saya pakai pengertian definisi waktu yang sudah saya tulis di atas, wah wah, bisa bisa informasi yang akan saya terima bias. Jadi saya perlu lakukan elaborasi lebih lanjut. Inilah yang saya pelajari dari mengikuti course Metode Interview tahun lalu. Dan jadi ingat, pertanyaan yang menjadi favorit temen-temen di kelas, adalah “Can you please elaborate more?” …

Ternyata, setelah mengelaborasi, barulah saya tahu, bahwa kemarin itu tidak sama dengan hari sebelum hari ini. Melainkan, masa-masa dimana usaha yang dijalani sedang jaya, Dan itu adalah masa pada tahun 1996-1997an. oO. Sudah cukup lama … Dan besok, apakah sama dengan tomorrow (the day after today?), ternyata juga tidak. Besok adalah ungkapan yang menunjukkan masa yang akan datang. Masa depan bisnis yang ada.

Itulah indahnya bahasa. Sama tulisan, sama ucapan ternyata mengandung sejuta makna yang tidaklah sama. Nah, biar tidak salah paham, ngga ada salahnya mengelaborasi. So, can you elaborate more, please …